LOGIN
“Tunangan Pak Aryan pasti sudah gila karena mau-maunya jadi selingkuhan pacar saya.”
Freya berbicara dengan nada tenang. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Ekspresinya pun cukup berhasil membikin lawan bicaranya terkesan. Tak ada binar kesedihan atau amarah, hanya senyuman manis yang membingkai bibir tipisnya.
Duduk di depan pria yang disegani banyak orang, Freya tak ingin terlihat rentan. Meski hatinya sudah hancur lebur, dia tidak mau tampak putus asa sedikit pun.
“Pacarmu juga jelas tidak waras. Berani-beraninya dia selingkuh dengan tunangan saya.”
Freya refleks menahan napas. Nyali perempuan itu menciut sesaat mendengar balasan sinis pria yang sejak tadi terus memandangnya dengan tatapan intimidatif. Namun, sekarang bukan waktunya takut dan ragu. Freya harus fokus pada misi utamanya malam ini.
“Sialnya, itu benar,” ujar Freya percaya diri. “Memang cuma orang sinting yang berani main-main dengan Aryandika Hutama, CEO Harsa Group.”
Nyatanya, pria yang Freya temui memang bukan orang sembarangan. Freya sendiri sejujurnya tak pernah menyangka bahwa orang biasa sepertinya bisa mendapat kesempatan untuk bicara empat mata dengan sang pebisnis ternama.
Aryan berdecak pelan, lalu tersenyum miring. Pria bertubuh tegap itu kelihatan kesal, tetapi entah kenapa Freya merasa penyebabnya bukan soal pengkhianatan yang dilakoni pasangan mereka.
“Sejujurnya saya tidak peduli dengan hal-hal seperti ini, tapi …”
Aryan seolah sengaja menggantungkan kalimatnya. Atensinya lantas kembali tertuju pada tablet yang disodorkan Freya padanya ketika membuka obrolan beberapa menit lalu. Layar gawai tersebut memperlihatkan potret Lucy, tunangan Aryan, asyik berciuman dengan Juan, kekasih Freya.
“Kamu kelihatan sangat sakit hati,” ucap Aryan seraya lanjut melihat-lihat foto lainnya.
Mengangguk-angguk kecil tanpa mengalihkan perhatian dari perangkat elektronik milik Freya, Aryan lalu berkata, “Itu lumayan efektif bikin saya merasa setidaknya harus mencoba peduli juga.”
Freya menatap Aryan dengan kening mengernyit. Sikap acuh tak acuh pria itu sungguh membuatnya terheran-heran. Beda sekali dengan Freya yang syok bukan main saat pertama kali mengetahui dirinya dikhianati.
Tubuh Freya kala itu seketika membeku. Dadanya sesak luar biasa. Air mata yang susah payah dibendung pun akhirnya meluap begitu dirinya menemukan tempat bersembunyi.
Melihat bagaimana Aryan yang saat ini tampak tidak terusik sedikit pun, Freya diam-diam iri. Dia juga mau masa bodoh dengan perselingkuhan Juan, tetapi sialnya tidak bisa.
“Jadi, kenapa kamu mau ketemu saya malam ini?”
Freya sebenarnya tak butuh berpikir dua kali untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun, baru saja hendak mengatakan apa yang dia inginkan, Aryan malah memintanya diam dengan isyarat tangan.
“Sebelum jawab pertanyaan itu, kasih tahu dulu kenapa kita harus bersikap seolah tidak pernah berhubungan dekat begini.”
Keduanya lantas hanya diam dan saling adu pandang. Cuma sejenak dan Freya duluan yang memutus tatapan mereka dengan tersenyum sambil menundukkan kepala.
“Ini karena sekarang Pak Aryan dan saya bukan lagi dua orang yang setara,” tutur Freya dengan senyuman yang tak memudar.
“Walau begitu, jika Pak Aryan bersedia menerima tawaran saya, bakal ada banyak hal yang berubah. Salah satunya tentu cara saya bicara dengan Pak Aryan.”
Freya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe berkonsep industrial di pinggiran kota tersebut. Dia merasa perlu memastikan tidak ada seorang pun yang mengenali mereka, kecuali sekretaris Aryan yang duduk di meja berbeda.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari saya?” tanya Aryan seraya memerhatikan gerak-gerik Freya.
Freya menarik napas dalam-dalam sebelum mengungkapkan keinginannya. Matanya lurus menatap Aryan, sekali lagi membiarkan keheningan menggelayut sejenak di antara mereka.
“Pak Aryan mau jadi selingkuhan saya?”
Permintaan Freya sukses membikin Aryan tertegun. Tubuh pria itu membatu, sepenuhnya tak menyangka perempuan yang dulunya begitu lugu kini berani memintanya jadi orang ketiga.
Di sisi lain, Freya harap-harap cemas menunggu jawaban. Diamnya Aryan tak dipungkiri menghadirkan firasat buruk. Namun, Freya tidak punya pilihan selain buru-buru menepis segala prasangka negatif yang merayap di benaknya.
“Freya, bukan begini caranya—”
Aryan tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia mendengus geli, masih tak habis pikir dengan Freya yang barusan mengajaknya berselingkuh.
“Bukan begini caranya memanfaatkan mantan pacar setelah belasan tahun nggak ketemu,” lanjutnya sambil terkekeh pelan.
Aryan tertawa melihat Freya yang langsung buang muka. Gemas mendapati semburat merah muda mendadak muncul di pipi gadis yang nyatanya memang pernah berpacaran dengannya itu.
“Reno.” Aryan memanggil sekretarisnya tanpa mengalihkan pandangan.
Sang sekretaris pun segera beranjak dari duduknya. “Iya, Pak,” kata Reno yang dalam hitungan detik sudah berdiri siaga di samping Aryan.
“Siapkan mobilnya. Saya mau pulang sekarang,” perintah Aryan.
Salah besar jika Freya mengira Aryan bakal meninggalkannya begitu saja. Sebab, alih-alih mengucap salam perpisahan, pria tampan itu justru semringah mengulurkan tangan padanya.
“Ayo, ikut! Mantan pacarmu ini penasaran rasanya menghabiskan malam bersama perempuan yang ingin menjadikannya selingkuhan.”
Aryan menambahkan madu pada segelas air hangat di meja dapur apartemennya. Senyumnya mengembang perlahan, terbayang tatapan memohon itu lagi—mata berkaca-kaca Freya yang nyaris membuatnya terhipnotis.'Mau jadi selingkuhanku?'Namun, begitu teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan Freya tadi, mata yang berbinar seketika meredup. Begitu pula dengan senyuman yang lantas memudar dari bibir Aryan. "Perempuan menyedihkan," gumamnya seraya berdecak sinis.Mengabaikan sesak yang tidak diharapkan tiba-tiba menjalar di hatinya, Aryan pun membawa air madu bikinannya ke ruang tamu. Minuman pereda mabuk tersebut lantas ia berikan pada Freya yang duduk canggung di sofa."Terima kasih, Pak."Aryan menghela napas sebelum mendudukkan dirinya di samping Freya. Perempuan yang kini bahkan tak berani menatapnya itu sudah kembali bicara formal."Oh, udah sadar? Mabuknya nggak separah itu ternyata."Freya diam saja mendengar cibiran Aryan. Alih-alih membalas, dia anteng minum air madu yang dibuat Aryan
[Kenapa cuma sebulan?]Freya barusan selesai rapat saat notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya. Satu alisnya terangkat begitu membaca pesan yang dikirim Aryan.“Cuma? Sebulan dia bilang ‘cuma’?” Freya heran.Lebih dari sejam lalu, tak lama sebelum dirinya dipanggil editor lain untuk segera masuk ruang rapat, Freya mengirim draf kesepakatan bersama perihal rencana perselingkuhan mereka.Selayak surat perjanjian kerja sama profesional, ada beberapa hal yang dijabarkan Freya. Perempuan itu menjelaskan semuanya dengan detail, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, aturan main, hingga durasi hubungan terlarang mereka.Di antara berbagai hal yang Freya uraikan, siapa sangka Aryan cuma mempertanyakan lamanya perselingkuhan mereka nantinya. Padahal ada poin tawaran benefit yang menurut Freya lebih mungkin diprotes, tetapi Aryan malah menyorot perkara waktu.Sambil berjalan menuju mejanya kembali, Freya memikirkan jawaban terbaik untuk disampaikan. Namun, sebelum ia sempat mengetik ap
“Setelah tiga tahun nggak dekat sama siapa pun, datanglah serigala berbulu domba ini.”Freya sekali lagi meninggikan nada bicaranya. Juan pun merespons dengan memberi usapan pelan di lengan Freya, berusaha menenangkan tanpa mengetahui bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas gejolak emosi kekasihnya saat ini. “Si cewek awalnya skeptis, nggak tertarik cinta-cintaan lagi. Cuma katanya cowok sialan ini gigih banget bikin dia percaya kalau nggak semua laki-laki sejahat bapak dan mantan-mantannya.”“Bukan salah dia kalau akhirnya luluh juga. Selama pacaran sampai mantep tunangan, cowok ini juga katanya baik banget, bahkan disebut-sebut hampir nggak pernah mengecewakan dalam hal apa pun.”Freya menghela napas kasar. Dadanya sesak lagi, air mata juga sudah menggenang di pelupuknya kembali.“Semua sempurna banget rasanya, tapi siapa sangka H-7 nikah malah …”Kata-kata Freya terhenti lantaran Juan tiba-tiba memeluknya. “Nggak usah dilanjutin, Sayang,” tuturnya sambil mengelus lembut p
Biarpun pelan, Freya masih bisa mendengar apa yang dikatakan Lucy pada Juan. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorot mata Juan yang kemudian berbinar kian cerah karenanya.Begitu pula saat Juan tidak menanggapinya dengan kata-kata, melainkan sebuah ciuman yang tentu saja bersambut. Freya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu nyaris tanpa berkedip. Kamera ponselnya pun terus merekam setiap detik kemesraan Juan bersama perempuan yang lagi-lagi bukan dirinya.Freya baru menurunkan tangannya setelah Juan mengajak Lucy kembali masuk ke apartemen. Bersandar pada tiang beton rubanah, perlahan ia mengatur napas, berusaha mengusir sesak yang mendera hatinya.“Lain kali, jangan seperti ini lagi.”Suara rendah Aryan menyadarkan Freya bahwa dirinya hampir lupa perihal pria lain yang saat ini bersamanya. “Bukti yang kamu punya sudah cukup banyak, kan? Buat apa terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan berulang kali memastikan perselingkuhan mereka begini?”Freya menarik napas dalam-dalam,
Semenjak tahu dirinya diselingkuhi, Freya jarang bisa tidur nyenyak. Setiap kali mendapat bukti baru perselingkuhan Juan dengan Lucy, perempuan itu selalu menutup harinya dengan sesenggukan di kamar. Dia juga sering mendadak terbangun karena mimpi buruk.Malam ini, mungkin Freya akan kembali berlinang air mata. Walau begitu, hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mendatangi apartemen Aryan yang terbilang jauh dari tempat tinggalnya.Setelah sekian lama menahan diri, sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk menangkap basah Juan dan selingkuhannya. Bukan sekedar memotret atau merekam kelakuan mereka dari kejauhan, kali ini Freya ingin langsung melabrak keduanya saja.Pikir Freya, biar saja dirinya semakin hancur setelah memergoki Juan dan Lucy. Rasanya itu jauh lebih baik ketimbang menangis sepanjang malam tanpa melakukan apa pun untuk membuktikan kecurigaannya.Freya menarik napas dalam-dalam di depan pintu lift yang barusan terbuka. Langkahnya mendadak terasa berat, seolah kakin
Aryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan. Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.“S







