Share

Bab 3. Pemain Amatiran

Author: Sekarani
last update Last Updated: 2026-01-09 08:28:47

Aryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.

Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan. 

Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.

Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.

Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.

“Saya yang harusnya minta maaf,” ucap Aryan sambil menggeser duduknya hingga mepet pintu mobil. “Maaf karena udah bikin kamu nggak nyaman.”

Walau suasananya menjadi canggung luar biasa, Freya pun diam-diam lega saat kemudian mendengar Aryan meminta Reno putar balik, menjauh dari kawasan elit yang sebelumnya hendak dituju.

Sejam kemudian, sedan elektrik senilai miliaran rupiah tersebut sampai di depan bangunan bertingkat yang setahun belakangan menjadi tempat tinggal Freya.

“Pacarmu banyak duitnya, kan? Kenapa kamu dibiarkan tinggal di tempat murah begini?”

Mendengar komentar Aryan, Freya cuma bisa menghela napas pelan. Sedikit tersinggung, tetapi enggan menjelaskan apa pun.

“Terima kasih sudah diantar, Pak,” ujar Freya menunduk sopan. “Sebelum pamit, boleh saya mengajukan satu pertanyaan untuk memastikan sesuatu?”

Suara getaran ponsel di dalam tas Freya mengalihkan atensi keduanya sejenak. 

“Silakan,” kata Aryan sembari memerhatikan tangan Freya yang hanya menyentuh bagian depan tas.

Berupaya mengabaikan panggilan telepon yang membuat ponselnya terus bergetar, Freya pun bertanya, “Berapa lama waktu yang Pak Aryan butuhkan untuk mempertimbangkan tawaran saya?”

Getaran ponsel Freya berhenti, tetapi kembali bergetar dalam hitungan detik.

“Tiga hari,” jawab Aryan sambil melihat ke arah tas di pangkuan Freya lagi.

“Teleponnya nggak mau kamu angkat dulu? Siapa tahu itu panggilan darurat. Karena ada breaking news, misalnya?”

Freya tidak kaget dengan fakta bahwa Aryan mengetahui pekerjaannya sekarang. Aryan bahkan bisa mengantarnya pulang tanpa bertanya alamat tempat tinggalnya terlebih dahulu. Freya pun tak bakal syok jika ternyata Aryan juga tahu destinasi kabur favoritnya belakangan ini.

Memang tidak lazim, tetapi konglomerat seperti Aryan kebanyakan memang gemar menghimpun data pribadi orang lain tanpa peduli soal hak privasi.

“Apa itu artinya saya bebas menemui Pak Aryan setiap hari selama kurun waktu tersebut?”

Ponsel Freya terus saja bergetar gara-gara entah siapa yang begitu gigih meneleponnya. Namun, saat ini sungguh tak ada yang lebih penting ketimbang rencananya membalas pengkhianatan Juan.

“Angkat dulu teleponnya, Freya.”

Hanya saja, Aryan tampaknya sangat terusik dengan suara getaran ponsel Freya.

“Kalau kamu nggak mau angkat, biar saya yang—”

Freya buru-buru menghentikan Aryan yang bicara sambil coba meraih tasnya. Sementara tangan kirinya mendarat begitu saja di bahu Aryan, Freya segera mengambil ponselnya menjawab panggilan telepon yang ternyata merupakan Juan.

Aryan mencuri lihat ke layar ponsel Freya, lalu tersenyum miring saat mendapati nama pria yang disebut-sebut telah berselingkuh dengan tunangannya.

“Angkat, Freya,” bisik Aryan dengan nada memerintah. “Pacarmu pasti khawatir karena kamu berulang kali mengabaikan teleponnya.”

Freya sangat bisa cepat-cepat keluar dari mobil Aryan untuk menjawab panggilan telepon kekasihnya tersebut. Namun, dengan kesadaran penuh ia memilih berbincang singkat dengan Juan sambil tetap duduk di samping Aryan.

“Aku udah pulang, Sayang. Gimana?”

Senyuman Aryan mengembang, tertawa tanpa suara mendengar cara bicara Freya yang berubah 180 derajat.

“Besok pagi? Boleh.”

Aryan sudah lupa kapan terakhir kali dia tertarik menyimak obrolan orang lain begini. Biasanya dia sama sekali tak peduli, kecuali apa yang dibicarakan mungkin berkaitan dengan urusan bisnis.

“Kebetulan aku ngantornya siang. Kamu mau …”

Senyum Aryan memudar perlahan melihat raut wajah Freya yang mendadak berubah. Keningnya mengernyit seiring dengan kata-kata yang barusan terdengar menggantung.

“Sayang, maaf banget, ya. Teleponnya boleh aku tutup dulu?”

Freya mengaku tiba-tiba sakit perut sehingga perlu segera ke toilet. Melihat ekspresinya yang tidak tampak kesakitan sedikit pun, Aryan tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat-buat.

Setelahnya, panggilan pun berakhir. Usai bertelepon, Freya tak lagi berminat melanjutkan percakapannya dengan Aryan yang sempat terjeda. Dia buru-buru pamitan dan langsung keluar dari mobil tanpa menunggu respons pria tersebut.

“Juan sialan,” umpat Freya dengan suara tertahan sambil berjalan cepat memasuki gedung apartemennya.

“Bisa-bisanya dia telepon aku pas lagi bareng selingkuhannya. Dasar berengsek …!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 8. Lancang Minta Pangku

    Aryan menambahkan madu pada segelas air hangat di meja dapur apartemennya. Senyumnya mengembang perlahan, terbayang tatapan memohon itu lagi—mata berkaca-kaca Freya yang nyaris membuatnya terhipnotis.'Mau jadi selingkuhanku?'Namun, begitu teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan Freya tadi, mata yang berbinar seketika meredup. Begitu pula dengan senyuman yang lantas memudar dari bibir Aryan. "Perempuan menyedihkan," gumamnya seraya berdecak sinis.Mengabaikan sesak yang tidak diharapkan tiba-tiba menjalar di hatinya, Aryan pun membawa air madu bikinannya ke ruang tamu. Minuman pereda mabuk tersebut lantas ia berikan pada Freya yang duduk canggung di sofa."Terima kasih, Pak."Aryan menghela napas sebelum mendudukkan dirinya di samping Freya. Perempuan yang kini bahkan tak berani menatapnya itu sudah kembali bicara formal."Oh, udah sadar? Mabuknya nggak separah itu ternyata."Freya diam saja mendengar cibiran Aryan. Alih-alih membalas, dia anteng minum air madu yang dibuat Aryan

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 7. Mau Jadi Selingkuhanku?

    [Kenapa cuma sebulan?]Freya barusan selesai rapat saat notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya. Satu alisnya terangkat begitu membaca pesan yang dikirim Aryan.“Cuma? Sebulan dia bilang ‘cuma’?” Freya heran.Lebih dari sejam lalu, tak lama sebelum dirinya dipanggil editor lain untuk segera masuk ruang rapat, Freya mengirim draf kesepakatan bersama perihal rencana perselingkuhan mereka.Selayak surat perjanjian kerja sama profesional, ada beberapa hal yang dijabarkan Freya. Perempuan itu menjelaskan semuanya dengan detail, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, aturan main, hingga durasi hubungan terlarang mereka.Di antara berbagai hal yang Freya uraikan, siapa sangka Aryan cuma mempertanyakan lamanya perselingkuhan mereka nantinya. Padahal ada poin tawaran benefit yang menurut Freya lebih mungkin diprotes, tetapi Aryan malah menyorot perkara waktu.Sambil berjalan menuju mejanya kembali, Freya memikirkan jawaban terbaik untuk disampaikan. Namun, sebelum ia sempat mengetik ap

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 6. Serigala Berbulu Domba

    “Setelah tiga tahun nggak dekat sama siapa pun, datanglah serigala berbulu domba ini.”Freya sekali lagi meninggikan nada bicaranya. Juan pun merespons dengan memberi usapan pelan di lengan Freya, berusaha menenangkan tanpa mengetahui bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas gejolak emosi kekasihnya saat ini. “Si cewek awalnya skeptis, nggak tertarik cinta-cintaan lagi. Cuma katanya cowok sialan ini gigih banget bikin dia percaya kalau nggak semua laki-laki sejahat bapak dan mantan-mantannya.”“Bukan salah dia kalau akhirnya luluh juga. Selama pacaran sampai mantep tunangan, cowok ini juga katanya baik banget, bahkan disebut-sebut hampir nggak pernah mengecewakan dalam hal apa pun.”Freya menghela napas kasar. Dadanya sesak lagi, air mata juga sudah menggenang di pelupuknya kembali.“Semua sempurna banget rasanya, tapi siapa sangka H-7 nikah malah …”Kata-kata Freya terhenti lantaran Juan tiba-tiba memeluknya. “Nggak usah dilanjutin, Sayang,” tuturnya sambil mengelus lembut p

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 5. Lelah Dikhianati

    Biarpun pelan, Freya masih bisa mendengar apa yang dikatakan Lucy pada Juan. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorot mata Juan yang kemudian berbinar kian cerah karenanya.Begitu pula saat Juan tidak menanggapinya dengan kata-kata, melainkan sebuah ciuman yang tentu saja bersambut. Freya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu nyaris tanpa berkedip. Kamera ponselnya pun terus merekam setiap detik kemesraan Juan bersama perempuan yang lagi-lagi bukan dirinya.Freya baru menurunkan tangannya setelah Juan mengajak Lucy kembali masuk ke apartemen. Bersandar pada tiang beton rubanah, perlahan ia mengatur napas, berusaha mengusir sesak yang mendera hatinya.“Lain kali, jangan seperti ini lagi.”Suara rendah Aryan menyadarkan Freya bahwa dirinya hampir lupa perihal pria lain yang saat ini bersamanya. “Bukti yang kamu punya sudah cukup banyak, kan? Buat apa terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan berulang kali memastikan perselingkuhan mereka begini?”Freya menarik napas dalam-dalam,

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 4. Melabrak Tukang Selingkuh

    Semenjak tahu dirinya diselingkuhi, Freya jarang bisa tidur nyenyak. Setiap kali mendapat bukti baru perselingkuhan Juan dengan Lucy, perempuan itu selalu menutup harinya dengan sesenggukan di kamar. Dia juga sering mendadak terbangun karena mimpi buruk.Malam ini, mungkin Freya akan kembali berlinang air mata. Walau begitu, hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mendatangi apartemen Aryan yang terbilang jauh dari tempat tinggalnya.Setelah sekian lama menahan diri, sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk menangkap basah Juan dan selingkuhannya. Bukan sekedar memotret atau merekam kelakuan mereka dari kejauhan, kali ini Freya ingin langsung melabrak keduanya saja.Pikir Freya, biar saja dirinya semakin hancur setelah memergoki Juan dan Lucy. Rasanya itu jauh lebih baik ketimbang menangis sepanjang malam tanpa melakukan apa pun untuk membuktikan kecurigaannya.Freya menarik napas dalam-dalam di depan pintu lift yang barusan terbuka. Langkahnya mendadak terasa berat, seolah kakin

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 3. Pemain Amatiran

    Aryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan. Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.“S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status