LOGINAryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.
Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan.
Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.
Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.
Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.
“Saya yang harusnya minta maaf,” ucap Aryan sambil menggeser duduknya hingga mepet pintu mobil. “Maaf karena udah bikin kamu nggak nyaman.”
Walau suasananya menjadi canggung luar biasa, Freya pun diam-diam lega saat kemudian mendengar Aryan meminta Reno putar balik, menjauh dari kawasan elit yang sebelumnya hendak dituju.
Sejam kemudian, sedan elektrik senilai miliaran rupiah tersebut sampai di depan bangunan bertingkat yang setahun belakangan menjadi tempat tinggal Freya.
“Pacarmu banyak duitnya, kan? Kenapa kamu dibiarkan tinggal di tempat murah begini?”
Mendengar komentar Aryan, Freya cuma bisa menghela napas pelan. Sedikit tersinggung, tetapi enggan menjelaskan apa pun.
“Terima kasih sudah diantar, Pak,” ujar Freya menunduk sopan. “Sebelum pamit, boleh saya mengajukan satu pertanyaan untuk memastikan sesuatu?”
Suara getaran ponsel di dalam tas Freya mengalihkan atensi keduanya sejenak.
“Silakan,” kata Aryan sembari memerhatikan tangan Freya yang hanya menyentuh bagian depan tas.
Berupaya mengabaikan panggilan telepon yang membuat ponselnya terus bergetar, Freya pun bertanya, “Berapa lama waktu yang Pak Aryan butuhkan untuk mempertimbangkan tawaran saya?”
Getaran ponsel Freya berhenti, tetapi kembali bergetar dalam hitungan detik.
“Tiga hari,” jawab Aryan sambil melihat ke arah tas di pangkuan Freya lagi.
“Teleponnya nggak mau kamu angkat dulu? Siapa tahu itu panggilan darurat. Karena ada breaking news, misalnya?”
Freya tidak kaget dengan fakta bahwa Aryan mengetahui pekerjaannya sekarang. Aryan bahkan bisa mengantarnya pulang tanpa bertanya alamat tempat tinggalnya terlebih dahulu. Freya pun tak bakal syok jika ternyata Aryan juga tahu destinasi kabur favoritnya belakangan ini.
Memang tidak lazim, tetapi konglomerat seperti Aryan kebanyakan memang gemar menghimpun data pribadi orang lain tanpa peduli soal hak privasi.
“Apa itu artinya saya bebas menemui Pak Aryan setiap hari selama kurun waktu tersebut?”
Ponsel Freya terus saja bergetar gara-gara entah siapa yang begitu gigih meneleponnya. Namun, saat ini sungguh tak ada yang lebih penting ketimbang rencananya membalas pengkhianatan Juan.
“Angkat dulu teleponnya, Freya.”
Hanya saja, Aryan tampaknya sangat terusik dengan suara getaran ponsel Freya.
“Kalau kamu nggak mau angkat, biar saya yang—”
Freya buru-buru menghentikan Aryan yang bicara sambil coba meraih tasnya. Sementara tangan kirinya mendarat begitu saja di bahu Aryan, Freya segera mengambil ponselnya menjawab panggilan telepon yang ternyata merupakan Juan.
Aryan mencuri lihat ke layar ponsel Freya, lalu tersenyum miring saat mendapati nama pria yang disebut-sebut telah berselingkuh dengan tunangannya.
“Angkat, Freya,” bisik Aryan dengan nada memerintah. “Pacarmu pasti khawatir karena kamu berulang kali mengabaikan teleponnya.”
Freya sangat bisa cepat-cepat keluar dari mobil Aryan untuk menjawab panggilan telepon kekasihnya tersebut. Namun, dengan kesadaran penuh ia memilih berbincang singkat dengan Juan sambil tetap duduk di samping Aryan.
“Aku udah pulang, Sayang. Gimana?”
Senyuman Aryan mengembang, tertawa tanpa suara mendengar cara bicara Freya yang berubah 180 derajat.
“Besok pagi? Boleh.”
Aryan sudah lupa kapan terakhir kali dia tertarik menyimak obrolan orang lain begini. Biasanya dia sama sekali tak peduli, kecuali apa yang dibicarakan mungkin berkaitan dengan urusan bisnis.
“Kebetulan aku ngantornya siang. Kamu mau …”
Senyum Aryan memudar perlahan melihat raut wajah Freya yang mendadak berubah. Keningnya mengernyit seiring dengan kata-kata yang barusan terdengar menggantung.
“Sayang, maaf banget, ya. Teleponnya boleh aku tutup dulu?”
Freya mengaku tiba-tiba sakit perut sehingga perlu segera ke toilet. Melihat ekspresinya yang tidak tampak kesakitan sedikit pun, Aryan tahu bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat-buat.
Setelahnya, panggilan pun berakhir. Usai bertelepon, Freya tak lagi berminat melanjutkan percakapannya dengan Aryan yang sempat terjeda. Dia buru-buru pamitan dan langsung keluar dari mobil tanpa menunggu respons pria tersebut.
“Juan sialan,” umpat Freya dengan suara tertahan sambil berjalan cepat memasuki gedung apartemennya.
“Bisa-bisanya dia telepon aku pas lagi bareng selingkuhannya. Dasar berengsek …!”
Freya sebenarnya tidak sesaklek itu. Perihal mesra-mesraan dengan Juan, Freya pada dasarnya malah sangat menyukainya.Freya bukan orang yang menghindari sentuhan fisik. Meski awalnya sempat canggung, Freya perlahan terbiasa menunjukkan kemesraan di depan umum. Dia bahkan bisa cemberut hanya karena Juan lupa menggandeng tangannya saat mereka jalan berdua.Mau bagaimanapun situasinya, Freya selalu senang dipeluk. Dia hampir tidak pernah menolak pelukan Juan. Dia juga suka lebih dulu memeluk Juan yang tentu saja bakal disambut senang hati oleh sang pacar.Ciuman pun Freya suka, mulai dari sekedar kecupan kupu-kupu hingga pertarungan lidah penuh gairah.Momen favoritnya adalah berciuman sambil saling merengkuh erat. Freya juga merasa sangat nyaman dan begitu dicintai setiap kali tidur berpelukan dengan Juan. Itulah mengapa Freya lumayan sering menginap di apartemen kekasihnya itu.Meski begitu, Freya tidak mau terjadi interaksi yang lebih intim. Mereka bisa berciuman hingga kehabisan napa
Ciuman Juan mulanya terasa ringan, cuma kecupan singkat yang membuat Freya terkesiap.Keduanya hanya diam saling memandang ketika Juan menaruh cangkir di meja. Pria itu lalu mencengkeram pinggang Freya dengan kedua tangan. Rasanya lebih posesif ketimbang pelukannya tadi, bahkan mungkin terlalu erat hingga membuat Freya meringis tak nyaman.Dalam satu gerakan cepat, Juan kemudian mengangkat tubuh Freya dan mendudukkannya di atas meja dapur.Juan ingin mencium Freya lagi. Namun, saat bibir mereka nyaris menyatu, Freya tiba-tiba memalingkan wajah. Gerakannya halus, tetapi jelas menolak.Terdiam sejenak, Juan lantas tersenyum tipis, mengira Freya hanya ingin menggodanya sedikit. Ia pun mencoba lagi, mendekat lebih cepat dan pasti.Akan tetapi, Freya lagi-lagi menghindar. Tak cuma melengos, perempuan itu juga menarik tubuhnya menjauh.Dua kali ditolak, pikiran Juan seketika dikuasai prasangka buruk. Rahangnya mengeras, emosinya tersulut. Marah rasanya membayangkan Freya tidak mau berciuman
Sebelumnya, Lucy nyaris sempurna di mata Aryan. Itulah mengapa dirinya sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan mereka.Semenjak mau tak mau mesti mendedikasikan hidupnya untuk Harsa Group, prinsip Aryan sederhana saja. Selama itu menguntungkan untuk perusahaan, pada dasarnya apa pun bisa dia lakukan.Lucy Amara merupakan Direktur Komersial KalanaBusana. Sebagai cucu dari pemilik perusahaan retail yang bergerak di industri mode, Lucy tumbuh dengan insting bisnis yang tajam. Saat pertama berkenalan dua tahun lalu, Aryan sangat terkesan dengan keahlian Lucy membaca tren pasar. Obrolan seputar bisnis membuat keduanya cepat akrab. Setiap kali berjumpa dalam berbagai kesempatan, Aryan bahkan tidak jarang yang menyapa terlebih dahulu. Mereka pun berteman sebelum akhirnya menjadi partner ranjang setahun kemudian.Perihal mengejar kepuasan duniawi, Lucy rupanya juga tidak mengecewakan. Aryan menyukai Lucy yang penuh kejutan dan tak ragu mengeksplorasi lebih jauh. Lucy pun tidak rewel pe
Hening beberapa detik.Dunia seolah berhenti sejenak saat Freya mendengar Juan berucap sarkas padanya. Tidak ada mata yang berkilat marah, usapan lembut pun kembali Freya rasakan pada puncak kepalanya.Juan bahkan tersenyum padanya. Meski begitu, entah mengapa Freya refleks menahan nafas. Sikap baik pria itu justru membuatnya merasa terancam dan waswas.“Sayang …,” suara Freya sedikit bergetar. “Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh. Maksudmu apa?”Jemari Juan turun perlahan menyentuh wajah Freya. Ibu jarinya lalu mengelus pelan pipi mulus Freya. “Maksudku—”“Hotel ini nggak berhantu, kan?” potong Freya seraya mengedarkan tatapan cemas ke sekitarnya. “Takut banget kalau ternyata beneran ada yang diem-diem nemenin aku di sini.”Chika yang sempat agak panik gara-gara mendengar ucapan Juan sebelumnya, segera menyadari bahwa Freya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Nggak ada hantu di sini!” sergah Chika.“Hei, Juan! Bercandanya jangan sembarangan, dong. Ribet nanti urusannya kalau hote
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelepon Chika, Freya mendadak sibuk sendiri. Tahu Juan datang, Freya merasa harus segera menyiapkan beberapa bukti perselingkuhan.Begitulah. Alih-alih memastikan tidak ada hal mencurigakan, Freya malah sengaja meninggalkan jejak yang sekiranya gampang disadari Juan.Hal pertama yang dilakukan Freya adalah memulas bibirnya dengan lipstik. Tipis saja, sekadar cukup untuk membikin noda khas pada gelas minumannya.‘Dia tahu aku sama Kak Chika belakangan ini suka banget pakai lipstik yang nggak transferproof. Jadi, mestinya dia langsung curiga waktu lihat cuma satu gelas yang ada bekas lipstiknya begini.’Duduk di depan meja bartender, senyum tipis Aryan melebar saat melihat jas yang ia taruh sembara
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan timnya, Aryan jadi tertarik bekerja sama sungguhan. Tidak apa-apa mengeluarkan sedikit uang, terlebih jika itu membuatnya lebih mudah bertemu Freya.“Untuk kerja sama dengan jangka waktu enam bulan, plus nantinya mencakup beberapa brand sekaligus, angka segitu sebenarnya malah terbilang hemat.”Freya tahu, skala bisnis Harsa Group memang sangat besar. Meski begitu, bukankah tetap lebih baik tidak mengeluarkan uang sepeser pun?“Kerja sama ini mungkin juga akan berguna untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi perusahaan di kemudian hari.”Wajah Aryan tampak menjadi lebih serius, membuat Freya tanpa sadar ikut menunjukkan ekspresi serupa.“Apa yang kita lakukan sekarang, saya
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Juan terpegun menatap layar ponselnya. Freya sungguh membuatnya tak habis pikir. Tidak biasanya kekasihnya itu bersikap dingin padanya.Freya memang sering tidak bisa dihubungi sebab pekerjaan. Ada masa di mana Freya berhari-hari menghilang dari jangkauan Juan. Hanya saja, sebelum benar-benar mengab
Freya tampak serius membaca artikel yang ditulis Wina secara keseluruhan. Kilat saja, tak sampai lima menit, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat si reporter gugup setengah mati.“Kamu nulisnya berapa lama, Na? Mulai dari bikin transkrip sampai jadi artikel yang cuma 300 kata lebih dikit ini.”
Orang yang mudah curiga dan menuduh pasangannya selingkuh biasanya justru dialah antagonisnya. Dia pikir semua orang seperti dirinya yang diam-diam punya selingkuhan.“Sara ini bukan akal-akalan kamu selingkuh sama cowok yang jauh lebih kaya dari aku, kan?”Jika belum tahu Juan selingkuh, Freya mun







