LOGINFreya santai menyusuri pedestrian yang dipenuhi pepohonan rindang. Suasananya sejuk dan tenang. Perjalanan dari halte menuju restoran tempatnya janjian dengan Aryan jadi tidak terasa melelahkan.Penat akibat beberapa kali terjebak macet saat naik bus perlahan menghilang. Freya bahkan tanpa sadar bersenandung pelan hingga langkahnya terhenti di depan bangunan serba putih yang seketika membuatnya tertegun sesaat.Freya menghela napas, lalu memindai penampilannya sendiri. Mengenakan busana yang sama sejak mewawancarai Aryan pagi tadi, cara berpakaian Freya sebenarnya baik-baik saja.Blus putih dan rok plisket midi berwarna gading itu masih tampak apik berpadu dengan sepatu platform senada. Meski tak bermerek, tas yang Freya bawa hari ini juga tidak jelek-jelek amat.
Aryan tidak terkejut sedikit pun dengan skenario murahan yang terlalu mudah ditebak ini. Namun, bukankah momentumnya kurang pas?Bagaimanapun, Aryan masih bertunangan dengan Lucy. Terlepas dari kehebohan di media sosial siang ini, hubungan mereka tampak baik-baik saja.Jika ingin menyodorkan orang baru, bukankah sebaiknya menunggu sampai ada kegaduhan yang lebih menggemparkan dulu?“Maaf, saya tidak bermaksud menipu atau membuang-buang waktu berharganya Pak Aryan. Saya cuma diminta datang untuk menemani kakak sepupu saya bertemu kolega bisnis, tapi siapa sangka ternyata jadi begini.”Aryan tersenyum pada perempuan yang berlagak sok kaget di depannya. Namanya Rachel, kreator konten finansial yang belakangan naik daun.Se
“Aku nggak usah dijemput, Yan! Males banget kalau ketahuan anak kantor. Lagi pada heboh gara-gara video senyam-senyum sok manismu itu.”Reno memperdengarkan pesan suara dari Freya. Biarpun dikirim padanya, pesan tersebut jelas ditujukan untuk Aryan.“Oh, dia malu?” Aryan santai merespons. “Ya, udah. Mobilnya nggak usah dibawa masuk. Tunggu di pinggir jalan aja kayak sebelumnya.”“Soal itu …” Reno rupanya sudah memiliki jawabannya.Suara Freya pun kembali terdengar. Perempuan itu mencerocos, mengomeli Aryan agar tidak bersikeras menyuruh Reno menjemputnya.“Sama aja, Yan. Mobilmu itu mencolok banget, terlalu mewah, jadi mau nunggu di mana pun, nggak ada bedanya. Mending kalau malam, ada area yang minim pencahayaan. Sore-sore di mana coba yang sekiranya nggak kelihatan? Nggak ada, Yan!”Aryan merengut. Bukan karena Freya tidak mau dijemput, melainkan senyuman Reno yang terkesan meledeknya. Ekspresi Reno semakin tampak mengesalkan ketika pesan berikutnya diperdengarkan.“Nggak usah marah
Aryan pernah mengatakan bahwa Freya tidak perlu mencemaskan terlalu banyak hal lagi.Kata Aryan, tidak usah ragu karena ini dan itu saat ingin melakukan sesuatu.Apa pun yang Freya inginkan, akan Aryan berikan. Selama keduanya masih menjadi partner selingkuh, Aryan bakal selalu ada di pihak Freya.“Selama ada Aryan, kita semua aman.”Freya tersenyum miring, matanya berbinar licik. “Itulah gunanya berpartner dengan seseorang yang duduk di puncak piramida.”Bagas dan Tata terdiam, lalu saling pandang sebentar. Keduanya tampak seolah bertukar pikiran lewat sorot mata.“Partner?” Tata mengutip satu kata dengan tatapan menyelidik. “Maksudnya ini kalian berkomplot?”“Dua orang yang senasib, sama-sama diselingkuhi pasangan masing-masing, berakhir menjadi partner balas dendam.” Bagas menganalisis hubungan Freya dan Aryan.“Memangnya boleh sedrama itu?” imbuhnya sinis.Freya mendengus pendek, lalu tersenyum kecut. “Iya, bisa dibilang kayak begitu.”“Makanya, kamu nggak usah cemas misalnya si A
Orang-orang di sekitar Freya selalu mengatakan betapa beruntung dirinya karena berpacaran dengan Juan. Setelah sekian tahun hidup sebatang kara, semesta mempertemukan Freya dengan sosok idaman banyak perempuan.Celebrity chef seperti Juan umumnya menjalin hubungan asmara dengan sesama selebritas. Namun, koki berwajah rupawan ini rupanya justru jatuh cinta pada jurnalis yang reputasi kariernya terbilang biasa-biasa saja.Namun, hanya segelintir yang tahu bahwa kesuksesan Juan merupakan efek bola salju dari sebuah artikel yang Freya tulis bertahun-tahun lalu.Kala itu, Freya ditugasi meliput aktivitas relawan dapur umum saat bencana banjir melanda wilayah ibu kota. Di tengah situasi serba darurat dan terbatas, mata jeli Freya menangkap sosok Juan yang entah mengapa
Setelah lima tahun, mestinya Juan tidak mengkhianati Freya.Setelah lima tahun, harusnya hubungan mereka tetap baik-baik saja.Setelah lima tahun, andai Juan tidak selingkuh, barangkali inilah waktu yang tepat untuk serius melangkah ke jenjang berikutnya.“Setelah lima tahun, kata siapa kamu boleh seenaknya begini?”Freya sesungguhnya sudah bersiap menghadapi situasi semacam ini. Berhubungan dengan seorang pemengaruh mau tak mau memang begini risikonya.Hanya saja, Freya tak menyangka privasinya bakal terusik secepat ini. Padahal, seharusnya masih nanti-nanti, minimal setelah ia membongkar perselingkuhan yang dilakoni Juan.“Maaf, ya, Sayang.”
Freya tersenyum menatap Juan yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk. Situasinya terasa familiar, seperti sudah pernah terjadi sebelumnya, tetapi Freya lupa-lupa ingat.“Kenapa aku nggak boleh ketemu Sara?”Juan bertanya dengan nada curiga. Melipat kedua tangan di depan dada, pria yang ber
Freya tampak serius membaca artikel yang ditulis Wina secara keseluruhan. Kilat saja, tak sampai lima menit, tapi sudah lebih dari cukup untuk membuat si reporter gugup setengah mati.“Kamu nulisnya berapa lama, Na? Mulai dari bikin transkrip sampai jadi artikel yang cuma 300 kata lebih dikit ini.”
Chika tersenyum melihat rombongan pelanggan yang baru saja datang. Ada lebih dari 10 orang yang kehadirannya seketika menyedot perhatian karena berisik minta ampun.Dua orang tampak berbicara dengan seorang pramusaji, bertanya soal ketersediaan meja. Lainnya asyik mengobrol sendiri, sebagian sambil
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelep







