LOGIN"Ya, aku masih satu garis keturunan yang sama dengan Yang Mulia Raja," jawab Magnus dengan santai. "Keluarga Valzaren adalah keluarga cabang dari keluarga Valtazar. Nama Valzaren diambil dari nama Valtazar dan leluhur kami yang bernama Zaren, pangeran ke sebelas di sekitar generasi ke empat."
Beberapa bangsawan langsung saling menatap. Penjelasan itu terdengar sangat spesifik, terlalu spesifik untuk sekadar kebetulan.Alianne mengangguk pelan, ekspresinya berubah seperti sesAldren melangkahkan kakinya menyusuri lorongp yang panjang. Cahaya obor di dinding berderak pelan, memantulkan bayangan tubuhnya yang bergerak tenang namun pasti. Setiap langkahnya terdengar jelas di lantai batu yang keras, menggema dalam kesunyian yang terasa menekan.Aldren menunduk sedikit, mengingat kembali percakapan yang baru saja terjadi. Wajah tahanan itu, nada suaranya, jeda di setiap kalimatnya, semuanya terulang jelas di benaknya.Pikirannya bergerak cepat, menyusun ulang potongan-potongan yang ia dapatkan."Jadi... Siapa namamu?" tanya Aldren, bertanya dengan lembut."Nama?"Tahanan itu hampir tersedak saat sedang makan kue yang baru saja diberikan. Tangan yang memegang potongan kue itu sedikit gemetar, dan ia buru-buru menelan dengan susah payah.Pertanyaan itu sederhana. Namun justru karena itu, terasa mencurigakan."Tidak masalah, aku hanya ingin tahu tentang namamu. Aku tidak akan melakukan hal buruk setelah mengetahui namamu. Aku hanya ingin... Lebih mudah memanggil d
Aldren bergerak tanpa tergesa, seolah apa yang ia lakukan hanyalah hal sepele. Tangannya yang dingin meraih borgol besi di pergelangan tangan tahanan yang telah mengaku, lalu membukanya dengan bunyi klik yang nyaring di tengah kesunyian penjara.Para tahanan lain langsung menoleh serempak. Mata mereka membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Di tempat seperti ini, kebebasan sekecil apa pun adalah sesuatu yang mustahil. Namun kini, salah satu dari mereka justru dilepaskan begitu saja.Dengan santai, Aldren menjawab, "Dia sudah mengaku dengan jujur. Seseorang yang berharga sepertinya tidak pantas terus berada di sini bersama para penjilat. Setidaknya kita harus menyiapkan sel terpisah yang lebih layak."Nada suaranya tetap tenang, hampir terdengar rasional. Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menusuk. Tidak ada ancaman langsung, tidak ada paksaan terang-terangan, tetapi setiap katanya seperti pisau yang perlahan mengoyak kete
Di dalam penjara bawah tanah yang lembap dan nyaris tanpa cahaya, hanya satu obor yang menyala redup di dinding batu yang dingin. Api kecil itu bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang yang menari liar di permukaan dinding. Bau darah, keringat, dan besi berkarat bercampur menjadi satu, menyesakkan napas siapa pun yang berada di sana.Beberapa tahanan terduduk lemah di lantai batu yang kasar. Tubuh mereka dipenuhi luka cambukan, sebagian masih mengalirkan darah segar, sebagian lainnya telah mengering menjadi kerak gelap yang mengerikan. Napas mereka berat, terputus-putus, namun sorot mata mereka tetap menyala dengan sisa-sisa perlawanan."Percuma saja! Racun di dalam mulut kalian sudah kami ambil. Kalian tidak bisa melarikan diri dengan cara bunuh diri sekarang," ucap Aldren dengan dingin. Pupil hijau gelapnya menatap ke bawah, tajam dan tanpa emosi, seolah yang berada di hadapannya bukanlah manusia, melainkan sekadar objek.Salah seorang tahanan menga
"Baiklah..." Hery tersenyum canggung. "Kalau begitu, aku ke penjara bawah tanah lebih dulu."Senyumnya kaku, jelas tidak sepenuhnya pulih dari apa yang baru saja ia saksikan."Aku akan ikut!" Aldren melangkah tegas di belakang Hery, tidak lagi menatap Alianne.Langkahnya cepat dan pasti, seolah berusaha mengalihkan pikirannya pada sesuatu yang lebih penting. Tidak ada lagi kelembutan dalam gerakannya, hanya ketegasan seorang raja yang kembali pada tugasnya.Keduanya segera menjauh, langkah kaki mereka bergema pelan di lantai batu sebelum akhirnya menghilang ke dalam lorong istana.Alianne tetap berdiri di tempatnya.Tatapannya tertuju pada punggung Aldren yang semakin menjauh, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan.Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.Lalu perlahan, sesuatu merambat di dalam dirinya.'Sepertinya aku terlalu jahat tadi. Aku harusnya tidak boleh terlalu jujur seperti itu... Tidak!'Alianne menunduk, bahunya sedikit turun. Nafasnya tertahan, seolah ada se
Kuda yang ditunggangi Aldren dan Alianne akhirnya melewati gerbang besar istana Obsidian. Besi hitam yang membentuk gerbang itu berderit pelan saat terbuka, seolah menyambut mereka kembali dengan keheningan yang khas. Di baliknya, istana berwarna gelap itu berdiri kokoh, tua, dingin, dan jauh dari kesan megah yang mencolok, namun justru memancarkan kewibawaan yang tidak mudah runtuh oleh waktu.Dinding-dinding batu hitamnya menyerap cahaya senja yang mulai meredup. Tidak ada kilauan mencolok seperti di Silverkeep, hanya bayangan yang dalam dan suasana yang sunyi.Aldren menarik tali kekang kudanya perlahan, menurunkan kecepatannya saat memasuki halaman istana. Langkah kuda itu menjadi lebih tenang, teratur, seolah memahami bahwa mereka telah kembali ke wilayah yang aman.Di depan, butiran putih mulai jatuh lebih lebat.Salju.Sementara Aldren mengarahkan kuda dengan fokus, Alianne justru tampak tenggelam dalam dunianya sendiri. Tangannya terangkat, menadah butiran salju yang jatuh s
Aldren hanya berdiri di tempatnya, menatap pertengkaran kecil antara adiknya dan istrinya dengan ekspresi datar yang cenderung malas. "Sudah! Sudah! Istana Obsidian dan istana Silverkeep memang diciptakan untuk dua tujuan berbeda. Keduanya bagus untuk kebutuhan yang berbeda."Nada suaranya tegas, namun tidak keras. Kalimatnya sederhana, tetapi cukup untuk memotong perdebatan yang mulai berlarut-larut."Maksudku begitu..." jawab Alianne yang masih diguncang Caelum.Suaranya sedikit terguncang mengikuti gerakan tubuhnya yang masih dipegang. Ia mencoba mempertahankan keseimbangan, meskipun kepalanya mulai terasa ringan.Caelum akhirnya melepaskan tubuh Alianne dengan kesal. Lepasan itu tidak sepenuhnya halus, membuat tubuh Alianne sedikit terhuyung ke belakang.Untuk sesaat, keseimbangannya hilang.Namun sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, Aldren sudah lebih dulu bergerak. Tangannya terulur dengan sigap, menahan tubuh Alia
Pintu kamar tamu terbuka dengan cepat ketika rombongan itu tiba di ujung lorong.Edward Arcelmont segera melangkah lebih dulu dan mendorong pintu kayu besar itu hingga terbuka lebar. Ia kemudian menyingkir sedikit ke samping, memberi jalan. "Yang Mulia, silakan gunakan kamar ini!"Aldren tidak menj
"Sepertinya tubuh Caelum sengaja menghapus ingatan yang dirasa sangat menyakitkan sebagai coping mechanism," jawab Alianne."Hah?" Caelum menatap bingung ke arah Alianne. Kerut di dahinya semakin dalam, jelas tidak mengerti maksud dari istilah yang baru saja dilontarkan itu.Ali
"Kemungkinan itu karena... alam bawah sadar yang tidak sengaja masih menyimpan ingatan terakhir di kehidupan pertama yang paling emosional. Kemudian muncul kembali dalam mimpi setelah ada triggered tertentu." Suaranya tenang, namun kata-katanya membuat beberapa orang mengernyit. Istilah yang ia gu
"Hah?" Alianne menatap Edward Arcelmont dengan tatapan kesal. Alisnya terangkat tinggi. Tatapannya tajam, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Beberapa detik ia hanya menatap Edward. Lalu detik berikutnya, dia menepuk keningnya sendiri dengan keras.







