LOGIN“Ya sudah, iya! Aku setuju!” Alianne menutupi mulutnya sendiri menggunakan kedua tangan, seolah benar-benar mengunci kata-kata agar tidak keluar sebelum waktunya. Namun, dari sorot matanya yang menyala, jelas terlihat bahwa emosinya sudah berada di ambang batas, padahal cerita bahkan belum dimulai.
Aldren terkekeh pelan. Entah mengapa, pemandangan Alianne yang menahan amarah dengan cara sepolos itu terasa menghibur baginya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Baiklah, karena ini bukan uFajar kembali menyingsing, membawa cahaya pucat yang perlahan mengusir sisa kegelapan malam. Langit masih berwarna abu-abu kebiruan, sementara udara pagi terasa dingin dan tajam di kulit. Di halaman depan istana Obsidian, suasana jauh dari kata tenang. Derap langkah para penjaga, gesekan baju zirah, dan bisikan-bisikan pelan membentuk ketegangan yang tidak terlihat namun terasa jelas.Di tengah halaman itu, Alianne berdiri tegak. Tatapannya tertuju pada beberapa wanita muda yang berbaris di hadapannya. Pakaian mereka sederhana, wajah mereka menunjukkan sisa kelelahan, tetapi juga harapan yang belum sepenuhnya padam."Jadi... Apa yang kau tahu mengenai pengobatan herbal?" tanya Alianne, menunjuk pada Bethany.Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat semua orang fokus. Tidak ada nada mengancam, namun tekanan dalam pertanyaan itu tidak bisa diabaikan.Bethany menarik napas sejenak sebelum menjawab. Bahunya menegang, tetapi suaranya tetap berusaha stabil."Aku bisa mengobati berba
"Dan akhirnya kalian diajarkan memanah, disuruh masuk ke dalam benda aneh tak terlihat yang bisa memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya, dan disuruh menggigit pil yang diselipkan ke gigi kalian jika kalian tertangkap."Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Alianne, tanpa jeda, tanpa keraguan, seolah ia sedang menyebutkan sesuatu yang sudah sangat ia pahami. Nada suaranya datar, bahkan cenderung santai, tetapi isi ucapannya terasa seperti pisau yang menguliti lapisan demi lapisan rahasia.Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.Truman dan Fidel menatap Alianne dengan mata yang membesar. Tidak ada kata yang langsung keluar. Hanya keterkejutan yang perlahan berubah menjadi kekaguman, bercampur dengan sedikit ketakutan yang sulit disembunyikan."Sampai tahu sedetail itu..." gumam Truman."Luar biasa..." komentar Fidel.Reaksi mereka jujur. Terlalu jujur.Alianne tidak langsung menanggapi pujian itu. Ia
Pengawal itu berdecak kesal pelan. Jelas ia tidak sepenuhnya setuju, tetapi posisinya tidak memberinya ruang untuk membantah lebih jauh. Setelah menarik napas singkat, ia akhirnya berbalik dan berjalan mendekati para pengawal lain yang berjaga."Kalian semua, tolong jaga Yang Mulia Ratu. Ingatlah! Jika ada goresan sedikit saja di tubuhnya, kalian akan dipenggal Yang Mulia Raja. Mengerti?!"Nada suaranya mengeras, penuh tekanan. Ancaman itu tidak terdengar berlebihan, justru terasa sangat mungkin terjadi."Mengerti!" jawab semua pengawal dengan tegas secara bersamaan.Suara mereka menggema di lorong penjara, serempak dan tanpa ragu. Disiplin yang kaku itu justru menambah kesan mencekam, seolah keselamatan Alianne bukan hanya tanggung jawab, tetapi juga beban hidup dan mati.Keringat imajiner sebesar kepalan tangan seakan menetes di belakang kepala Alianne."Aldren sejahat itukah di mata kalian?"Nada suaranya terdengar ringan, bahkan sedikit bercanda. Namun ada sesuatu di baliknya, sem
Janji itu terdengar seperti harapan. Atau mungkin, jebakan yang dibungkus dengan sangat rapi. Namun berbeda dengan tawaran sang raja sebelumnya, kali ini Truman sama sekali tidak menolak. Keraguannya runtuh perlahan, digantikan oleh satu hal yang lebih kuat: keinginan untuk mengetahui kebenaran. Ia mengulurkan tangan ke arah Alianne, hendak meraih tangan wanita itu. Namun gerakannya terhenti. Rantai yang membelit pergelangan tangannya berderak pelan, menahan setiap upaya yang ia lakukan. Besi dingin itu menjadi pengingat yang kejam akan posisinya saat ini. Alianne menatap rantai itu dengan tatapan malas, seolah baru menyadari sesuatu yang seharusnya sudah jelas sejak awal. "Aku lupa." Nada suaranya datar, tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah pengawal di sampingnya, memberi perintah dengan ringan, seolah yang diminta hanyalah hal sepele. "Bukakan rantainya dulu, tolong!" Pengawal itu mengangguk singkat, menerima perintah tanpa banyak bicara. Ia segera berlari k
Malam itu pekat, seolah menelan segala cahaya yang berani muncul. Hanya sinar bulan yang redup, tertutup tipis oleh awan yang sesekali melintas, menjadi satu-satunya penerang di langit luas. Bayangan pepohonan memanjang di tanah, bergoyang pelan tertiup angin malam yang dingin, menciptakan suasana yang tidak nyaman bagi siapa pun yang melintasinya. Di bawah langit yang muram itu, beberapa kereta kencana bergerak perlahan memasuki wilayah Kerajaan Aurenthia. Roda-roda kayunya berdecit halus, hampir tenggelam oleh kesunyian malam. Tidak ada lambang, tidak ada ukiran khas yang menunjukkan asal-usulnya. Kereta-kereta itu tampak seperti milik rakyat biasa, menyatu dengan kegelapan, seakan sengaja menghindari perhatian siapa pun yang mungkin mengintai dari kejauhan. Padahal, di dalamnya, duduk para Ksatria dari pasukan istana Obsidian. Di salah satu kereta, seorang pria duduk dengan tubuh sedikit condong ke depan. Tatapannya lurus menembus celah tirai, mengamati deretan rumah yang m
"Kalau iya, kenapa?" jawab Alianne dengan santai. Nada suaranya datar. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa takut. Bahkan tidak ada upaya untuk menjelaskan dirinya lebih lanjut. Seolah pertanyaan itu tidak memiliki bobot apa pun. Aldren membulatkan mata. Ia sudah menduga jawaban seperti itu. Sudah memperkirakan bahwa Alianne tidak akan mundur, tidak akan meminta maaf, tidak akan menunjukkan kelemahan. Namun tetap saja dadanya terasa sesak. Perasaan itu datang tiba-tiba, menekan dari dalam tanpa bisa ia kendalikan. Aldren menunduk. Tatapannya jatuh ke lantai, berusaha menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ia perlihatkan. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat lemah. "Kau sudah membantuku untuk mempercepat proses menghancurkan pilar teleportasi. Jadi sekalian saja aku juga mempercepat proses interogasi para tahanan yang belum mengaku. Dan akhirnya sesuai dugaan. Mereka semua benar-benar mengaku—" Kalimat itu terpotong. Aldren bergerak lebi
“Omong-omong...” Thalira menunduk perlahan, tatapannya jatuh ke arah ransel yang berada di pangkuan Serin. Ransel itu tampak biasa saja, namun isinya, benda asing yang barusan digunakan untuk menutup luka seolah menyimpan sesuatu yang jauh lebih misterius. Jari-jarinya bergerak gelisah di atas lu
“Saat pernikahan duke dengan gundiknya berlangsung.” Senyum licik Alianne semakin melebar. Lengkungan bibirnya tidak lagi sekadar menyiratkan amarah, melainkan keyakinan penuh, seolah semua bidak sudah tersusun rapi di papan permainan. Tatapan matanya dingin, tajam, dan berkilat berbahaya. "Tempa
Thalira menatap punggung Leon dengan penuh kebencian. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan. Di dadanya, amarah bergejolak liar, menekan nadi hingga berdenyut sakit. Tangannya bergerak cepat mengambil sebuah pedang yang tergeletak tak jauh dari tempatnya, dekat rak penyimpanan senjata yang sebagian
Di barak militer, kekacauan merajalela tanpa ampun.Bau darah, keringat, dan debu bercampur menjadi satu, menusuk hidung siapa pun yang menghirupnya. Beberapa ksatria tergeletak di lantai batu yang dingin, tubuh mereka penuh luka memar keunguan. Ada yang menggertakkan gigi menahan rasa s







