MasukAldren hendak berjalan ke kamar Alianne. Langkahnya terhenti ketika bayangan dua sosok muncul tepat di depan pintu kamarnya. Lorong di lantai itu relatif sunyi, hanya diterangi cahaya obor yang temaram. Api bergetar pelan, memantulkan cahaya ke dinding batu hitam istana Obsidian.
Dua orang wanita berdiri di sana, mengenakan pakaian pelayan istana.Seorang terlihat berambut hitam dengan rambut memakai konde rapi sementara seorang lagi berambut cokelat kepang dua. Postur merekDi halaman depan Istana Obsidian, suara denting logam dan teriakan komando bergema tanpa henti. Debu tipis beterbangan di udara, terinjak oleh derap kaki para prajurit yang sedang menjalani latihan. Matahari belum terlalu tinggi, namun panasnya sudah cukup untuk membuat suasana terasa berat dan tegang.Di tengah barisan itu, Hery berdiri tegap, mengawasi setiap gerakan dengan ketelitian seorang komandan berpengalaman. Tidak ada yang berani lengah di bawah pengawasannya.Namun ketertiban itu pecah dalam sekejap.Derap langkah cepat terdengar dari kejauhan, semakin mendekat dengan ritme yang tidak teratur. Beberapa prajurit menoleh, kebingungan mulai terlihat di wajah mereka. Sosok yang muncul berikutnya membuat suasana langsung berubah.Aldren.Napasknya terdengar berat, langkahnya tergesa, jauh dari sikap tenang yang biasa ia tunjukkan. “Hery! Bawa semua pasukan! Aku ada misi darurat untuk semua!” serunya tanpa menahan suara.Tanpa menunggu respons, Aldren langsung melompat naik ke at
“Alia, waktunya bangun!” Aldren menepuk pipi Alianne dengan lembut, namun cukup untuk menariknya keluar dari alam tidur yang pekat.Bulu mata Alianne bergetar pelan sebelum akhirnya kedua pupil cokelatnya terbuka perlahan. Pandangannya masih buram, seolah dunia di sekitarnya belum sepenuhnya terbentuk. Namun, begitu fokusnya kembali, napasnya tertahan.Seorang pria berdiri sangat dekat di hadapannya. Wajahnya tampan, sorot matanya tajam, dan keberadaannya terlalu... nyata untuk diabaikan.Jantung Alianne berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, ia langsung mendorong tubuhnya bangkit hingga duduk tegak. Jarak di antara mereka mendadak terasa terlalu sempit, terlalu menyesakkan. “Maaf, kau siapa?!” tanyanya dengan suara yang tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kepanikan.Aldren terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap Alianne, seolah mencoba memahami apakah ini lelucon, atau sesuatu yang jauh lebih serius. Alisnya sedikit berkerut, kebingungan mulai merayap di wajahnya. “Apa maksudmu? Aku adala
Roda kereta kuda yang melaju di jalan berbatu tiba-tiba menghantam sebuah batu besar yang tidak terlihat di bawah bayangan malam. Benturan itu cukup keras hingga membuat seluruh badan kereta terguncang tajam, suara kayu berderit terdengar jelas di dalam ruang sempit tersebut.Alianne yang tidak siap langsung terhempas dari posisi duduknya. Tubuhnya terdorong ke depan, kehilangan keseimbangan dalam sekejap. Jantungnya seakan terhenti sesaat saat ia merasa tubuhnya akan jatuh tanpa penopang.Namun sebelum itu terjadi, sebuah lengan dengan sigap menahannya.Aldren.Tanpa ragu, ia menarik tubuh Alianne ke arahnya, menjadikan dirinya sebagai penopang yang kokoh. Satu tangannya menahan bahu Alianne, sementara yang lain menjaga agar tubuhnya tidak kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Gerakannya cepat, refleks, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang terlatih.Alianne terdiam.Jarak di antara mereka kini terlalu dekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aldren, bahkan detak jantungnya sendiri
"Baik, Yang Mulia!" Para pengawal di sekitar gerbang langsung mengangguk serempak. Tanpa ragu, mereka bergerak maju, tangan-tangan kuat mereka mencengkeram lengan dan bahu Leon. Tidak ada lagi penghormatan yang tersisa dalam gerakan itu. Tidak ada lagi jarak antara seorang bangsawan dan bawahan. Mereka menarik tubuh Leon dengan kasar, menyeretnya menjauh dari tempat yang selama ini ia kuasai. "Tunggu! Ini tidak benar! Aku adalah pemilik kediaman yang asli! Aku adalah duke yang asli!" Suara Leon menggema, penuh amarah dan keputusasaan yang mulai bercampur menjadi satu. Ia berusaha memberontak, tubuhnya menegang, namun kekuatannya tidak sebanding dengan para pengawal yang menahannya. Namun pengawal tidak peduli. Wajah mereka datar, langkah mereka tidak terhenti. Mereka terus menyeret Leon, membawanya keluar dari kediamannya sendiri, melewati gerbang yang kini terasa seperti batas antara kekuasaan dan kehinaan. Kerumunan rakyat yang menyaksikan pemandangan itu langsung meledak
"Yang Mulia Duke telah menyerang barak militer, menyerang pasukan kami, bahkan menyerangku dan ayahku juga. Kemudian, barulah dia menculik para tabib." Suara itu keluar dengan tegas, meski masih tersisa getaran emosi yang belum sepenuhnya stabil. Orang-orang yang dibawa oleh Thalira berdiri dengan canggung, namun keberanian mereka perlahan tumbuh di bawah sorotan semua mata yang kini tertuju pada mereka. "Itu benar!" ucap salah seorang tabib, suaranya gemetar ketakutan. "Kami semua diikat dan diseret paksa. Kami tidak bisa melawan sama sekali." Ia menunduk, tangannya saling menggenggam erat seolah mencoba menahan ingatan yang masih segar di benaknya. "Kami sangat ketakutan... Saat itu hanya sedikit pasukan yang berjaga di barak militer. Kami sama sekali tidak bisa membela diri." Setiap kata yang mereka ucapkan menambah beban yang menekan Leon. Tuduhan demi tuduhan kini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan rangkaian kesaksian yang saling menguatkan. Suasana berubah drastis.
"Jawabannya sudah jelas!" Suara itu memotong ketegangan yang menggantung, tajam namun tetap terkontrol. Elyana melangkah maju dari barisan belakang dengan gerakan anggun yang kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Setiap langkahnya terukur, seolah ia telah menunggu momen ini sejak awal. Di tangannya, selembar surat terangkat jelas untuk dilihat semua orang. Dia menunjukkan surat yang bertuliskan pemberhentian anggaran untuk Count Arcelmont. "Yang Mulia Duke memang menghentikan anggaran untuk Count Arcelmont." Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa. Beberapa bangsawan saling bertukar pandang, sementara rakyat mulai mengangkat kepala mereka sedikit lebih tinggi, mencoba melihat bukti yang ditunjukkan. Leon yang masih berada di tanah menggerakkan tubuhnya dengan susah payah. Wajahnya kotor, napasnya tidak teratur, namun sorot matanya tetap menyala. Ia tidak berniat menyerah begitu saja. "Kalau mau menyalahkan, salahkan saja Yang Mulia Raja!" selaknya tajam.
Pasukan berkuda itu mendekat dengan derap berat dan serempak. Setiap hentakan kuku kuda menghantam pasir pantai, membuat butiran pasir beterbangan dan berhamburan ke udara. Suara logam beradu; jubah zirah, senjata, dan pelana, menyatu dengan angin laut yang membawa aroma darah.Pasukan i
Dalam sekali tarikan pelatuk, peluru dari artileri itu melesat cepat, meraung menembus udara. Benturannya menghantam tepat sasaran, tali yang menjadi satu-satunya jalur Aldren dan Hery terputus seketika, serat-seratnya terurai sebelum benar-benar terbelah.Aldren dan Hery terjatuh bersam
“Kau datangnya terlambat, bodoh!” ucap Thalira sambil kembali fokus membidik musuh.Deburan ombak bercampur teriakan dan dentuman senjata. Pasir pantai telah berubah warna, basah oleh darah dan air laut. Thalira mengatur napas, jari-jarinya tetap stabil di pelatuk meski bahunya mulai ter
Alianne kembali ke kamarnya di puncak menara Istana Obsidian bersama Serin. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi, tubuhnya kini sudah berganti pakaian bersih. Rasa tidak nyaman tadi sedikit berkurang. Namun pikirannya belum juga tenang. Begitu pintu kamar dibuka— Keduanya berhenti. Ran







