FAZER LOGIN
10 tahun lalu
[Desember 2015]
“Dicari Seo Jin Cheol. Hubungi nomor 7567834”
Seo Jian sudah menempelkan semua lembar itu di setiap sudut kota, berharap seseorang menghubunginya. Namun, berbulan-bulan berlalu, polisi menutup kasus dengan kesimpulan bahwa ayahnya tidak akan bisa ditemukan. Berkasnya dicetak di atas kertas laporan, seolah nyawa seseorang bisa diringkas dalam satu baris administratif.
Liputan terakhir di laptop sang ayah yang masih terbuka di ruang kerjanya adalah sebuah laporan investigasi yang belum selesai
“Social responsibility? More Like Social Fraud. Fakta Mengerikan Di Balik Yayasan Amal Terbesar di Seoul.” tertulis di halaman microsoft word itu.
Sejujurnya, Jian tak pernah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Ia hanya tahu bahwa sang ayah adalah wartawan investigasi handal, yang sebetulmya memiliki koneksi di mana-mana. Seo Jin Cheol bukanlah seorang wartawan bodrek. Dia punya nama, namun, ternyata ia pun gugur menguak salah satu borok terbesar di Seoul.
Ayahnya sering kali bergurau “Jian, jangan ikuti aku jadi wartawan. Wartawan itu gaji kecil tapi taruhannya nyawa.” terkekeh sembari menyeruput mie instan, lagi. Dan malam itu, yang paling Ji An takutkan datang. Ayahnya tidak pulang.
Saat itu Jian masih duduk di bangku kelas dua SMA. Ia tidak pernah menyangka bahwa pagi itu, pagi biasa dengan sarapan yang terburu-buru dan pelukan singkat di depan pintu, adalah kali terakhir ia melihat ayahnya.
Tidak bisa dihubungi
Tidak terlacak
Seperti hilang ditelan bumi
Ketika hari ketiga datang, Jian, membuka laptop kerja sang ayah dan sebuah misteri pun ia dapatkan. Apakah ayahnya dihilangkan paksa oleh orang-orang yang ia tulis? Semua kecurigaan itu mengarah pada satu Yayasan amal paling dihormati di Seoul.
Yayasan Social Responsibility
Jian yakin, tetapi ia tak tahu mulai darimana. Malam itu, Ji An membuat pamflet orang hilang. Awalnya ia masih denial tentang fakta yang terpampang di dalam laptop sang ayah. Tetapi lama kelamaan, Jian tidak bisa lagi mengelak dari fakta itu. Yayasan besar yang secara misterius muncul di tengah masyarakat Korea Selatan yang tengah hancur dilanda krisis. Mereka muncul bagaikan mesias yang mengulurkan tangan pada keluarga-keluarga miskin.
“Jian?” Pria gendut di sampingnya menyenggol Jian, sepotong roti baru masuk ke dalam mulutnya.
Jian mengawasi kondisi, ramai sekali. “Paman Cho.”
Lelaki gendut itu menghela nafas, ia mengenal Jian sedari kecil, anak sahabat karibnya yang tiba tiba menghilang begitu saja. Ia bertemu Jian yang tengah menempelkan pamflet di persimpangan jalan dekat gang rumahnya.
“Jian. Biarkan polisi yang menangani semua ini.” bujuk Cho.
“Lalu aku cuma bisa berdiam begitu saja? Menunggu kepastian? Paman Cho, kau ini juga wartawan investigasi, dan kau tahu polisi seperti apa yang kita bicarakan.
Cho hanya menggelengkan kepala, “Jian. Aku tahu maksudmu, dan aku tahu tulisan terakhir ayahmu. Aku mohon hentikan apa yang kau lakukan sekarang. Ayahmu juga tidak akan rela kau dalam bahaya.”
“Tapi paman.” Jian berusaha membela diri, “Jian, demi ayahmu dan keselamatanmu. Kita ini bukan siapa-siapa. Sayangi hidupmu, dan tetaplah hidup untuk ayahmu.”
End of flashback
10 tahun telah berlalu, dan seperti nasehat paman Cho, Jian “merelakan” ayahnya yang hilang. Namun, tetap mencari jalan agar warisan investigasi ini terselesaikan dengan baik. Ya, saat ini Jian mengikuti jalan hidup ayahnya, menjadi wartawan di sebuah media besar. Jian tidak menggunakan nama marga ayahnya, atau pun mengumbar siapa dia sebenarnya. Ia dikenal supel namun semua orang tahu Jian punya banyak topeng yang sepersekian detik bisa diubah sesuai siapa yang ia ajak bicara.
Seperti yang ia lakukan saat ini. Baru-baru ini ia dipindahtugaskan di bagian rubrik lifestyle, dan saat ini ia tengah berada di sebuah gala dinner untuk penggalangan dana bagi anak-anak kurang mampu dari Yayasan yang ia selalu incar. Jian tidak pernah “menyentuh” mereka secara grasah-grusuh. Ia tahu jika ia ceroboh, semua akan buyar. Oleh sebab itu, ia lebih dikenal sebagai wartawan yang “ramah” pada siapapun.
Gala dinner itu dipenuhi dengan orang-orang berpengaruh di kota. Jian mengamati dari sudut ruangan selepas mengobrol basa-basi dengan artis yang tengah naik daun.
Tak ada yang berani menyenggol yayasan ini, sebab tak seorang pun tahu apakah esok hari mereka akan berakhir di tiang gantung, atau membusuk di gang sempit yang gelap dan tak pernah ditemukan.
"Matamu memperlihatkan kemarahan yang besar terhadap mereka."
Jian tersentak dari lamunannya. Di hadapannya berdiri Joo Seonwoo, Orang melabelinya si hakim iblis. Dakwaannya tak pernah main-main dan tak pandang bulu. Ia tak pernah takut membongkar kebusukan para elit Korea
Ia dikenal kharismatik di mata publik dan sangat bengis di mata para pelaku kejahatan. Ia juga yang mencetuskan semua peradilan yang ia pimpin harus disiarkan langsung, “Karena semua rakyat berhak mengetahui proses ini secara transparan.” ucap Seon-Woo dalam satu interview dengan media. Kerap kali hukuman yang ia berikan sungguh tak masuk diakal tapi pihak keluarga korban sangat berterimakasih padanya. Contohnya?
Kasus terakhir yang paling menguncang hati publik adalah kasus pemerkosaan. Korban meningggal dunia dan hukuman si pelaku? Tentu saja 1000 cambukan dan 10 tahun penjara. Menarik bukan? Ya. Itulah Joo Seonwoo
"Tuan Joo, tidak biasanya Anda menyapa wartawan seperti ini. Ada keperluan apa sampai-sampai Hakim Joo Seon-woo mau repot-repot menghampiri wartawan kecil sepertiku?"
Seon-woo tersenyum tipis, senyum yang seolah sudah menghafal setiap sindiran tajam Ji-an dan menikmatinya diam-diam. "Ah, Nona Jian sarkastik seperti biasa. Aku hanya kebetulan melihatmu melamun sendirian di sini. Bukankah seharusnya kau bergabung dengan rekan-rekan wartawanmu? Ini kesempatan langka untuk cari muka, membangun koneksi."
"I'll pass."
"Why?"
"Ini bukan tempatku. Dan tidak akan pernah menjadi tempatku."
"Ya, itu tergambar jelas dari raut wajah dan sorot matamu."
"Ah, sepertinya aku harus lebih banyak berlatih memalsukan ekspresi, seperti yang kau lakukan setiap persidangan."
Seonwoo tersentak kecil. Pertemuan pertama mereka adalah di persidangan kasus (buat nama kasus) Jian duduk tenang di meja wartawan umum. Sesekali pandangan mereka bertemu. Seolah takdir membiasakan itu. Seonwoo terpikat pada tatapan Jian, sedangkan Jian terpesona akan caranya memvonis mati terdakwa.
Selepas sidang, Ji-an menghampirinya dan melontarkan pertanyaan yang tak ia duga akan keluar dari mulut seorang wartawan baru.
"Benarkah hukum ini akan benar-benar memihak rakyat biasa sekarang?"
"Apakah yang Anda lakukan murni demi transparansi dan demokratisasi, atau hanya panggung baru?"
"Haha. Jujur saja, aku tidak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentang caraku. Saat ini, aku bekerja untuk masyarakat. Sama sepertimu, Jian-ssi."
Dari percakapan singkat itu, Seonwoo semakin penasaran pada wartawan bernama Seo Jian itu.
Setelah itu mereka jarang berpapasan. Jian sempat ditugaskan sementara di desk hukum, sebelum akhirnya dipindahkan ke lifestyle. Kini ia lebih memilih memikirkan cara bertahan hidup dalam dunia yang serba tidak menentu ini, tanpa perlu menyeret dirinya sendiri ke liang yang sama (walaupun sebetulnya ia masih melanjutkan sedikit demi sedikit apa yang telah dilakukan ayahnya).
"Wah, apa kau diam-diam sering menonton acara persidanganku di tengah kesibukanmu? Sepertinya aku baru saja bertemu penggemar nomor satu," ujar Seonwoo,
"Teruslah bermimpi, paman."
"Hei, apa aku terlihat setua itu? Ayolah, aku masih terlihat seperti umur tiga puluhan."
"Baru kutahu, sisi narsismu ternyata separah ini, Joo Seonwoo-ssi." Tak disangka, keduanya justru tertawa bersama setelahnya.
Perasaan asing dan gelisah yang sejak tadi mengganjal dada Jian, entah bagaimana, perlahan menghilang berkat percakapan aneh dengan sang hakim iblis ini.
"Kau merasa sesak di sini? Mau cari udara di luar gedung?"
Jian kembali dibuat terkejut oleh ajakan itu. Tak pernah terbayang olehnya, ia akan mengiyakan tawaran Seon-woo dan menemani sang hakim mencari udara segar, atau lebih tepatnya, menemani sang hakim meninggalkan gedung sepenuhnya. Seon-woo membawanya ke sebuah taman kecil, dua blok dari lokasi perjamuan.
"Aku cukup terkejut, seorang Hakim Joo Seonwoo lebih memilih mencari angin daripada bertemu orang-orang penting di pesta itu," ujar Jian sambil berjalan di sisinya.
"Percayalah, aku jauh lebih menyukai keheningan daripada berbasa-basi di sana."
"Benarkah?"
"Yeah. Hei, bisa tidak, ekspresimu itu jangan terlalu dibuat-buat terkejut?"
"Sudah kubilang, aku perlu banyak berlatih denganmu soal itu. Aku memang lebih pandai menulis daripada berpura-pura."
"Berarti kau tidak berbakat menjadi wartawan investigasi."
Jian terdiam. Diamnya kali ini berbeda dari yang tadi, lebih berat, lebih tajam. Seonwoo tahu, ia baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh.
"Ya, memang aku tidak berbakat jadi wartawan investigasi. Aku bahkan membenci mereka. Mereka sering mengendus rumah yang salah, rumah yang seharusnya tidak pernah mereka ganggu, karena semua itu sia-sia."
"Secara tidak langsung, berarti kau menyebut mereka naif dan bodoh."
"Yeah. Toh pada akhirnya, semua pemberitaan cuma jadi barisan kata tak berarti di kolom situs berita dan lembaran koran esok pagi. Membawa perubahan? Omong kosong. Begitu berita itu turun dari halaman utama, orang-orang berkuasa akan dengan mudahnya lolos dari hukum, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Oh, maaf, jika ucapanku menyakitimu."
Seonwoo tidak tersinggung sedikit pun. Ia tahu betul, hukum hanyalah panggung yang sudah dicurangi sejak awal permainan dimulai. Yang selalu menang di panggung itu adalah mereka yang memegang kekuasaan, entah lewat jabatan atau lewat uang.
"Jadi, itu sebabnya kau juga tidak mempercayaiku."
"Ya, termasuk Anda, Tuan Joo. Ini bukan soal pribadi. Hanya saja, sudah lama aku berhenti mempercayai siapa pun yang hadir di pesta semacam ini."
"Lalu, mengapa kau menerima ajakanku sekarang?"
"Hmm, aku sendiri tidak tahu. Mungkin, aku masih ingin mengubah pandanganku tentangmu."
"Why?"
"Entahlah. Aku juga penasaran dengan jawabannya sendiri. Mungkin karena... hanya kau yang menyadari tatapanku, di tengah pesta seramai itu."
Mereka berhenti melangkah, saling menatap dalam diam yang mulai terasa berbahaya.
Mengapa Joo Seonwoo mendekatinya sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu?
Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Ji-an tahu betul, ini bukan sekadar kebetulan. Ia bukan lagi remaja yang mudah dibujuk.
Pertanyaannya sekarang, apakah ia perlu membuka semua kartunya di depan hakim iblis ini? Atau jangan-jangan, Seon-woo sudah lebih dulu mengetahui seluruh kartu yang ia genggam?
"Tuan Joo, Anda tahu aku bukan lagi remaja naif tujuh belas tahun yang siang malam mencari keberadaan ayahnya yang menghilang begitu saja, kan?"
"Aku tahu. Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan sekarang. Aku juga tahu, kau mendekatiku bukan tanpa alasan. Kau sedang mencari sesuatu."
"Pengamatan yang bagus, nona Jian. Aku selalu takjub bagaimana kau bisa melihat apa yang sebenarnya ada di depanmu, lalu terus memegang teguh keyakinan itu, apa pun risikonya."
"Lalu? Anda tahu, aku sudah terlalu paham dengan basa-basi orang-orang elite seperti kalian, Tuan Joo. Kalau memang Anda berbeda dari mereka, setidaknya Anda tidak perlu bersembunyi di semak-semak seperti ini untuk bicara denganku."
"Ahaha, baiklah." Seon-woo mengangkat tangan kanannya, perlahan menyibak poni yang menutupi sebagian alis Ji-an. Jarinya lalu turun, berhenti sesaat di pipi kanan Ji-an, sentuhan yang terlalu ringan untuk disebut lancang, namun terlalu berani untuk diabaikan begitu saja. "Aku hanya ingin meminta satu hal darimu."
"Meminta?"
"Maukah kau memberiku kesempatan untuk membuatmu percaya?"
"Percaya?"
"Bahwa aku akan membawa keadilan, untukmu."
Jian tertegun, jantungnya berdebar aneh, campuran antara waspada dan sesuatu yang tak ingin ia namai. Ada apa dengan pria ini? Apakah kepalanya terbentur sesuatu sebelum datang ke pesta malam ini?
"Tuan Joo, apa kepala Anda terbentur? Anda baik-baik saja? Ini lelucon yang sama sekali tidak lucu."
"Nona Jian, maukah kau membantuku menjatuhkan semua orang di pesta ini, satu per satu, sampai tak tersisa satu pun yang berdiri?"
Kalimat itu sungguh berbahaya, jika sampai terdengar oleh tuan rumah, bisa berakhir dengan nyawa mereka berdua sebagai taruhannya. Joo Seon-woo benar-benar sudah gila, batin Ji-an, meski entah kenapa, ada bagian kecil dalam dirinya yang justru merasa hidup untuk pertama kalinya sejak lama.
"Tuan Joo, Anda sadar, ucapan Anda barusan bisa membuat kita berdua ditangkap malam ini juga."
"Sebelum mereka sempat menangkap kita berdua, aku akan pastikan mereka lebih dulu yang dihukum. Jadi, maukah kau membantuku?"
"Tunggu, entah kenapa, ajakanmu ini terdengar seperti seseorang yang sedang melamar kekasihnya."
“Anggaplah begitu. Mau jadi kekasihku?”
Bab 510 tahun lalu Desember, 2015Kantor polisi itu selalu berbau kopi murahan dan kertas lembab, sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang meski musim berganti. Seo Jian, masih mengenakan seragam SMA, sudah hafal betul seluk beluk tempat ini. Dimana dia harus duduk, wajah-wajah petugas dan jam pergantian shiftHari itu adalah hari ke-empat puluh tujuh sejak ayahnya menghilang. Ji-an tahu persis angkanya, karena ia menghitungnya setiap malam sebelum tidur, seolah dengan menghitung, ia bisa mengendalikan sesuatu yang sebenarnya jauh di luar kendalinya."Kau lagi." Sebuah suara menyapa dari balik meja kerja yang penuh tumpukan berkas. Baek Do-jin, saat itu masih detektif muda yang baru tiga tahun bertugas, mendongak dari layar komputernya, sedikit terkejut melihat gadis remaja yang sama, untuk kesekian kalinya, berdiri di depan mejanya dengan wajah penuh harap yang mulai memudar."Aku hanya ingin tahu apakah ada perkembangan, Pak," ucap Jian, suaranya sudah tidak segetir minggu-ming
Bab 4Di kantor Unit Kejahatan Khusus, Baek Do-jin duduk di hadapan atasannya, Komisaris Oh, seorang pria yang sudah dua dekade lebih malang melintang di dunia penegakan hukum, dan tahu betul bagaimana caranya bertahan hidup dalam sistem yang penuh kepentingan."Kau yakin ingin membuka kembali kasus lama ini, Jin?" tanya Komisaris Oh, alisnya berkerut tajam. "Kau tahu kejaksaan sudah menutup kasus kematian ayah wartawan itu sejak lima tahun lalu. Membukanya kembali sama saja mengundang perang dengan mereka.""Dengan segala hormat, Komisaris, sejak kapan kejaksaan pernah benar-benar menyelidiki apa pun yang berhubungan dengan yayasan itu?" Do-jin meletakkan map berisi hasil pengamatannya semalam di atas meja. "Mereka selalu 'menutup' kasus lebih cepat daripada kita sempat membuka penyelidikan penuh. Dan sekarang, jaksa yang sempat menyelidiki kasus ini juga sudah tewas."Komisaris Oh terdiam, menatap foto-foto yang tersebar di map itu, termasuk foto jabat tangan Seonwoo dan Jian di tam
Bab 3Jam enam sore, langit Seoul perlahan tenggelam ke dalam abu-abu. Seo Jian sudah berdiri di taman itu sejak sepuluh menit lalu, kotak arsip ayahnya didekap erat di dadanya seperti perisai, meski ia tahu betul, kotak itu tidak akan pernah cukup untuk melindunginya dari apa pun.Ia melihat Joo Seonwoo berjalan mendekat dari kejauhan, tanpa jubah hakim, tanpa aura publik yang biasa membungkusnya di layar televisi. Hanya seorang pria dengan jas gelap, tangan di saku, langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyebut kematian sebagai kemungkinan nyata semalam."Kau datang." Ada nada lega yang samar dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah Ji-an duga bisa keluar dari seorang hakim yang terkenal karena wajah dinginnya di ruang sidang."Aku bilang akan datang. Aku selalu menepati ucapanku, Tuan Joo. Beda dengan orang-orang di pesta semalam." Jian mendekap kotaknya lebih erat. "Sekarang, katakan. Siapa yang membunuh jaksa itu?"Seon-woo menghela napas panjang, matanya u
Bab 2Taman itu sunyi, hanya diterangi lampu jalan berwarna kuning pucat dan suara angin yang menggesek dedaunan. Seo Jian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap Joo Seon-woo seolah baru saja melihat sisi lain dari pria itu, sisi yang tidak pernah ditampilkan di layar kaca ketika ia menjatuhkan vonis dengan wajah setenang air."Kau serius," ucap Jian akhirnya, bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan yang masih ia coba yakinkan sendiri."Aku tidak pernah seserius ini seumur hidupku." Seonwoo memasukkan kedua tangan ke saku jasnya, tatapannya tidak lagi jenaka seperti tadi. Ada sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam, bersembunyi di baliknya. "Aku butuh seseorang yang bisa masuk ke tempat-tempat yang tidak bisa kumasuki. Seseorang yang punya alasan kuat untuk tidak pernah berhenti, bahkan ketika semua orang menyuruhnya berhenti."Ji-an menegang. "Kau menyelidikiku.""Aku menyelidiki semua orang yang menarik perhatianku, Nona Jian Itu bukan rahasia.""Berarti kau tahu soal ayahku.""Ak
10 tahun lalu[Desember 2015]“Dicari Seo Jin Cheol. Hubungi nomor 7567834” Seo Jian sudah menempelkan semua lembar itu di setiap sudut kota, berharap seseorang menghubunginya. Namun, berbulan-bulan berlalu, polisi menutup kasus dengan kesimpulan bahwa ayahnya tidak akan bisa ditemukan. Berkasnya dicetak di atas kertas laporan, seolah nyawa seseorang bisa diringkas dalam satu baris administratif.Liputan terakhir di laptop sang ayah yang masih terbuka di ruang kerjanya adalah sebuah laporan investigasi yang belum selesai “Social responsibility? More Like Social Fraud. Fakta Mengerikan Di Balik Yayasan Amal Terbesar di Seoul.” tertulis di halaman microsoft word itu. Sejujurnya, Jian tak pernah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Ia hanya tahu bahwa sang ayah adalah wartawan investigasi handal, yang sebetulmya memiliki koneksi di mana-mana. Seo Jin Cheol bukanlah seorang wartawan bodrek. Dia punya nama, namun, ternyata ia pun gugur menguak salah satu borok terbesar di Seoul. Ayahny







