FAZER LOGINBab 4
Di kantor Unit Kejahatan Khusus, Baek Do-jin duduk di hadapan atasannya, Komisaris Oh, seorang pria yang sudah dua dekade lebih malang melintang di dunia penegakan hukum, dan tahu betul bagaimana caranya bertahan hidup dalam sistem yang penuh kepentingan.
"Kau yakin ingin membuka kembali kasus lama ini, Jin?" tanya Komisaris Oh, alisnya berkerut tajam. "Kau tahu kejaksaan sudah menutup kasus kematian ayah wartawan itu sejak lima tahun lalu. Membukanya kembali sama saja mengundang perang dengan mereka."
"Dengan segala hormat, Komisaris, sejak kapan kejaksaan pernah benar-benar menyelidiki apa pun yang berhubungan dengan yayasan itu?" Do-jin meletakkan map berisi hasil pengamatannya semalam di atas meja. "Mereka selalu 'menutup' kasus lebih cepat daripada kita sempat membuka penyelidikan penuh. Dan sekarang, jaksa yang sempat menyelidiki kasus ini juga sudah tewas."
Komisaris Oh terdiam, menatap foto-foto yang tersebar di map itu, termasuk foto jabat tangan Seonwoo dan Jian di taman malam sebelumnya.
"Kau mencurigai Hakim Joo terlibat langsung?"
"Aku mencurigai semua orang yang terlalu bersih untuk menjadi nyata, Komisaris. Dan hakim itu, sejujurnya, terlalu sempurna untuk dipercaya begitu saja."
Komisaris Oh menghela napas panjang, menggosok pelipisnya seolah sudah bisa membayangkan betapa rumitnya jalan yang akan mereka tempuh jika benar-benar membuka kembali kasus ini. Institusi kepolisian dan kejaksaan sudah lama saling curiga, saling menutupi kepentingan masing-masing, dan kasus sebesar ini, yang menyentuh nama seorang hakim sekaligus yayasan berpengaruh, bisa dengan mudah menjadi ajang perebutan kekuasaan antara dua institusi yang seharusnya bekerja sama.
"Baiklah," ucap Komisaris Oh akhirnya, meski nada suaranya masih menyisakan keraguan yang kentara. "Tapi lakukan diam-diam. Jangan libatkan kejaksaan sama sekali, sampai kita punya bukti yang cukup kuat untuk tidak bisa mereka bantah, apalagi mereka tutup-tutupi lagi seperti biasa."
"Dimengerti, Komisaris."
Dojin berdiri, mengambil kembali mapnya, namun sebelum ia sempat melangkah
keluar dari ruangan, Komisaris Oh memanggilnya sekali lagi.
"Jin, satu hal lagi." Nada suaranya berubah, lebih rendah, lebih serius. "Jika benar hakim itu terlibat, kau harus siap menghadapi kenyataan bahwa kau sedang melawan seseorang yang dipuja oleh seluruh negeri ini. Publik tidak akan mudah percaya bahwa 'dewa keadilan' mereka sebenarnya adalah bagian dari kejahatan yang selama ini mereka benci."
"Aku tahu, Komisaris." Do-jin tersenyum tipis, senyum yang tidak menyimpan sedikit pun keraguan. "Tapi kebenaran tidak pernah peduli seberapa populer kebohongan yang menutupinya."
Sementara itu, di sisi lain kota, Seo Ji-an baru saja tiba di kantor redaksi, kotak arsip ayahnya masih tersimpan aman di dalam tasnya, ketika ponselnya kembali bergetar. Bukan pesan dari nomor tak dikenal seperti malam-malam sebelumnya, melainkan panggilan telepon dari kontak yang sudah lama tidak pernah ia hubungi.
Detektif Baek Dojin.
Jian menatap layar ponselnya lama, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Nama itu, ia kenal betul. Detektif yang sama yang 10 tahun lalu, sempat menanganikasus hilangnya sang ayah
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ji-an mengangkat panggilan itu.
"Tuan Dojini? Sudah lama sekali."
"Hei Jian, sudah kubilang jangan terlalu formal begitu panggil saja Dojin." Suara di seberang telepon terdengar tenang, namun ada nada waspada yang tidak bisa disembunyikan.
"Eum, sebetulnya Aku butuh bicara denganmu. Secepatnya. Ini soal ayahmu, dan soal seseorang yang baru-baru ini kulihat bersamamu."
Bab 510 tahun lalu Desember, 2015Kantor polisi itu selalu berbau kopi murahan dan kertas lembab, sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang meski musim berganti. Seo Jian, masih mengenakan seragam SMA, sudah hafal betul seluk beluk tempat ini. Dimana dia harus duduk, wajah-wajah petugas dan jam pergantian shiftHari itu adalah hari ke-empat puluh tujuh sejak ayahnya menghilang. Ji-an tahu persis angkanya, karena ia menghitungnya setiap malam sebelum tidur, seolah dengan menghitung, ia bisa mengendalikan sesuatu yang sebenarnya jauh di luar kendalinya."Kau lagi." Sebuah suara menyapa dari balik meja kerja yang penuh tumpukan berkas. Baek Do-jin, saat itu masih detektif muda yang baru tiga tahun bertugas, mendongak dari layar komputernya, sedikit terkejut melihat gadis remaja yang sama, untuk kesekian kalinya, berdiri di depan mejanya dengan wajah penuh harap yang mulai memudar."Aku hanya ingin tahu apakah ada perkembangan, Pak," ucap Jian, suaranya sudah tidak segetir minggu-ming
Bab 4Di kantor Unit Kejahatan Khusus, Baek Do-jin duduk di hadapan atasannya, Komisaris Oh, seorang pria yang sudah dua dekade lebih malang melintang di dunia penegakan hukum, dan tahu betul bagaimana caranya bertahan hidup dalam sistem yang penuh kepentingan."Kau yakin ingin membuka kembali kasus lama ini, Jin?" tanya Komisaris Oh, alisnya berkerut tajam. "Kau tahu kejaksaan sudah menutup kasus kematian ayah wartawan itu sejak lima tahun lalu. Membukanya kembali sama saja mengundang perang dengan mereka.""Dengan segala hormat, Komisaris, sejak kapan kejaksaan pernah benar-benar menyelidiki apa pun yang berhubungan dengan yayasan itu?" Do-jin meletakkan map berisi hasil pengamatannya semalam di atas meja. "Mereka selalu 'menutup' kasus lebih cepat daripada kita sempat membuka penyelidikan penuh. Dan sekarang, jaksa yang sempat menyelidiki kasus ini juga sudah tewas."Komisaris Oh terdiam, menatap foto-foto yang tersebar di map itu, termasuk foto jabat tangan Seonwoo dan Jian di tam
Bab 3Jam enam sore, langit Seoul perlahan tenggelam ke dalam abu-abu. Seo Jian sudah berdiri di taman itu sejak sepuluh menit lalu, kotak arsip ayahnya didekap erat di dadanya seperti perisai, meski ia tahu betul, kotak itu tidak akan pernah cukup untuk melindunginya dari apa pun.Ia melihat Joo Seonwoo berjalan mendekat dari kejauhan, tanpa jubah hakim, tanpa aura publik yang biasa membungkusnya di layar televisi. Hanya seorang pria dengan jas gelap, tangan di saku, langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyebut kematian sebagai kemungkinan nyata semalam."Kau datang." Ada nada lega yang samar dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah Ji-an duga bisa keluar dari seorang hakim yang terkenal karena wajah dinginnya di ruang sidang."Aku bilang akan datang. Aku selalu menepati ucapanku, Tuan Joo. Beda dengan orang-orang di pesta semalam." Jian mendekap kotaknya lebih erat. "Sekarang, katakan. Siapa yang membunuh jaksa itu?"Seon-woo menghela napas panjang, matanya u
Bab 2Taman itu sunyi, hanya diterangi lampu jalan berwarna kuning pucat dan suara angin yang menggesek dedaunan. Seo Jian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap Joo Seon-woo seolah baru saja melihat sisi lain dari pria itu, sisi yang tidak pernah ditampilkan di layar kaca ketika ia menjatuhkan vonis dengan wajah setenang air."Kau serius," ucap Jian akhirnya, bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan yang masih ia coba yakinkan sendiri."Aku tidak pernah seserius ini seumur hidupku." Seonwoo memasukkan kedua tangan ke saku jasnya, tatapannya tidak lagi jenaka seperti tadi. Ada sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam, bersembunyi di baliknya. "Aku butuh seseorang yang bisa masuk ke tempat-tempat yang tidak bisa kumasuki. Seseorang yang punya alasan kuat untuk tidak pernah berhenti, bahkan ketika semua orang menyuruhnya berhenti."Ji-an menegang. "Kau menyelidikiku.""Aku menyelidiki semua orang yang menarik perhatianku, Nona Jian Itu bukan rahasia.""Berarti kau tahu soal ayahku.""Ak
10 tahun lalu[Desember 2015]“Dicari Seo Jin Cheol. Hubungi nomor 7567834” Seo Jian sudah menempelkan semua lembar itu di setiap sudut kota, berharap seseorang menghubunginya. Namun, berbulan-bulan berlalu, polisi menutup kasus dengan kesimpulan bahwa ayahnya tidak akan bisa ditemukan. Berkasnya dicetak di atas kertas laporan, seolah nyawa seseorang bisa diringkas dalam satu baris administratif.Liputan terakhir di laptop sang ayah yang masih terbuka di ruang kerjanya adalah sebuah laporan investigasi yang belum selesai “Social responsibility? More Like Social Fraud. Fakta Mengerikan Di Balik Yayasan Amal Terbesar di Seoul.” tertulis di halaman microsoft word itu. Sejujurnya, Jian tak pernah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Ia hanya tahu bahwa sang ayah adalah wartawan investigasi handal, yang sebetulmya memiliki koneksi di mana-mana. Seo Jin Cheol bukanlah seorang wartawan bodrek. Dia punya nama, namun, ternyata ia pun gugur menguak salah satu borok terbesar di Seoul. Ayahny







