Compartilhar

Sepercik cahaya(?)

Autor: Amadea Alma
last update Data de publicação: 2026-09-16 16:30:17

Bab 3

Jam enam sore, langit Seoul perlahan tenggelam ke dalam abu-abu. Seo Jian sudah berdiri di taman itu sejak sepuluh menit lalu, kotak arsip ayahnya didekap erat di dadanya seperti perisai, meski ia tahu betul, kotak itu tidak akan pernah cukup untuk melindunginya dari apa pun.

Ia melihat Joo Seonwoo berjalan mendekat dari kejauhan, tanpa jubah hakim, tanpa aura publik yang biasa membungkusnya di layar televisi. Hanya seorang pria dengan jas gelap, tangan di saku, langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyebut kematian sebagai kemungkinan nyata semalam.

"Kau datang." Ada nada lega yang samar dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah Ji-an duga bisa keluar dari seorang hakim yang terkenal karena wajah dinginnya di ruang sidang.

"Aku bilang akan datang. Aku selalu menepati ucapanku, Tuan Joo. Beda dengan orang-orang di pesta semalam." Jian mendekap kotaknya lebih erat. "Sekarang, katakan. Siapa yang membunuh jaksa itu?"

Seon-woo menghela napas panjang, matanya untuk sesaat mengarah ke langit yang mulai gelap, seolah mencari kalimat yang tidak akan membuat semuanya semakin runyam.

"Aku tidak tahu siapa yang menarik pelatuknya secara langsung. Tapi aku tahu siapa yang memberi perintah." Ia menatap Ji-an lurus-lurus. "Namanya tidak akan kuucapkan di tempat terbuka seperti ini. Bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena aku tidak percaya pada taman ini."

Ji-an mengedarkan pandangan, memperhatikan sekeliling dengan waspada, seolah baru sadar betapa terbukanya tempat mereka berdiri. "Kau pikir kita sedang diawasi?"

"Aku selalu berasumsi begitu, Ji-an-ssi. Itu sebabnya aku masih hidup sampai sekarang." Seon-woo melangkah lebih dekat, cukup dekat hingga Ji-an bisa mencium samar aroma parfumnya, campuran kayu dan sesuatu yang lebih dingin, seperti logam. "Kotak itu, bolehkah aku melihatnya?"

Ji-an mundur setengah langkah, insting jurnalisnya menyala lebih terang dari rasa penasarannya. "Belum. Bukan sebelum kau menjawab satu pertanyaan dariku dengan jujur."

"Tanyakan."

"Inisial J.S.W. Ada di salah satu catatan ayahku. Apakah itu kau?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Ji-an melihat sesuatu retak di wajah Seon-woo, sepersekian detik yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat Ji-an yakin bahwa pertanyaannya baru saja menyentuh sesuatu yang nyata.

"Ya," jawab Seon-woo akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Tapi bukan seperti yang kau pikirkan."

"Lalu seperti apa?"

"Ayahmu menghubungiku, dua minggu sebelum ia menghilang." Seon-woo menatap ke arah lain, ke sebuah titik kosong di kejauhan, seolah sedang memutar kembali sebuah kenangan yang selama ini ia coba kubur. "Ia memintaku untuk memihaknya dalam sebuah kasus yang tidak pernah sampai ke meja persidangan. Kasus yang melibatkan Yayasan Social Responsibility. Aku menolaknya."

Dada Jian terasa sesak. "Kau menolak membantu ayahku?"

"Aku bilang aku belum punya cukup bukti untuk membuka kasus itu tanpa membahayakan nyawanya. Aku salah. Aku pikir dengan menunggu, aku sedang melindunginya. Nyatanya, mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku." Seonwoo akhirnya menatap Jian lagi, dan kali ini, tidak ada lagi senyum sarkastik yang biasa menghiasi wajahnya. "Ayahmu mati karena aku terlalu berhati-hati, Nona Jian. Dan aku sudah membawa beban itu selama 10 tahun terakhir."

Angin malam berhembus, membawa serta keheningan yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah Jian rasakan sejak kepergian ayahnya. Ia ingin marah, berteriak, menyalahkan pria di hadapannya ini atas semua tahun yang hilang, semua malam ia menangis sendirian membayangkan wajah ayahnya yang tak pernah kembali. Tapi anehnya, yang keluar dari mulutnya justru pertanyaan lain.

"Kalau begitu, mengapa sekarang? Mengapa baru sekarang kau mendekatiku, setelah 10 tahun berlalu?"

"Karena mereka mulai bergerak lagi." Seonwoo merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah amplop coklat lusuh, menyerahkannya pada Jian dengan tangan yang, untuk pertama kalinya malam itu, sedikit tidak stabil. "Dan kali ini, targetnya bukan lagi wartawan kecil yang bisa mereka singkirkan diam-diam. Targetnya adalah aku."

Jian membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, selembar foto, diambil dari jarak jauh, memperlihatkan dirinya sendiri, berjalan pulang dari kantor redaksi tiga hari yang lalu. Di sudut foto, tertulis dengan tinta merah, sebuah pesan singkat yang membuat darah Jian serasa membeku.

"Jangan biarkan hakim itu membuatmu berakhir seperti ayahmu."

"Ini..." Suara Jian tercekat di tenggorokan.

"Aku menemukan itu di meja kerjaku pagi ini." Seonwoo mengambil kembali amplop itu, memasukkannya ke dalam saku jasnya seperti sedang menyembunyikan sebuah bukti kejahatan. "Mereka sudah tahu kita bertemu semalam. Mereka sudah tahu, dan mereka ingin kita berdua tahu bahwa mereka tahu."

Jian menatap Seon-woo lama, mencoba membaca setiap lekuk wajahnya, mencari kebohongan yang barangkali tersembunyi di balik ketulusan yang ia tunjukkan malam ini. Tapi yang ia temukan hanyalah kelelahan yang sama seperti yang selama ini ia rasakan sendiri, 

"Kalau begitu," ucap Jian pelan, suaranya lebih tegas dari yang ia kira, "sepertinya kita berdua tidak punya pilihan lain, selain saling percaya. Untuk sementara ini."

Seonwoo tersenyum, senyum yang berbeda dari sebelumnya, lebih tulus, lebih rapuh. 

"Untuk sementara ini," ulangnya, "terdengar seperti awal yang cukup berbahaya bagi kita berdua."

"Semua yang berharga selalu berbahaya, Tuan Joo."

"Kalau begitu," Seon-woo mengulurkan tangannya, "mari kita hadapi bahaya itu bersama-sama, Ji-an-ssi."

Jian menatap tangan itu lama, sebelum akhirnya menjabatnya, sebuah kesepakatan yang ia tahu betul akan mengubah seluruh arah hidupnya, entah menuju keadilan yang selama ini ia cari, atau menuju kehancuran yang jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan.

Yang tidak disadari malam itu, di balik pepohonan gelap tak jauh dari mereka berdiri, sepasang mata lain juga sedang mengawasi jabat tangan itu, merekam setiap detiknya dengan diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk melaporkannya kepada seseorang yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun yang mereka berdua kenal.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Terjerat Pesona Hakim Iblis   Cerita tentang Jian

    Bab 510 tahun lalu Desember, 2015Kantor polisi itu selalu berbau kopi murahan dan kertas lembab, sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang meski musim berganti. Seo Jian, masih mengenakan seragam SMA, sudah hafal betul seluk beluk tempat ini. Dimana dia harus duduk, wajah-wajah petugas dan jam pergantian shiftHari itu adalah hari ke-empat puluh tujuh sejak ayahnya menghilang. Ji-an tahu persis angkanya, karena ia menghitungnya setiap malam sebelum tidur, seolah dengan menghitung, ia bisa mengendalikan sesuatu yang sebenarnya jauh di luar kendalinya."Kau lagi." Sebuah suara menyapa dari balik meja kerja yang penuh tumpukan berkas. Baek Do-jin, saat itu masih detektif muda yang baru tiga tahun bertugas, mendongak dari layar komputernya, sedikit terkejut melihat gadis remaja yang sama, untuk kesekian kalinya, berdiri di depan mejanya dengan wajah penuh harap yang mulai memudar."Aku hanya ingin tahu apakah ada perkembangan, Pak," ucap Jian, suaranya sudah tidak segetir minggu-ming

  • Terjerat Pesona Hakim Iblis   Paman over-protektif

    Bab 4Di kantor Unit Kejahatan Khusus, Baek Do-jin duduk di hadapan atasannya, Komisaris Oh, seorang pria yang sudah dua dekade lebih malang melintang di dunia penegakan hukum, dan tahu betul bagaimana caranya bertahan hidup dalam sistem yang penuh kepentingan."Kau yakin ingin membuka kembali kasus lama ini, Jin?" tanya Komisaris Oh, alisnya berkerut tajam. "Kau tahu kejaksaan sudah menutup kasus kematian ayah wartawan itu sejak lima tahun lalu. Membukanya kembali sama saja mengundang perang dengan mereka.""Dengan segala hormat, Komisaris, sejak kapan kejaksaan pernah benar-benar menyelidiki apa pun yang berhubungan dengan yayasan itu?" Do-jin meletakkan map berisi hasil pengamatannya semalam di atas meja. "Mereka selalu 'menutup' kasus lebih cepat daripada kita sempat membuka penyelidikan penuh. Dan sekarang, jaksa yang sempat menyelidiki kasus ini juga sudah tewas."Komisaris Oh terdiam, menatap foto-foto yang tersebar di map itu, termasuk foto jabat tangan Seonwoo dan Jian di tam

  • Terjerat Pesona Hakim Iblis   Sepercik cahaya(?)

    Bab 3Jam enam sore, langit Seoul perlahan tenggelam ke dalam abu-abu. Seo Jian sudah berdiri di taman itu sejak sepuluh menit lalu, kotak arsip ayahnya didekap erat di dadanya seperti perisai, meski ia tahu betul, kotak itu tidak akan pernah cukup untuk melindunginya dari apa pun.Ia melihat Joo Seonwoo berjalan mendekat dari kejauhan, tanpa jubah hakim, tanpa aura publik yang biasa membungkusnya di layar televisi. Hanya seorang pria dengan jas gelap, tangan di saku, langkah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyebut kematian sebagai kemungkinan nyata semalam."Kau datang." Ada nada lega yang samar dalam suaranya, sesuatu yang tidak pernah Ji-an duga bisa keluar dari seorang hakim yang terkenal karena wajah dinginnya di ruang sidang."Aku bilang akan datang. Aku selalu menepati ucapanku, Tuan Joo. Beda dengan orang-orang di pesta semalam." Jian mendekap kotaknya lebih erat. "Sekarang, katakan. Siapa yang membunuh jaksa itu?"Seon-woo menghela napas panjang, matanya u

  • Terjerat Pesona Hakim Iblis   "Dilamar" Sang Hakim Iblis

    Bab 2Taman itu sunyi, hanya diterangi lampu jalan berwarna kuning pucat dan suara angin yang menggesek dedaunan. Seo Jian masih terpaku di tempatnya berdiri, menatap Joo Seon-woo seolah baru saja melihat sisi lain dari pria itu, sisi yang tidak pernah ditampilkan di layar kaca ketika ia menjatuhkan vonis dengan wajah setenang air."Kau serius," ucap Jian akhirnya, bukan pertanyaan, lebih ke pernyataan yang masih ia coba yakinkan sendiri."Aku tidak pernah seserius ini seumur hidupku." Seonwoo memasukkan kedua tangan ke saku jasnya, tatapannya tidak lagi jenaka seperti tadi. Ada sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam, bersembunyi di baliknya. "Aku butuh seseorang yang bisa masuk ke tempat-tempat yang tidak bisa kumasuki. Seseorang yang punya alasan kuat untuk tidak pernah berhenti, bahkan ketika semua orang menyuruhnya berhenti."Ji-an menegang. "Kau menyelidikiku.""Aku menyelidiki semua orang yang menarik perhatianku, Nona Jian Itu bukan rahasia.""Berarti kau tahu soal ayahku.""Ak

  • Terjerat Pesona Hakim Iblis   Pertemuan yang digariskan takdir(?)

    10 tahun lalu[Desember 2015]“Dicari Seo Jin Cheol. Hubungi nomor 7567834” Seo Jian sudah menempelkan semua lembar itu di setiap sudut kota, berharap seseorang menghubunginya. Namun, berbulan-bulan berlalu, polisi menutup kasus dengan kesimpulan bahwa ayahnya tidak akan bisa ditemukan. Berkasnya dicetak di atas kertas laporan, seolah nyawa seseorang bisa diringkas dalam satu baris administratif.Liputan terakhir di laptop sang ayah yang masih terbuka di ruang kerjanya adalah sebuah laporan investigasi yang belum selesai “Social responsibility? More Like Social Fraud. Fakta Mengerikan Di Balik Yayasan Amal Terbesar di Seoul.” tertulis di halaman microsoft word itu. Sejujurnya, Jian tak pernah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Ia hanya tahu bahwa sang ayah adalah wartawan investigasi handal, yang sebetulmya memiliki koneksi di mana-mana. Seo Jin Cheol bukanlah seorang wartawan bodrek. Dia punya nama, namun, ternyata ia pun gugur menguak salah satu borok terbesar di Seoul. Ayahny

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status