Share

45. Pulang

Author: Sofia Saarah
last update publish date: 2026-04-07 09:16:49

Tak lama kemudian suara lain menyusul, lebih muda namun tak kalah keras.

“SHERINE! TURUN SEKARANG!”

Ibrahim.

Dewa langsung terdiam.

Seluruh tubuhnya menegang. Ada firasat buruk yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia menoleh ke arah tangga.

“Siapa itu?” tanya Veneza bingung.

Namun Dewa tidak menjawab. Ia sudah berjalan cepat menuju tangga. Langkahnya terasa berat saat menuruni setiap anak tangga.

Begitu sampai di ruang tamu, pemandangan di sana langsung membuat napasnya tertahan. Mustafa Ahlam b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Istriku   46. Kehilangan Sherine

    Kalimat itu seperti memukul dada Dewa.“Sherine—”“Nanti saya akan mengurus semuanya.”Air matanya jatuh semakin deras.“Termasuk… perceraian kita.”Ruangan itu langsung membeku.Dewa seperti kehilangan udara untuk bernapas.“Apa?”Ia melangkah satu langkah mendekat. Namun Sherine sudah memalingkan wajahnya. Dewa menggeleng pelan, tidak percaya.“Tidak… kita bisa bicara—”“Semuanya sudah cukup.” Sherine menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Pernikahan ini sejak awal memang salah.”Dewa merasakan sesuatu di dadanya seperti retak. Ia meraih lengan Sherine lagi. “Kita bisa memperbaikinya.” Nada suaranya berubah… bukan lagi keras seperti sebelumnya.Justru terdengar memohon.“Aku minta maaf.”Kalimat itu keluar dengan berat. Sherine menutup matanya sesaat. Namun sebelum ia sempat menjawab—Mustafa melangkah maju. Suara sepatu pria tua itu terdengar tegas di lantai marmer.“Cukup.”Ia berdiri di antara mereka. Tatapannya dingin pada Dewa. “Ambil uang empat ratus juta itu.” Ia menun

  • Terjerat Pesona Istriku   45. Pulang

    Tak lama kemudian suara lain menyusul, lebih muda namun tak kalah keras.“SHERINE! TURUN SEKARANG!”Ibrahim.Dewa langsung terdiam.Seluruh tubuhnya menegang. Ada firasat buruk yang tiba-tiba menyusup ke dadanya. Ia menoleh ke arah tangga.“Siapa itu?” tanya Veneza bingung.Namun Dewa tidak menjawab. Ia sudah berjalan cepat menuju tangga. Langkahnya terasa berat saat menuruni setiap anak tangga.Begitu sampai di ruang tamu, pemandangan di sana langsung membuat napasnya tertahan. Mustafa Ahlam berdiri di tengah ruangan dengan wajah keras seperti batu.Di sampingnya ada Ibrahim, rahangnya terkunci rapat menahan emosi. Dan sedikit di belakang mereka—Jeeh.Tatapan Dewa langsung mengeras.Dadanya seperti disulut api.Jadi benar…Ia tahu siapa yang membawa mereka ke sini. Namun saat ini ia tidak punya ruang untuk melampiaskan kemarahannya. Karena yang berdiri di hadapannya adalah ayah dan kakak dari istrinya.“Baba…,” ujar Dewa mencoba menenangkan situasi. “Kenapa datang malam-malam sepert

  • Terjerat Pesona Istriku   44. Kita Mulai Lagi

    Di kamar itu, udara terasa berat. Tirai jendela bergoyang pelan tertiup angin malam, tetapi suasana di dalam ruangan justru terasa panas dan menyesakkan.Sherine terbaring di atas ranjang dengan tubuh gemetar. Air matanya tidak berhenti mengalir.Dewa masih berada di dekatnya, napasnya berat, dadanya naik turun menahan emosi yang bercampur antara keinginan, amarah, dan ketakutan kehilangan.Sherine memalingkan wajahnya.Tangannya mencengkeram seprai dengan kuat seolah menahan sesuatu yang hampir runtuh di dalam dirinya.“Kenapa kamu menangis seperti itu…” suara Dewa terdengar lebih pelan sekarang, namun masih berat.Sherine tidak menjawab. Tangisnya justru semakin pecah. Di matanya, hari ini terasa seperti penghinaan terakhir terhadap harga dirinya.Ia merasa seolah-olah dirinya hanya sesuatu yang diambil ketika diinginkan… lalu dibuang ketika tidak lagi dibutuhkan.Dewa mengusap wajahnya dengan frustrasi.“Sherine… dengarkan aku.” Ia menunduk sedikit, mencoba menangkap tatapan istrin

  • Terjerat Pesona Istriku   43. Kebenaran Dari Jeeh

    Dewa seperti tidak mendengar. Emosinya benar-benar meledak. Dengan gerakan kasar, ia mendorong Sherine hingga jatuh ke atas ranjang.Kasur itu berderit saat tubuh Sherine terlempar di atasnya.Dewa berdiri di depan ranjang, napasnya berat seperti seseorang yang hampir kehilangan kendali.“Jadi kamu mau pergi?” suaranya rendah namun penuh kemarahan.Sherine bangkit setengah duduk.“Ya.”Jawaban itu membuat mata Dewa menggelap.“Kamu pikir semuanya semudah itu?”“Saya hanya menjalankan isi kontrak.”“Kontrak?” Dewa tertawa pendek, penuh emosi. “Sekarang kamu baru ingat kontrak?”Sherine menatapnya dengan mata yang masih berkaca.“Anda yang mengingatkan saya semalam, Pak Dewa.”Kalimat itu menusuk tepat sasaran.Profesional.Itu kata yang ia ucapkan sendiri. Dewa berjalan mendekat, aura kemarahannya terasa begitu kuat.“Kamu tidak boleh pergi.”Sherine menggeleng.“Anda tidak berhak menahan saya.”“AKU SUAMIMU!”Bentakan itu membuat Sherine terdiam sejenak. Namun ia tetap berkata dengan

  • Terjerat Pesona Istriku   42. Secerca Harapan Untuk Jeeh

    Suasana di dalam butik masih terasa tegang setelah suara Dewa yang meninggi barusan.Beberapa pelanggan bahkan masih menoleh penasaran, meski pura-pura kembali memilih pakaian.Dewa menarik napas kasar.Ia menatap Veneza dengan mata tajam, kemarahan yang jarang sekali ia tunjukkan terlihat jelas di wajahnya.“Jangan pernah mengucapkan itu lagi,” katanya dingin.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari butik.“Dewa!”Suara Veneza terdengar dari belakang.Ia bergegas mengejar, sepatu hak tingginya berdetak cepat di lantai butik.“Dewa, tunggu!”Namun lelaki itu tidak berhenti.Langkahnya panjang dan cepat, melewati deretan toko mewah di koridor mall.“Dewa!”Veneza hampir berlari sekarang, wajahnya kesal sekaligus panik.“Kenapa kamu marah?! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”Namun Dewa tetap tidak menoleh.Ia terus berjalan, pikirannya dipenuhi satu hal—Sherine.Kontrak itu seharusnya tidak diketahui siapa pun.Dan sekarang… sepupunya sendiri me

  • Terjerat Pesona Istriku   41. Rahasia Yang Terbongkar

    Pintu kamar Sherine tertutup pelan.Begitu ia masuk, suasana sunyi langsung menyelimuti ruangan itu. Sunyi yang terasa terlalu berat.Sherine berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.Tangannya membuka laci perlahan.Di dalamnya tersimpan sebuah map cokelat yang selama ini hampir tidak pernah ia sentuh lagi.Map itu berisi sesuatu yang dulu mereka tanda tangani dengan kepala dingin.Perjanjian pernikahan.Sherine menariknya keluar.Jemarinya sedikit gemetar saat membuka halaman demi halaman dokumen itu.Tulisan-tulisan formal yang dulu terasa begitu masuk akal kini terlihat seperti ironi.Matanya berhenti pada salah satu pasal.Pasal yang dulu mereka sepakati tanpa perdebatan panjang.Tidak akan ada hubungan suami istri selama masa kontrak pernikahan berlangsung.Sherine menatap kalimat itu lama.Terlalu lama.Perlahan bibirnya bergetar.“Lucu sekali…” gumamnya lirih.Ia tertawa kecil, namun tawa itu terasa pahit.Dewa yang melanggarnya.Dewa yang melampaui batas yang mereka buat se

  • Terjerat Pesona Istriku   40. Sendiri Di Rumah Sendiri

    Malam itu terasa panjang.Terlalu panjang bagi dua orang yang sama-sama terjaga dalam kesunyian.Di kamar utama, lampu sudah dimatikan sejak lama. Hanya cahaya bulan yang menembus tirai tipis, jatuh lembut di atas ranjang besar.Dewa berbaring kaku menatap langit-langit.Di sampingnya, Veneza terti

  • Terjerat Pesona Istriku   39. Kesalahan Dewa

    Setelah gunting itu jatuh ke lantai, ketegangan di kamar perlahan mereda.Veneza masih terisak. Napasnya tersengal-sengal seolah baru saja melewati badai besar.Dewa berdiri di hadapannya dengan wajah tegang.Beberapa detik berlalu dalam diam.Tiba-tiba Veneza melangkah maju.Tanpa memberi kesempat

  • Terjerat Pesona Istriku   38. Dua Wanita Dalam Satu Atap

    “Keluar.”Suara Dewa dingin. Tegas. Tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang, rahangnya mengeras menahan emosi yang tiba-tiba membuncah.“Aku tidak akan mengulanginya lagi, Veneza. Keluar dari kamar ini sekarang.”Namun Veneza tidak bergerak.Ia hanya men

  • Terjerat Pesona Istriku   37. Aroma Yang Salah

    Tanpa menoleh lagi pada Sherine, Veneza menggenggam gagang kopernya dan mulai menyeretnya menuju tangga.Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer terdengar jelas di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sunyi.“Nona… tunggu…” Una mencoba menahan.Namun Veneza bahkan tidak melambat.“Aku tahu kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status