Share

Terjerat Pesona Model Arogan
Terjerat Pesona Model Arogan
Penulis: Mommy Audy

IGD

IGD

Dr. Fiona Arlita Sanjaya seorang dokter spesialis bedah berusia 31 tahun. Cantik, Cerdas, Cekatan, Mandiri, sebutannya si tangan emas. Hampir setiap operasi yang dikerjakannya pasti berhasil. Fio bekerja rumah sakit Prince University bersama dengan kedua sahabatnya. Dr. Ivena Julianti Sp.KJ atau biasa dipanggil Ipeh dan Dr. Julian Amadeus Sp.EM atau biasa yang dipanggil Ijul.

Persahabatan Fio, Ipeh dan Ijul sebenarnya telah berlangsung sejak mereka masih kuliah. Seperti kebanyakan persahabatan di dunia ini, mereka saling terbuka dan berbagi dari hal yang baik sampai hal yang buruk, saling mencela dan mengejek, tapi juga mereka saling support satu dengan yang lain.

Ijul lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Fio di banding Ipeh. Hal ini karena Fio adalah dokter yang paling gampang dipanggil ketika ada kondisi bedah darurat. Dia juga jarang menolak untuk menemani Ijul shift malam di IGD. Alasan utamanya sebenarnya karena Fio merasa kesepian di apartemen sendirian. Hidupnya sangatlah terbatas hanya seputar pasien, bedah, rumah sakit, dan apartemennya. Bukannya kuper, tapi memang dia tak mau. Bahkan dia tidak mengijinkan makhluk bernama pria untuk singgah di hatinya secara spesial semenjak 6 tahun lalu, setelah hatinya dilukai oleh mantan kekasihnya. Tak hanya satu kali, tapi dua kali dan luka yang di torehkan membuat trauma yang melekat dalam di hati Fio.

"Fi, napa sih lo?" Tanya Ijul penasaran dengan wajah sahabatnya yang bermuram durja.

"Napa gimana maksudnya?"

"Ya tu muka kaya duit dua ribuan yang biasa buat bayar parkir. Lungset amat?"

"Sepi disini."

"Weissss... Ati-ati lo kalo ngomong. Haram hukumnya bilang gitu di IGD tau."

"Ya kali lo masih percaya gituan Jul."

"Percaya gue. gue dari medan ini Fi. Jadi gue hafal betul kondisi disini bahkan harus percaya sama hal yang lo bilang begituan."

"Eh ucup, lo itu orang Tangsel bukan orang medan."

"Eh somplak, maksudnya medan itu tempat bukan artinya dari kota medan." Seru Ijul menunjukkan lirikan mautnya.

"Lagian orang anteng lo tanya kenapa, kalo gue berisik lo bilang gue cerewet."

"Ya maksud gue lo lebih mirip orang sakit gigi. Muka lo itu asem tau." Seru Ijul sambil menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Fio

"Hasem lo. Sebenernya hati gue yang sepi Jul."

"Lo masih takut buat nyoba punya pacar lagi Fi?"

"Lebih tepatnya gue takut disakitin lagi Jul. gue memang nggak mau mengeneralisasikan keadaan, bahwa semua cowok itu brengsek ya karena seenggaknya gue tau kalo lo nggak brengsek." Ucap Chacha sambil meletakkan tangan kanannya di bahu Ijul.

"Thanks buat sanjungannya." Ucap Ijul dengan senyuman dewanya.

"Njir… Sarap lo."

"Dokter ada kondisi emergency. 4 orang dalam perjalanan menuju ke sini. 2 cedera sedang, 1 cedera parah, 1 hilang kesadaran sempat henti jantung." Seru seorang perawat yang baru saja mendapat panggilan darurat.

"Okey bersiap semua, Fi lo tangani cedera." Kata Ijul langsung menggunakan sarung tangan medis

"Ok." Jawab Fio singkat dan melakukan hal yang sama lalu bersiap dekat pos

"Pasien!!!" Teriak Paramedis yang baru saja mendorong brankar masuk dalam IGD dengan buru-buru.

"Pasien pria, usia 50 tahun sudden cardiac arrest (henti Jantung). Prosedur CPR 15 menit, denyut kembali. Status tekanan darah 100/60, saturasi oksigen 88. Pasien tiba-tiba pingsan di lokasi pemotretan." Ucap paramedis yang mengantarkan pasien. Ijul dengan cepat melakukan screening pada kondisi pasien sambil mendengarkan dengan cermat laporan dari paramedis.

"Ruang trauma 1. Lakukan CT, juga kontak Dr. Lionel." Ucap Ijul memberi instruksi pada perawat disampingnya.

“Siap dok.”

"Pasien Wanita, usia 24 tahun, cedera pergelangan kaki, tertimpa lampu sorot." Lapor paramedis lain yang baru saja masuk.

"Bilik 2. Biar ditangani anak Co-ass." ucap Ijul

“Siap dok.”

"Pasien wanita, usia 27 tahun, Dislokasi bahu tertimpa lampu sorot." Laporan paramedis selanjutnya.

"Bilik 3. Tolong rontgen bahu. Kabari saya cepat." ucap Ijul lagi memberi perintah

"Pasien Pria, usia 35, luka robek terbuka di bahu dengan lebar 10 cm karena tersayat pinggiran lampu sorot." Ucap paramedis yang terakhir masuk sambil terengah-engah.

"Ruang trauma 2. Biar ditangani Dr. Fio."

Fio berjalan cepat memasuki ruang trauma 2 tempat pasien dengan luka robek sedang terbaring.

"Selamat malam. Sudah dibersihkan ya sus?" ucap Fio sambil membaca catatan medis pasien.

"Sudah dok."

"Baik bapak Matheo Aderald, saya Dr. Fiona akan menangani luka bapak. Saya periksa dulu lukanya ya. Ada keluhan yang dirasakan?” Ucap Fio yang dengan cekatan memeriksa kondisi pasien.

“Nggak.”

“Okey, kami akan menyuntikkan bius lokal setelah itu saya akan menutup luka bapak." Ucap Fio menjelaskan.

Pasien itu adalah Matheo Aderald yang biasa di panggil Matty, seorang supermodel kenamaan yang mengalami kecelakaan saat berada di lokasi pemotretan. Lampu sorot di lokasi pemotretannya tiba-tiba jatuh karena staf lighting tiba-tiba jatuh pingsan dan membuat lampu yang sedang dipegangnya jatuh hingga menimpa Matty dan beberapa crew pemotretan. Namun Matty terlihat sangat tenang, dan tampak baik-baik saja ketika tiba di rumah sakit walaupun dengan luka robek yang cukup lebar. Dia tak banyak merintih, tak banyak bicara juga, bahkan yang lebih nampak adalah ekspresi datar dari wajah bulenya yang menawan hati.

Fio tampak memperhatikan luka di bahu Matty, sambil menunggu reaksi bius yang baru saja disuntikkan. Fio mencoba untuk mengajak Matty berkomunikasi untuk memastikan kesadaran dan menyusun anamnesa tambahan.

“Ini kena bagian besi ya?” Tanya Fio memastikan namun tak mendapatkan jawaban dari Matty.

“Iya dok.” Jawab suster Indah akhirnya.

"Lukanya baik dan bersih yah. Okey, saya akan mulai menutup lukanya." Ucap Fio yang masih tidak mendapat jawaban dari Matty.

Dalam hati Fio hanya bergumam.

"Sabar Fi, selesaikan secepat dan serapi mungkin. Nggak betah gue lama-lama berhadapan sama cowok model begini. Dikira gue musuhnya apa? Kenal juga nggak." Ucap Chacha dalam hati.

"Jahit yang benar. Saya tidak mau luka ini jadi busuk gara-gara jahitanmu yang jorok. Dan Saya juga tidak mau kehilangan job hanya karena hasil luka jahitannya menimbulkan bekas yang berantakan." kalimat pertama yang keluar dari mulut Matty dengan nada ketus sambil sesekali melirik Fio.

"Anda tidak percaya dengan pekerjaan saya? Silahkan cari dokter lain, dengan senang hati saya akan menghentikan jahitan ini." Ucap Fio sambil tetap menjahit luka Matty tanpa melihat pria itu.

"Hei.... Kamu itu saya yang bayar ya. Dan ingat, selama kamu masih mau bekerja di rumah sakit ini, bersikaplah yang baik. Sedikit berulah saja, saya bisa membuatmu keluar dari rumah sakit ini." Geretak Matty

"Sombong sekali anda. Siapa anda hingga berani mengancam saya?" Sambil mengikat jahitan terakhir dengan kasar yang membuat matty sedikit mengerenyit.

"Kamu tidak perlu tau siapa saya. Yang perlu kamu tau jika saya mau, saat ini juga kamu bisa keluar dari rumah sakit ini." Ucap Matty dengan pandangan mengancam.

"Apa salah saya hingga anda mengancam saya? Saya disini dokter, bertugas untuk merawat pasien. Dan seingat saya, saya tidak pernah punya urusan dengan anda Bapak Matheo Adelard." Ucap Fio sambil melepas sarung tangan medisnya dengan kasar.

"Jelas ada ada urusannya. Karena kamu yang merawat luka saya. Jadi saya perlu meminta pertanggung jawaban kamu jika terjadi hal buruk pada luka saya yang kamu rawat."

"Jika anda tidak suka dengan pekerjaan saya, silahkan cari dokter lain. Tapi anda tidak punya hak untuk mengancam saya dan yang anda harus tau luka anda ini pasti akan menimbulkan bekas!" Ucap Fio kesal lalu meninggalkan Matty tanpa menutup luka yang sudah terjahit sempurna.

"Suster, tolong selesaikan tutup lukanya." Ucap Fio pada suster Indah yang membantunya sedari tadi lalu dia segera meninggalkan ruang trauma menuju ke pos jaga.

"Baik dok." Ucap suster Indah tanpa membantah.

"Saya akan cari kamu jika terjadi sesuatu pada luka saya." Teriak Matty lalu tersenyum.

Fio memilih meninggalkan UGD dan pergi ke lorong cafetaria rumah sakit mencari ice coffee di vending machine untuk mengembalikan moodnya yang mendadak berantakan.

"Gila tu orang. Siapa sih dia sampai berani bentak gue, salah gue apa coba?" Gumam Fio sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal

"Hei.. nape lo, butek amat tu muka." Ucap Ipeh yang tiba-tiba muncul di belakang Fio.

"Eh bujug... Ngagetin lo. Lo ngapain balik kesini malem-malem?" Seru Fio yang kaget karena kehadiran Ipeh yang tiba-tiba 

"Nggak usah emosi dong nyet. Salah gue apa sama lo?"

"Kagak ada. Lagi kesel gue."

"Lo yang kesel kenapa gue yang diambekin. Kan nggak ada urusannya sama gue, nyeti..."

"Noh.. ada pasien sarap. Ngancem mau keluarin gue dari rumah sakit ini. Gila nggak?"

"Hah? Lo ada masalah sama pasien?"

"Eh, mending kalo gue tau masalahnya apa. Tu orang dateng udah dengan luka menganga di bahunya ya. Dan gue sih udah ngerasa aneh sama tu orang. Dia nggak banyak ngomong, nggak teriak-teriak juga kaya kebanyak orang yang bakal heboh dengan luka menganga sebesar itu, dan mukanya itu lempeng luar biasa."

"Dia pake ilmu debus kali nyet, jadi nggak berasa lukanya."

"Ya kali dia pake ilmu debus. Mukanya aja bule wak. Katanya dia itu model, orang dia juga cedera di lokasi pemotretan."

"Hah? Ganteng nggak?" Seru Ipeh penasaran

"Bodo."

"Lah, lo nggak bisa bedain mana ganteng mana nggak?"

"Males gue inget-inget muka dia. Yang ada bikin keselnya tambah-tambah."

"Wah, jadi penasaran gue. Dimana sih tu orang?"

"Tau... Masih di IGD kali."

"Temenin gue yuk ke IGD."

"Idih... Ogah gue."

"Ya udah, gue kesana sendiri deh. Ijul ada kan?"

"Ada lagi pegang pasien dislokasi."

"Beneran lo nggak mau ikut balik?"

"Lo duluan deh, ntar gue nyusul."

"Okey, jangan kelamaan keselnya."

"Iye..."

Dengan enggan Fio akhirnya berjalan kembali ke IGD. Dia berharap Matty sudah meninggalkan IGD. Sesampainya di IGD dia melihat  Ijul dan Ipeh sedang ngobrol di pos jaga.Dia lalu mendekati mereka berdua.

"Napa sih lo Fi? Tadi murung sekarang malah berantem sama pasien." Ucap Ijul sambil menatap Fio bingung.

"Bukan gue yang cari masalah ya, tu pasien yang tiba-tiba ngamuk dan mengancam gue kok. Nggak ada salahnya gue ma. Tanya sama suster Indah deh."

"Suster Indah tadi bilang lo ninggalin pasien, dan dia yang lo suruh nyelesaiin menutup lukanya pakai perban."

"Emang. Kenapa? Ada masalah?"

"Ya bukannya gitu Fi, artinya nggak tanggung jawab dong lo."

"Bukannya nggak tanggung jawab Jul, tapi gue nggak kuat Jul. Bisa emosi gue kalau lama-lama berhadapan ma orang begitu. Coba deh kalo kalian di posisi gue tadi. Lagian jahitannya sudah beres dan rapi kaya biasanya kok. Jaminan deh."

"Ya semoga nggak ada masalah ya." Ucap Ijul sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Lo ya ada aja perkaranya kalo lagi di IGD. Mulai dari di gombalin pasien, di godain pasien sampai di amuk pasien." Ucap Ipeh yang heran dengan Fio.

"Ye kalo tu pasien nggak reseh, gue juga nggak ada masalah kan."

"Udah sabar. Moga aja tu pasien nggak ada masalah dan balik nyariin lo." Ucap Ijul mengusap wajahnya.

"Amit-amit gue nggak bakal sudi nanganin dia lagi. Ingat ya, kalo sampai tu orang balik, cari dokter lain deh yang mau menangani, gue ogah." Seru Fio masih kesal.

Ipeh dan Ijul hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala menatap sahabatnya yang sedang kesal.

"Udah abisin tu kopi kali aja mood lo bisa balik bagus." Ucap Ijul

"Sini-sini." Kata Ipeh lalu mendekap Fio dari belakang menangkupkan kedua tangan Fio menyilang didepan dada membentuk X seperti mendekap diri. Dia hendak melakukan butterfly hug teknik pada Fio. Ijul yang mengamati apa yang dilakukan Ipeh bagaikan terhipnotis dan malah mengikuti gerakan yang dilakukan Fio dan Ipeh.

"Pejamkan matanya, tepuk bahunya pelan ya wak, kiri kanan gantian. Tarik nafas panjang hembuskan perlahan, Semakin lama semakin tenang. Ulangi lagi, sampai lo ngerasa lebih tenang." Ucap Ipeh memberi instruksi.

"Better?"

"Iya, Thanks ya wak. Lo emang the best forever and ever." Ucap Fio memeluk Ipeh

"Kalo gue nggak the best forever and ever?" Tanya Ijul yang mengerucutkan bibirnya.

"Lo juga sih. Nggak kebayang ajah kalo nggak ada kalian apa jadinya hidup gue."

"Ya lo bakal tetap jadi nyeti lah." Ucap Ipeh sambil mendorong pelan badan Fio.

"Sialan lo." Ujar Fio mulai tersenyum

Komen (1)
goodnovel comment avatar
liliputputih
Ada Hasem, somplak ... renyah banget bahasa dialognya. lanjut kak ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status