ANMELDEN“Kenapa kamu terlihat sangat senang, hah?” tanya Emma dengan sewot ketika melihat Darma tampak tersenyum bahagia.Ekspresi wajah Darma langsung berubah masam, pria itu menatap Emma dengan menghela napasnya pelan.“Kamu kenapa? Datang-datang sewot ke saya. Ada masalah?” Darma balik bertanya dengan nada heran dan alis yang terangkat satu menatap Emma dari bawah ke atas.Emma mendengus, ia menghentakkan kakinya dengan kesal dan duduk di samping Darma. “Saya gagal lagi untuk bertemu dengan Leo. Sialan! Pasti asistennya itu sengaja menyuruh Leo bersembunyi agar tidak bertemu dengan saya,” jawab Emma dengan hidung kembang kempis menahan amarah yang menumpuk di dalam dadanya.Darma memutar bola matanya dengan malas, ternyata itu yang membuat Emma tampak kesal.“Sudahlah. Saya yakin sebentar lagi kamu pasti bertemu dengan Leo begitu pun dengan saya bisa mendapatkan maaf dari Aurora. Dengan begitu rencana kita akan berjalan dengan baik,” ujar Darma menenangkan.“Tapi jangan harap kamu bisa kem
Leo terkejut mendengar ucapan Aurora. Tak disangka jika istrinya bisa seberani ini, padahal ia tahu kemarin-kemarin Aurora masih terlihat sangat ketakutan. Tapi sekarang berubah drastis.Apa yang membuat sang istri bisa berubah secepat ini?“Sayang apa yang kamu katakan? Mas tidak ingin bertemu dengan Emma dan kamu malah mengajak Mas bertemu dengan wanita itu?!” ucap Leo menggelengkan kepalanya heran—tidak percaya jika yang ada di hadapannya ini adalah Aurora, istrinya.Aurora menghela napasnya, ia tersenyum tipis. “Ayolah Mas kita ke rumah sakit sekarang saja. Aku ingin memastikan apa benar tante Emma kembali ke rumah sakit hanya untuk bertemu dengan kamu,” bujuk Aurora dengan manja bahkan matanya terus berkedip-kedip memohon kepada suaminya.Leo menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sang istri. “Gak, Sayang. Jadwal Mas sore ke rumah sakit. Dan Mas gak mau ketemu dengan Emma, lebih baik menghindar daripada harus bertatap muka dengannya dan menimbulkan rasa cemburu di hati ka
Darma sudah mengetahui rumah Aurora setelah ia mencari tahu beberapa hari. Di balik pohon besar ia menatap rumah mewah itu dengan sangat takjub, matanya berbinar, mulutnya terbuka, terus memuji rumah Aurora dengan suaminya.“Waw… Ternyata Aurora sudah sekaya ini. Aku tidak menyangka anak yang selama ini aku remehkan mendapatkan pria kaya raya dan hidup Aurora langsung berubah 360 derajat. Pantas saja Emma ingin kembali dengan mantan suaminya,” gumam Darma geleng-geleng kepala melihat rumah mewah yang ada di hadapannya sekarang.Darma tersenyum miring, ia mengusap telapak tangannya sendiri tampak kegirangan seakan ada sesuatu yang sangat menguntungkan dirinya.“Jika seperti ini aku tidak rela jika Aurora cerai dari suaminya. Aku bisa memanfaatkan anak itu dan suaminya untuk mendapatkan uang,” gumam Darma menjentikkan jarinya pertanda jika ia merasa idenya sangat cemerlang.Sebelum para penjaga di rumah Leo tahu keberadaannya, Darma buru-buru untuk pergi. Ini belum saatnya ia bertemu de
Setelah berkata seperti itu, Aurora menatap suaminya dengan cemas. Ia menelan ludahnya dengan kasar, ia benar-benar sangat ketakutan.Aurora tidak bisa berpikir dengan jernih untuk sekarang, dengan tangan gemetar Aurora menggenggam tangan Leo.Dapat Leo rasakan tangan istrinya dingin dan berkeringat.“Sayang, kamu percaya sama Mas, kan? Mas sudah tidak cinta lagi sama dia. Mas tidak akan kembali dengan Emma walaupun wanita itu banyak melakukan berbagai rencana untuk memisahkan kita misalnya, Mas tidak akan percaya dan tidak akan mau kembali kepadanya. Sekarang yang Mas cinta hanya kamu, Sayang. Bukan Emma! Bukan wanita tukang selingkuh seperti dia,” jelas Leo mengelus tangan Aurora lembut.Leo paham ketakutan istrinya. Ia juga heran dengan kedatangan Emma yang tiba-tiba ke rumah sakit dan ingin menemuinya, semua itu sudah membuat dirinya sangat curiga.“Kamu tenang saja ya, Sayang. Mas akan menyelidiki ini sebelum Emma melakukan sesuatu terhadap rumah tangga kita,” ucap Leo menenangka
Emma berhasil lepas, ia menghentakkan kakinya dengan kesal. Tangannya terkepal dengan erat, ekspresi wajahnya dipenuhi rasa amarah dan kebencian.“Dasar berengsek! Berani sekali mereka mempermalukan aku di sana! Arghhh… Sialan kamu, Shopia! Begini perbuatan kamu ke Mama sekarang. Jangan salahkan Mama jika nanti Mama berbuat sesuatu kepadamu,” gumam Emma dengan sangat kesal.Emma terus ngedumel sepanjang jalan. Sungguh sangat sial ia hari ini, tidak bertemu dengan Leo berakhir malah dipermalukan oleh anaknya sendiri.Ia tidak terima jika Shopia sudah menikah dengan Raja. Bagaimana mungkin mereka saling mencintai, dadanya panas mengingat semuanya.“Mereka menikah tidak meminta izinku terlebih dahulu. Sampai kapan pun aku tidak akan memberikan restu,” ucapnya dengan pelan dan sangat tajam.Sedangkan Shopia tampak sangat lega ketika mamanya sudah dibawa pergi. Ia menghela napas dengan lega, tetapi tak lama ia meringis karena perutnya terasa kram.“Sayang kamu gak apa-apa, kan?” tanya Raja
Amarah Shopia memuncak, ia berani berkata seperti itu kepada Emma karena kesal dengan ucapan mamanya yang terus merendahkan suaminya.“Berani sekali kamu menghina Mama, Shopia! Anak kurang ajar kamu. Begini didikan papa dan suamimu, hah?” bentak Emma dengan emosi.Shopia tertawa sumbang, seakan merasa geli dengan ucapan mamanya. “Loh bukannya ini didikan dari Mama ya? Kok sekarang Mama yang tidak terima? Jangan terus menyalahkan orang lain jika yang gagal menjadi orang tua itu adalah Mama,” jawab Shopia sangat menohok hati Emma.Dada Emma berdenyut sakit mendengar perkataan anaknya sendiri yang terus-menerus menyalahkan dirinya.Tangan Emma sudah melayang di udara, siap menampar Shopia.“Berani sekali ka—argh…”Tangan Emma dicekal oleh Raja dan meremasnya dengan kuat hingga Emma mengerang kesakitan.“L-lepas.”Emma memberontak, berusaha melepaskan tangannya tetapi semakin ia berusaha melepaskan diri, semakin kuat juga cekalan Raja kepadanya.“Pergi dari sini jangan ganggu istri saya a







