LOGINAurora mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya, tetapi yang ia dapat hanya sakit kepala bukan ingatan yang kembali.“Sayang tidak usah dipaksa dulu ya. Kamu kecelakaan itu aja, tidak usah memaksa untuk mengingatnya. Perlahan nanti ingat kok, ini cuma masa pemulihan saja,” ucap Leo dengan pelan.Perasaan haru tampak jelas di wajahnya. Tuhan masih baik kepadanya, ia tidak kehilangan Aurora. Wanitanya itu masih berada di pelukannya.Aurora tidak banyak bicara, wanita banyak terdiam. Tubuhnya masih merasa sakit. Sudah berapa hari ia di rumah sakit? Kenapa tidak ada satu pun yang ia ingat tentang kejadian apa yang menimpa dirinya.“Kenapa diam, Sayang? Kepala kamu sakit? Atau ada bagian tubuh lain yang sakit?” tanya Leo merasa cemas karena Aurora lebih banyak diam, padahal ia tahu istrinya itu baru saja sadar dari komanya.Aurora menoleh ke Leo. Setelah itu menggelengkan kepalanya dengan pelan karena takut sakit itu datang kembali.“Gak ada, Mas. Aku cuma lemas,” ucap Aurora dengan
Leo juga panik ketika melihat layar monitor tersebut. Ia mendekat dan mencoba untuk tenang memeriksa istrinya.“Panggil dokter yang menangani Aurora, Shopia. Cepat!” perintah Leo sambil memeriksa sang istri dengan tangan sedikit gemetar.Shopia langsung berlari ke luar ruangan untuk memanggil dokter yang menangani Aurora. Di dalam Leo juga berjuang untuk menyelamatkan istrinya. “Sayang bertahan lah, Mas mohon, Sayang,” ucap Leo dengan lirih.Ia terus memeriksa dan memantau detak jantung istrinya. “Sayang, jangan buat Mas takut. Ayo berjuang, Sayang. Kamu tidak merindukan Alvaro? Anak kita sangat membutuhkan kamu, Sayang.”Tak lama dokter datang bersama dengan para perawat. Semua sibuk dengan tugas masing-masing. “Dokter Leo, jantung istri anda berhenti,” ucap Dokter dengan panik.“Lakukan yang terbaik, Dok. Saya yakin istri saya baik-baik saja,” sahut Leo dengan tegas padahal jantungnya sudah berdetak tak karuan. Takut kemungkinan buruk itu akan menimpa istrinya. Ia belum sanggup u
Setelah puas menyiksa Emma. Leo kembali ke rumah sakit, ia tidak ingin meninggalkan Aurora terlalu lama di sana, hatinya tidak tenang. Ia takut ada orang lain yang akan mencelakai istrinya.Entahlah ia masih curiga dengan Darma yang menghilang dan belum menampakkan diri. Ia takut Emma dan Darma masih bekerja sama.“Urus dia, bawa saja ke kantor polisi. Minta polisi untuk menghukum wanita ini seberat mungkin,” ucap Leo sebelum benar-benar pergi dari gudang miliknya.“Baik, Tuan.”Leo berjalan dengan menghela napas lega, ada kepuasan tersendiri setelah ia berhasil menyiksa mantan istrinya tersebut.“Jika saya tidak mengingat dia ibu kandung Shopia sudah saya habisi dia sejak tadi,” gumam Leo dengan dingin.Raja tidak menimpali, ia tidak tahu harus apa. Sebab, pasti sang istri juga merasa sedih dengan apa yang terjadi dengan Emma. Tetapi istrinya itu menyimpan kesedihannya rapat-rapat, katanya keadilan harus memang ditegakkan, jika mamanya bersalah maka harus diberi hukuman.Keduanya men
Emma menelan ludahnya dengan kasar, rasa paniknya semakin menjadi ketika senyuman sinis itu terlihat dari orang-orang menyeramkan di sini.“Ternyata kamu sangat pintar menebaknya, Emma. Sekarang coba kamu tebak apa yang akan tuan kami lakukan terhadapmu nanti?” tanya orang menyeramkan itu dengan suara yang amat menyeramkan.“Tidak mungkin! Pasti kalian hanya ingin uang dari saya, kan? Berapa yang kalian minta? Saya akan menurutinya asal kalian mau membebaskan saya,” elak Emma gelisahTawa orang-orang suruhan Leo menggelegar, terdengar seperti ejekan untuk Emma.“Simpan saja uangmu itu, Emma. Gaji kami lebih dari cukup. Apalagi kami berhasil menangkapmu, bonusnya sangat besar,” tolak mereka dengan tawa yang belum reda.Wajah Emma pucat pasih, suhu di ruangan ini terasa panas dan pengap hingga keringat dingin muncul di dahinya.Kenapa Leo sangat mudah mengetahui semuanya?Padahal ia sudah sangat hati-hati melakukannya.Sekarang ia harus bagaimana? Ruangan ini gelap bahkan bau oli dan b
lSuara alat monitor berbunyi di ruang ICU di mana Aurora dirawat.Leo berulang kali menghela napasnya dengan berat, menggenggam tangan istrinya yang tampak lunglang dan dingin.Mata Leo sudah sangat perih, pria itu kebanyakan menangis ditambah ia kurang tidur karena menjaga istrinya, memastikan Aurora baik-baik saja.Leo takut sekejap saja ia menutup mata, Aurora akan mencari dirinya jika wanita itu sadar.“Sayang, kenapa belum bangun juga hmm? Mas dan dokter yang lain sudah berusaha untuk kesembuhan kamu, Sayang. Kamu belum mau bangun ya?” tanya Leo dengan lirih menatap wajah Aurora yang sangat pucat.Bahkan bekas operasinya masih diperban. Mungkin setelah sadar istrinya akan kehilangan ingatannya untuk sementara, itu yang dikatakan dokter. Tetapi setelah pulih semua ingatannya akan kembali, semua itu masih prediksi, dan semoga saja tidak akan terjadi.Ia tidak sanggup jika Aurora akan melupakan dirinya. Walaupun hanya sementara, tetapi jika harus terjadi, Leo pasrah yang terpenting
“Hus…tidak boleh berpikir seperti itu, Sayang. Aurora pasti sembuh,” tegur Raja dengan tegas.Shopia mencoba berpikir positif tetapi tetap saja pikiran buruk itu terus menghantui dirinya.Bagaimana jika kecelakaan itu merenggut nyawa sahabat sekaligus mama tirinya itu?Bagaimana kalau Aurora sudah tidak mampu berjuang.“Aku berusaha untuk berpikir positif, Mas. Tapi pikiran buruk itu terus berputar di otakku,” ujar Shopia dengan lirih.Keringat dingin muncul di sela-sela telapak tangannya. Jam seakan lambat sekali berlalu, dan ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Aurora sekarang.Tapi kenapa pintu ruang operasi tidak kunjung terbuka?Shopia menunggu dengan harap-harap cemas. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya jika sahabatnya itu baik-baik saja. Namun, bayangan kondisi Aurora yang ia lihat sebelum operasi dilakukan semakin membuat dirinya cemas dan pada akhirnya air mata yang sejak tadi ia tahan luruh juga.Raja berusaha menenangkan istrinya, ia tidak menyuruh Shopia untuk b







