MasukYara baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih setengah basah, terurai di bahu, aroma sabun lembut memenuhi kamar. Ia mengenakan piyama longgar, langkahnya pelan menuju ranjang. Dari balik pintu, terdengar suara langkah kaki mendekat.Elvaro masuk ke kamar setelah dari lantai bawah. Jas rumah sakitnya sudah berganti kaus sederhana, raut wajahnya lelah, tapi setidaknya tidak setegang beberapa jam lalu.Yara menoleh. Sorot matanya langsung mencari wajah suaminya, seolah ingin membaca kabar dari sana.“Runi gimana?” tanyanya pelan, suaranya penuh kehati-hatian.Elvaro mendekat, duduk di tepi ranjang. Ia menghela napas pendek sebelum menjawab. “Baru saja tidur. Tadi capek banget, nangis terus. Akhirnya ketiduran.”Yara menghembuskan napas lega. Bahunya yang sejak tadi terasa kaku perlahan mengendur. “Syukurlah,” gumamnya lirih. “Dari pagi aku takut dia nggak berhenti nangis.”Elvaro mengangguk. Tatapannya kosong sesaat, lalu kembali fokus pada Yara. “Aku juga. Aku nggak tega liha
Arunika berdiri mematung di balik kaca pembatas ICU.Matanya tak lepas dari tubuh Kaivan yang terbaring tak berdaya. Selang-selang medis, monitor yang berbunyi pelan, wajah pucat yang begitu dikenalnya, semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung selesai. Dadanya sesak. Air mata kembali jatuh, kali ini tanpa bisa ia tahan.Tangannya terangkat, menempel di kaca.“Sayang,” lirih Arunika, suaranya bergetar, hampir tak keluar. “Bangun, ya.”Matanya menyapu wajah Kaivan perlahan, seolah menghafal setiap garisnya. Rahangnya mengeras, bibirnya bergetar, lalu isak itu pecah.‘Kalau kamu bangun, Aku janji, kita nikah.’Janji itu hanya terucap dalam hati, tapi rasanya seperti sumpah paling sungguh-sungguh yang pernah Arinika buat seumur hidupnya.Di belakangnya, Yara berdiri tanpa suara. Tangannya mengusap punggung Arunika dengan lembut, gerakan pelan, penuh kesabaran. Ia tak mengatakan apa pun. Ia tahu, kata-kata sekarang hanya akan terasa kosong. Yang Arunika butuhkan bukan nasihat,
Sejak kejadian itu, rumah Elvaro berubah sunyi dengan cara yang berbeda. Bukan sunyi karena kosong, melainkan sunyi karena penuh kecemasan.Yara kini tinggal di rumah Elvaro. Bukan di apartemen mereka. Keputusan itu diambil tanpa banyak diskusi, terasa paling masuk akal. Arunika sedang kacau, dan Elvaro tak mungkin meninggalkan putrinya sendirian menghadapi kenyataan Kaivan yang terbaring koma di ruang ICU.Pagi itu, Yara berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Tangannya menggenggam cangkir teh hangat yang sejak tadi tak tersentuh. Pandangannya tertuju pada Arunika.Putri Elvaro itu duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri. Rambutnya dibiarkan tergerai tak terurus. Matanya sembab, merah, kosong. Sejak bangun tidur, Arunika nyaris tak berkata apa-apa. Tangisnya datang dan pergi tanpa aba-aba, kadang terisak pelan, kadang hanya air mata yang mengalir diam-diam, seperti tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bersuara.Yara menelan napas. Ia bingung. Ia ingin mendekat, ingin memeluk, ingin men
Arunika terbaring dengan infus di punggung tangannya. Kesadarannya belum sepenuhnya utuh, kepalanya masih terasa berat, namun suara-suara di sekitarnya mulai kembali jelas. Bau antiseptik menusuk hidungnya, lampu putih di atas ranjang membuat matanya perih.“Papa….”Suara itu lirih, hampir tak terdengar.Elvaro yang sejak tadi berdiri di sisi ranjang langsung mendekat. Ia menggenggam tangan Arunika dengan hati-hati, seolah takut putrinya akan menghilang jika disentuh terlalu kuat.“Papa di sini, Runi,” jawabnya lembut, meski suaranya bergetar.Arunika mengedip pelan. Matanya mencari-cari, gelisah.“Kaivan….” Arunika mengerjab beberapa kali, napasnya tersendat. “Kaivan mana, Pa?”Elvaro terdiam.Shandy yang berdiri sedikit menjauh ikut menunduk. Tak ada yang langsung menjawab. Keheningan itu justru membuat dada Arunika semakin sesak.“Pa?” ulang Arunika, suaranya mulai gemetar. “Kaivan kenapa?”Elvaro menelan ludah. Tangannya mengusap punggung tangan Arunika perlahan, mencoba menenangk
Ketukan itu terdengar di pintu kamar pengantin.Tidak keras, tapi cukup tegas untuk memecah keheningan malam.Tok. Tok. Tok.Elvaro yang tengah berdiri dekat Yara refleks menoleh. Alisnya mengernyit tipis. Malam sudah larut, resepsi baru saja usai. Ia menarik napas pelan, lalu melangkah ke pintu.Begitu pintu dibuka, Deva berdiri di sana.Wajah pria itu tegang. Tidak panik berlebihan, tapi jelas ada sesuatu yang tidak beres. Tangannya terlipat di depan tubuh, sikapnya sopan seperti biasa.“Maaf, El,” ucap Deva lebih dulu, suaranya rendah. “Saya tahu ini bukan waktu yang tepat.”Jantung Elvaro langsung berdegup tidak nyaman.“Ada apa, Bu Deva?” tanyanya tenang, meski instingnya sudah memberi peringatan.Deva menelan ludah, lalu menatap Elvaro lurus-lurus.“Barusan saya dapat kabar, mobil Kaivan mengalami kecelakaan.”Dunia seolah berhenti sepersekian detik.Elvaro mencengkeram daun pintu. “Kecelakaan?” ulangnya pelan.“Iya,” jawab Deva cepat. “Kejadiannya tidak jauh dari pusat kota. Me
Kamar pengantin itu tenang, jauh dari riuh yang sejak pagi memenuhi rumah. Lampu berwarna kuning hangat menyala lembut, memantulkan bayangan tirai putih yang bergoyang pelan tertiup angin malam. Di luar, suara kendaraan sudah jarang terdengar. Seolah dunia benar-benar memberi ruang hanya untuk mereka berdua.Yara berdiri di depan cermin, jemarinya sibuk melepaskan jepit rambut satu per satu. Gaun pengantin yang sejak tadi membalut tubuhnya kini terasa lebih ringan, bukan karena kainnya berubah, melainkan karena beban di dadanya perlahan luruh. Semua yang menegangkan, semua yang membuatnya waswas berbulan-bulan terakhir—hari ini akhirnya terlewati.Elvaro memperhatikannya dari belakang, masih mengenakan kemeja putih dengan kancing atas yang sudah terbuka. Ia tidak langsung mendekat. Ada rasa haru yang menahan langkahnya, perasaan asing yang campur aduk antara lega, bahagia, dan syukur yang terlalu besar untuk segera diucapkan.Beberapa langkah kemudian, Elvaro berdiri tepat di belakang







