LOGINChapter 29“Selamat pagi,” sapa seorang pria jangkung yang terlihat lebih menawan dengan setelan jas abu-abunya pada seluruh karyawan yang sudah berkumpul di ruang meeting.Serentak para karyawan menjawab sapaan sang atasan yang hari ini tampak lebih sumringah dan berwajah cerah. Sedikit mengubah suasana ruang meeting yang semula tegang menjadi lebih santai.“Tolong berikan laporan per divisi masing-masing,” perintah Morgan setelah duduk di bangku utama yang menjadi pusat perhatian peserta meeting.Satu per satu perwakilan divisi mulai berbicara. Mulai dari outstanding piutang, pembelian yang belum terbayar, penjualan yang terus menurun. Hampir tidak ada laporan yang baik.“Apa ada ide dari tim marketing untuk kondisi yang buruk ini?”Glek! Suara menelan ludah dari kepala tim marketing yang baru saja dipanggil terdengar memenuhi ruangan yang mulai hening.“Kami sudah melakukan promosi gencar-gencaran di outlet namun tidak berdampak signifikan. Saat ini kami sedang fokus membangun st
“Udah tidur?” Sebuah pesan singkat muncul di notifikasi W******p wanita yang baru saja merebahkan diri dan berniat tidur.“Belum.”“Coba lihat ke jendela.” Setengah berlari Purple menghampiri jendela, lalu membuka gorden berwarna gold.Mata yang semula terasa kantuk berubah berbinar-binar diikuti senyuman mengembang di bibirnya melihat sang pacar melambaikan tangan sambil tersenyum tipis kea rah jendela kamarnya.Tak menunggu lama dia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Hatinya terasa membuncah setelah sekian hari menahan kerinduan terhadap pria yang selalu berusaha meluangkan waktu mengiriminya pesan ditengah kesibukan yang padat.Dari kejauhan Morgan dapat melihat wanita yang sudah mengenakan piyama pink berlari-lari kecil menghampirinya dengan tak sabar. Tak peduli sekeliling, dia langsung memeluk erat dirinya.“I miss you…,” bisiknya lirih di samping telinga Morgan yang terasa dingin akibat angin malam sehabis hujan.“I miss you too…,” balasnya sambil mengeratkan tangan di pi
Selangor, Malaysia – 09.00 pagi“Sial!” umpat Morgan setelah mematikan sambungan telepon dari sang kekasih. Walau tadi dia berusaha tenang dan menyembunyikan rasa cemburunya tetap saja dia merasa was-was jika sudah menyangkut sahabat kecil dari kekasihnya itu.Alfa yang berdiri di sampingnya tak berani menanyakan apa yang tengah membuat bosnya mendadak kesal saat meeting akan dimulai beberapa menit lagi.“Al, kita usahakan meeting ini selesai secepat mungkin. Ga usah terlalu banyak basa-basi. Jika pihak mereka banyak permintaan kita cari investor lain.“Baik, Pak.”Ting.Bersamaan dengan itu pintu lift terbuka, keduanya menuju ruangan ujung sebelah kanan, tempat berlangsungnya meeting yang akan menguras banyak waktu.Samarinda, IndonesiaSaat Purple akan membuka pintu mobil hitam yang mengantarkannya sampai depan rumah, Rudra bertanya, “Akankah hubungan kita berubah?”“Kalau udah tahu hubungan kita gak akan sama seperti dulu lagi, bukankah sebaiknya gue ngak perlu tahu gimana perasaan
Chapter 26Tin … tinSuara klakson dari sebuah mobil hitam yang terasa sangat familiar menarik perhatian Purple yang tengah berdiri di pinggir jalan menunggu taksi dengan tangan menenteng sebuah koper. Dia akhirnya memilih pulang sendiri karena Alfa hari ini sakit dan pacarnya mendadak harus ke Malaysia untuk negoisasi harga dengan customer barunya.“Masuk,” perintah laki-laki dari dalam mobil setelah kaca bagian penumpang terbuka. Sebelum memutuskan untuk mengikuti perintah laki-laki itu, Purple mengangkat kopernya. Sebagai kode minta tolong agar supir ganteng itu mau menaruh kopernya di bagasi. Begitu sang supir keluar dari mobil dan mengambil alih koper dari tangan Purple, sang pemilik justru dengan santainya masuk ke dalam mobil.“Lo habis dari mana?” tanya Purple seraya memakai sabuk pengamannya.“Abis service monitorku rusak.”“Oh ….” Setelah mengucapkan sepatah kata itu Purple menyandarkan kepalanya dan perlahan menutup mata.“Lo habis dari mana? Berhari-hari ngak bisa dihubungi
Chapter 25Lebih baik dari perkiraan, ternyata tak sampai seminggu luka Morgan sudah mengering. Lima hari berlalu begitu saja tanpa terasa. Seperti sebelumnya, Purple tetap tekun dengan pekerjaannya. Sama sekali tak goyah dengan rengekan Morgan tiap kali wanita itu ingin berangkat kerja. Dan entah disengaja atau memang benar sibuk, Purple selalu pulang malam. Itulah yang ada di pikiran Morgan tiap kali pacarnya pulang jam 19.00 WITA.Aktivitasnya yang begitu padat membuat rumah Morgan hanya jadi tempat persinggahan untuk tidur. Tiap selesai memberikan obat dan mengganti perban, mereka mengobrol ringan. Kadang Purple tertidur saat obrolan mereka belum berakhir. Dan seperti biasa Morgan hanya dapat menahan hasratnya selama beberapa hari itu dengan amat tersiksa. Apalagi saat wanita itu tertidur di bahunya dengan hanya mengenakan tank top dibalut outer tipis. Outer berbahan satin yang kadang terbuka tanpa sengaja seakan terus mengejek dirinya ya
Chapter 24Selepas kepergian Desi yang berhasil membuat mood-nya berantakan, Purple membereskan sisa sarapan yang baru dia makan setengah. Dia buang sisanya karena nafsu makannya hilang seketika. Menutup jatah sarapan Morgan dengan tudung saji di atas meja makan, lalu pergi ke kamar mandi.30 menit kemudianKeluar dari kamar mandi Purple merapikan sedikit bagian dapur yang berantakan. Membuang sampah yang berserakan di meja, menaruh beberapa makanan dan minuman ke dalam kulkas, terakhir dia manyapu dan mengepel lantai agar terlihat bersih. Kemudian menuju kamar tidur mengambil shoulder bag-nya. Mengeluarkan beberapa buah peralatan make up yang akan dia gunakan untuk merias diri.Merasa penampilannya sudah sempurna dengan baju kasualnya, Purple menghampiri Morgan yang masih tertidur. Mengecup kening pria itu sambil berkata, “Aku berangkat kerja, ya.” Diikuti senyuman tipis di bibirnya yang berwarna peach.







