LOGINAlisha sendiri sudah selesai dengan agenda mengemas barang untuk ia bawa ke tanah air besok. Hanya dua koper dan satu tas ransel berukuran sedang, tak sebanyak Kadek yang barang bawaannya beranak pinak banyak. Sebelum berangkat tidur, Alisha kembali memeriksa ponsel yang sedari tadi sedang ia isi daya di sudut ruangan.Ada beberapa pesan singkat dari Arya yang mengingatkan Alisha tentang rencana pertemuan dengan Hanami esok hari.Arya : Besok dijemput Riri, langsung ke KLCC.Arya : Kayaknya Mama ngajak pacarnya Mas Awan juga. Nanti jangan kaget banget ya kalau mama ngasih banyak kejutan.Alisha tersenyum lebar setelah membalas satu per satu pesan dari tunangannya itu. Meskipun Arya sedikit jengkel padanya, pria itu tetap memberi banyak perhatian pada Alisha. Hanya intensitas bicaranya saja yang berkurang.Alisha : Iya, Mama udah hubungi aku juga kok, thank you ya udah diingetin lagi 😘Arya : Thank you doang? Alisha kembali tergelak saat membayangkan bagaimana wajah kus
Hubungan Alisha dan Ibas merenggang sempurna. Kejadian pagi hari di resto kala itu, meski tak sampai menyebabkan baku hantam, tetap saja membuat Arya terlihat sangat geram dan gatal ingin menerkam Ibas di tempat. Alisha menahan mati-matian gerakan Arya yang ketika itu hampir meraih kerah kaos Ibas. Untungnya bujukan Alisha berhasil, jadi perempuan itu bisa dengan cepat merayu tunangannya agar keluar dari resto. "Heh, elo sama Mas Ibas baikan dong, Sha. Gue kikuk banget kalau ada di antara kalian, berasa ditengah-tengah perang gitu," dengkus Kadek menyadarkan Alisha yang sempat melamun sesaat. Sambil memasukkan pakaian ke dalam kopernya, Kadek nampak melirik ke arah sahabatnya itu. Short course yang menugaskan mereka sudah selesai. Ketiganya bersiap kembali ke tanah air esok pagi dengan penerbangan selepas subuh. "Gue selama ini baik kok ke Mas Ibas, dianya aja kali yang jahat ke gue, pake nyinyir segala," jawab Alisha dengan nada tenang."Ya emang keterl
"Jadi gimana?""Apanya yang gimana?" Alisha ganti bertanya lantaran tak menangkap maksud dari kalimat Arya."Kamu kan udah kenyang," serunya sambil mengusap ujung bibir Alisha dengan selembar tissue. "jadi... udah bisa cerita tentang hal yang bikin kamu ngelamun tadi? kayaknya bukan karena mikirin tanggal pernikahan kita deh," sambungnya diselingi canda."Maunya Anda kalau itu, Pak," kekeh Alisha."Ya jelas lah, niat baik kan nggak boleh ditunda-tunda, aku udah sering bilang kan?"Alisha mencebik lantas mengangguk-anggukan kepala pelan. "Nanti ya, Mas. Setelah aku resign,"Arya menelan ludahnya cepat-cepat. "Kamu berencana resign dari Less Giant?"“Barusan kepikiran aja sih?” Alisha kembali menyuap potongan roti canai ke dalam mulutnya.“Ada sesuatu yang aku nggak boleh tahu ya?” Arya dan tebakannya yang selalu benar.Alisha menatapnya sekilas lalu mengendik ke ujung meja di mana ponsel Arya bergetar meminta perhatian. “Angkat dulu tuh telponnya, siapa tahu penting,” seru Alisha senga
"Jadi, yang kemarin lusa nganter lo itu, beneran Arya?"Alisha memejam sejenak ketika teringat awal mula pertikaiannya dengan Ibas, salah satu rekan kerjar yang menjadi partnernya di Penang. Kejadian beberapa hari itu sebenarnya ingin Alisha lupakan saja, namun ternyata tak bisa, karena bayangan wajah congkak Ibas terus berkelebat di benaknya.“Anaknya Pak Adiyatma itu kan?” sambung Ibas membuat Alisha melirik sekilas ke arah pria berkulit kecokelatan itu. Kalimat yang dilontarkan sebenarnya hanya pertanyaan biasa. Namun terdengar aneh ketika Ibas yang menanyakan. Karena, sebagaimana yang Alisha tahu, Ibas sangat jarang membahas hal-hal pribadi di luar pekerjaan mereka."Ya begitulah," jawab Alisha tersenyum tipis. "Anak-anak udah banyak yang tahu juga kok,""Tapi gue nggak tahu tuh," sahut Ibas sembari menambahkan saus sambal ke dalam burgernya.Pembicaraan itu terjadi ketika Alisha, Ibas dan Kadek sedang menikmati makan malam di salah satu resto yang tak terlalu jauh dari apartment
"Ealaah, Mas ... Mas, kamu tuh belajar sama adekmu sana. Si Arya tuh begitu balikan nggak pake acara pacaran-pacaran segala, langsung lamar! langsung tunangan!""Ya beda dong, Ma. Si Manja udah kenal dari lama sama Alisha, bahkan dulu sempet pacaran. Sedangkan aku, belum sejauh itu. Mama tahu sendiri gimana jungkir baliknya aku deketin Fawnia sampe dia luluh. Jangan disamaan sama si Manja, beda cerita." Kali ini suara berat Irawan yang menimpali. Kakak kedua Arya itu terdengar galau karena bisa-bisanya malah membahas seorang perempuan incarannya pada Hanami ketika jam sarapan seperti ini.Suara kedua orang itu berasal dari lantai bawah, tepatnya di ruang makan. Di mana ternyata sedang ada Hanami dan Irawan tengah menikmati sarapan sambil berbincang seru. Arya mendengar semua pembicaraan itu saat sedang memasukkan pakaiannya ke dalam tas ransel kecil sebelum nanti akan bergabung di ruang makan juga. Ia sengaja tak menutup pintu kamar. Mungkin karena itu pulalah suara sang ibu dan sang
"Ayah, saya ke sini ingin meminta ijin pada ayah ... untuk meminang Alisha menjadi calon istri saya." Suara Arya terdengar tegas dan penuh kesungguhan. Jadi rasanya wajar saja jika Alisha mendadak berdebar dan gugup untuk menatap ke arah Arya yang berdiri diapit kedua orang tuanya. Alisha hanya khawatir saat menengadahkan wajah nanti, bisa-bisa air matanya luber tak bisa terbendung."Sejak pertama bertemu dengan Alisha, saya yakin kalau dia adalah jodoh yang saya cari selama ini. Meski kisah kami mengalami pasang surut seperti hubungan yang lain, saya tetap berpegang teguh pada satu keyakinan, yakni, Alisha yang benar-benar saya inginkan untuk membangun rumah tangga dan menua bersama.""Sha, noleh bentar sini," bisikan Erin yang duduk di sebelah membuat fokus Alisha pecah seketika. Istri dari Angga tersebut mengulurkan tangannya yang memegang tissue untuk membantu menghapus setitik air mata di sudut netra adik iparnya."Tahan bentar, nggak usah nangis," bisik Erin lagi setelah menghap







