LOGINTernyata tak perlu menunggu lama sampai Arya kembali. Alisha baru selesai mandai dan sedang menyisir rambut panjangnya ketika pintu kamar terbuka lebar lantas membawa sosok Arya yang masuk dengan tergesa. "Mas... " “Kamu kenapa? Sakit? kata Bi Yus, aku langsung disuruh ke kamar karena kamu kelihatan pucat,” cecar Arya saat mendekat dan merangkum wajah cantik istrinya. "I'm okay, aku nggak kenapa-napa kok.""Tapi kata Bi Yus—"Alisha menggeleng lagi lalu bangkit berdiri dan memeluk pinggang suaminya."Aku masih keringetan, Sayang," seru Arya membalas pelukan putri Alisha dengan gerakan ringan. Karena biasanya istrinya itu akan mengomel jika langsung mendekat dalam k
Tidur siang Alisha terganggu karena getar ponsel yang ia letakkan di atas nakas tepat di sebelahnya. Menyipitkan mata karena masih didera kantuk, cepat-cepat Alisha meraih ponsel tersebut agar tak sampai mengganggu tidur dua pria tampan yang ada di sebelahnya. Nama Fawnia berkedip-kedip di layar gawai. “Hallo, iya, Mbak?” “Sorry ganggu tidurnya, Sha, tapi aku udah lama di bawah. Mas Awan udah di perjalanan, bentar lagi dia nyampe jemput kami.” Suara pelan Fawnia terdengar tak enak hati. “It’s, okay, Mbak. Emang udah waktunya bangun kok, aku belum sholat ashar.” Alisha mengucek kedua matanya sembari berjalan ke arah lemari. Hendak mengganti celana pendeknya dengan celana panjang yang lebih tertutup sopan. Karena tak mungkin ia menemui saudara iparnya dengan busana yang memamerkan pahanya seperti tadi. “Bisma udah bangun?” tanya Fawnia lagi. Alisha menoleh ke arah tempat tidur di mana sang suami tengah tidur samb
Arya balas mendekap tubuh sang istri tak kalah erat. Berharap kebahagiaan yang menghampiri mereka akan memeluk keduanya sangat lama. Namun sayang, keputusan semesta kembali mengoyak hati sepasang suami istri itu lagi. Saat satu bulan kemudian Alisha memeriksakan ulang kehamilannya yang menginjak usia sebelas minggu.“Maksudnya gimana ya, Dokter?” ulang Alisha berharap ada kesalahan dengan telinganya saat mendengarkan penjelasan Dokter Yusuf.“Di usia 10 sampai 11 minggu seharusnya kita sudah bisa mendengar detak jantungnya. Tapi ini…” Tangan dokter tersebut terulur kala menunjuk layar USG. “Detak jantungnya tidak terdeteksi, dengan kata lain, janinnya tidak berkembang,” sambungnya lagi dengan nada sangat lirih sarat keprihatinan.“Saya turut bersedih dengan keadaan ini.” Dokter Yusuf kembali duduk di kursinya.Genggaman tangan Arya tanpa sadar semakin kuat begitu mendengar penjelasan dokter kandungan
Alisha mengerjap saat menengadahkan wajah. Matanya menatap jendela yang sedikit basah karena percikan air hujan yang baru saja reda. Suasana malam di luar pasti dingin, usai ibukota dilanda hujan sedemikian derasnya selama beberapa jam. Mengais kesadaran sedikit demi sedikit, perempuan itu meringis tipis saat merasakan nyeri di punggung tangannya sebelah kiri. Infus. Matanya jelas-jelas melihat adanya jarum infus tertancap di sana.Ingatannya mendadak berlari pada kejadian beberapa jam lalu. Ketika Arya terpekik panik saat melihat Alisha mimisan lalu bergegas menggendongnya ke ruangan lain di belakang ballroom hotel. Alisha masih sempat melayangkan protes, namun akhirnya tak berdaya karena kesadarannya menurun dengan cepat. Dan tahu-tahu di sinilah ia berada, di kamar rawat VVIP rumah sakit yang yang dikelola oleh kakak iparnya sendiri."Fa, Ifa," seru Alisha mencoba memanggil asistennya yang tertidur dengan posisi duduk di ujung sofa. Ifa memejamkan mata
"Sebentar lagi Alisha nyusul juga ya, jadi mama.""Amiin, makasih doanya, Tante.""Al, jangan ditunda ya, tahun depan biar jadi bertiga deh sama Arya.""Amiin, thank you doanya, Tante.""Promilnya udah jalan? pasti berhasil kok kalau sama Dokter Yusuf, aku dulu promil sama beliau.""Udah jalan kok, doain lancar ya, Kak." Alisha mengangguk berkali-kali sambil menebar senyum. "Tapi kamu nggak trauma kan? pasca hmm... keguguran yang itu?" tanya yang lain lagi. "No, nggak ada yang seperti itu. Tolong doakan yang baik-baik saja," jawab Alisha melempar senyum kaku. Bukan senyuman manis yang tulus, tapi benar-benar jenis senyum yang palsu yang lahir dari hatinya yang paling dalam. Anggap saja Alisha belum berhasil berdamai dengan keadaan, karena ia masih saja merasa sakit hati atau tersinggung ketika banyak orang menanyainya tentang buah hati. Seperti yang terjadi dua minggu lalu di acara tiga bulanan Bisma Shadu, bayi mungil Fawnia dan Irawan."Heiii, Cantik, ngelamun aja," tepukan pela
“By the way, Mas Faisal berapa lama di Surabaya?” sela Arya begitu menurunkan ponsel dari telinga. Ternyata suami Alisha itu baru saja menerima panggilan dari sang mama.“Sekitar empat hari sih,” jawab Faisal sembari melirik adiknya yang ikut menyimak saat Arya terlihat serius. “Kenapa? ada yang mau di obrolin lagi?”Arya menggeleng pelan. “Bukan, ini … Mama barusan telpon, ngabarin kalau Mbak Nia masuk rumah sakit tadi pagi. Lahiran lebih cepat dari perkiraan,” seru Arya saat menggoyangkan ponselnya.“Alhamdulillah..” Alisha spontan mengucap syukur, diikuti yang lain. Kabar kelahiran seperti ini selalu membuat jantung Alisha ikut berdegup kencang. Meski kabar bahagia itu bukan berasal dari dirinya, tetap saja Alisha ikut melangitkan doa agar ia segera menyusul hal serupa.“Siapa tahu mau lihat keponakan kalian dulu.” Arya tersenyum ramah lantas menggenggam telapak tangan Alisha dan membawa ke atas pangkuannya.“Insyaallah aku dan Felisa nanti atau besok pasti sempetin lihat bayi Mbak
Alisha sendiri sudah selesai dengan agenda mengemas barang untuk ia bawa ke tanah air besok. Hanya dua koper dan satu tas ransel berukuran sedang, tak sebanyak Kadek yang barang bawaannya beranak pinak banyak. Sebelum berangkat tidur, Alisha kembali memeriksa ponsel yang sedari tadi sedang ia isi d
Hubungan Alisha dan Ibas merenggang sempurna. Kejadian pagi hari di resto kala itu, meski tak sampai menyebabkan baku hantam, tetap saja membuat Arya terlihat sangat geram dan gatal ingin menerkam Ibas di tempat. Alisha menahan mati-matian gerakan Arya yang ketika itu hampir meraih kerah kaos Ibas.
"Jadi gimana?""Apanya yang gimana?" Alisha ganti bertanya lantaran tak menangkap maksud dari kalimat Arya."Kamu kan udah kenyang," serunya sambil mengusap ujung bibir Alisha dengan selembar tissue. "jadi... udah bisa cerita tentang hal yang bikin kamu ngelamun tadi? kayaknya bukan karena mikirin
"Jadi, yang kemarin lusa nganter lo itu, beneran Arya?"Alisha memejam sejenak ketika teringat awal mula pertikaiannya dengan Ibas, salah satu rekan kerjar yang menjadi partnernya di Penang. Kejadian beberapa hari itu sebenarnya ingin Alisha lupakan saja, namun ternyata tak bisa, karena bayangan wa







