MasukSuasana makan malam itu semula berjalan tenang. Terlihat salah satu pelayan menuangkan teh. Namun, saat ia tiba di sisi Elena, tiba-tiba kakinya tersandung dan teko teh itu tergelincir.
Cipratan teh panas tumpah ke arah Elena. Cairan panas itu mengenai tangannya, membuat kulitnya langsung memerah. Ia menahan napas, sedikit tersentak karena rasa perih yang mendadak membakar. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, suara jeritan melengking. “Ah! Panas! Tanganku!” Kanaya berteriak kaget, padahal hanya beberapa tetes kecil mengenai lengannya. Putra Mahkota Daniel langsung menoleh panik. “Kanaya!” serunya, lalu buru-buru berdiri dan mengambil tangan gadis itu dengan cemas. “Apa kau tidak apa-apa? Sini, biar kulihat.” Wajah Kanaya memerah, matanya berkaca-kaca. “Sakit sekali, Yang Mulia,” ucapnya lembut, suaranya bergetar menahan tangis. Daniel menatapnya penuh perhatian, jemarinya bahkan mengelus lembut pergelangan tangan Kanaya. Tanpa merasa bersalah pada Elena yang jelas-jelas tunangannya. Sementara itu, Elena duduk diam di tempatnya. Tangannya yang terkena teh kini memerah dan mulai melepuh di beberapa bagian, tapi tak satu pun dari mereka menoleh padanya. Nyonya Andini menatap khawatir ke arah Kanaya, lalu menoleh tajam pada Elena. “Elena! Kau ini bagaimana? Tidak hati-hati sama sekali! Apa kau sengaja melakukannya?” Elena menatapnya, masih dengan wajah tenang. “Saya bahkan tidak menyentuh apapun, Nyonya.” Sebelum ia bisa menjelaskan lebih jauh, Adipati Dirgantara ikut bicara, “Elena, kau sudah cukup membuat masalah. Sekarang kau ingin mempermalukan keluarga di depan Yang Mulia Putra Mahkota juga?” Daniel yang masih memegang tangan Kanaya, menatap Elena tajam. “Apa benar kau sengaja melakukannya?” Elena menatap mereka semua satu per satu. Ia ingin tertawa, tapi yang keluar hanya helaan napas lelah. Ia semakin sakit hati. “Sengaja?” katanya datar. “Apa kalian melihatnya sendiri?” Semua terdiam. Tentu tak ada yang melihat kejadian itu karena mereka fokus pada makanan masing-masing. Elena lalu memalingkan wajahnya ke arah pelayan yang tadi menjatuhkan cangkir. “Kau,” katanya tajam, “apa kau tidak ingin menjelaskannya?” tuntut Elena. Pelayan itu pucat pasi. Ia segera berlutut, suaranya gemetar. “A–Ampun, Nona! Yang Mulia! Tuan! Saya tidak sengaja! Kaki saya tersandung sesuatu, saya tidak bermaksud—” Rangga langsung menyela dengan nada curiga. “Katakan saja yang sebenarnya. Apa Elena mengancammu untuk tidak bicara?” Pelayan itu terbelalak panik. “Tidak, Tuan! Saya bersumpah tidak!” Elena menatap Rangga, lalu tersenyum sinis. “Mengancam pelayan untuk apa? Supaya aku bisa menyiram diriku sendiri dengan teh panas?” Elena mengangkat tangannya perlahan, menunjukkan kulit yang sudah melepuh parah. Beberapa tetes air panas masih menetes dari ujung jarinya. “Lihatlah,” katanya dingin. “Orang bodoh macam apa yang mau melukai dirinya sendiri?” Semua mata kini menatap tangan Elena, merah, melepuh, bahkan jauh lebih parah dari cipratan kecil di tangan Kanaya yang kini nyaris tak terlihat. Hening kembali. Bahkan Kanaya yang tadi menangis kecil kini menunduk, tak bisa berkata apa-apa. Namun Daniel, alih-alih menyesal, justru menatap Elena dengan dingin. “Bisa saja kau melakukannya untuk menarik perhatian kami.” Kata-kata itu menghantam seperti cambuk di udara. Cani yang berdiri di sudut ruangan menatap dengan mata melebar, ingin bicara tapi takut. Elena menatap Putra Mahkota lama, lalu perlahan berdiri. “Menarik perhatian?” ucapnya lirih, lalu menatap langsung ke arah Daniel. “Yang Mulia, saya tidak sebodoh itu hanya demi perhatian yang semu.” Daniel terdiam. Entah karena malu atau terkejut, ia tak memberi balasan. Elena menunduk sedikit, memberi hormat singkat pada mereka semua. “Mohon izin, saya pamit lebih dulu.” Tanpa menunggu izin, ia berbalik dan berjalan keluar. Tangannya yang terluka ia sembunyikan di balik lengan hanfunya, tapi rasa perih itu kian menusuk. Setiap langkah membuat napasnya semakin berat. Elena berhenti di bawah lampion batu, mengangkat tangannya yang kini memerah bengkak. Luka itu berdenyut hebat. “Di kehidupan lalu, aku memang sengaja karena marah,” gumamnya. “Tapi sekarang, apa yang menyebabkan pelayan itu jatuh?” pikir Elena. Cani yang mengejarnya dari belakang akhirnya tiba dan melihat tangan tuannya. “Nona! Luka Anda astaga, ini parah sekali! Kita harus segera mengobatinya!” Elena menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Ya. Tapi jangan panggil tabib kediaman. Aku tak ingin mereka tahu.” Cani menatapnya bingung. “Tapi kenapa?” “Nanti aku ceritakan!” Elena tentu tahu, jika obat yang akan diberikan oleh tabib itu justru akan memperparah lukanya.Begitu mereka kembali ke toko melalui pintu rahasia, suasana yang tadi hangat berubah tegang. Lampu-lampu masih menyala, tetapi udara terasa lebih dingin.Elena langsung menutup pintu tersembunyi itu dan berbalik menghadap Rando. “Di mana orang itu?”Nada suaranya tenang, namun sorot matanya tajam.Rando berdiri tegak. “Saat saya tiba di sekitar toko, saya melihat bayangan seseorang di atap bangunan seberang. Tapi ketika saya mengejar, dia sudah pergi.”“Ciri-cirinya?” tanya Caspian singkat.“Berpakaian gelap. Gerakannya ringan. Sepertinya terlatih.”Elena menyilangkan tangan. “Apakah dia mencoba masuk?”“Tidak,” jawab Rando. “Sepertinya dia hanya mengamati.”Caspian mengangguk pelan. “Kalau begitu, kemungkinan besar dia hanya mengumpulkan informasi. Tidak ada tanda-tanda hendak menyerang.”Lily berdecak kesal. “Apa yang mereka inginkan sebenarnya? Jangan-jangan ingin berbuat jahat.”Elena menggeleng tipis. “Sepertinya dia tidak akan berani melakukan itu.”Ia berjalan ke meja dan menu
Elena tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia jarang kehilangan kata-kata.Caspian menyelesaikan simpul perban, lalu tetap berlutut beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.“Elena,” panggilnya pelan.“Apa?”“Jika suatu hari mereka benar-benar serius mendekatimu .…”Elena mengangkat alis. “Dan?”“Aku tidak akan mundur.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Namun ada tekad kuat di dalamnya.Elena menatapnya lama. “Aku tidak butuh seseorang untuk bertarung demi diriku,” katanya akhirnya.Caspian tersenyum tipis. “Aku tahu.”“Lalu?”“Aku bertarung bukan karena kau lemah.” Ia berdiri perlahan, kini sejajar dengan Elena. “Tapi karena aku ingin.”Hening kembali menyelimuti ruangan. Dari luar terdengar suara Lily yang bercakap dengan Cani di lantai bawah.Elena memalingkan wajah lebih dulu. “Lukanya sudah selesai. Terima kasih.”Caspian menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Jangan membuatku khawatir lagi.”Elena hampir tersenyum, namun menahannya. “Itu bukan sesuat
Ketiga pria itu berdiri beberapa saat di tengah jalan, suasana di antara mereka masih dipenuhi bara yang belum padam.Daniel mendengus pelan. “Jika bukan karena kalian berdua yang terus menyela, dia tidak akan pergi begitu saja.”Erland membalas dengan nada tak kalah tajam. “Jika Anda tidak datang tiba-tiba dan bersikap seolah hanya Anda yang berhak, situasinya tak akan memburuk.”Caspian tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. “Kalian berdua terlalu banyak bicara. Elena tidak suka dipaksa.”Daniel menatapnya kesal. “Kau juga sama saja.”“Bedanya,” jawab Caspian tenang, “aku tahu kapan harus berhenti.”Hening sesaat.Akhirnya, tanpa sepakat apa pun, ketiganya berbalik ke arah berbeda. Persaingan tak terucap twrasa di sana.**Reno berjalan beberapa langkah di belakang Putra Mahkota Erland. Suasana di antara mereka lebih tenang, meski jelas ada sesuatu yang mengusik pikiran sang putra mahkota.“Yang Mulia,” panggil Reno hati-hati.Erland melirik sekilas. “Apa?”Reno ragu sejenak,
Elena baru saja membuka mulut untuk menjawab desakan Putra Mahkota Erland ketika sebuah suara lain menyela, tegas dan penuh otoritas.“Elena, ikut denganku.”Semua orang di sekitar jalan itu menoleh bersamaan.Di sana, berdiri Putra Mahkota Daniel dengan pakaian kebesaran Solaria yang rapi dan wajah yang sulit ditebak. Aura wibawanya membuat para pejalan kaki spontan memberi jalan.Alis Elena sedikit berkerut. Lily pun ikut menegang.Daniel melangkah mendekat, tatapannya langsung jatuh pada hanfu Elena yang mulai memerah di bagian siku.Wajahnya berubah dingin. “Kau terluka,” katanya singkat. “Ayo. Kita ke klinik kesehatan kekaisaran.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan. Ia mengulurkan tangan, berniat menggenggam pergelangan Elena.Namun sebelum sentuhan itu terjadi, sebuah tangan lain lebih dulu menghadang.“Tidak.”Putra Mahkota Erland berdiri di antara mereka, sorot matanya tak lagi selembut sebelumnya.“Aku yang akan membawa Nona Elena,” ucapnya tenang namun tegas.
Gerbang utama Istana Solaria terbuka perlahan saat tiga kereta berukir lambang Kekaisaran Kaelum memasuki halaman dalam.Bendera hitam-perak berkibar pelan tertiup angin. Para pengawal berjajar rapi di sisi jalan batu putih.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi kuda hitam dengan postur tegap dan tatapan tajam.Dialah Putra Mahkota Erland.Tatapannya langsung tertuju pada dua sosok yang telah berdiri di tangga utama istana, Kaisar Ethan dan Permaisuri Lola.Begitu kudanya berhenti, Erland turun dengan gerakan ringan dan mantap. Ia menyerahkan kendali kuda pada pengawal, lalu berjalan menghampiri ayah dan ibunya.Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunduk hormat.“Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar,” ucapnya tegas. “Dan salam hormat untuk Ibu Permaisuri.”Kaisar Ethan memandang putranya dengan sorot mata dalam. Wajahnya tetap berwibawa dan cenderung dingin seperti biasa.Ia mengangguk pelan, lalu menepuk pundak Erland. “Kau sudah datang,” katanya sin
Gerbang Kediaman Adipati Dirgantara terbuka lebar saat senja mulai turun.Rangga baru saja turun dari kudanya ketika ia melihat sebuah kereta berhenti di halaman depan. Ia mengerutkan kening saat melihat dua sosok turun dari sana.“Ringga? Kanaya?” gumamnya.Saudara kembarnya itu tampak berantakan. Hanfunya basah kuyup, bahkan dari jarak beberapa langkah pun tercium aroma sup yang masih menempel.Di belakangnya, Kanaya turun dengan hati-hati, sementara Kania sudah di antar pulang lebih dulu dengan perasaan dongkol.Rangga melangkah cepat mendekat.“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya tajam.Ringga langsung menoleh dengan wajah penuh amarah. “Ini semua ulah Elena.”“Ela— apa?” Rangga terlihat benar-benar terkejut. “Elena melakukan ini?”“Dia berani mempermalukanku di depan murid akademi,” geram Ringga. “Dia menyiramku dengan air sup.”Rangga menatapnya tak percaya. “Elena melakukan itu?”Ringga mengangguk keras. “Tenru saja. Aku hanya memberikan dia peringatan karena mengganggu Kania. D







