Share

Bab. 12. Caspian

Author: Yu.Az.
last update Last Updated: 2025-10-19 23:29:22

Pagi itu, di kediaman keluarga Adipati Dirgantara Elena terlihat bersiap-siap.

Cani tengah sibuk menata rambut tuannya, jemarinya yang cekatan menyematkan hiasan bunga kecil di sisi kepala Elena. “Nona, hiasannya sudah siap,” katanya lembut.

Elena yang sejak tadi memandangi wajahnya di cermin sambil tersenyum tipis. “Cukup, Cani. Aku tidak mau terlihat mencolok hari ini,” ucapnya.

Kali ini Elena tidak ingin berdandan heboh, yNg membuat orang sakit mata.

Cani menatapnya lewat pantulan cermin, sedikit ragu. “Padahal hari ini Putra Mahkota Daniel sendiri yang akan menjemput Anda. Bukankah seharusnya—”

Elena memotong, nada suaranya. “Aku tahu. Justru karena itu, aku tidak mau terlihat berlebihan.”

Sekilas, kenangan masa lalunya berkelebat. Dulu, di kehidupan sebelumnya, ia begitu antusias ketika mendengar Putra Mahkota Daniel akan menjemputnya atas perintah Permaisuri Nadya. Ia berdandan cantik, memakai hanfu paling indah, berharap bisa memikat hati tunangannya. Namun yang ia dapat hanya ejekan, tatapan sinis, dan penghinaanyang membuatnya merasa hancur.

Lebih buruk lagi, perjalanan ke pasar bersama Daniel berubah menjadi aib. Kanaya ikut bergabung, dan Elena yang dulu masih bodoh menolak dengan nada tinggi, bahkan mengancam akan melapor pada Permaisuri Nadya.

Hasilnya, Daniel marah besar dan meninggalkannya sendirian di tengah pasar. Kalau bukan karena Caspian yang datang menolong, mungkin hari itu hidupnya sudah berakhir diperkosa.

Caspian. nama itu membuat dada Elena terasa hangat sekaligus perih. Dalam ingatannya, di hari terakhir hidupnya, hanya Caspian yang menangis ketika kepalanya hampir terpisah dari tubuh. Ia masih ingat bagaimana pria itu berlari menerjang penjaga, memanggil namanya, sebelum semuanya gelap.

Elena tersentak kecil saat Cani memanggilnya lagi. “Nona?”

Elena mengembuskan napas pelan dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu.” Ia lalu berdiri, merapikan hanfu biru muda yang sederhana namun anggun. “Ayo, Cani. Kita ke pasar. Aku ingin membeli keperluan untuk akademi nanti.”

Cani mengangguk, lalu mengikuti langkah tuannya keluar dari paviliun.

Begitu mereka tiba di halaman depan, suara derap kuda terdengar. Sebuah kereta berhenti dengan megah di depan gerbang kediaman, kereta kerajaan berlapis emas, milik Putra Mahkota Daniel. Tak lama kemudian, datang lagi satu kereta yang lebih sederhana.

Kereta itu milik Caspian.

Ketika pintu kedua kereta itu terbuka, dua pemuda tampan turun hampir bersamaan. Daniel dengan pakaian merah maroon, sementara Caspian mengenakan hanfu hitam kebuiruan. Meski status mereka berbeda, entah kenapa pagi itu Caspian terlihat jauh lebih berwibawa di mata Elena.

‘Caspian ternyata jauh lebih tampan dari yang Daniel, batin Elena tenang, matanya sedikit melembut. ‘Mungkin dulu aku terlalu buta untuk melihatnya.’

Caspian tersenyum ketika melihatnya. “Elena,” panggilnya dengan suara hangat. “Kebetulan aku juga hendak ke pasar. Ayo, kita pergi bersama. Kita bisa sekalian membeli perlengkapan akademi.”

Cani yang berdiri di belakang Elena hampir terlonjak mendengar nada akrab itu. Namun sebelum Elena sempat menjawab, suara dingin memotong dari arah lain.

“Elena akan bersamaku,” kata Daniel datar, langkahnya mendekat. Tatapan matanya tajam, seolah kalimat itu adalah perintah yang tak bisa ditolak.

Dulu, Elena akan merasa jantungnya berdetak kencang mendengar nada seperti itu. Ia akan tersipu dan langsung mengangguk tanpa berpikir panjang. Tapi kini, perasaannya berbeda. Yang ia rasakan hanyalah rasa jijik dan muak.

Baru saja ia hendak menjawab, suara lembut yang sudah sangat dikenalnya kembali menyela.

“Salam hormat, Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Kanaya sambil berjalan mendekat, senyum manis terlukis di wajahnya. Ia memberi hormat anggun, lalu melanjutkan dengan nada lembut, “Maaf jika saya lancang, tapi apa saya boleh ikut bersama?”

Daniel langsung menoleh, dan tanpa menunggu izin dari siapa pun, ia menjawab, “Tentu saja, Putri Kanaya. Aku justru senang kalau kau ikut.”

Kanaya tersenyum berseri, tapi sebelum berbalik ke arah Elena, ia memasang ekspresi bersalah yang lembut. “Kakak, maaf ya, aku tidak bermaksud merebut tempatmu. Ibu menyuruhku menemani Yang Mulia supaya tidak merepotkanmu. Terlebih kereta kuda milikku baru saja akan diantarkan.”

Cani yang melihat itu menggigit bibir. Ia tahu jelas bahwa Kanaya hanya berpura-pura. Tapi Elena kali ini tidak menunjukkan emosi seperti dulu. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang membuat Kanaya dan Daniel sedikit bingung.

“Tidak apa-apa,” kata Elena. “Lagi pula, aku tidak akan ikut dengan kalian.”

Daniel menatapnya, alisnya berkerut. “Apa maksudmu?”

Elena memutar wajahnya ke arah Caspian yang berdiri di sisi lain. “Aku akan bersama Caspian.”

Suasana berubah hening. Kanaya terkejut dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, sementara Daniel menatap Elena dengan sorot tidak percaya.

Caspian terkejut sejenak, tapi senyum lembut segera terbit di bibirnya. “Kalau begitu, kami permisi lebih dulu, Yang Mulia,” katanya dengan hormat namun tenang.

Elena mengangguk kecil padanya, lalu melangkah menuju kereta Caspian tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Cani segera menyusul, hampir tak bisa menyembunyikan rasa puasnya.

Daniel menatap punggung Elena yang semakin jauh, wajahnya berubah kelam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti, amarah, ego, atau mungkin rasa kehilangan yang tiba-tiba menusuk.

Kanaya melirik ke arahnya, sedikit gugup. “Yang ... Yang Mulia? Apa kita tetap—”

Daniel tidak menjawab. Tatapannya masih mengikuti kereta Caspian yang mulai bergerak menjauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab 273

    Begitu mereka kembali ke toko melalui pintu rahasia, suasana yang tadi hangat berubah tegang. Lampu-lampu masih menyala, tetapi udara terasa lebih dingin.Elena langsung menutup pintu tersembunyi itu dan berbalik menghadap Rando. “Di mana orang itu?”Nada suaranya tenang, namun sorot matanya tajam.Rando berdiri tegak. “Saat saya tiba di sekitar toko, saya melihat bayangan seseorang di atap bangunan seberang. Tapi ketika saya mengejar, dia sudah pergi.”“Ciri-cirinya?” tanya Caspian singkat.“Berpakaian gelap. Gerakannya ringan. Sepertinya terlatih.”Elena menyilangkan tangan. “Apakah dia mencoba masuk?”“Tidak,” jawab Rando. “Sepertinya dia hanya mengamati.”Caspian mengangguk pelan. “Kalau begitu, kemungkinan besar dia hanya mengumpulkan informasi. Tidak ada tanda-tanda hendak menyerang.”Lily berdecak kesal. “Apa yang mereka inginkan sebenarnya? Jangan-jangan ingin berbuat jahat.”Elena menggeleng tipis. “Sepertinya dia tidak akan berani melakukan itu.”Ia berjalan ke meja dan menu

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 272

    Elena tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia jarang kehilangan kata-kata.Caspian menyelesaikan simpul perban, lalu tetap berlutut beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.“Elena,” panggilnya pelan.“Apa?”“Jika suatu hari mereka benar-benar serius mendekatimu .…”Elena mengangkat alis. “Dan?”“Aku tidak akan mundur.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Namun ada tekad kuat di dalamnya.Elena menatapnya lama. “Aku tidak butuh seseorang untuk bertarung demi diriku,” katanya akhirnya.Caspian tersenyum tipis. “Aku tahu.”“Lalu?”“Aku bertarung bukan karena kau lemah.” Ia berdiri perlahan, kini sejajar dengan Elena. “Tapi karena aku ingin.”Hening kembali menyelimuti ruangan. Dari luar terdengar suara Lily yang bercakap dengan Cani di lantai bawah.Elena memalingkan wajah lebih dulu. “Lukanya sudah selesai. Terima kasih.”Caspian menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Jangan membuatku khawatir lagi.”Elena hampir tersenyum, namun menahannya. “Itu bukan sesuat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 271

    Ketiga pria itu berdiri beberapa saat di tengah jalan, suasana di antara mereka masih dipenuhi bara yang belum padam.Daniel mendengus pelan. “Jika bukan karena kalian berdua yang terus menyela, dia tidak akan pergi begitu saja.”Erland membalas dengan nada tak kalah tajam. “Jika Anda tidak datang tiba-tiba dan bersikap seolah hanya Anda yang berhak, situasinya tak akan memburuk.”Caspian tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. “Kalian berdua terlalu banyak bicara. Elena tidak suka dipaksa.”Daniel menatapnya kesal. “Kau juga sama saja.”“Bedanya,” jawab Caspian tenang, “aku tahu kapan harus berhenti.”Hening sesaat.Akhirnya, tanpa sepakat apa pun, ketiganya berbalik ke arah berbeda. Persaingan tak terucap twrasa di sana.**Reno berjalan beberapa langkah di belakang Putra Mahkota Erland. Suasana di antara mereka lebih tenang, meski jelas ada sesuatu yang mengusik pikiran sang putra mahkota.“Yang Mulia,” panggil Reno hati-hati.Erland melirik sekilas. “Apa?”Reno ragu sejenak,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 270

    Elena baru saja membuka mulut untuk menjawab desakan Putra Mahkota Erland ketika sebuah suara lain menyela, tegas dan penuh otoritas.“Elena, ikut denganku.”Semua orang di sekitar jalan itu menoleh bersamaan.Di sana, berdiri Putra Mahkota Daniel dengan pakaian kebesaran Solaria yang rapi dan wajah yang sulit ditebak. Aura wibawanya membuat para pejalan kaki spontan memberi jalan.Alis Elena sedikit berkerut. Lily pun ikut menegang.Daniel melangkah mendekat, tatapannya langsung jatuh pada hanfu Elena yang mulai memerah di bagian siku.Wajahnya berubah dingin. “Kau terluka,” katanya singkat. “Ayo. Kita ke klinik kesehatan kekaisaran.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan. Ia mengulurkan tangan, berniat menggenggam pergelangan Elena.Namun sebelum sentuhan itu terjadi, sebuah tangan lain lebih dulu menghadang.“Tidak.”Putra Mahkota Erland berdiri di antara mereka, sorot matanya tak lagi selembut sebelumnya.“Aku yang akan membawa Nona Elena,” ucapnya tenang namun tegas.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 269

    Gerbang utama Istana Solaria terbuka perlahan saat tiga kereta berukir lambang Kekaisaran Kaelum memasuki halaman dalam.Bendera hitam-perak berkibar pelan tertiup angin. Para pengawal berjajar rapi di sisi jalan batu putih.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi kuda hitam dengan postur tegap dan tatapan tajam.Dialah Putra Mahkota Erland.Tatapannya langsung tertuju pada dua sosok yang telah berdiri di tangga utama istana, Kaisar Ethan dan Permaisuri Lola.Begitu kudanya berhenti, Erland turun dengan gerakan ringan dan mantap. Ia menyerahkan kendali kuda pada pengawal, lalu berjalan menghampiri ayah dan ibunya.Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunduk hormat.“Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar,” ucapnya tegas. “Dan salam hormat untuk Ibu Permaisuri.”Kaisar Ethan memandang putranya dengan sorot mata dalam. Wajahnya tetap berwibawa dan cenderung dingin seperti biasa.Ia mengangguk pelan, lalu menepuk pundak Erland. “Kau sudah datang,” katanya sin

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 268

    Gerbang Kediaman Adipati Dirgantara terbuka lebar saat senja mulai turun.Rangga baru saja turun dari kudanya ketika ia melihat sebuah kereta berhenti di halaman depan. Ia mengerutkan kening saat melihat dua sosok turun dari sana.“Ringga? Kanaya?” gumamnya.Saudara kembarnya itu tampak berantakan. Hanfunya basah kuyup, bahkan dari jarak beberapa langkah pun tercium aroma sup yang masih menempel.Di belakangnya, Kanaya turun dengan hati-hati, sementara Kania sudah di antar pulang lebih dulu dengan perasaan dongkol.Rangga melangkah cepat mendekat.“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya tajam.Ringga langsung menoleh dengan wajah penuh amarah. “Ini semua ulah Elena.”“Ela— apa?” Rangga terlihat benar-benar terkejut. “Elena melakukan ini?”“Dia berani mempermalukanku di depan murid akademi,” geram Ringga. “Dia menyiramku dengan air sup.”Rangga menatapnya tak percaya. “Elena melakukan itu?”Ringga mengangguk keras. “Tenru saja. Aku hanya memberikan dia peringatan karena mengganggu Kania. D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status