MasukPagi itu, di kediaman keluarga Adipati Dirgantara Elena terlihat bersiap-siap.
Cani tengah sibuk menata rambut tuannya, jemarinya yang cekatan menyematkan hiasan bunga kecil di sisi kepala Elena. “Nona, hiasannya sudah siap,” katanya lembut. Elena yang sejak tadi memandangi wajahnya di cermin sambil tersenyum tipis. “Cukup, Cani. Aku tidak mau terlihat mencolok hari ini,” ucapnya. Kali ini Elena tidak ingin berdandan heboh, yNg membuat orang sakit mata. Cani menatapnya lewat pantulan cermin, sedikit ragu. “Padahal hari ini Putra Mahkota Daniel sendiri yang akan menjemput Anda. Bukankah seharusnya—” Elena memotong, nada suaranya. “Aku tahu. Justru karena itu, aku tidak mau terlihat berlebihan.” Sekilas, kenangan masa lalunya berkelebat. Dulu, di kehidupan sebelumnya, ia begitu antusias ketika mendengar Putra Mahkota Daniel akan menjemputnya atas perintah Permaisuri Nadya. Ia berdandan cantik, memakai hanfu paling indah, berharap bisa memikat hati tunangannya. Namun yang ia dapat hanya ejekan, tatapan sinis, dan penghinaanyang membuatnya merasa hancur. Lebih buruk lagi, perjalanan ke pasar bersama Daniel berubah menjadi aib. Kanaya ikut bergabung, dan Elena yang dulu masih bodoh menolak dengan nada tinggi, bahkan mengancam akan melapor pada Permaisuri Nadya. Hasilnya, Daniel marah besar dan meninggalkannya sendirian di tengah pasar. Kalau bukan karena Caspian yang datang menolong, mungkin hari itu hidupnya sudah berakhir diperkosa. Caspian. nama itu membuat dada Elena terasa hangat sekaligus perih. Dalam ingatannya, di hari terakhir hidupnya, hanya Caspian yang menangis ketika kepalanya hampir terpisah dari tubuh. Ia masih ingat bagaimana pria itu berlari menerjang penjaga, memanggil namanya, sebelum semuanya gelap. Elena tersentak kecil saat Cani memanggilnya lagi. “Nona?” Elena mengembuskan napas pelan dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu.” Ia lalu berdiri, merapikan hanfu biru muda yang sederhana namun anggun. “Ayo, Cani. Kita ke pasar. Aku ingin membeli keperluan untuk akademi nanti.” Cani mengangguk, lalu mengikuti langkah tuannya keluar dari paviliun. Begitu mereka tiba di halaman depan, suara derap kuda terdengar. Sebuah kereta berhenti dengan megah di depan gerbang kediaman, kereta kerajaan berlapis emas, milik Putra Mahkota Daniel. Tak lama kemudian, datang lagi satu kereta yang lebih sederhana. Kereta itu milik Caspian. Ketika pintu kedua kereta itu terbuka, dua pemuda tampan turun hampir bersamaan. Daniel dengan pakaian merah maroon, sementara Caspian mengenakan hanfu hitam kebuiruan. Meski status mereka berbeda, entah kenapa pagi itu Caspian terlihat jauh lebih berwibawa di mata Elena. ‘Caspian ternyata jauh lebih tampan dari yang Daniel, batin Elena tenang, matanya sedikit melembut. ‘Mungkin dulu aku terlalu buta untuk melihatnya.’ Caspian tersenyum ketika melihatnya. “Elena,” panggilnya dengan suara hangat. “Kebetulan aku juga hendak ke pasar. Ayo, kita pergi bersama. Kita bisa sekalian membeli perlengkapan akademi.” Cani yang berdiri di belakang Elena hampir terlonjak mendengar nada akrab itu. Namun sebelum Elena sempat menjawab, suara dingin memotong dari arah lain. “Elena akan bersamaku,” kata Daniel datar, langkahnya mendekat. Tatapan matanya tajam, seolah kalimat itu adalah perintah yang tak bisa ditolak. Dulu, Elena akan merasa jantungnya berdetak kencang mendengar nada seperti itu. Ia akan tersipu dan langsung mengangguk tanpa berpikir panjang. Tapi kini, perasaannya berbeda. Yang ia rasakan hanyalah rasa jijik dan muak. Baru saja ia hendak menjawab, suara lembut yang sudah sangat dikenalnya kembali menyela. “Salam hormat, Yang Mulia Putra Mahkota,” ucap Kanaya sambil berjalan mendekat, senyum manis terlukis di wajahnya. Ia memberi hormat anggun, lalu melanjutkan dengan nada lembut, “Maaf jika saya lancang, tapi apa saya boleh ikut bersama?” Daniel langsung menoleh, dan tanpa menunggu izin dari siapa pun, ia menjawab, “Tentu saja, Putri Kanaya. Aku justru senang kalau kau ikut.” Kanaya tersenyum berseri, tapi sebelum berbalik ke arah Elena, ia memasang ekspresi bersalah yang lembut. “Kakak, maaf ya, aku tidak bermaksud merebut tempatmu. Ibu menyuruhku menemani Yang Mulia supaya tidak merepotkanmu. Terlebih kereta kuda milikku baru saja akan diantarkan.” Cani yang melihat itu menggigit bibir. Ia tahu jelas bahwa Kanaya hanya berpura-pura. Tapi Elena kali ini tidak menunjukkan emosi seperti dulu. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang membuat Kanaya dan Daniel sedikit bingung. “Tidak apa-apa,” kata Elena. “Lagi pula, aku tidak akan ikut dengan kalian.” Daniel menatapnya, alisnya berkerut. “Apa maksudmu?” Elena memutar wajahnya ke arah Caspian yang berdiri di sisi lain. “Aku akan bersama Caspian.” Suasana berubah hening. Kanaya terkejut dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, sementara Daniel menatap Elena dengan sorot tidak percaya. Caspian terkejut sejenak, tapi senyum lembut segera terbit di bibirnya. “Kalau begitu, kami permisi lebih dulu, Yang Mulia,” katanya dengan hormat namun tenang. Elena mengangguk kecil padanya, lalu melangkah menuju kereta Caspian tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Cani segera menyusul, hampir tak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Daniel menatap punggung Elena yang semakin jauh, wajahnya berubah kelam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti, amarah, ego, atau mungkin rasa kehilangan yang tiba-tiba menusuk. Kanaya melirik ke arahnya, sedikit gugup. “Yang ... Yang Mulia? Apa kita tetap—” Daniel tidak menjawab. Tatapannya masih mengikuti kereta Caspian yang mulai bergerak menjauh.“M–maaf, Adipati?” Mina memastikan dirinya tidak salah dengar. “Adipati ingin membeli hanfu?”“Bukan,” jawab Adipati Dirgantara singkat. “Aku ingin membeli toko ini.”Suasana toko mendadak sunyi.Detak jantung Mina terasa jelas di telinganya. Namun ia tetap berusaha tenang. “Yang Mulia, toko ini tidak dijual.”Adipati Dirgantara mengangkat alisnya tipis. “Semua benda memiliki harga.”Mina tersenyum sopan, meski jemarinya sedikit mengencang di balik lengan bajunya. “Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi aaya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang.”Ia menatap Adipati Dirgantara tanpa menantang, namun juga tanpa gentar. “Ini hasil kerja keras. Tempat banyak orang menggantungkan hidup.”Salah satu pengawal melangkah maju setengah langkah. “Nyonya, berhati-hatilah dengan ucapanmu.”Adipati Dirgantara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu mundur. Tatapannya kembali pada Mina.“Kau berani menolakku?” tanyanya datar.“Bukan menolak Yang Mulia,” jawab Mina lembut namun te
Kamar Kanaya terasa sunyi meski lampu kristal di langit-langit menyala terang. Tirai sutra tergerai rapi, namun udara di dalam ruangan itu terasa berat. Kanaya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menatap lantai seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya, padahal pikirannya sedang kacau.Bayangan toko yang hangus terus terlintas di benaknya. Rak-rak yang dulu tertata indah, kain-kain mahal yang menjadi kebanggaannya, semuanya lenyap dalam satu malam. Wajahnya terlihat muram, bibirnya terkatup rapat tanpa suara.Pintu kamar terbuka perlahan.Adipati Dirgantara masuk lebih dulu, diikuti oleh nyonya Andini. Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu, menatap putri mereka yang terlihat begitu rapuh. Nyonya Andini menggenggam tangan suaminya pelan, seolah meminta kekuatan.Kanaya tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang, tapi ia memilih diam.Adipati Dirgantara menghela napas, lalu melangkah mendekat. Nyonya Andini ikut duduk di sisi lain ranjang, mendekati Kanaya d
Prang!Suara pecahan memekakkan telinga di kediaman kosong itu. Vas porselen melayang dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping sebelum serpihannya berhamburan ke lantai marmer. Kanaya berdiri dengan dada naik turun, napasnya kasar, matanya merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.“Dasar tidak becus!” teriaknya. “Aku menyuruhmu membakar toko Elena, bukan tokoku sendiri!”Pria yang berdiri di hadapannya bertubuh kurus dengan sorot mata licik mundur setengah langkah, namun bibirnya justru melengkung tipis. “Aku sudah melakukan pekerjaanku,” katanya santai. “Semalam aku membakar toko itu.”“Bohong!” Kanaya menuding dengan tangan gemetar. “Kau menipuku, kau bahkan membakar tokoku. Kau sengaja—”“Aku tidak tahu kenapa yang terbakar justru milikmu,” potong pria itu, suaranya datar. “Api tidak pernah bertanya siapa pemiliknya.”Pria itu sebenarnya juga heran, ia mengingat semalam jika ia sudah membakar toko Mina. Tapi kenapa tiba-tiba toko Cahaya yang terbakar.Kanaya t
Kerumunan mendadak senyap.Beberapa bangsawan saling pandang, wajah mereka menegang. Para rakyat menahan napas, seolah takut sedikit saja suara akan memicu ledakan emosi. Udara di sekitar puing-puing toko cahaya terasa berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.Mina tersentak dan tanpa sadar melangkah maju. “Nona Kanaya—”Namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikannya. Tatapannya kini lurus tertuju pada Kanaya, tenang, dingin, tanpa riak emosi berlebih.Kanaya menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun ia sengaja mempertahankan kelembutan yang rapuh. “Selama ini, toko cahaya kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Tidak pernah terjadi kebakaran.” Ia menoleh sebentar ke arah puing-puing hitam yang masih berasap tipis, lalu kembali menatap Elena. “Tapi anehnya … setelah kakak memiliki toko sendiri, justru tokoku yang habis dilalap api.”Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.“Maksudnya apa itu .…” “Seperti menuduh tapi tidak menuduh …” “Ah,
Kanaya langsung menggeleng saat Rangga dan Ringga kembali meraih lengannya.“Tidak,” katanya cepat, suaranya masih gemetar tapi tegas. “Aku tidak mau ke kamar.”Rangga terkejut. “Kanaya, kau baru saja syok. Lebih baik—”Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad keras di sana. “Ayah … Kanaya ingin ikut.”Adipati Dirgantara mengernyit. “Ikut ke mana?”“Ke tokoku,” jawab Kanaya pelan. “Kanaya ingin melihatnya sendiri.”Nyonya Andini langsung menggeleng cemas. “Nak, itu bukan pemandangan yang baik untukmu. Ibu takut—”“Justru karena itu,” potong Kanaya lirih. “Kalau Kanaya tidak melihatnya sendiri, Kanaya tidak akan tenang.”Adipati Dirgantara terdiam. Ia menatap putrinya lama, menimbang. Wajah Kanaya pucat, jelas masih terguncang, namun sorot matanya menunjukkan ia tidak akan mundur.“Kanaya,” kata sang adipati akhirnya, suaranya berat. “Ayah tidak ingin kau semakin terluka.”Kanaya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “
Kanaya menggeleng keras, napasnya tersengal.“Tidak … tidak!” suaranya bergetar hebat. “Itu tidak mungkin. Kenapa … kenapa tokoku bisa terbakar?”Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kakinya melemas, pandangannya kosong, seolah kata-kata barusan hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata. Rangga dan Ringga langsung berdiri dari kursi mereka hampir bersamaan.“Kanaya!” Ringga lebih dulu menghampiri, tangannya sigap menahan lengan sang adik.Rangga menyusul dari sisi lain, meraih bahu Kanaya agar gadis itu tidak jatuh. “Tenang. Tarik napas dulu.”Ringga segera mengambil segelas air di atas meja dan menyodorkannya. “Minum ini. Pelan-pelan.”Kanaya menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Bibirnya menyentuh air, tapi ia hanya meneguk sedikit sebelum kembali terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.Toko Cahaya adalah tokonya sendiri. Bagaimana hal itu bisa terbakar?Nyonya Andini menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, seolah di benak







