Share

Bab. 10 Makan Malam

Auteur: Yu.Az.
last update Dernière mise à jour: 2025-10-18 22:39:58

Elena melangkah masuk ke paviliun jamuan makan dengan langkah tenang. Suara canda tawa memenuhi ruangan besar itu.

“Yang Mulia terlalu berlebihan.” Itu suara Kanaya yang terdengar malu-malu.

Ketika Elena muncul di ambang pintu, tak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Keluarga Adipati Dirgantara tetap berbincang sambil memuji Kanaya.

Elena menghela napas pelan, lalu melangkahke meja bundar itu. Ini pertama kalinya Elena bertemu dengan Putra Mahkota Daniel semenjak dia terlahir kembali.

Elena berhenti di depan meja, lalu menunduk hormat. “Salam hormat untuk Yang Mulia Putra Mahkota. Salam hormat Adipati.”

Barulah suara tawa itu berhenti. Semua kepala berbalik menatap ke arahnya.

Daniel yang sejak tadi berbincang dengan Kanaya, mendadak terdiam. Matanya membulat sedikit saat menatap Elena penampilan gadis itu sama sekali tidak seperti biasanya, yang membuatnya sakit mata.

“Elena?” gumam Putra Mahkota Daniel, terkejut.

Kanaya yang duduk di samping Daniel terlihat kaget bahkan nyaris tak percaya. Hanfu yang ia berikan pada Elena sebelumnya, yang dirancang khusus oleh penjahit kediaman sama sekali tidak dipakai.

Setelah memberi hormat, Elena berjalan perlahan ke kursinya. Ia duduk di tempat kosong, tanpa banyak bicara. Sebenarnya terlalu muak melihat wajah yang pernah memenggal kepalanya.

Kanaya buru-buru berdiri, berusaha menjaga senyum manisnya. “Kakak Elena,” katanya lembut, “maaf, aku tidak bermaksud merebut tempat dudukmu. Ayo, duduk di sini saja, di dekat kami.”

Elena menoleh santai. “Tidak perlu. Aku sudah nyaman di sini. Duduklah di situ. Lagi pula aku tidak ingin dikatakan perebut oleh semua orang.”

Seketika ruang mendadak hening. Wajah Kanaya memerah. Kalimat itu seperti tamparan keras yang berbalut senyum.

Semua orang tahu siapa yang disebut “perebut” di sini karena bagaimanapun, Elena-lah tunangan sah Putra Mahkota, bukan Kanaya.

“Elena!” Ringga, yang duduk di samping nyonya Andini, berdiri tiba-tiba. Sorot matanya tajam, intonasinya meninggi. “Apa maksudmu bicara seperti itu? Jaga sopan santunmu di depan Yang Mulia Putra Mahkota!”

Elena hanya tersenyum tipis. Ia mengambil sumpitnya dengan santai, tanpa mengangkat wajah. “Sopan santunku?” tanyanya datar.

“Coba jelaskan, di mana letak aku tidak sopan? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, bukan? Kalau aku duduk di kursi Kanaya, kalian akan menuduhku perebut dan tidak memiliki sopan santun. Jadi lebih baik aku duduk di sini saja,” imbuhnya.

Ringga terdiam, wajahnya mengeras tapi tak ada kata yang bisa keluar. Kalimat Elena terlalu tepat, tak ada yang bisa dibantah.

Ketika ruangan itu hening, suara berat Adipati Dirgantara langsung menyela.

“Sudah,” ujar Adipati Dirgantara akhirnya. “Kita tidak di sini untuk bertengkar. Yang Mulia ada di sini. Dan sekarang kita mulai makan malamnya. Silahkan Yang Mulia.” Sambil menatap putra mahkota yang mengangguk.

Para pelayan segera bergerak cepat, menyajikan hidangan demi hidangan.

Elena menunduk sedikit dan mulai makan tanpa berkata apa-apa. Ia tak banyak menatap siapa pun, hanya fokus pada makanannya. Tapi justru sikap tenangnya itu menarik perhatian Daniel.

‘Ada apa dengannya?’ tanya Daniel dalam hati.

Tatapan Daniel perlahan berubah. Ia terus memperhatikan Elena di sela-sela percakapannya dengan Adipati Dirgantara. Di sisi lain, Kanaya menyadari arah pandangan itu. Jemarinya meeremas di bawah meja, senyum di wajahnya mulai kaku.

Kanaya mengambil sepotong ikan kukus dan meletakkannya di piring Daniel dengan senyum lembut. “Yang Mulia, ikan ini adalah yang terbaik malam ini. Cicipilah, dagingnya lembut sekali.”

Daniel mengalihkan pandangan dari Elena dan menatap Kanaya singkat. “Terima kasih, Nona Kanayai,” katanya tenang.

Kanaya tersenyum puas, meski sorot matanya melirik ke arah Elena, menunggu reaksi gadis itu seperti biasanya.

Tapii Elena tetap diam. Ia bahkan tidak mengangkat kepala, hanya terus memotong daging di piringnya dengan tenang, seperti sama sekali tak peduli.

Daniel, yang semula mengira Elena akan cemburu atau tersinggung, malah merasa aneh, bahkan pria itu sedikit kesal.

Putra Mahkota Daniel kemudian mendengus dingin, berkata dalam hati. ‘Heh! Trik apa lagi yang kau mainkan Elena. Aaku tidak akan percaya kau berubah secepat itu.”

Saat salah satu pelayan akan menuangkan teh ke dalam cangkir berisi teh yang masih panas. Tiba-tiba tanpa sengaja terjatuh.

"Ah! Panas!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Haeiril Arafah
Dih cari perhatian tuh si Kanaya
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab 273

    Begitu mereka kembali ke toko melalui pintu rahasia, suasana yang tadi hangat berubah tegang. Lampu-lampu masih menyala, tetapi udara terasa lebih dingin.Elena langsung menutup pintu tersembunyi itu dan berbalik menghadap Rando. “Di mana orang itu?”Nada suaranya tenang, namun sorot matanya tajam.Rando berdiri tegak. “Saat saya tiba di sekitar toko, saya melihat bayangan seseorang di atap bangunan seberang. Tapi ketika saya mengejar, dia sudah pergi.”“Ciri-cirinya?” tanya Caspian singkat.“Berpakaian gelap. Gerakannya ringan. Sepertinya terlatih.”Elena menyilangkan tangan. “Apakah dia mencoba masuk?”“Tidak,” jawab Rando. “Sepertinya dia hanya mengamati.”Caspian mengangguk pelan. “Kalau begitu, kemungkinan besar dia hanya mengumpulkan informasi. Tidak ada tanda-tanda hendak menyerang.”Lily berdecak kesal. “Apa yang mereka inginkan sebenarnya? Jangan-jangan ingin berbuat jahat.”Elena menggeleng tipis. “Sepertinya dia tidak akan berani melakukan itu.”Ia berjalan ke meja dan menu

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 272

    Elena tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia jarang kehilangan kata-kata.Caspian menyelesaikan simpul perban, lalu tetap berlutut beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.“Elena,” panggilnya pelan.“Apa?”“Jika suatu hari mereka benar-benar serius mendekatimu .…”Elena mengangkat alis. “Dan?”“Aku tidak akan mundur.”Nada suaranya tidak keras. Tidak emosional. Namun ada tekad kuat di dalamnya.Elena menatapnya lama. “Aku tidak butuh seseorang untuk bertarung demi diriku,” katanya akhirnya.Caspian tersenyum tipis. “Aku tahu.”“Lalu?”“Aku bertarung bukan karena kau lemah.” Ia berdiri perlahan, kini sejajar dengan Elena. “Tapi karena aku ingin.”Hening kembali menyelimuti ruangan. Dari luar terdengar suara Lily yang bercakap dengan Cani di lantai bawah.Elena memalingkan wajah lebih dulu. “Lukanya sudah selesai. Terima kasih.”Caspian menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk kecil. “Jangan membuatku khawatir lagi.”Elena hampir tersenyum, namun menahannya. “Itu bukan sesuat

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 271

    Ketiga pria itu berdiri beberapa saat di tengah jalan, suasana di antara mereka masih dipenuhi bara yang belum padam.Daniel mendengus pelan. “Jika bukan karena kalian berdua yang terus menyela, dia tidak akan pergi begitu saja.”Erland membalas dengan nada tak kalah tajam. “Jika Anda tidak datang tiba-tiba dan bersikap seolah hanya Anda yang berhak, situasinya tak akan memburuk.”Caspian tersenyum tipis, namun sorot matanya dingin. “Kalian berdua terlalu banyak bicara. Elena tidak suka dipaksa.”Daniel menatapnya kesal. “Kau juga sama saja.”“Bedanya,” jawab Caspian tenang, “aku tahu kapan harus berhenti.”Hening sesaat.Akhirnya, tanpa sepakat apa pun, ketiganya berbalik ke arah berbeda. Persaingan tak terucap twrasa di sana.**Reno berjalan beberapa langkah di belakang Putra Mahkota Erland. Suasana di antara mereka lebih tenang, meski jelas ada sesuatu yang mengusik pikiran sang putra mahkota.“Yang Mulia,” panggil Reno hati-hati.Erland melirik sekilas. “Apa?”Reno ragu sejenak,

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 270

    Elena baru saja membuka mulut untuk menjawab desakan Putra Mahkota Erland ketika sebuah suara lain menyela, tegas dan penuh otoritas.“Elena, ikut denganku.”Semua orang di sekitar jalan itu menoleh bersamaan.Di sana, berdiri Putra Mahkota Daniel dengan pakaian kebesaran Solaria yang rapi dan wajah yang sulit ditebak. Aura wibawanya membuat para pejalan kaki spontan memberi jalan.Alis Elena sedikit berkerut. Lily pun ikut menegang.Daniel melangkah mendekat, tatapannya langsung jatuh pada hanfu Elena yang mulai memerah di bagian siku.Wajahnya berubah dingin. “Kau terluka,” katanya singkat. “Ayo. Kita ke klinik kesehatan kekaisaran.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk penolakan. Ia mengulurkan tangan, berniat menggenggam pergelangan Elena.Namun sebelum sentuhan itu terjadi, sebuah tangan lain lebih dulu menghadang.“Tidak.”Putra Mahkota Erland berdiri di antara mereka, sorot matanya tak lagi selembut sebelumnya.“Aku yang akan membawa Nona Elena,” ucapnya tenang namun tegas.

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 269

    Gerbang utama Istana Solaria terbuka perlahan saat tiga kereta berukir lambang Kekaisaran Kaelum memasuki halaman dalam.Bendera hitam-perak berkibar pelan tertiup angin. Para pengawal berjajar rapi di sisi jalan batu putih.Di barisan paling depan, seorang pria muda menunggangi kuda hitam dengan postur tegap dan tatapan tajam.Dialah Putra Mahkota Erland.Tatapannya langsung tertuju pada dua sosok yang telah berdiri di tangga utama istana, Kaisar Ethan dan Permaisuri Lola.Begitu kudanya berhenti, Erland turun dengan gerakan ringan dan mantap. Ia menyerahkan kendali kuda pada pengawal, lalu berjalan menghampiri ayah dan ibunya.Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka, lalu menunduk hormat.“Salam hormat untuk Yang Mulia Kaisar,” ucapnya tegas. “Dan salam hormat untuk Ibu Permaisuri.”Kaisar Ethan memandang putranya dengan sorot mata dalam. Wajahnya tetap berwibawa dan cenderung dingin seperti biasa.Ia mengangguk pelan, lalu menepuk pundak Erland. “Kau sudah datang,” katanya sin

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang   Bab. 268

    Gerbang Kediaman Adipati Dirgantara terbuka lebar saat senja mulai turun.Rangga baru saja turun dari kudanya ketika ia melihat sebuah kereta berhenti di halaman depan. Ia mengerutkan kening saat melihat dua sosok turun dari sana.“Ringga? Kanaya?” gumamnya.Saudara kembarnya itu tampak berantakan. Hanfunya basah kuyup, bahkan dari jarak beberapa langkah pun tercium aroma sup yang masih menempel.Di belakangnya, Kanaya turun dengan hati-hati, sementara Kania sudah di antar pulang lebih dulu dengan perasaan dongkol.Rangga melangkah cepat mendekat.“Apa yang terjadi padamu?” tanyanya tajam.Ringga langsung menoleh dengan wajah penuh amarah. “Ini semua ulah Elena.”“Ela— apa?” Rangga terlihat benar-benar terkejut. “Elena melakukan ini?”“Dia berani mempermalukanku di depan murid akademi,” geram Ringga. “Dia menyiramku dengan air sup.”Rangga menatapnya tak percaya. “Elena melakukan itu?”Ringga mengangguk keras. “Tenru saja. Aku hanya memberikan dia peringatan karena mengganggu Kania. D

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status