MasukElena melangkah masuk ke paviliun jamuan makan dengan langkah tenang. Suara canda tawa memenuhi ruangan besar itu.
“Yang Mulia terlalu berlebihan.” Itu suara Kanaya yang terdengar malu-malu. Ketika Elena muncul di ambang pintu, tak ada seorang pun yang memperhatikannya. Keluarga Adipati Dirgantara tetap berbincang sambil memuji Kanaya. Elena menghela napas pelan, lalu melangkahke meja bundar itu. Ini pertama kalinya Elena bertemu dengan Putra Mahkota Daniel semenjak dia terlahir kembali. Elena berhenti di depan meja, lalu menunduk hormat. “Salam hormat untuk Yang Mulia Putra Mahkota. Salam hormat Adipati.” Barulah suara tawa itu berhenti. Semua kepala berbalik menatap ke arahnya. Daniel yang sejak tadi berbincang dengan Kanaya, mendadak terdiam. Matanya membulat sedikit saat menatap Elena penampilan gadis itu sama sekali tidak seperti biasanya, yang membuatnya sakit mata. “Elena?” gumam Putra Mahkota Daniel, terkejut. Kanaya yang duduk di samping Daniel terlihat kaget bahkan nyaris tak percaya. Hanfu yang ia berikan pada Elena sebelumnya, yang dirancang khusus oleh penjahit kediaman sama sekali tidak dipakai. Setelah memberi hormat, Elena berjalan perlahan ke kursinya. Ia duduk di tempat kosong, tanpa banyak bicara. Sebenarnya terlalu muak melihat wajah yang pernah memenggal kepalanya. Kanaya buru-buru berdiri, berusaha menjaga senyum manisnya. “Kakak Elena,” katanya lembut, “maaf, aku tidak bermaksud merebut tempat dudukmu. Ayo, duduk di sini saja, di dekat kami.” Elena menoleh santai. “Tidak perlu. Aku sudah nyaman di sini. Duduklah di situ. Lagi pula aku tidak ingin dikatakan perebut oleh semua orang.” Seketika ruang mendadak hening. Wajah Kanaya memerah. Kalimat itu seperti tamparan keras yang berbalut senyum. Semua orang tahu siapa yang disebut “perebut” di sini karena bagaimanapun, Elena-lah tunangan sah Putra Mahkota, bukan Kanaya. “Elena!” Ringga, yang duduk di samping nyonya Andini, berdiri tiba-tiba. Sorot matanya tajam, intonasinya meninggi. “Apa maksudmu bicara seperti itu? Jaga sopan santunmu di depan Yang Mulia Putra Mahkota!” Elena hanya tersenyum tipis. Ia mengambil sumpitnya dengan santai, tanpa mengangkat wajah. “Sopan santunku?” tanyanya datar. “Coba jelaskan, di mana letak aku tidak sopan? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, bukan? Kalau aku duduk di kursi Kanaya, kalian akan menuduhku perebut dan tidak memiliki sopan santun. Jadi lebih baik aku duduk di sini saja,” imbuhnya. Ringga terdiam, wajahnya mengeras tapi tak ada kata yang bisa keluar. Kalimat Elena terlalu tepat, tak ada yang bisa dibantah. Ketika ruangan itu hening, suara berat Adipati Dirgantara langsung menyela. “Sudah,” ujar Adipati Dirgantara akhirnya. “Kita tidak di sini untuk bertengkar. Yang Mulia ada di sini. Dan sekarang kita mulai makan malamnya. Silahkan Yang Mulia.” Sambil menatap putra mahkota yang mengangguk. Para pelayan segera bergerak cepat, menyajikan hidangan demi hidangan. Elena menunduk sedikit dan mulai makan tanpa berkata apa-apa. Ia tak banyak menatap siapa pun, hanya fokus pada makanannya. Tapi justru sikap tenangnya itu menarik perhatian Daniel. ‘Ada apa dengannya?’ tanya Daniel dalam hati. Tatapan Daniel perlahan berubah. Ia terus memperhatikan Elena di sela-sela percakapannya dengan Adipati Dirgantara. Di sisi lain, Kanaya menyadari arah pandangan itu. Jemarinya meeremas di bawah meja, senyum di wajahnya mulai kaku. Kanaya mengambil sepotong ikan kukus dan meletakkannya di piring Daniel dengan senyum lembut. “Yang Mulia, ikan ini adalah yang terbaik malam ini. Cicipilah, dagingnya lembut sekali.” Daniel mengalihkan pandangan dari Elena dan menatap Kanaya singkat. “Terima kasih, Nona Kanayai,” katanya tenang. Kanaya tersenyum puas, meski sorot matanya melirik ke arah Elena, menunggu reaksi gadis itu seperti biasanya. Tapii Elena tetap diam. Ia bahkan tidak mengangkat kepala, hanya terus memotong daging di piringnya dengan tenang, seperti sama sekali tak peduli. Daniel, yang semula mengira Elena akan cemburu atau tersinggung, malah merasa aneh, bahkan pria itu sedikit kesal. Putra Mahkota Daniel kemudian mendengus dingin, berkata dalam hati. ‘Heh! Trik apa lagi yang kau mainkan Elena. Aaku tidak akan percaya kau berubah secepat itu.” Saat salah satu pelayan akan menuangkan teh ke dalam cangkir berisi teh yang masih panas. Tiba-tiba tanpa sengaja terjatuh. "Ah! Panas!"“M–maaf, Adipati?” Mina memastikan dirinya tidak salah dengar. “Adipati ingin membeli hanfu?”“Bukan,” jawab Adipati Dirgantara singkat. “Aku ingin membeli toko ini.”Suasana toko mendadak sunyi.Detak jantung Mina terasa jelas di telinganya. Namun ia tetap berusaha tenang. “Yang Mulia, toko ini tidak dijual.”Adipati Dirgantara mengangkat alisnya tipis. “Semua benda memiliki harga.”Mina tersenyum sopan, meski jemarinya sedikit mengencang di balik lengan bajunya. “Mungkin bagi sebagian orang. Tapi bagi aaya, toko ini bukan sekadar tempat berdagang.”Ia menatap Adipati Dirgantara tanpa menantang, namun juga tanpa gentar. “Ini hasil kerja keras. Tempat banyak orang menggantungkan hidup.”Salah satu pengawal melangkah maju setengah langkah. “Nyonya, berhati-hatilah dengan ucapanmu.”Adipati Dirgantara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pengawal itu mundur. Tatapannya kembali pada Mina.“Kau berani menolakku?” tanyanya datar.“Bukan menolak Yang Mulia,” jawab Mina lembut namun te
Kamar Kanaya terasa sunyi meski lampu kristal di langit-langit menyala terang. Tirai sutra tergerai rapi, namun udara di dalam ruangan itu terasa berat. Kanaya duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong, menatap lantai seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya, padahal pikirannya sedang kacau.Bayangan toko yang hangus terus terlintas di benaknya. Rak-rak yang dulu tertata indah, kain-kain mahal yang menjadi kebanggaannya, semuanya lenyap dalam satu malam. Wajahnya terlihat muram, bibirnya terkatup rapat tanpa suara.Pintu kamar terbuka perlahan.Adipati Dirgantara masuk lebih dulu, diikuti oleh nyonya Andini. Keduanya berhenti sejenak di ambang pintu, menatap putri mereka yang terlihat begitu rapuh. Nyonya Andini menggenggam tangan suaminya pelan, seolah meminta kekuatan.Kanaya tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang, tapi ia memilih diam.Adipati Dirgantara menghela napas, lalu melangkah mendekat. Nyonya Andini ikut duduk di sisi lain ranjang, mendekati Kanaya d
Prang!Suara pecahan memekakkan telinga di kediaman kosong itu. Vas porselen melayang dan menghantam dinding, pecah berkeping-keping sebelum serpihannya berhamburan ke lantai marmer. Kanaya berdiri dengan dada naik turun, napasnya kasar, matanya merah oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.“Dasar tidak becus!” teriaknya. “Aku menyuruhmu membakar toko Elena, bukan tokoku sendiri!”Pria yang berdiri di hadapannya bertubuh kurus dengan sorot mata licik mundur setengah langkah, namun bibirnya justru melengkung tipis. “Aku sudah melakukan pekerjaanku,” katanya santai. “Semalam aku membakar toko itu.”“Bohong!” Kanaya menuding dengan tangan gemetar. “Kau menipuku, kau bahkan membakar tokoku. Kau sengaja—”“Aku tidak tahu kenapa yang terbakar justru milikmu,” potong pria itu, suaranya datar. “Api tidak pernah bertanya siapa pemiliknya.”Pria itu sebenarnya juga heran, ia mengingat semalam jika ia sudah membakar toko Mina. Tapi kenapa tiba-tiba toko Cahaya yang terbakar.Kanaya t
Kerumunan mendadak senyap.Beberapa bangsawan saling pandang, wajah mereka menegang. Para rakyat menahan napas, seolah takut sedikit saja suara akan memicu ledakan emosi. Udara di sekitar puing-puing toko cahaya terasa berat, menekan dada siapa pun yang berdiri di sana.Mina tersentak dan tanpa sadar melangkah maju. “Nona Kanaya—”Namun Elena mengangkat tangannya pelan, menghentikannya. Tatapannya kini lurus tertuju pada Kanaya, tenang, dingin, tanpa riak emosi berlebih.Kanaya menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun ia sengaja mempertahankan kelembutan yang rapuh. “Selama ini, toko cahaya kami baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah. Tidak pernah terjadi kebakaran.” Ia menoleh sebentar ke arah puing-puing hitam yang masih berasap tipis, lalu kembali menatap Elena. “Tapi anehnya … setelah kakak memiliki toko sendiri, justru tokoku yang habis dilalap api.”Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan.“Maksudnya apa itu .…” “Seperti menuduh tapi tidak menuduh …” “Ah,
Kanaya langsung menggeleng saat Rangga dan Ringga kembali meraih lengannya.“Tidak,” katanya cepat, suaranya masih gemetar tapi tegas. “Aku tidak mau ke kamar.”Rangga terkejut. “Kanaya, kau baru saja syok. Lebih baik—”Kanaya mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, namun ada tekad keras di sana. “Ayah … Kanaya ingin ikut.”Adipati Dirgantara mengernyit. “Ikut ke mana?”“Ke tokoku,” jawab Kanaya pelan. “Kanaya ingin melihatnya sendiri.”Nyonya Andini langsung menggeleng cemas. “Nak, itu bukan pemandangan yang baik untukmu. Ibu takut—”“Justru karena itu,” potong Kanaya lirih. “Kalau Kanaya tidak melihatnya sendiri, Kanaya tidak akan tenang.”Adipati Dirgantara terdiam. Ia menatap putrinya lama, menimbang. Wajah Kanaya pucat, jelas masih terguncang, namun sorot matanya menunjukkan ia tidak akan mundur.“Kanaya,” kata sang adipati akhirnya, suaranya berat. “Ayah tidak ingin kau semakin terluka.”Kanaya menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi. “
Kanaya menggeleng keras, napasnya tersengal.“Tidak … tidak!” suaranya bergetar hebat. “Itu tidak mungkin. Kenapa … kenapa tokoku bisa terbakar?”Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga. Kakinya melemas, pandangannya kosong, seolah kata-kata barusan hanyalah mimpi buruk yang terlalu nyata. Rangga dan Ringga langsung berdiri dari kursi mereka hampir bersamaan.“Kanaya!” Ringga lebih dulu menghampiri, tangannya sigap menahan lengan sang adik.Rangga menyusul dari sisi lain, meraih bahu Kanaya agar gadis itu tidak jatuh. “Tenang. Tarik napas dulu.”Ringga segera mengambil segelas air di atas meja dan menyodorkannya. “Minum ini. Pelan-pelan.”Kanaya menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Bibirnya menyentuh air, tapi ia hanya meneguk sedikit sebelum kembali terdiam. Tatapannya kosong, pikirannya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.Toko Cahaya adalah tokonya sendiri. Bagaimana hal itu bisa terbakar?Nyonya Andini menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berkaca-kaca, seolah di benak







