Share

Bab. 164

Author: Yu.Az.
last update Last Updated: 2026-01-06 23:52:24

Di dalam kamar asrama Elena, suasana terasa gelisah.

Cani mondar-mandir tanpa tujuan jelas, langkahnya kecil namun cepat, sesekali berhenti lalu berjalan lagi. Matanya terus melirik ke arah pintu kamar mandi, tempat sang nona masih membersihkan diri. Wajahnya penuh kebimbangan, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di ujung lidah.

Suara pintu kamar mandi akhirnya terbuka.

Elena keluar dengan langkah tenang. Rambut hitamnya masih sedikit lembap, tergerai di punggung. Ia mengenakan hanfu berwarna hijau muda, sederhana namun membuat kulitnya tampak semakin cerah. Wajahnya bersih tanpa rias, sorot matanya tetap tajam seperti biasa.

Cani langsung sigap. “Nona, silakan duduk.”

Elena menurut, duduk di depan meja rias. Cani berdiri di belakangnya, mulai menyisir rambut sang nona dengan hati-hati, jemarinya bergerak lembut agar tidak menarik helai rambut sedikit pun.

Beberapa kali Cani membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Elena menangkap kegelisahan itu dari pantulan cermin.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 173

    Toko Mina yang biasanya ramai dan hangat mendadak berubah kacau.Beberapa kereta berhenti di depan toko. Para pelayan berseragam istana turun lebih dulu, lalu berdiri berjajar rapi. Di tengah mereka, Permaisuri Lola melangkah turun dengan anggun. Jubah mahalnya menyapu tanah, cadar tipis menutupi setengah wajahnya, namun aura angkuh dan kekuasaan tak bisa disembunyikan.“Usir semua pengunjung,” perintahnya dingin.Rima yang berdiri di samping langsung melangkah masuk dan membentak para pelayan toko.“Kalian semua dengar! Toko ini akan ditutup sementara. Semua pengunjung silakan pergi sekarang juga!”Para pelanggan terkejut.“Apa maksudnya?”“Kenapa tiba-tiba?”“Kami belum selesai memilih!”Rima menatap mereka dengan mata meremehkan. “Ini perintah Permaisuri. Kalian ingin berurusan dengan istana?”Mendengar kata Permaisuri, wajah-wajah itu langsung pucat. Tak ada yang berani membantah. Satu per satu mereka keluar dengan tergesa, meninggalkan toko yang mendadak sunyi.Para pelayan Elena

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 173

    Di paviliun tamu Istana Kekaisaran Solaria, suasana yang biasanya tenang dan penuh wangi dupa kini terasa menekan. Tirai sutra berwarna emas tergantung rapi, namun udara di dalam ruangan seolah membeku.Rima berlutut di tengah ruangan dengan tubuh gemetar. Keningnya menempel pada lantai marmer yang dingin, napasnya terengah. Ia tidak berani mengangkat kepala.“Ampun, Yang Mulia Permaisuri .…” suaranya bergetar. “Hamba … hamba gagal. Maafkan hamba Yang Mulia.”Permaisuri Lola yang duduk di kursi utama perlahan menoleh. Tatapannya tajam, dingin, dan berbahaya.“Kau bilang apa?” tanyanya pelan, terlalu pelan untuk disebut tenang.Rima menelan ludah. “Gadis itu … Elena. Dia menolak menjual Toko Mina, Yang Mulia.”Begitu kalimat itu keluar, tiba-tiba terdengar suara keras. Prang!Sebuah cangkir porselen melayang dan menghantam dinding di dekat pelayan itu. Pecahan kaca dan teh panas berhamburan ke lantai.Rima tersentak, tubuhnya semakin merunduk. “Ampun … ampun, Yang Mulia!”Permaisuri L

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 171

    Keesokan harinya, suasana Toko Mina tampak seperti biasa. Para pelayan sibuk melayani pelanggan, kain-kain hanfu digantung rapi, dan aroma teh hangat memenuhi udara. Elena berdiri di dekat meja kasir, sedang memeriksa catatan penjualan bersama Cani.Belum sempat ia menyelesaikan pekerjaannya, pintu toko terbuka cukup keras.Beberapa pelanggan menoleh.Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Pakaiannya mewah, namun sikapnya jauh dari kata sopan. Tatapannya berkeliling seolah sedang menilai sesuatu yang rendah. Di belakangnya, seorang kusir menunggu di luar.Wanita itu tidak memberi salam.Ia langsung berjalan ke tengah toko, lalu dengan angkuh duduk di kursi tamu tanpa izin.“Hei,” katanya lantang, “kalian. Siapkan teh dan kudapan. Yang terbaik.”Para pelayan saling pandang, jelas terkejut.Salah satu pelayan mendekat dengan ragu. “Maaf, Nyonya … kami biasanya—”“Apa perlu kuulang?” potong wanita itu ketus. “Atau kalian tidak mengenali siapa aku?”Pelaya

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 170

    Kedai itu terletak di sudut jalan yang jarang dilewati orang. Tirainya tertutup rapat, lentera di dalamnya diredupkan seolah sengaja menghindari perhatian. Hanya ada satu meja di tengah ruangan, dan di sanalah Kanaya duduk dengan punggung tegang.Jari-jarinya mencengkeram cangkir teh yang sudah dingin sejak tadi.Sejak keluar dari kediaman Adipati Dirgantara, telinganya tak berhenti dipenuhi bisik-bisik orang. Di jalan, di pasar, bahkan di kedai biasa, nama itu terus terdengar.Nama Elena. Pemilik Toko Mina. Gadis muda yang sukses membawa bisnisnya. Pemilik yang tak sombong meski hartanya melimpah. Bahkan orang-orang yang pernah menganggap Elena jahat kini berubah haluan. Setiap pujian terasa seperti jarum yang menusuk dadanya.‘Awas kau Elena!’ Kanaya mengatupkan rahang. Dadanya bergemuruh hebat. Ia merasa seluruh dunia seolah sengaja memujikan Elena tepat di hadapannya, seakan ingin mempermalukannya lebih dalam.Pintu kedai berderit pelan. Kanaya langsung menoleh.Seorang wanita b

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. Sikap yang Mulai Terlihat

    Suasana meja makan berubah hening setelah permintaan Kanaya meluncur begitu saja. Udara yang semula hangat seakan menegang, hanya suara api lentera yang berkeretak pelan.Adipati Dirgantara menatap Kanaya lama, tatapannya tenang namun penuh tekanan. “Kanaya,” ucapnya akhirnya, suaranya berat. “Kamu tahu kan toko Mina itu?”Kanaya menelan ludah. Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Tentu saja, Ayah. Aku sangat tahu. Toko itu berkembang sangat cepat. Pelanggannya bukan hanya dari ibu kota.”Adipati Dirgantara menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bukankah ayah sudah pernah memberimu toko?” katanya pelan namun tegas. “Ayah bahkan membelikanmu toko pakaian sendiri. Modal, lokasi, semuanya ayah siapkan. Bahkan toko itu dari bangsawan lain.”Kanaya mengepalkan jarinya di pangkuan. “Aku ingin membuka cabang yang lebih banyak, Ayah,” katanya cepat. “Toko Mina sudah punya jaringan. Akan jauh lebih mudah.”Adipati Dirgantara menggeleng pelan. “Seharusnya kamu mengembangkan

  • Terlahir Kembali: Balas Dendam Putri Yang Terbuang    Bab. 168

    Permaisuri Lola perlahan melepas pelukannya dari Kanaya. Dalam sekejap, wajahnya yang semula tegang kembali berubah tenang, anggun, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Punggungnya tegak, dagunya terangkat sedikit, sikap seorang wanita yang terbiasa menyembunyikan emosi terdalamnya.Berbeda dengan Kanaya.Wajah gadis itu masih pucat. Matanya sedikit merah, napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun ketika Permaisuri Lola meliriknya sekilas dan memberi isyarat halus dengan sorot mata, Kanaya segera menggigit bibirnya dan berusaha menenangkan diri.Saat itulah pintu kamar terbuka lebih lebar.Nyonya Andini masuk dengan langkah cepat. Begitu melihat keadaan kamar yang berantakan, alisnya langsung berkerut.“Ya ampun,” gumamnya pelan sambil memandangi pecahan guci, kain yang berserakan, dan perhiasan yang jatuh ke lantai. “Kenapa bisa berantakan seperti ini?”Namun kerutan di keningnya semakin dalam ketika pandangannya beralih pada sosok lain di ruangan itu.“Yang Mulia Permaisuri?” ucapnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status