MasukKeesokan harinya, suasana Toko Mina tampak seperti biasa. Para pelayan sibuk melayani pelanggan, kain-kain hanfu digantung rapi, dan aroma teh hangat memenuhi udara. Elena berdiri di dekat meja kasir, sedang memeriksa catatan penjualan bersama Cani.Belum sempat ia menyelesaikan pekerjaannya, pintu toko terbuka cukup keras.Beberapa pelanggan menoleh.Seorang wanita paruh baya melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Pakaiannya mewah, namun sikapnya jauh dari kata sopan. Tatapannya berkeliling seolah sedang menilai sesuatu yang rendah. Di belakangnya, seorang kusir menunggu di luar.Wanita itu tidak memberi salam.Ia langsung berjalan ke tengah toko, lalu dengan angkuh duduk di kursi tamu tanpa izin.“Hei,” katanya lantang, “kalian. Siapkan teh dan kudapan. Yang terbaik.”Para pelayan saling pandang, jelas terkejut.Salah satu pelayan mendekat dengan ragu. “Maaf, Nyonya … kami biasanya—”“Apa perlu kuulang?” potong wanita itu ketus. “Atau kalian tidak mengenali siapa aku?”Pelaya
Kedai itu terletak di sudut jalan yang jarang dilewati orang. Tirainya tertutup rapat, lentera di dalamnya diredupkan seolah sengaja menghindari perhatian. Hanya ada satu meja di tengah ruangan, dan di sanalah Kanaya duduk dengan punggung tegang.Jari-jarinya mencengkeram cangkir teh yang sudah dingin sejak tadi.Sejak keluar dari kediaman Adipati Dirgantara, telinganya tak berhenti dipenuhi bisik-bisik orang. Di jalan, di pasar, bahkan di kedai biasa, nama itu terus terdengar.Nama Elena. Pemilik Toko Mina. Gadis muda yang sukses membawa bisnisnya. Pemilik yang tak sombong meski hartanya melimpah. Bahkan orang-orang yang pernah menganggap Elena jahat kini berubah haluan. Setiap pujian terasa seperti jarum yang menusuk dadanya.‘Awas kau Elena!’ Kanaya mengatupkan rahang. Dadanya bergemuruh hebat. Ia merasa seluruh dunia seolah sengaja memujikan Elena tepat di hadapannya, seakan ingin mempermalukannya lebih dalam.Pintu kedai berderit pelan. Kanaya langsung menoleh.Seorang wanita b
Suasana meja makan berubah hening setelah permintaan Kanaya meluncur begitu saja. Udara yang semula hangat seakan menegang, hanya suara api lentera yang berkeretak pelan.Adipati Dirgantara menatap Kanaya lama, tatapannya tenang namun penuh tekanan. “Kanaya,” ucapnya akhirnya, suaranya berat. “Kamu tahu kan toko Mina itu?”Kanaya menelan ludah. Ia mengangkat wajahnya perlahan. “Tentu saja, Ayah. Aku sangat tahu. Toko itu berkembang sangat cepat. Pelanggannya bukan hanya dari ibu kota.”Adipati Dirgantara menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bukankah ayah sudah pernah memberimu toko?” katanya pelan namun tegas. “Ayah bahkan membelikanmu toko pakaian sendiri. Modal, lokasi, semuanya ayah siapkan. Bahkan toko itu dari bangsawan lain.”Kanaya mengepalkan jarinya di pangkuan. “Aku ingin membuka cabang yang lebih banyak, Ayah,” katanya cepat. “Toko Mina sudah punya jaringan. Akan jauh lebih mudah.”Adipati Dirgantara menggeleng pelan. “Seharusnya kamu mengembangkan
Permaisuri Lola perlahan melepas pelukannya dari Kanaya. Dalam sekejap, wajahnya yang semula tegang kembali berubah tenang, anggun, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Punggungnya tegak, dagunya terangkat sedikit, sikap seorang wanita yang terbiasa menyembunyikan emosi terdalamnya.Berbeda dengan Kanaya.Wajah gadis itu masih pucat. Matanya sedikit merah, napasnya belum sepenuhnya stabil. Namun ketika Permaisuri Lola meliriknya sekilas dan memberi isyarat halus dengan sorot mata, Kanaya segera menggigit bibirnya dan berusaha menenangkan diri.Saat itulah pintu kamar terbuka lebih lebar.Nyonya Andini masuk dengan langkah cepat. Begitu melihat keadaan kamar yang berantakan, alisnya langsung berkerut.“Ya ampun,” gumamnya pelan sambil memandangi pecahan guci, kain yang berserakan, dan perhiasan yang jatuh ke lantai. “Kenapa bisa berantakan seperti ini?”Namun kerutan di keningnya semakin dalam ketika pandangannya beralih pada sosok lain di ruangan itu.“Yang Mulia Permaisuri?” ucapnya
Kanaya pulang ke kediaman Adipati Dirgantara dengan langkah tergesa dan wajah gelap. Kereta yang membawanya berhenti di depan gerbang megah, namun tidak ada sedikit pun kebanggaan seperti biasanya di sorot matanya. Dadanya masih terasa sesak, telinganya seolah terus terngiang suara Mina, suara Nathan, dan terutama kalimat yang menjatuhkan harga dirinya.Elena adalah pemilik toko itu.Toko yang terkenal, yang kain-kainnya dipesan para bangsawan, yang namanya bahkan sudah menembus kekaisaran tetangga.Begitu turun dari kereta, Kanaya langsung melangkah masuk tanpa menoleh kanan kiri. Gaun yang biasanya ia rapikan kini ia biarkan berantakan. Wajahnya masam, matanya menyala oleh amarah dan rasa malu yang menyesakkan.Di aula utama kediaman, beberapa nyonya bangsawan tengah berkumpul dalam perjamuan minum teh sore. Tawa lembut dan aroma bunga memenuhi ruangan. Di antara mereka duduk Permaisuri Lola, anggun dengan senyum tipis di bibirnya.Kanaya melewati mereka begitu saja.Tanpa menunduk,
Kanaya menggeleng cepat, wajahnya menunjukkan penolakan yang keras. Matanya sedikit membesar, napasnya terdengar lebih cepat dari biasanya.“Tidak,” katanya lantang. “Aku tidak percaya. Nyonya Mina hanya mengatakan itu untuk menolong Elena saja, bukan?”Ia menoleh ke arah Mina, tatapannya penuh tekanan. “Nyonya, Anda terlalu baik. Anda pasti kasihan padanya.”Tiara segera menimpali dengan nada menyudutkan. “Benar, Nyonya Mina. Jangan terlalu memanjakan pekerja. Kalau begini, mereka akan besar kepala dan bertindak semena-mena terhadap pemilik toko yang sebenarnya.”Tari mengangguk setuju. “Hari ini dia merusak kain mahal, besok bisa saja dia mengusir kami semua.”Fani mendecak pelan. “Kami tidak bodoh. Mustahil seorang gadis seperti Elena adalah pemilik toko sebesar ini.”Bisik-bisik kembali terdengar di antara para pegawai. Ada yang ragu, ada yang mulai mengernyitkan dahi, ada pula yang menatap Kanaya dengan pandangan tak lagi sepenuhnya percaya.Mina menghela napas panjang. Raut waja







