Share

Bab 2

Author: Yiyi
Di tengah perjalanan, ponsel Alain terus berdering.

Itu telepon dari Janet. Suaranya terdengar lemah dari seberang sana, "Alain, perutku sakit ...."

Sebelum Janet selesai bicara, Alain langsung menyuruh sopir menghentikan mobil, lalu menoleh kepadaku. "Janet sakit dan sekarang sangat membutuhkan aku. Aku harus pergi menemuinya. Tenang saja, malam ini aku akan datang ke gereja tepat waktu."

Aku menunduk, lalu mengangguk pelan.

Mungkin Alain tidak menyangka aku akan setenang ini, sehingga dia bertanya, "Bukannya dulu kamu paling nggak suka kalau aku meninggalkanmu di tengah jalan demi menemui Janet?"

Aku tersenyum kecil. Sebelum sempat menjawab, Alain kembali berkata, "Aku nggak peduli permainan apa yang sedang kamu lakukan. Tapi karena kita sudah sepakat untuk menikah, Janet juga nggak lagi menjadi ancaman bagimu. Jadi jangan punya pikiran aneh-aneh."

Setelah mengatakan itu, Alain menyuruhku turun dari mobil.

Aku berdiri di tempat sambil melihat mobil itu menghilang dari pandanganku, menyisakan rasa pahit yang tak berujung. Sebenarnya, aku tidak pernah berniat melakukan sesuatu yang buruk kepada Janet.

Dia memiliki kesan seperti itu tentangku karena dulu aku pernah melihat Janet berciuman dengan seorang bos mafia dari kelompok lain di lorong gedung tanpa memedulikan siapa pun di sekitar mereka.

Setelah melihatnya, aku memberi tahu Alain dan bahkan pernah berusaha menghentikan hubungan mereka. Namun, Alain sama sekali tidak percaya padaku. Dia malah mengira aku sengaja memfitnah Janet.

Setelah Janet meninggal, dia semakin tenggelam dalam rasa sakit setiap harinya.

Kalau kejadian itu terjadi sekarang, kurasa aku akan berpura-pura tidak melihat apa pun dan membiarkan dia bersama Janet. Itu tetap lebih baik daripada melihatnya menderita seperti itu.

Setelah turun dari mobil, aku pergi sendiri ke kedutaan untuk mengurus visa.

Saat kembali ke rumah keluarga besar, makanan sudah siap di meja. Aku mendekat dan melihat semuanya adalah masakan favoritku.

Ibu Alain melihatku lalu memanggil dengan ramah, "Annisa sudah pulang? Cepat sini makan."

Ayah Alain turun dari lantai atas dan melihat Alain tidak bersamaku. Dia langsung mendengus kesal. "Anak nakal itu entah pergi ke mana lagi. Sudah mau berkeluarga tapi masih saja nggak tahu mana yang penting."

Perhatian mereka membuat hatiku terasa sesak dan pahit.

Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku menjadi sebatang kara. Ayah dan ibu Alain merawatku, mengkhawatirkanku, memberiku kasih sayang yang dulu diberikan orang tuaku. Selama ini aku selalu bersyukur. Apa pun yang mereka katakan, aku selalu menurut. Namun, kali ini aku ingin memberontak untuk sekali saja.

"Ayah, aku nggak ingin menikah dengan Kak Alain lagi."

"Besok aku akan pergi ke London. Visaku sudah selesai diurus. Mulai sekarang aku nggak bisa lagi berada di sisi Ayah dan Ibu untuk menjaga kalian, jadi tolong jaga kesehatan baik-baik."

Ibu Alain tertegun.

"Anak ini ... kenapa bicara aneh-aneh? Kami melihatmu tumbuh besar sejak kecil, tempat ini adalah rumahmu. Kamu mau pergi ke mana? Apa Alain ganggu kamu lagi? Ceritakan sama Ibu, nanti Ibu yang membelamu."

"Annisa, kamu harus percaya kalau kami sangat mengenal anak kami sendiri. Alain pasti mencintaimu. Kalau nggak, dia nggak mungkin berkali-kali menyelamatkanmu. Bahkan setiap ulang tahunmu, dia selalu sangat perhatian, menyiapkan dekorasi dan memberi kejutan untukmu. Kamu hanya perlu sedikit lebih sabar. Setelah menikah nanti semuanya akan baik-baik saja."

Dulu mereka juga mengatakan hal yang sama kepadaku dan benar-benar memercayainya. Namun pada akhirnya, kenyataannya tidak seperti itu.

Aku memeluk Ibu dan menghiburnya pelan, "Ibu, sudahlah. Aku menghormati Kak Alain. Orang yang dia sukai bukan aku. Kalau kami dipaksa bersama, kami berdua nggak akan bahagia."

"Lagian, kemarin aku menemui seorang pembaca tarot. Dia bilang kalau kami tetap memaksakan pernikahan ini, akhirnya akan berujung pada kehancuran bagi kami berdua. Nanti Kak Alain mungkin akan mati di usia 26 tahun karena menyelamatkanku."

Saat mengatakan itu, hatiku terasa seperti diiris pisau.

Ibu Alain juga terdiam sesaat. "I ... itu semua omong kosong pembaca tarot. Kalian nggak akan seperti itu."

Aku tersenyum kecil. "Kartu tarot hanya memberi tahu kami untuk nggak memaksakan diri bersama. Mungkin ini juga petunjuk agar kami bisa sama-sama mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan."

"Lagian, Kak Alain adalah orang yang punya pendirian sendiri. Pernikahan adalah keputusan besar dalam hidup, jadi dia seharusnya menentukan pilihannya sendiri."

Setelah mengatakan itu, aku mengeluarkan visa milikku.

"Ibu, aku minta maaf atas semua kebaikan dan kasih sayang yang sudah diberikan Ayah dan Ibu kepadaku. Tapi aku punya tempat yang ingin kudatangi. Aku harap Ayah dan Ibu bisa merestuinya. Kebaikan kalian akan selalu kuingat dan suatu hari nanti pasti akan kubalas."

Ayah Alain terdiam cukup lama. Setelah beberapa kali menghela napas, akhirnya dia mengangguk.

Melihat itu, ibu Alain menyuruh orang menyiapkan sejumlah uang untukku.

"Kami menghormati keputusanmu. Tapi ingat, kalau kamu lelah atau menghadapi masalah, tempat ini akan selalu menjadi rumahmu."

Mendengar perkataannya, air mataku langsung jatuh tak terkendali. Aku memeluk ibu Alain sambil menangis tersedu-sedu.

Selama aku dan Alain tidak lagi terlibat satu sama lain, tragedi masa lalu tidak akan terulang. Alain adalah orang baik, dia pasti akan hidup panjang umur. Kali ini, semua orang akan baik-baik saja.

Penyesalan Alain juga bisa dianggap sudah kuselesaikan. Sekarang tinggal satu lagi, dan aku berharap semuanya juga bisa berjalan lancar.

Malam itu, di gereja.

Melihat pasangan demi pasangan mengucapkan harapan untuk bersama seumur hidup di hadapan Tuhan, entah kenapa aku merasa sangat terharu.

"Annisa." Suara Alain terdengar.

Aku menoleh. Namun tak disangka, sebuah tamparan langsung mendarat di wajahku.

"Annisa! Aku kira kamu sudah berubah. Ternyata kamu cuma ganti cara bermainmu saja! Kenapa kamu bilang sama orang tuaku kalau Janet punya hubungan sama pria lain? Sekarang Janet sampai mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 7

    Sejak hari itu, Alain tidak pernah datang mencariku lagi. Namun, di depan toko bungaku sering muncul makanan-makanan yang dulu sangat kusukai. Entah kue favoritku atau buah kesukaanku. Aku benar-benar tidak pernah menyangka ternyata Alain mengingat semuanya.Hari itu, terjadi baku tembak antar kelompok di dekat tempatku tinggal. Aku segera membawa beberapa anak kecil di sekitar sana untuk bersembunyi.Tempat persembunyiannya sangat sempit. Setelah mereka masuk, tidak ada lagi tempat untukku. Aku hanya bisa berlari ke sana kemari mencari perlindungan sendiri. Tiba-tiba sebuah peluru nyasar meluncur ke arahku.Aku menutup mata, berpikir hari ini pasti aku akan mati di tempat ini. Namun detik berikutnya, sebuah kekuatan mendorong tubuhku menjauh. Saat membuka mata lagi, aku melihat Alain berdiri di depanku.Alain yang sejak kecil selalu melindungiku, sekali lagi menggunakan nyawanya sendiri untuk menahan peluru demi diriku. Peluru itu menembus perutnya. Darah terus mengalir dari tubuhnya.

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 6

    Setelah pergi, aku tidak langsung menetap di London. Sebagai gantinya, aku memilih kembali ke kampung halamanku. Tempat ini adalah rumah lamaku. Memang tidak semegah ibu kota dan tidak seunik London, tetapi suasana pedesaannya memiliki ketenangan tersendiri.Sopir yang menjemputku tersenyum sambil berkata, "Nona berpakaian seelegan ini, rasanya nggak seperti orang sini."Aku hanya tersenyum tipis tanpa banyak bicara.Orang tuaku menghabiskan seumur hidup mereka berjuang di tempat ini. Sekarang setelah kembali, aku malah merasakan ketenangan dan rasa aman yang sulit dijelaskan. Dengan tabungan yang ditinggalkan orang tuaku, aku membuka sebuah toko bunga di sini.Sebagian uang lainnya kusumbangkan ke gereja agar mereka bisa mendirikan sekolah. Aku ingin anak-anak yang dulu tidak mampu bersekolah bisa belajar dan memahami banyak hal.Pendidikan akan membuat mereka menjadi kuat. Dan hanya orang yang kuat yang tidak akan mudah ditindas orang lain. Usaha toko bungaku berjalan biasa saja, tet

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 5

    Begitu mendengarnya, sebenarnya Alain memang berniat seperti itu. Namun pada saat itu juga, dalam dirinya muncul rasa memberontak."Semua ini terjadi karena Annisa yang duluan datang mengadu ke kalian dan buat kalian memaksa Janet sampai dia bunuh diri! Kalau Annisa nggak melakukan itu, Janet nggak akan bunuh diri, dan dia juga nggak perlu mendonorkan darah. Pada akhirnya, semua ini salah Annisa sendiri!""Lagian aku sudah dewasa! Sejak kecil kalian selalu mengaturku terlalu ketat. Bahkan wanita yang kusukai pun nggak kalian izinkan masuk ke rumah ini. Sampai urusan pernikahanku juga ingin kalian kendalikan. Aku benar-benar muak dengan kehidupan seperti ini!"Setelah Alain selesai bicara, kedua orang tuanya terdiam sesaat.Ibunya kemudian bertanya, "Alain, selama ini apa kamu benar-benar nggak punya sedikit pun perasaan untuk Annisa? Kamu berkali-kali rela mempertaruhkan nyawa demi Annisa. Kalau itu bukan cinta, lalu apa?"Wajah Alain langsung muram dan dia tidak menjawab. Dia memang m

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 4

    Alain tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kembali sadar. Wajahnya perlahan menjadi muram."Mungkin hanya orang yang sedikit mirip dengan Annisa. Kita sudah akan menikah, nggak mungkin dia sampai seceroboh itu."Baru saja dia selesai bicara, dokter masuk ke dalam ruangan. "Pak Alain, tadi Bu Annisa sudah pergi. Dia minta aku menyampaikan bahwa dia akan pergi ke London dan berharap semua urusan Bapak berjalan lancar."Ucapan dokter yang terdengar tenang itu malah membuat Alain benar-benar panik. Tubuhnya bahkan hampir kehilangan keseimbangan. Selama ini dia dikenal selalu tenang dan stabil, tetapi untuk pertama kalinya di depan orang lain, dia tampak kehilangan kendali.Baru sekarang dia sadar.Ucapan Annisa tadi, "Semoga hidupmu kelak aman dan semua keinginanmu tercapai," ternyata adalah salam perpisahan untuknya.Mata Alain perlahan memerah. Saat menundukkan kepala, tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan."Mana mungkin ...."Dia tidak percaya. Benar-benar tidak percaya.Keingina

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 3

    Pipiku terasa panas dan perih.Di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dengan Alain, Janet menyayat pergelangan tangannya pada malam pernikahan kami. Karena Alain tidak berhasil menemukan darah dengan golongan yang cocok untuk transfusi, dia hanya bisa menyaksikan Janet meninggalkannya.Karena itu, Alain membenciku. Bahkan sampai menjelang kematiannya, dia berharap tidak pernah bertemu denganku. Namun sekarang aku dan Alain bahkan belum menikah, jadi kenapa percobaan bunuh diri Janet malah terjadi lebih awal?Akan tetapi, tidak apa-apa.Bukankah sejak awal aku memang ingin memenuhi penyesalan Alain? Sekarang kesempatan itu datang sendiri. Aku menatap Alain dan berkata dengan tenang, "Golongan darahku cocok dengan Janet. Kamu ingin aku donorkan darah untuknya, benar?"Alain sempat tertegun sesaat, lalu berkata dengan suara berat, "Semua ini awalnya juga gara-gara ulahmu. Sekarang kamu menebus kesalahan dengan cara ini, memangnya kamu merasa dirugikan?"Aku hanya tersenyum tanpa ber

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 2

    Di tengah perjalanan, ponsel Alain terus berdering.Itu telepon dari Janet. Suaranya terdengar lemah dari seberang sana, "Alain, perutku sakit ...."Sebelum Janet selesai bicara, Alain langsung menyuruh sopir menghentikan mobil, lalu menoleh kepadaku. "Janet sakit dan sekarang sangat membutuhkan aku. Aku harus pergi menemuinya. Tenang saja, malam ini aku akan datang ke gereja tepat waktu."Aku menunduk, lalu mengangguk pelan.Mungkin Alain tidak menyangka aku akan setenang ini, sehingga dia bertanya, "Bukannya dulu kamu paling nggak suka kalau aku meninggalkanmu di tengah jalan demi menemui Janet?"Aku tersenyum kecil. Sebelum sempat menjawab, Alain kembali berkata, "Aku nggak peduli permainan apa yang sedang kamu lakukan. Tapi karena kita sudah sepakat untuk menikah, Janet juga nggak lagi menjadi ancaman bagimu. Jadi jangan punya pikiran aneh-aneh."Setelah mengatakan itu, Alain menyuruhku turun dari mobil.Aku berdiri di tempat sambil melihat mobil itu menghilang dari pandanganku, me

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 1

    "Annisa, kamu memang hebat, ya. Sampai-sampai bisa membuat orang tuaku pakai cara mogok makan untuk maksa aku menikahimu. Kamu pikir setelah kita menikah, aku bakal jatuh cinta sama kamu? Mimpi!"Di telingaku terdengar suara yang ketus itu.Aku membuka mata dan melihat Alain berdiri di depanku. Jas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status