Share

Bab 3

Penulis: Yiyi
Pipiku terasa panas dan perih.

Di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dengan Alain, Janet menyayat pergelangan tangannya pada malam pernikahan kami. Karena Alain tidak berhasil menemukan darah dengan golongan yang cocok untuk transfusi, dia hanya bisa menyaksikan Janet meninggalkannya.

Karena itu, Alain membenciku. Bahkan sampai menjelang kematiannya, dia berharap tidak pernah bertemu denganku. Namun sekarang aku dan Alain bahkan belum menikah, jadi kenapa percobaan bunuh diri Janet malah terjadi lebih awal?

Akan tetapi, tidak apa-apa.

Bukankah sejak awal aku memang ingin memenuhi penyesalan Alain? Sekarang kesempatan itu datang sendiri. Aku menatap Alain dan berkata dengan tenang, "Golongan darahku cocok dengan Janet. Kamu ingin aku donorkan darah untuknya, benar?"

Alain sempat tertegun sesaat, lalu berkata dengan suara berat, "Semua ini awalnya juga gara-gara ulahmu. Sekarang kamu menebus kesalahan dengan cara ini, memangnya kamu merasa dirugikan?"

Aku hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Alain membawaku ke rumah Janet. Janet berbaring di atas tempat tidur. Wajah tampak pucat dan terlihat sangat lemah.

Alain mendorongku ke arah dokter. Dokter itu bahkan tidak ragu sedikit pun dan langsung menusukkan jarum ke lenganku.

Tak lama kemudian mesin menunjukkan hasil, dan dokter berkata dengan gembira, "Cocok!"

"Hanya saja Bu Janet kehilangan terlalu banyak darah. Kemungkinan Bu Annisa juga harus mendonorkan darah dalam jumlah besar. Setelah transfusi nanti tubuhnya mungkin akan sangat lemah dan nggak mampu bertahan, bahkan ada risiko kehilangan nyawa."

Aku menatap Alain. Namun, di matanya hanya ada Janet. Aku tersenyum pahit lalu berkata, "Nggak apa-apa. Selama bisa menyelamatkan orang."

Alain menoleh menatapku dan sedikit mengernyit.

Beberapa saat kemudian dia berbalik. "Anggap saja aku berutang budi padamu."

Jarum kembali menusuk lenganku. Aku melihat darahku terus ditarik keluar.

Tiba-tiba aku teringat masa lalu.

Saat kedua orang tuaku baru meninggal, anak-anak keluarga kaya di sekolah sering memanfaatkannya untuk menindasku. Hanya Alain yang berdiri membelaku dan melindungiku.

Saat itu dia pernah memelukku sambil berkata, "Ada aku di sini, jangan takut. Aku akan selalu melindungimu."

Alain memang menepati janjinya. Bahkan saat membenciku pun, dia tetap mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku. Alain yang seperti itu membuatku tidak mungkin untuk tidak jatuh cinta padanya.

Namun aku juga tahu, kali ini aku tidak boleh mencintainya. Aku harus menghancurkan sendiri takdir di antara kami. Darah yang diambil semakin banyak, hingga akhirnya aku pingsan karena tubuhku tak mampu bertahan lagi.

Dalam keadaan setengah sadar, aku teringat ucapan Alain. "Annisa, andai aku nggak pernah bertemu denganmu."

Air mataku mengalir dari sudut mata.

'Alain, aku berjanji padamu. Kali ini, aku akan membebaskanmu.'

Saat aku kembali terbangun, matahari sudah bersinar terik. Aku terbaring di ranjang rumah sakit. Tubuhku terasa sangat lemah sampai aku bahkan tidak mampu bangun. Namun, sekarang sudah pukul sebelas. Aku harus pergi.

Dari luar pintu terdengar para perawat sedang mengobrol, "Kalian sudah pergi ke gereja belum? Katanya benar-benar manjur."

"Aku sudah. Dulu ayah dan ibuku juga pergi ke sana, sampai sekarang mereka masih sangat mesra. Menurutku memang benar-benar manjur."

Mendengar percakapan mereka, aku tersenyum pahit. Aku tetap terlambat.

Alain membawakan makan siang untukku. Semua makanan itu adalah kesukaanku. Tak kusangka dia masih mengingat semuanya. Alain berdiri di samping ranjang dan menatapku cukup lama. Sikapnya tidak sedingin kemarin.

"Masih ada bagian tubuh yang terasa nggak nyaman?"

Aku menggeleng.

"Janet sudah melewati masa kritis. Terima kasih."

Aku mengangguk pelan.

Alain menatapku lagi, lalu beberapa saat kemudian berkata, "Semalam aku salah. Kata-kataku terlalu keras. Tapi mulai sekarang jangan lagi pakai cara-cara licik sama Janet. Dia nggak bersalah."

Perkataannya membuat dadaku kembali terasa pahit. Aku mengangguk. "Baik."

Alain menghela napas.

"Semalam aku nggak bisa menemanimu pergi berdoa. Setelah menikah nanti aku akan menebusnya. Bukankah kamu suka London? Kita pergi bulan madu ke London saja."

Aku menggeleng.

"Nggak perlu. Itu semua keputusan yang kuambil sendiri. Kamu nggak perlu menebus apa pun."

Alain berbalik dan berkata dengan nada sedikit memaksa, "Aku sudah suruh asistenku mengaturnya. Setelah kondisi tubuhmu membaik, kita akan pergi."

Aku menunduk sambil tersenyum pahit tanpa berkata apa-apa. Tanpa sengaja aku melihat bekas luka peluru di lengannya. Aku tak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan dan menyentuhnya pelan.

"Dulu kamu terluka separah ini demi menyelamatkanku. Kamu menyesal?"

Nada bicara Alain tetap tenang. "Jangan terlalu banyak berpikir. Kalau orang lain yang mengalami itu, aku juga akan menyelamatkannya."

Aku mengangguk pelan, sementara hati terasa makin pahit. Aku kembali bertanya, "Kalau soal doa saat aku demam tinggi waktu itu?"

Alain menjawab dengan cepat, "Aku juga akan melakukannya."

Aku terdiam, lalu mengangguk pelan. Jadi selama ini memang aku yang terlalu banyak berharap.

Aku memaksakan sebuah senyuman. "Kak Alain, terima kasih sudah menyelamatkanku."

"Aku kehilangan orang tuaku sejak kecil, jadi aku sangat ingin memiliki rumah dan keluarga sendiri. Aku tahu aku terlalu egois dan memilih orang yang salah. Semoga aku nggak membuatmu terlalu menderita. Maaf."

Mulai sekarang, semuanya tidak akan seperti itu lagi.

Alain bisa bersama Janet, tidak perlu lagi saling menyiksa denganku selama lima tahun, dan juga tidak akan mati di usia 26 tahun karena menyelamatkanku. Kali ini, aku akan memastikan dia hidup dengan selamat.

Mendengar perkataanku, Alain tampak sedikit panik. Dia membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi dokter datang dan memberitahunya, "Pak Alain, Bu Janet sudah sadar. Dia mencari Anda."

Mendengar ucapan dokter, wajah Alain langsung tampak lebih ceria. Dia segera melangkah pergi. Namun saat sampai di depan pintu, dia berhenti sejenak karena teringat aku masih ada di sana.

"Tunggu aku."

Aku memanggilnya, "Kak Alain."

Alain menoleh.

Aku tersenyum. Senyum yang cerah dan tulus.

"Aku harap hidupmu kelak selalu aman dan damai, serta semua keinginanmu tercapai."

Alain tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba berkata seperti itu. Dia mengernyit lalu menegurku, "Aku cuma pergi menemui Janet, bukan berarti aku nggak peduli lagi padamu. Dengarkan kata dokter baik-baik. Nanti aku datang lagi."

Setelah berkata demikian, dia pun pergi. Tak lama setelah dia pergi, aku berusaha turun dari ranjang. Dokter melihatku dan segera menghentikanku. Aku tersenyum kecil.

"Tenang, aku akan beristirahat dengan baik. Aku juga harap Dokter bisa membantu menyampaikan ke Pak Alain bahwa aku akan pergi ke London. Semoga semua urusannya berjalan lancar."

Setelah menemui Janet, Alain langsung menuju kamar rawatku. Namun, dia tidak melihatku di sana. Dia segera menangkap seorang perawat.

"Ke mana Annisa pergi? Tubuhnya masih sangat lemah, dia pergi ke mana?"

Perawat itu menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa.

Tak lama kemudian, bawahannya berlari tergesa-gesa menghampiri Alain.

"Bos, gawat! Baru saja terjadi baku tembak di persimpangan jalan. Katanya ada seorang wanita yang mirip Bu Annisa terkena peluru dan meninggal di tempat!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 7

    Sejak hari itu, Alain tidak pernah datang mencariku lagi. Namun, di depan toko bungaku sering muncul makanan-makanan yang dulu sangat kusukai. Entah kue favoritku atau buah kesukaanku. Aku benar-benar tidak pernah menyangka ternyata Alain mengingat semuanya.Hari itu, terjadi baku tembak antar kelompok di dekat tempatku tinggal. Aku segera membawa beberapa anak kecil di sekitar sana untuk bersembunyi.Tempat persembunyiannya sangat sempit. Setelah mereka masuk, tidak ada lagi tempat untukku. Aku hanya bisa berlari ke sana kemari mencari perlindungan sendiri. Tiba-tiba sebuah peluru nyasar meluncur ke arahku.Aku menutup mata, berpikir hari ini pasti aku akan mati di tempat ini. Namun detik berikutnya, sebuah kekuatan mendorong tubuhku menjauh. Saat membuka mata lagi, aku melihat Alain berdiri di depanku.Alain yang sejak kecil selalu melindungiku, sekali lagi menggunakan nyawanya sendiri untuk menahan peluru demi diriku. Peluru itu menembus perutnya. Darah terus mengalir dari tubuhnya.

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 6

    Setelah pergi, aku tidak langsung menetap di London. Sebagai gantinya, aku memilih kembali ke kampung halamanku. Tempat ini adalah rumah lamaku. Memang tidak semegah ibu kota dan tidak seunik London, tetapi suasana pedesaannya memiliki ketenangan tersendiri.Sopir yang menjemputku tersenyum sambil berkata, "Nona berpakaian seelegan ini, rasanya nggak seperti orang sini."Aku hanya tersenyum tipis tanpa banyak bicara.Orang tuaku menghabiskan seumur hidup mereka berjuang di tempat ini. Sekarang setelah kembali, aku malah merasakan ketenangan dan rasa aman yang sulit dijelaskan. Dengan tabungan yang ditinggalkan orang tuaku, aku membuka sebuah toko bunga di sini.Sebagian uang lainnya kusumbangkan ke gereja agar mereka bisa mendirikan sekolah. Aku ingin anak-anak yang dulu tidak mampu bersekolah bisa belajar dan memahami banyak hal.Pendidikan akan membuat mereka menjadi kuat. Dan hanya orang yang kuat yang tidak akan mudah ditindas orang lain. Usaha toko bungaku berjalan biasa saja, tet

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 5

    Begitu mendengarnya, sebenarnya Alain memang berniat seperti itu. Namun pada saat itu juga, dalam dirinya muncul rasa memberontak."Semua ini terjadi karena Annisa yang duluan datang mengadu ke kalian dan buat kalian memaksa Janet sampai dia bunuh diri! Kalau Annisa nggak melakukan itu, Janet nggak akan bunuh diri, dan dia juga nggak perlu mendonorkan darah. Pada akhirnya, semua ini salah Annisa sendiri!""Lagian aku sudah dewasa! Sejak kecil kalian selalu mengaturku terlalu ketat. Bahkan wanita yang kusukai pun nggak kalian izinkan masuk ke rumah ini. Sampai urusan pernikahanku juga ingin kalian kendalikan. Aku benar-benar muak dengan kehidupan seperti ini!"Setelah Alain selesai bicara, kedua orang tuanya terdiam sesaat.Ibunya kemudian bertanya, "Alain, selama ini apa kamu benar-benar nggak punya sedikit pun perasaan untuk Annisa? Kamu berkali-kali rela mempertaruhkan nyawa demi Annisa. Kalau itu bukan cinta, lalu apa?"Wajah Alain langsung muram dan dia tidak menjawab. Dia memang m

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 4

    Alain tertegun beberapa saat sebelum akhirnya kembali sadar. Wajahnya perlahan menjadi muram."Mungkin hanya orang yang sedikit mirip dengan Annisa. Kita sudah akan menikah, nggak mungkin dia sampai seceroboh itu."Baru saja dia selesai bicara, dokter masuk ke dalam ruangan. "Pak Alain, tadi Bu Annisa sudah pergi. Dia minta aku menyampaikan bahwa dia akan pergi ke London dan berharap semua urusan Bapak berjalan lancar."Ucapan dokter yang terdengar tenang itu malah membuat Alain benar-benar panik. Tubuhnya bahkan hampir kehilangan keseimbangan. Selama ini dia dikenal selalu tenang dan stabil, tetapi untuk pertama kalinya di depan orang lain, dia tampak kehilangan kendali.Baru sekarang dia sadar.Ucapan Annisa tadi, "Semoga hidupmu kelak aman dan semua keinginanmu tercapai," ternyata adalah salam perpisahan untuknya.Mata Alain perlahan memerah. Saat menundukkan kepala, tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan."Mana mungkin ...."Dia tidak percaya. Benar-benar tidak percaya.Keingina

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 3

    Pipiku terasa panas dan perih.Di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dengan Alain, Janet menyayat pergelangan tangannya pada malam pernikahan kami. Karena Alain tidak berhasil menemukan darah dengan golongan yang cocok untuk transfusi, dia hanya bisa menyaksikan Janet meninggalkannya.Karena itu, Alain membenciku. Bahkan sampai menjelang kematiannya, dia berharap tidak pernah bertemu denganku. Namun sekarang aku dan Alain bahkan belum menikah, jadi kenapa percobaan bunuh diri Janet malah terjadi lebih awal?Akan tetapi, tidak apa-apa.Bukankah sejak awal aku memang ingin memenuhi penyesalan Alain? Sekarang kesempatan itu datang sendiri. Aku menatap Alain dan berkata dengan tenang, "Golongan darahku cocok dengan Janet. Kamu ingin aku donorkan darah untuknya, benar?"Alain sempat tertegun sesaat, lalu berkata dengan suara berat, "Semua ini awalnya juga gara-gara ulahmu. Sekarang kamu menebus kesalahan dengan cara ini, memangnya kamu merasa dirugikan?"Aku hanya tersenyum tanpa ber

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 2

    Di tengah perjalanan, ponsel Alain terus berdering.Itu telepon dari Janet. Suaranya terdengar lemah dari seberang sana, "Alain, perutku sakit ...."Sebelum Janet selesai bicara, Alain langsung menyuruh sopir menghentikan mobil, lalu menoleh kepadaku. "Janet sakit dan sekarang sangat membutuhkan aku. Aku harus pergi menemuinya. Tenang saja, malam ini aku akan datang ke gereja tepat waktu."Aku menunduk, lalu mengangguk pelan.Mungkin Alain tidak menyangka aku akan setenang ini, sehingga dia bertanya, "Bukannya dulu kamu paling nggak suka kalau aku meninggalkanmu di tengah jalan demi menemui Janet?"Aku tersenyum kecil. Sebelum sempat menjawab, Alain kembali berkata, "Aku nggak peduli permainan apa yang sedang kamu lakukan. Tapi karena kita sudah sepakat untuk menikah, Janet juga nggak lagi menjadi ancaman bagimu. Jadi jangan punya pikiran aneh-aneh."Setelah mengatakan itu, Alain menyuruhku turun dari mobil.Aku berdiri di tempat sambil melihat mobil itu menghilang dari pandanganku, me

  • Terlahir Kembali, Memitih Tak Mencintainya   Bab 1

    "Annisa, kamu memang hebat, ya. Sampai-sampai bisa membuat orang tuaku pakai cara mogok makan untuk maksa aku menikahimu. Kamu pikir setelah kita menikah, aku bakal jatuh cinta sama kamu? Mimpi!"Di telingaku terdengar suara yang ketus itu.Aku membuka mata dan melihat Alain berdiri di depanku. Jas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status