Short
Ketua Mafia Memilih Tangan Kanannya, Aku Memilih Pergi

Ketua Mafia Memilih Tangan Kanannya, Aku Memilih Pergi

By:  NullCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Suamiku, Danu, adalah Ketua Keluarga Mahesa, seorang ketua mafia yang berdiri di puncak kekuasaan Valen. Dia memiliki satu aturan mutlak yang tak boleh dilanggar. Setiap kali keluar untuk mengurus urusan keluarga setelah pukul sembilan malam, dia tak akan pernah menjawab telepon apa pun. Aku memahami bahwa seluruh perhatiannya tercurah pada urusan keluarga. Karena itu, selama lima tahun terakhir, aku selalu berusaha untuk tak mengganggunya. Sampai tadi malam. Saat sedang berkendara sendirian melewati dermaga, aku tiba-tiba disergap sekelompok orang bersenjata dari keluarga musuh kami. Dalam kepanikan, aku menelepon Danu dan memohon agar dia menyelamatkanku. Telepon itu berdering cukup lama. Begitu akhirnya tersambung, yang terdengar justru suara dinginnya. “Nora, kita sudah menikah selama bertahun-tahun. Sebagai Nyonya Keluarga Mahesa, seharusnya kamu masih ingat aturan kita.” Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon. Malam itu, aku berjuang seorang diri sekuat tenaga hingga akhirnya berhasil lolos dari hujan peluru. Aku menghabiskan satu malam di rumah sakit. Namun, saat pulang keesokan paginya, yang kudapat justru tegurannya. Dia menyalahkanku karena sudah mengganggunya saat sedang mengurus urusan penting keluarga malam itu. Bahkan, dia menuduhku sembarangan mengirimkan sinyal darurat. Aku tahu betapa berat tanggung jawab yang dipikulnya. Karena itu, aku hanya bisa menelan rasa sakit dan kecewa dalam hati. Namun, ketika suatu kali menggunakan komputer miliknya, tanpa sengaja aku melihat riwayat panggilannya. Ada satu nomor yang hampir setiap malam menghubunginya. Waktunya selalu lewat pukul sembilan malam. Dan itu sudah berlangsung selama lima tahun penuh. Nomor itu tak asing bagiku. Itu milik Alesha, tangan kanan Keluarga Mahesa. Perempuan yang selama lima tahun ini diakui seluruh anggota keluarga sebagai orang yang paling pantas berdiri di sisi Danu. Saat itu, semua rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kupendam akhirnya meledak. Setelah menenangkan diri, aku mengambil ponsel dan menemukan undangan pameran seni internasional yang kuterima beberapa hari lalu. Aku sejenak menatap undangan itu. Lalu menekan tombol “Terima”. Tiga hari lagi… Aku akan benar-benar menghilang dari dunianya.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku menyerahkan surat cerai yang sengaja kusamarkan sebagai kontrak keluarga kepada Danu. Dia bahkan tak repot-repot membaca isinya dan langsung membubuhkan tanda tangan di bagian akhir.

Masih setengah jam sebelum pukul sembilan.

Baginya, tak ada yang lebih penting daripada urusan keluarga.

Aku termenung cukup lama sambil memegang surat perceraian itu. Tak kusangka semuanya akan semudah ini.

Tepat ketika aku hendak memasukkan surat tersebut ke dalam tas, Danu kebetulan keluar dari kamar mandi.

Melihat gerakanku, dia sempat tertegun.

“Cuma surat kontrak, ‘kan? Memangnya sampai harus kamu sendiri yang mengantarkannya?”

Aku ikut tertegun, lalu menggeleng.

“Bukan.”

Dia mengernyit, jelas tak mengerti maksudku. Namun, setelah melirik jam tangannya, dia kembali mengernyit.

“Sebentar lagi jam sembilan. Masih ada yang ingin kamu katakan?” tanyanya.

Aku terdiam sejenak, lalu menggeleng.

“Nggak ada.”

Dia mengangguk, melangkah mendekat, lalu mengecup keningku.

“Oke. Selamat malam.”

Setelah itu, dia pergi.

Aku berdiri terpaku selama beberapa saat. Saat hendak bangkit, tablet Danu tiba-tiba menyala.

Bersamaan dengan itu, panggilan dari Alesha muncul di layar.

Danu. Pria yang setelah pukul sembilan biasanya tak pernah menerima telepon, apalagi membalas pesan, justru langsung mengangkatnya dalam hitungan detik. Seolah khawatir orang di seberang sana menunggu terlalu lama.

Aku terkekeh pelan. Ada sedikit rasa geli sekaligus getir melihat betapa perhatiannya dia saat ini. Sayangnya, perhatian seperti itu hanyalah pengecualian. Dan jelas bukan untukku, istrinya.

Aku kembali ke kamar dan mematikan lampu.

Dalam kegelapan, aku menatap hasil pemeriksaan medis yang dikirim rumah sakit ke komputerku.

Untuk sesaat, aku tertegun.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa aku sudah hamil dua bulan.

Aku menunduk, mengusap perut bagian bawah, lalu mengembuskan napas panjang.

‘Maaf, Sayang.

Sebelum kamu sempat bertemu dengan ayahmu, Ibu sudah harus membawamu pergi.’

…

Keesokan paginya, saat aku bangun, Danu sudah kembali.

Setelah menyiapkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk mengurus visa, aku meliriknya sekilas sebelum beranjak pergi.

Namun, saat kami berpapasan, Danu tiba-tiba memanggilku dengan wajah terkejut, “Nora, kamu nggak mau pasangkan dasiku?”

Aku memaksakan senyum tipis dan sedikit mengangkat sudut bibirku.

“Nggak lagi. Ingat, pelajari caranya.”

Aku terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Atau suruh wakilmu saja yang pakaikan.”

Danu meletakkan barang yang dibawanya, lalu berjalan menghampiriku dengan tatapan heran.

“Maksudmu Alesha?”

Ekspresinya seketika melunak saat menyebut nama Alesha.

“Dia memang bisa pasangkan dasi. Cukup teliti juga orangnya. Tapi apa hubungannya dengan kamu yang biasanya memasangkan dasiku?”

Aku terdiam.

Aku tak tahu harus mulai menjelaskannya dari mana.

Mungkin, tak menjelaskan apa pun justru pilihan terbaik.

“Nggak ada hubungannya, sih. Aku cuma nggak mau pasangkan dasi lagi.”

Danu sepertinya menyadari sesuatu. Dia melangkah maju dan mencium pipiku.

“Nora, Alesha cuma wakilku. Ayahnya pernah selamatkan nyawaku. Aku sudah berjanji kepada ayahnya untuk menjaganya baik-baik.”

“Sayang, aku cuma cinta sama kamu. Jangan marah. Sebagai gantinya, aku sudah pesan kapal layar pribadi. Mau ke Pracias Selatan? Atalya? Terserah kamu mau ke mana. Cuma kita berdua.”

Aku mengangguk.

Danu semakin kuat menciumku hingga kakiku terasa lemas dan hampir tak mampu berdiri. Setelah itu, barulah dia melepaskanku.

“Oh, ya. Siang ini nggak perlu antar makan siang untukku. Alesha baru saja kirim pesan. Katanya dia sudah siapkan.”

Gerakanku untuk bangkit terhenti sejenak. Seolah-olah seseorang baru saja menarikku keluar dari sebuah mimpi indah.

Jari-jariku menggenggam ujung rokku erat-erat.

“Baiklah.”

Karena pekerjaannya, Danu menderita penyakit lambung yang cukup serius. Karena itu, dulu aku selalu memasak sendiri untuknya.

Kebetulan sekali.

Dengan begitu, aku justru punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan rencanaku.

Memikirkan hal itu, aku juga tak ingin lagi repot-repot menjaga perasaannya. Setelah mengucapkan kalimat itu, aku berbalik dan menutup pintu.

Aku pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan kehamilan lagi. Bayiku sangat sehat.

Setelah itu, aku pergi mengurus visa.

Saat keluar dari kantor perwakilan konsuler, aku melihat bunga-bunga wisteria memenuhi halaman.

Aku memejamkan mata dan mengembuskan napas pelan.

Tiga hari lagi…

Aku akan meninggalkan Danu.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status