Share

6. Salah Masuk Kamar.

Penulis: J.A
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-23 12:10:47

Ke dua matanya, yang tadi masih menyisir kerumunan, kini terpaku pada seseorang yang sudah berdiri di hadapan mereka berdua, "Kak? Kau ada di sini?" sapa pria itu, tatapannya hangat ketika menatap Selina.

'Dunia memang sempit sekali ya? Ternyata Reno, adik sepupu Selina... Haah!' gerutu Bhumi dalam hati, ia mencoba tetap tenang ketika melihat Reno, dan Alya. Mantan kekasih dan selingkuhannya itu.

Alya, dengan mata yang tajam, menyenggol lengan Reno dan menunjuk Bhumi dengan lirikan mata, sinis. Reno yang menyadari keberadaan Bhumi segera melepaskan tangan Alya dan mendekat satu langkah lagi, wajahnya menyeringai sinis. "Ck...ck...ck... Berani juga kau datang ke acara reuni ini ya?" ujarnya, mengusap dagu dengan pelan.

"Kalian saling kenal?" tanya Selina, melihat adik keponakannya itu menyapa Bhumi. Ia lalu menatap Reno dan Bhumi bergantian, bingung.

"Yah... kami satu angkatan," jawab Bhumi singkat. Tangannya masuk ke dalam saku celana, ekspresi cukup santai.

"Kak, kau tak tahu? Dia itu sangat terkenal di kelas. Siapa yang tak kenal dengan anjingnya Alya. Pria bodoh yang mengejar-ngejar kekasihku ini," jelas Reno dengan nada mengejek, lalu menarik lengan wanita yang memakai dress berwarna Lilac, merengkuh bahunya dengan erat.

Namun sebelum Selina sempat bereaksi, Bhumi sudah membuka mulutnya terlebih dulu dan berkata dengan tenang, "Iya, iya, sudahlah. Lagi pula sekarang aku sudah tak menginginkan Alya lagi. Ambillah! Dia untukmu." Kemudian, ia mengedipkan mata ke arah wanita yang berdiri di sampingnya itu, "Sekarang seleraku sudah berbeda, bukankah begitu, Nona Selina?"

Hal itu membuat Selina menjadi salah tingkah. Sontak saja pipinya merona, merah. Ia melemparkan pandangan ke arah lain, dengan gerakan gugup membenarkan anak rambutnya yang halus, yang menutupi telinganya. "Kau! Jaga sikapmu!" tegurnya pura-pura marah. Namun terlihat dengan jelas jika wanita itu sudah menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.

Bhumi terkekeh pelan, dengan sedikit menggelengkan kepalanya, 'Ternyata wanita ini mudah sekali digoda,' batin pria itu dengan menatap gemas.

"Hei! Apa maksudmu? Kau pikir kakakku ini akan tertarik dengan pecundang sepertimu ini, hah!?" Reno melotot, ia maju selangkah.

"Bhumi, aku tahu kau kecewa karena aku tak bisa menerima cintamu meskipun kau sudah berjuang selama bertahun-tahun," Alya ikut menimpali dengan suara lembut yang dibuat-buat, "tapi tak baik jika kau bersikap kurang ajar seperti itu ke orang lain. Kau sudah membuat Kak Selin tak nyaman."

Mendengar itu, Bhumi hanya menganggukkan kepalanya perlahan, seolah sedang menerima sebuah fakta. Tapi matanya, yang tajam, terus menatap Selina yang sudah ada di dekapannya. "Benarkah begitu, Selina? Kau tak tertarik padaku?"

Kali ini, bahkan Bhumi dengan berani merengkuh pinggang wanita itu dan menariknya lebih dekat. Aroma parfum Selina yang lembut membuat Bhumi menelan ludahnya kasar.

Di saat Selina masih membeku di tempat, tiba-tiba saja kalung yang ada di balik kaosnya berkedip dengan getaran halus.

Layar hologram itu muncul tepat di samping kepala Selina. Tulisan putih terpampang jelas.

[Selamat bos! Ketertarikan wanitamu naik menjadi 30%. Hadiah uang Rp5.000.000,00 sudah ditransfer ke rekening anda].

Melihat itu, cengkeraman tangan Bhumi di pinggang Selina semakin kuat. Ia semakin dalam menariknya dalam pelukan, lalu seringai puas terlihat dengan jelas.

'Mantap! Hal seperti ini juga menghasilkan uang..??' batinnya sambil menunduk, menatap Selina yang biasanya terlihat kaku dan dingin, kini sedang meremas-remas jemarinya sendiri.

Sadar situasi mulai tidak nyaman, Selina segera melepaskan diri dari pelukan Bhumi. Tubuhnya bergeser beberapa langkah membuat jarak di antara mereka.

"Ah, itu... kalian sedang mengadakan pesta, bukan? Aku harus pergi sekarang," ujarnya sambil mencuri pandang pada jam di pergelangannya. Matanya kemudian beralih menatap Bhumi yang masih berdiri santai dengan kedua tangan bertumpu di depan dada.

"Jangan lupa kabari aku," tambahnya lagi dengan senyum tipis yang terlihat kaku.

"Tentu saja!" Bhumi menjawab dengan menganggukan kepalanya.

Begitu Selina pergi, Reno yang dari tadi diam kini mendekat dengan rahang yang mengeras. Tangannya mencengkram kerah baju Bhumi dengan kasar. "Bangsat! Ada hubungan apa kau dengan Selina?" tanya pria itu menatap lurus ke wajah Bhumi.

Dengan seringai tipis, Bhumi mengibaskan tangan pria yang menjadi musuhnya sejak dulu dengan gerakan keras. "Bukan urusanmu!" katanya singkat sebelum memutar badan dan melangkah pergi.

Reno dan Alya hanya bisa menatap punggung Bhumi yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kaca besar yang menuju ke arena outdoor kolam renang tempat pesta diadakan.

"Bangsat!" gerutu Reno dengan mengepalkan tangannya.

"Sayang, apa mungkin benar Bhumi sekarang dekat dengan sepupumu itu?" tanya Alya, kekhawatiran dan juga tak percaya. Tangannya menggamit lengan Reno, sedikit menggoyangkannya.

"Tidak mungkin! Malam ini aku akan membuatnya sadar siapa dia. Akan kubuuat pecundang itu menanggung malu seumur hidup!"

"Maksudmu?"

"Aku punya rencana." Reno lalu membisikkan sesuatu ke telinga Alya. Awalnya wanita itu hanya diam dengan ekspresi datar, namun semakin lama senyumnya merebar lebar. "Kau memang pintar sekali, sayang! Benar, pria miskin seperti dia seharusnya sadar jika tempat seperti ini tak bisa ia masuki, apalagi dekat-dekat dengan orang-orang seperti kita."

Begitu sampai di arena pesta, Bhumi memilih menyendiri. Pria itu berdiri di dekat meja panjang yang penuh dengan kue dan juga makanan ringan. Ia mengambil sepotong kecil cheesecake, lalu menggigitnya dengan menatap kumpulan para penjilat.

Dari kejauhan, Reno mengamatinya dengan tatapan tajam. Pria itu sudah meminta salah satu pelayan hotel untuk bekerja sama memberi pelajaran pada pria itu.

"Bhumi ... Bhumi ... Tamat sudah riwayatmu."

"Minuman, Tuan?" tanya pelayan itu dengan sopan dan menyodorkan nampannya.

Bhumi yang memang sudah haus tanpa ragu mengambil segelas champagne. Lalu meneguknya hampir habis dalam beberapa kali tegukan, tanpa curiga.

"Ah... kenapa mendadak panas sekali," gumam Bhumi dengan menyeka keringat yang membasahi lehernya.

Beberapa menit kemudian, tangannya mulai gemetar saat ia mencoba bangun dengan berpegangan sisi meja. Kepalanya terasa berat, pandangannya pun berkunang-kunang. Dunia di sekelilingnya mulai berputar.

"Hei... Bhum.. bhumi? Kau baik-baik saja?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Ia adalah Danu, sahabat Reno, dengan ekspresi khawatir, tentu saja hanya sandiwara belaka.

"Entah... Tiba-tiba kepalaku pusing sekali," gumam Bhumi, suaranya terdengar parau.

"Bagaimana ya.. ah, aku sudah membuka satu kamar disini. Istirahatlah di sana," ujar Danu dengan cepat menyambar lengan Bhumi yang mulai limbung.

Bhumi hampir tidak bisa melawan. Kakinya terhuyung-huyung mengikuti arahan Danu menuju lift, lalu berjalan pelan menyusuri koridor hotel yang sepi. Dia dibawa masuk ke sebuah kamar suite, tepat ada di paling ujung.

"Aku akan mengambil obat, kau duduklah dulu di sini sebentar," kata Danu menuntun Bhumi agar duduk di sisi ranjang. Begitu pintu tertutup, Danu segera pergi, meninggalkan pria itu seorang diri.

Meskipun ruangan itu sudah dingin oleh AC, tapi tubuhnya tetap terasa panas. "Ah ini tidak beres, aku yakin seseorang sedang mengerjaiku," gumam Bhumi mencoba bangun dan berjalan tertatih ke arah pintu.

Namun baru saja ia memegang handle pintu, suara samar terdengar dari luar, "Reno! Semua beres... Baik-baik. Ah oke, aku akan menjemput mereka!"

'Itu suara Danu?! Benarkan tebakkanku... Reno, akan aku balas perbuatanmu ini!' batin Bhumi dengan mencengkeram handle pintu.

Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki menjauh, "Danu sudah pergi, aku harus cepat keluar dari sini," ucap pria itu menggelengkan kepala dan mengerjap mata pelan. Pandangannya semakin kabur.

Saat handle terputar ke bawah sebuah dorongan dari luar membuat Bhumi terdorong dan harus bersembunyi di belakang pintu.

Suara langkah kaki ramai terdengar masuk. Bhumi mengintip dengan hati-hati, seketika ia langsung mual dan bergidik geli. "Reno...kau benar-benar Gila!"

Dua orang banci dengan dress mini hitam, make-up tebal... masuk ke dalam kamar itu. Mereka langsung sibuk merias wajah di depan cermin.

Pelan-pelan, saat dua banci itu sibuk, Bhumi merayap keluar dari balik pintu. Dengan langkah gontai ia melesat keluar. Terlihat Bhumi berjalan sempoyongan menyusuri koridor, bahkan beberapa kali tubuhnya hampir menabrak dinding.

"Ah, aku tidak tahan lagi." Pandangannya yang mulai tak jelas, membuatnya asal membuka pintu kamar entah milik siapa.

Begitu ia masuk dan pintu tertutup, Bhumi berdiri mencoba untuk menenangkan napas yang tersengal-sengal. "Hah...panas sekali." Ia terus bergumam dengan mengusap leher dan dadanya.

Tiba-tiba, ada suara decit pintu kamar mandi dalam terbuka. Di susul dengan teriakan seorang wanita yang membuat Bhumi memutar tubuhnya cepat.

"AA....Siapa kamu?!"

****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   13. Munculnya Wanita Gila.

    Bhumi menganggukkan kepalanya, "Tenang saja... Aku takkan menipumu." ____Hujan gerimis malam itu belum reda ketika Bhumi pulang dari pertemuan bisnis bersama Sasha. Kesepakatan kerja sama sudah tercapai, dan otaknya masih penuh dengan rencana baru. “Hah… Badanku rasanya pegal semua,” gumam pria itu pelan, sambil menjatuhkan tubuh ke kasur tipis di kontrakan kecilnya. Kasur itu menimbulkan suara berdecit, ia lalu menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas, lalu tertawa hambar.“Sepertinya aku harus cari tempat tinggal baru deh. Dekat pusat kota, biar nggak bolak-balik seperti ini.” desahnya pelan. Hening beberapa menit. Hanya suara hujan di atap seng yang menemani. Kelopak matanya mulai tertutup, rasa kantuk menyerang pelan. Tapi baru saja ia nyaris terlelap, ponselnya tiba-tiba berdering keras di saku celana.“Astaga… siapa lagi malam-malam begini?” gerutunya sambil menggapai ponsel itu.Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit bingung. “Citra?”Ia menekan tombol

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   12. Wanita di Club Malam.

    “Janu! Kau berani menamparku, hah?!” Suara Yunita melengking tinggi, Ia menatap pria di depannya dengan urat leher menegang, matanya berkilat penuh amarah.Sementara itu Janu, dengan napas memburu, masih menatap tangan kanannya sendiri—tangan yang baru saja mendarat di pipi wanita itu. “Kenapa aku tak berani?” suaranya rendah tapi penuh penekanan. “Aku sudah menahan diri sejak tadi, Yunita. Melihat kau bermesraan dengan pria lain, aku masih diam. Tapi saat kau meremehkan sahabatku ini, aku tak bisa lagi menahan diri lagi!”Bhumi, yang berdiri sedikit di belakangnya, hanya menatap tanpa ekspresi. Di bawah cahaya kuning lampu toko, wajahnya terlihat datar namun tajam menebak apa yang akan di lakukan oleh Janu.Dada Yunita naik turun. Ia menggigit bibir bawahnya terus mencoba untuk menahan amarah. Namun, ketika matanya menangkap selembar cek yang masih di genggam oleh Janu —cek bernilai lebih dari seratus juta— rona marah di wajahnya seketika meredup. Kilau uang itu lebih kuat daripada h

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   11. Tamparan untuk Yunita

    “Yunita!” teriak Janu lantang begitu pintu toko antik itu terbuka lebar. Napasnya tersengal, wajahnya tampak memerah menahan emosi.Ia lalu berdiri terpaku melihat pemandangan di depannya—wanita yang selama ini ia cintai sedang bergelayut mesra di lengan pria lain.“A-apa yang kau lakukan di sini?! Dan… siapa dia?!” pada akhirnya suaranya pecah, matanya tak lepas dari pria berwajah setengah tua dengan rambut klimis dan dada yang terlihat karena dua kancing bajunya sengaja terbuka.Pria itu tersenyum angkuh, sebatang rokok menyelip di antara jarinya. “Sayang,” ujarnya pada Yunita dengan nada mengejek, lalu melirik Janu dan Bhumi yang sudah berdiri di depan mereka, “apa dia kekasihmu yang bodoh dan miskin itu?”Yunita menoleh pelan, bibirnya melengkung sinis. “Ya,” jawabnya datar. “Sudahlah, aku tak perlu bersandiwara lagi. Perkenalkan, dia Seno… pacar baruku.”Kata-kata itu menusuk dada Janu seperti pisau.“Ka-kau tega melakukan ini padaku, Yunita?!”Ia menunjuk wanita itu dengan tanga

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   10. Pertemuan di Toko Antik.

    “Sudah diamlah, bantu aku,” bisik Dahayu pelan, tepat di depan telinga Bhumi. Membuat pria itu refleks menoleh.Namun sebelum Bhumi sempat menolak rencana gila itu, kalung giok yang tergantung di dadanya tiba-tiba bergetar. Sinar biru muncul, memantul di udara membentuk layar hologram transparan di depan wajah. [ Misi Baru Terdeteksi! ]Bantu target untuk mengusir mantan suaminya. Hadiah: Rp20.000.000! ]Melihat itu, Bhumi spontan menyeringai lebar. “Wah, misi baru, hadiah besar,” gumamnya, lalu tanpa ragu merangkul pinggang wanita yang masih berdiri di sampingnya itu.“Kau dengar apa yang dia katakan, hah?” ujarnya setengah berteriak agar Stefan mendengar. “Jangan sentuh aku!” lanjutnya sombong lalu membungkuk sedikit dan berisik, “Jadi dimlah dan tetap anteng di situ!” Stefan yang melihat semua itu jelas murka. Rahangnya menegang, tangannya mengepal di sisi tubuh. Emosinya meluap-luap, cemburu dan amarah bercampur menjadi satu. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum.

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   9. Mempermalukan Reno.

    Dahayu menatap curiga, matanya menyipit.“Hah, untuk apa kau ikut?” tanyanya dengan nada setengah ketus.Bhumi menggaruk tengkuknya yang jelas-jelas tidak gatal, mencoba mencari alasan masuk akal agar tak terlihat mencurigakan.“Bukan ikut, ah. Aku cuma mau numpang sampai tengah jalan. Semalam juga aku ke hotel ini menumpang orang.”Dahayu melirik jam di ponselnya, waktu sudah menipis. Ia mengembus napas panjang,“Ya sudah...”Begitu mereka keluar dari kamar, langkah mereka berdua terhenti. Di ujung lorong, hanya berjarak tiga pintu, tampak sekelompok orang berkerumun di depan salah satu kamar. Suara gaduh tawa dan teriakan bercampur jadi satu.“Ayo, kita lihat dulu ke sana.” Bhumi menunjuk arah keramaian itu.“Untuk apa?” Dahayu menolak tanpa ragu.“Aku nggak punya banyak waktu lagi, Bhumi.”“Sebentar aja. Bukankah kau ingin tahu apakah ucapanku benar? di kamar itu aku di jebak."Belum sempat Dahayu menjawab, Bhumi sudah lebih dulu menarik tangannya.“Bumi! Eh—”Di depan pintu kamar,

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   8. Benda Keras apa ini??

    "Ke-kenapa punyanya besar sekali?" Beberapa kali Dahayu mengerjapkan mata. Ia melihat dengan jelas "Pasar Darat" ( pajang besar dan berurat) yang sedang di pijat dengan cukup kasar oleh pria itu sendiri. Dahayu duduk di sisi ranjang, kedua lututnya dirapatkan, tangan menggenggam ujung seprai yang berkerut. Matanya menatap kosong ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Apa yang baru saja terjadi? Ada pria asing di kamarnya. Dan kini... pria itu sedang menggunakan kamar mandinya seolah ia pemilik tempat ini. Wanita itu kembali menelan ludah. Dan berpikir, kenapa dia bisa datang kesini? Dan... siapa yang sudah memberinya obat? "Apa mungkin ini semua sudah di atur oleh...???" ia lalu menggeleng cepat. "Tidak mungkin," ucapnya lagi mengusir apa yang di dalam pikirannya. Dahayu lalu meraih ponsel di meja nakas, jarinya gemetar saat ingin menekan angka darurat. Namun seketika jarinya berhenti di udara. 'Kalau dia memang pria jahat, bukankah dari tadi dia sudah menyerangku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status