Share

9. Mempermalukan Reno.

Author: J.A
last update publish date: 2025-10-24 21:42:14

Dahayu menatap curiga, matanya menyipit.

“Hah, untuk apa kau ikut?” tanyanya dengan nada setengah ketus.

Bhumi menggaruk tengkuknya yang jelas-jelas tidak gatal, mencoba mencari alasan masuk akal agar tak terlihat mencurigakan.

“Bukan ikut, ah. Aku cuma mau numpang sampai tengah jalan. Semalam juga aku ke hotel ini menumpang orang.”

Dahayu melirik jam di ponselnya, waktu sudah menipis. Ia mengembus napas panjang,

“Ya sudah...”

Begitu mereka keluar dari kamar, langkah mereka berdua terhenti. Di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 27.

    Pagi harinya, Bhumi sudah bangun sebelum matahari terbit. Ia tidak bisa tidur nyenyak setelah menerima kartu nama ancaman dari Handoko. Namun pria itu memutuskan untuk tidak mundur. Justru ini saatnya menekan balik.“Janu, bangun! Kita kirim paket!” teriak Bhumi sambil merapikan kemeja.Janu yang masih mengantuk berguling di kasur. “Paket apa lagi, Bum? Jangan bilang kita mau jadi kurir.”“Kurir ancaman.”Janu langsung duduk. “Apa?!”Tanpa banyak bicara, Bhumi memasukkan USB berisi rekaman dan surat ke dalam amplop coklat. Ia juga menyertakan foto-foto pertemuan Handoko dengan Widodo sebagai pelengkap. Semua ia kemas rapi, lalu memanggil kurir langganan kontrakan.“Kirim ke alamat ini. Kantor Handoko Group di pusat kota. Nyatakan untuk Pak Handoko pribadi,” pesan Bhumi pada kurir.Kurir itu mengangguk, lalu pergi dengan motor roda tiga.Janu berdiri di samping Bhumi, matanya masih sayu. “Lo yakin ini bukan bunuh

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 26.

    Dua hari setelah pertemuannya dengan Sasha, Bhumi duduk di sebuah kafe sederhana dekat pasar antik. Di hadapannya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal sedang menyantap nasi goreng dengan lahap. Pria itu bernama Bambang, mantan jurnalis yang kini beralih profesi menjadi detektif swasta. Indra yang merekomendasikannya.“Jadi, Anda mau saya memotret pertemuan Widodo dan Handoko?” tanya Bambang di sela suapan.“Iya, Pak. Saya punya info mereka akan bertemu besok malam di sebuah restoran daerah kemang,” jawab Bhumi sambil menyodorkan amplop coklat berisi uang muka. “Ini tiga puluh juta untuk biaya operasional. Nambah lagi lima puluh kalau fotonya jelas.”Bambang mengernyit, mengamati amplop itu dengan jari-jarinya yang gemuk. “Wah, besar juga. Tapi memotret dua orang itu risikonya tinggi, Mas. Mereka punya banyak pengawal.”“Saya tidak minta foto selfie dengan mereka. Cukup dari kejauhan, asalkan wajah mereka terlihat jelas.”“Hmm…

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 25.

    Malam itu, Bar Lestiani terasa berbeda. Lampu neon merah muda yang biasanya berkedip riang kini redup, seolah ikut merasakan kegalauan pemiliknya. Hanya beberapa pelanggan yang duduk di sudut-sudut, berbincang dengan suara pelan. Musik akustik dari panggung kecil terdengar sayup, seperti lagu sedih yang tak berkesudahan.Bhumi masuk bersama Janu. Begitu melewati pintu, matanya langsung mencari Sasha. Wanita itu berdiri di balik meja bar, rambutnya diikat longgar, wajahnya pucat tanpa riasan. Ada lingkaran hitam di bawah matanya—tanda semalaman tidak tidur.“Sasha,” sapa Bhumi sambil duduk di kursi depan bar.“Kau datang,” sahut Sasha pelan. Suaranya serak, seperti habis menangis atau tidak minum cukup air. “Aku sudah tunggu sejak sore.”Janu ikut duduk di samping Bhumi, matanya berkeliling waspada. “Aman? Nggak ada preman Handoko di sini?”“Tidak. Aku tutup bar lebih awal. Hanya beberapa pelanggan tetap yang masih bertahan.” Sasha mengelu

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 24.

    Mobil putih Selina melaju kencang meninggalkan pasar antik. Bhumi duduk di kursi penumpang, masih terkejut dengan penyelamatan mendadak itu. Janu di kursi belakang masih gemetar, memegangi dasi yang nyaris copot.“Selina, kau datang tepat waktu,” ucap Bhumi sambil menghela napas lega.“Aku lihat mobil kakek di depan toko Indra. Aku tahu ada yang tidak beres,” jawab Selina dengan mata tetap fokus ke jalan. Wajahnya tegang, bibirnya sedikit mengerucut. “Kakek sudah keterlaluan. Dia tidak punya hak mengintimidasi temanku.”“Dia cuma mau ‘mengundang’ku, katanya.”Selina mendengus kecil. “Undangan paksa, maksudnya. Aku tahu cara kakek. Kalau kau ikut mereka, kau akan dibawa ke restoran mewah lalu diberi ‘pilihan’ yang sebenarnya bukan pilihan.”Bhumi tersenyum masam. “Kau kenal betul kakekmu.”“Karena aku sudah melihatnya melakukan hal yang sama pada banyak orang.” Selina menepuk setir dengan jemari lentiknya. “Tapi kali ini berbeda. Aku tidak akan diam.”Mobil berbelok ke arah kontrakan B

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 23.

    Pasar antik di pagi hari selalu punya ritme tersendiri. Pedagang yang menggelar lapak sejak subuh, pembeli yang datang dengan mata jelalatan mencari harta terpendam, dan aroma khas campuran debu kayu tua, dupa, serta sedikit anyir dari sungai kecil di belakang area. Bhumi menyukai suasana ini. Baginya, pasar antik adalah ladang emas yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang punya mata tajam. Dan Bhumi punya lebih dari sekadar mata tajam. Ia punya Mata Rubah. Hari ini ia datang bersama Janu, yang masih setengah mengantuk sambil menggenggam segelas kopi hangat dari pedagang kaki lima. Wajah Janu tampak pucat, mungkin karena semalaman tidak bisa tidur setelah pertemuan dengan Handoko. “Bhumi, kamu yakin kita aman di sini?” bisik Janu, matanya waspada ke kiri dan kanan. “Tenang saja. Handoko tidak akan berani berbuat onar di pasar umum. Terlalu banyak saksi,” jawab Bhumi santai, meskipun hatinya juga berdebar.

  • Terlahir Kembali Menjadi Raja Uang di Dunia   Bab 22.

    Bhumi berhasil kabur dari bar malam itu—tidak mudah. Citra, Selina, dan Dahayu nyaris bergadang sampai pagi hanya untuk menginterogasinya soal Sasha. Untunglah Janu jadi kambing hitam, mengaku bahwa dia yang ngajak Bhumi ke bar untuk minum. “Janu, kau memang sahabat sejati,” ucap Bhumi keesokan paginya sambil menepuk pundak Janu. “Iya, tapi sekarang aku jadi musuh tiga wanita cantik sekaligus. Hidupku taruhannya, Bum!” “Sudahlah, nanti aku traktir makan.” “Banyak?” “Seadanya.” Janu cemberut, tapi ikut juga saat Bhumi mengajaknya ke pasar antik. Masih pagi, matahari baru naik setinggi tombak. Udara masih segar, dan para pedagang mulai membuka lapak. “Kita ke sini lagi?” tanya Janu sambil menguap. “Barang antik terus? Kenapa nggak cari yang lain? Properti, saham, atau jualan cilok?” “Cilok untungnya kecil. Sini, ikut aku.” Mata rubah Bhumi sudah aktif

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status