"Beberapa dari kalian, bawa Yervan kembali ke istana. Sisanya, tunggu hingga kabut menghilang, lalu turuni tebing dan temukan mayat gadis itu. Ayahanda sudah memberi titah untuk membawanya, baik hidup atau mati," perintah Yervan.Pikir Yanuar, bila orang-orangnya berjasa dalam masalah ini, mereka akan memiliki kesempatan bagus untuk naik pangkat di masa depan. Maka dia pun berkata, "Tuan Hendra sudah berpengalaman menangani bandit gunung dan familier dengan medan ini. Kalian bisa meminta bantuan Tuan Hendra.""Baik," sahut Hadi.Hendra tiba tidak lama kemudian. Peraih juara pertama dalam ujian itu mengenakan jubah brokat merah tua, datang dengan penuh semangat dan kerendahan hati."Medan gunung ini berbahaya, belum lagi kabut yang begitu pekat. Nyawa kalian berharga. Gadis suku Surtara itu juga sudah meminum racun dan melompat dari tebing, dia mustahil selamat. Mari kita tunggu sebentar sebelum turun mencarinya," ujar Hendra."Terima kasih atas perhatian Tuan Hendra," ucap para pengawa
Gemuruh angin menyelubungi gunung.Yervan memandang wajah Harini yang memerah diterpa angin dingin. Mata gadis itu berkaca-kaca, tetapi memancarkan kehangatan. Hati lembutnya kontras dengan udara musim dingin yang membekukan."Maafkan aku," bisik Harini lagi.Saat itu, Yervan tidak peduli apa pun lagi. Dia maju, meraih tangan Harini yang sedingin es dan menggenggamnya erat. Sambil menatapnya, dia berucap dengan suara rendah, "Ikut aku pergi.""Kak Yervan, dia nggak bisa pergi bersamamu," kata Yanuar dengan seringai di wajah. "Kalau kamu tahu identitas aslinya, kamu pasti akan syok berat. Kamu pikir dia baik, tapi yang diincarnya adalah nyawamu dan nyawaku.""Apa kamu punya bukti?" tanya Yervan."Kak Yervan, dia mata-mata yang ditempatkan suku Surtara di sisimu. Namamulah yang digunakannya untuk mengirim bocoran soal ujian ke kediaman orang-orangku. Dia ingin kita saling menghancurkan. Dengan membuat kekacauan di Yardin, suku Surtara akan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang secara d
Tentu saja Zuhair yang menghabisi Bagas.Kegunaan Bagas sejak awal hanyalah untuk membuka jalan bagi orang-orang di faksi Yanuar. Setelah ujian istana berakhir, bagaimana bisa Zuhair mempertahankan orang yang mungkin menjadi ancaman di masa depan?Namun, kematian itu pun harus memberi manfaat, yakni untuk mengungkap kedok orang-orang yang memiliki niat terselubung. Tidak peduli itu Taraka maupun Yervan, siapa pun yang mencoba menjebak Yanuar, Zuhair akan mengungkapkan kebenaran dan menghukum mereka. Itu akan menjadi peringatan keras bagi yang lain.Pada akhirnya, kecurigaan Zuhair lebih berat jatuh pada Yervan. Jadi, dengan dalih menugaskannya melakukan penyelidikan, dia membuat Yervan terjebak di pengadilan tinggi. Sementara itu, Zuhair mengambil kesempatan untuk menyingkirkan orang-orang di sekitarnya.Lebih baik berhati-hati daripada menyesal. Jika Yervan memang berambisi mendapatkan takhta, menyingkirkan para orang kepercayaannya sama saja telah melumpuhkannya. Jika dia tidak mengi
Zuhair tidak menanggapi. Setelah cukup lama terdiam, dia baru berkata, "Ada yang mencurigaimu terlibat dengan suku Surtara."Yervan tertegun. Mengabaikan kakinya yang sakit, dia langsung berlutut dan berkata, "Kalau Ayahanda mencurigaiku, bunuh saja aku.""Aku nggak mencurigaimu." Zuhair membantu Yervan berdiri, lalu bertanya dengan ekspresi iba di wajahnya, "Kalau kamu nggak menginginkan takhta, kenapa kamu bisa terlibat dengan suku Surtara?"Kata-kata ini jelas menunjukkan ketidakpercayaan Zuhair padanya. Yervan mengatupkan bibir dan berucap dengan alis berkerut, "Ayahanda ....""Cari tahu kebenaran kematian Bagas sesegera mungkin. Berikan penjelasan padaku dan Yanuar. Aku sudah tua, nggak sesabar dulu lagi. Jangan membuatku menunggu terlalu lama," ujar Zuhair dengan sedikit nada sesal.Yervan samar-samar merasakan hambatan dalam penyelidikannya. Seolah-olah hanya kurang selangkah lagi dari kebenaran, tetapi dia tidak sanggup untuk melangkah maju. Seseorang pasti sengaja menghalangin
Bahkan jika ada kemungkinan kecil Hendra tidak menyukai Harini, tetapi tetap mengenalinya ... sekalipun dia curiga ada yang bermasalah dari resep titipan Eliska, hasil pemeriksaan belum tentu akan menunjukkan keanehan apa pun.Lagi pula, di mata Hendra, Yanuar dan Arjuna berada di kubu yang sama. Dia mencoba bertanya pada diri sendiri, seandainya dia tidak berniat menyelamatkan Harini dan perlu melenyapkan kecurigaan dari dirinya terlebih dahulu, apa dia akan memberikan resep itu pada Yanuar?Tidak, sebaliknya Hendra akan berpura-pura bodoh dan langsung meninggalkan resep itu di kedai teh. Sebagai orang baru, bagaimana dia bisa mengambil risiko menyinggung Kediaman Raja Kawiswara? Sekalipun ada konspirasi, dia akan berpura-pura tidak tahu untuk menghindari keterlibatan.Jika resep itu tidak diperiksa, kemungkinan keadaan akan aman terkendali. Dengan begitu banyak konflik di istana, hal ini mungkin tidak akan diusut dengan begitu detail. Namun, jika memang dilakukan penyelidikan menyelu
Harini membasahi kertas resep itu dengan tinta sebening air. Kemudian, pesan rahasia di sana perlahan terlihat.Raut wajah Harini tampak menegang sehabis membaca isinya. Setelah terdiam sebentar, dia menghancurkan kertas itu, lalu kembali memilah teh baru seperti hari-hari biasa. Seolah-olah tidak menyadari bahwa seseorang tak jauh dari sana sedang mengawasinya.....Setelah meninggalkan kedai teh, Hendra melirik sekilas resep di tangannya. Kertas resep itu tampaknya tidak berubah. Setelah memikirkannya sejenak, dia memutuskan untuk pergi ke kediaman Yanuar."Kudengar kamu pergi ke Kediaman Raja Kawiswara hari ini?" tanya Yanuar sambil meliriknya. Sejurus kemudian, dia menunduk dan menyesap teh yang diberikan Luna."Dulu ayahku pernah bekerja di bawah Raja Kawiswara. Aku pergi berkunjung juga atas permintaan ayahku," sahut Hendra dengan jujur."Waktu Provinsi Ergos dilanda kekacauan, Raja Kawiswara mengendalikan kediaman-kediaman besar di sana. Demi menjaga keseimbangan kekuasaan, kali