Share

Bab 7

Author: Citra Lestari
Banyu merasa canggung mendengar pertanyaan itu. Dia tidak pernah digoda tentang masalah asmara sebelumnya, jadi dia sangat tidak terbiasa. Namun, hal itu tidak kentara karena ekspresi wajahnya yang selalu datar.

"Aku bukan tipe orang yang akan dipengaruhi gadis cantik. Kamu tenang saja," ujar Banyu sambil duduk tegak.

Melihat sikap serius Banyu, Nindia tidak punya pilihan selain berhenti menggodanya. Diam-diam, dia mengeluh betapa membosankan kakaknya itu.

Arjuna tahu bahwa Banyu bertemu Eliska tadi, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa. Trik Eliska tidak sehebat itu hingga Arjuna perlu merasa khawatir.

Para gadis bangsawan sudah berganti pakaian untuk pesta api unggun malam itu. Meskipun tidak semewah dan seindah biasanya, pakaian mereka tetap unik, jelas merupakan buah pemikiran cermat mereka.

Eliska mengenakan pakaian pas tubuh berwarna terang. Desain aksesori rambutnya juga tidak mencolok. Penampilannya dibuat sesederhana mungkin.

"Semua tuan muda di ibu kota ada di sini. Kenapa kamu berpakaian begitu sederhana?" tanya Ayuna sambil menatap Eliska.

Eliska memang cantik natural, tetapi dengan pakaian seperti ini, dia sama sekali tidak akan menarik perhatian di tengah keramaian.

Eliska memang sengaja berdandan seperti ini supaya tidak mencolok. Sebelum dirinya bertunangan di kehidupan lampau, Eliska harus menghadapi beberapa pelamar yang tidak menyenangkan.

Salah satuya adalah Yanuar, Pangeran Keenam. Jika bukan karena pertunangannya dengan Arjuna, dia mungkin akan dipaksa menjadi selir pemuda itu.

Di antara para pangeran, saat ini hanya Yanuar yang berada di ibu kota. Dia pasti datang ke perburuan musim gugur. Eliska tidak ingin menarik perhatiannya.

"Kak Ayuna, aku datang untuk berlatih berkuda dan memanah, bukan untuk memilih pendamping," ujar Eliska sambil tersenyum.

"Nggak apa-apa kalau begitu. Mendapat terlalu banyak perhatian juga bukan hal yang baik," sahut Ayuna. "Aku harus menyiapkan para penari sebentar lagi. Aku akan mencarimu lagi setelah senggang."

Putri Keluarga Pradaya ini cukup ahli dalam musik dan tari. Setya, sang kepala keluarga bekerja di Kementerian Ritus dan bertanggung jawab atas upacara, ritual, dan sejenisnya.

Setiap kali tamu asing datang, Keluarga Pradaya selalu bertugas mengatur para penari. Kali ini, tanggung jawab diserahkan pada Ayuna.

Eliska mengangguk.

Jamuan makan dimulai pada sore hari. Para gadis bangsawan ibu kota datang dengan pesona mereka masing-masing. Begitu mereka muncul, seakan-akan ada ratusan bunga yang tiba-tiba bermekaran.

Ada Adelia yang anggun seperti bunga teratai, murni dan tanpa terkesan menggoda. Nindia yang ceria dan lincah bak bunga sepatu. Ada pula Kendhis Lawana yang cantik dan angkuh seperti anggrek. Banyak sekali gadis cantik yang berkumpul di sana.

Kemunculan mereka seketika menimbulkan kegaduhan di tengah para tuan muda yang belum bertunangan.

Giandra mencari ke sana kemari, tetapi tidak menemukan adiknya. Tiba-tiba, seseorang menarik lengan bajunya dan memanggilnya.

Giandra menunduk dan melihat seorang gadis berpakaian warna terang. Dia tidak lain adalah adik yang sedang dicarinya.

Biarpun wajah Eliska sangatlah menawan, pakaiannya begitu polos dan tidak menarik perhatian. Jika tidak memperhatikannya secara khusus, dia mungkin bisa dikira pelayan.

"Kak, apa aku boleh pinjam kuda besok?" tanya Eliska, duduk di samping Giandra.

Eliska ingin memenangkan gelar Gadis Berbakat. Medan Gunung Merobu terjal dan berliku-liku. Jika dia berlatih berkuda dan memanah dengan baik di sini, memperoleh nilai tertinggi dalam ujian seharusnya tidak akan menjadi masalah.

"Kamu nggak pandai berkuda, bahaya kalau berlatih di sini," tolak Giandra.

Eliska melirik Pradipta yang duduk tegak di seberangnya. Pemuda itu tengah menatapnya. Tatapannya begitu lekat, bahkan ada binar sayang di sana. Seakan-akan hatinya rapuh karena kehilangan sesuatu dan telah mendapatkannya kembali.

Eliska melempar senyum cerah padanya. Pradipta tertegun sejenak, lalu segera menoleh ke arah lain. Meskipun wajahnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi, telinganya terlihat sedikit memerah.

Eliska berpikir sejenak sebelum berkata, "Aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk berlatih. Kak, tolong tanyakan pada Tuan Pradipta apa dia bersedia mengajariku berkuda."

Giandra adalah seorang pejabat sipil, dia tidak ahli dalam bela diri. Di antara para tuan muda di sini, memang lebih pas untuk meminta bantuan Pradipta.

Pertama, Pradipta orang yang jujur, bukan tipe yang akan bermain-main dengan wanita. Kedua, keterampilan berkuda dan memanahnya memang sangat baik. Selain itu, Eliska juga tidak keberatan berdekatan dengannya.

Giandra sedikit dilema, tetapi akhirnya berkata, "Sebenarnya Tuan Pradipta juga menanyakan hal ini padaku. Dia bilang kalau kamu nggak mengerti sesuatu, kamu bisa tanya padanya."

Eliska sempat khawatir ada orang lain yang mendahuluinya meminta bantuan pada Pradipta. Meskipun Keluarga Bramantya bukan keluarga yang menonjol di ibu kota, Pradipta tetap sangat menarik di mata para gadis. Setelah mendengar perkataan Giandra, Eliska merasa lega.

Kaisar Zuhair dan Putri Belani tiba belakangan.

Usia Zuhair sudah di atas 50 tahun, tetapi rambutnya masih belum beruban. Sosoknya energik dan aura kaisarnya begitu mendominasi seperti dewa.

Putri Belani memiliki fitur wajah yang khas, sedikit berbeda dari orang-orang Yardin. Dia juga gadis yang sangat cantik.

Yang datang bersama mereka adalah Arjuna dan Yanuar. Keduanya adalah saudara sepupu. Ibu Yanuar, Selir Agung Marani, adalah adik Raja Kawiswara dan saat ini sangat disayangi Kaisar.

Selain para pangeran, satu-satunya yang memiliki kualifikasi untuk menemani Kaisar di acara seperti ini adalah Arjuna. Bukan tanpa alasan orang-orang berkata bahwa Raja Kawiswara adalah kerabat yang paling dihargai Kaisar.

"Yang Mulia, para gadis Yardin benar-benar secantik dewi yang turun dari surga. Aku sampai silau dengan pesona mereka," ujar Putri Belani.

"Apa pemuda di Yardin nggak tampan?" balas Zuhair sambil tersenyum.

"Itu karena aku bertemu giok murni seperti Putra Bangsawan Arjuna dan Pangeran Yanuar dulu. Biarpun yang lainnya juga tampan, mereka jadi nggak terlihat memukau," kata Putri Belani.

Putri Belani berkata begitu sambil melirik Arjuna. Pemuda itulah yang menjemputnya di ibu kota. Pada pertemuan pertama itu, bunga seperti kehilangan wanginya dan giok seperti luntur pesonanya. Daya tarik putra bangsawan itu seperti bunga plum, wangi hingga meresap ke dalam tulang.

"Karena kamu merasa keponakanku seperti giok murni, bagaimana kalau aku menjodohkanmu dengannya?" goda Zuhair sambil memandang Arjuna.

Kata-kata ini mengejutkan banyak orang. Eliska tahu bahwa sang putri ingin mencari pendamping, tetapi dia tidak menduga pilihannya akan jatuh pada Arjuna. Bahkan wajah Adelia juga sedikit memucat.

Eliska menatap Arjuna dan tidak menemukan perubahan ekspresi di wajahnya. Setelah dia memikirkannya sejenak, dia mengerti.

Raja Kawiswara memegang kekuasaan militer. Mana mungkin putranya akan diizinkan menjadi pendamping putri dari negara asing?

Zuhair hanya berkata seperti itu untuk menguji Arjuna. Dia mungkin ingin tahu pendapat pemuda itu tentang pernikahannya.

Zuhair memercayai Raja Kawiswara, tetapi dia tidak ingin ambisi Keluarga Raja Kawiswara tumbuh terlalu besar. Yang diinginkan para penguasa adalah konflik internal di antara para menterinya, bukan aliansi yang kuat.

"Apa Yang Mulia benar-benar bersedia membiarkan Putra Bangsawan Arjuna menjadi suamiku?" tanya sang putri dengan mata berbinar. Tampaknya dia menganggap serius kata-kata Kaisar.

Masih sambil tersenyum, Zuhair menjawab, "Itu tergantung keputusan Arjuna sendiri. Aku nggak bisa memaksanya."

Putri Belani menatap Arjuna dengan penuh semangat.

Arjuna berkata pada Zuhair, "Biarpun perang di Surtara sudah berakhir, masih butuh waktu hingga situasi benar-benar stabil. Ayahku belum kembali dalam kemenangan. Aku belum ingin mempertimbangkan pernikahan untuk saat ini."

Eliska sudah menduga Arjuna akan menggunakan Raja Kawiswara sebagai alasan untuk menolak. Raja Kawiswara telah memenangkan perang tahun lalu dan sekarang sedang memerintah Surtara. Kaisar tentu harus menunjukkan rasa hormatnya.

Eliska melirik Adelia lagi. Terlihat jelas bahwa gadis itu sudah merasa lebih tenang.

Putri Belani tetap ceria, sama sekali tidak terlihat sedih karena ditolak. Dia berkata, "Putra Bangsawan Arjuna, kalau kamu sudah mengenalku dengan lebih baik, kamu akan tahu betapa baiknya aku."

"Putri adalah gadis hebat yang berstatus tinggi. Hanya saja, itu bukan ambisiku," sahut Arjuna dengan sopan.

Zuhair berujar, "Karena Arjuna mengkhawatirkan urusan negara, aku nggak akan mempersulitnya. Masih ada banyak pemuda hebat di Yardin, aku akan carikan suami yang baik untuk Putri."

Jamuan makan dilanjutkan dengan pertunjukan menyanyi dan menari. Putri Belani memperagakan Tarian Pedang Belani yang sangat heroik dan berani. Orang-orang bertepuk tangan takjub melihatnya.

Saking tidak mencoloknya, Eliska yang duduk di sebelah Giandra hampir transparan. Bukan saja Yanuar, bahkan mata Arjuna yang luar biasa tajam pun tidak memperhatikannya.

Namun, Eliska tidak bisa menikmati tarian pedang Putri Belani dengan tenang. Seorang pelayan diam-diam menghampirinya dan berbisik, "Nona Eliska, Nona Ayuna mencarimu."

Melihat ekspresi panik si pelayan, Eliska tahu pasti telah terjadi suatu masalah. Dia segera mengikuti pelayan itu pergi.

Di belakang panggung, air mata Ayuna hampir tumpah. Dia berucap dengan panik, "Eli, aku harus bagaimana?"

"Kak Ayuna, ceritakan pelan-pelan. Ada apa?" tanya Eliska.

Ayuna menata emosinya, lalu menjelaskan akar permasalahan. Dia telah merancang koreografi tarian, tetapi dia melalaikan sesuatu.

Yang diperhatikan Ayuna adalah penampilan tarian itu terlihat bagus. Namun, seorang penari baru saja mengingatkan suatu hal yang sangat penting.

Salah satu segmen dalam tarian, yakni "Tubuh Giok Berbaring", hanyalah gerakan tarian biasa di Yardin. Namun, itu adalah tarian terlarang di Belani yang menyindir kebejatan keluarga kerajaan.

Jika gerakan tari ini ditampilkan di hadapan Putri Belani, seperti apa dampaknya pada kedua negara nanti? Yang jelas, Ayuna tidak akan sanggup menanggungnya.

"Tarian ini nggak boleh ditampilkan," kata Eliska dengan tenang.

Ayuna mengangguk dan berujar, "Rencananya aku mau ganti ke Tarian Tekuk Pinggang. Para penari sudah sering berlatih tarian ini, jadi nggak akan ada kesalahan. Hanya saja ... kami masih kurang satu orang."

Eliska menangkap maksud Ayuna. Dia memang bisa menarikan Tarian Tekuk Pinggang, tetapi seorang gadis bangsawan harus menjaga kehormatannya. Jika Eliska ketahuan menari dengan penari lain di acara seperti ini, reputasinya akan tercoreng. Martabat keluarga adipati juga akan terpengaruh.

Namun, Ayuna adalah calon menantu Keluarga Adipati Madaharsa. Jika Keluarga Pradaya tertimpa masalah, keluarga adipati juga akan ikut terseret.

Eliska mempertimbangkan pilihannya dalam hati. Bagaimanapun, Ayuna selalu memperlakukannya dengan baik dan tulus. Dia juga tidak akan meminta bantuannya jika tidak benar-benar terdesak.

"Kak Ayuna, ini adalah rahasia kita berdua. Kalau ada yang tanya, katakan saja aku nggak enak badan dan sedang beristirahat di tendamu," ucap Eliska.

Ayuna mengangguk, lalu berkata pada pelayannya, "Kenakan pakaian Eli dan berbaringlah di tenda. Kalau ada yang masuk, jangan bicara. Pura-pura tidur saja."

Eliska pergi ke belakang layar dan segera mengenakan kostum tari yang memang dirancang untuk menonjolkan lekuk tubuhnya. Begitu dia keluar sesudah berganti pakaian, Ayuna bahkan tersipu melihatnya.

Eliska mengikuti Ayuna mendekati para penari, lalu berlatih sebentar. Untuk menyembunyikan identitasnya dari para penari, Eliska mengenakan cadar dan tidak berbicara. Kemudian, dia mengikuti para penari naik ke atas panggung.

Posisi Eliska tidak berada di tengah-tengah, tetapi dia merasakan banyak pasang mata mengawasinya, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Eliska melirik ke arah Pradipta. Pemuda itu tengah mengernyit. Tatapan Eliska beralih ke arah Arjuna. Keduanya saling bertatapan untuk sesaat. Kemudian, dia memandang ke kursi kosong di sebelah Giandra.

Jantung Eliska berdebar-debar. Hawa dingin menjalar ke punggungnya. Namun, sekarang bukan waktunya untuk berpikir macam-macam.

Begitu musik didendangkan, Eliska mulai menari dengan gerakan anggun. Ketika dia mengangkat lengan baju dan memutar pinggangnya, tak seorang pun yang bisa mengalahkan pesonanya.

Kecantikan seorang wanita sangatlah memikat. Banyak pemuda yang matanya terpaku pada tubuh Eliska.

Di tengah tarian, Eliska bertukar posisi dengan penari di sebelahnya. Kini, dia berdiri tepat di depan Arjuna.

Eliska sedikit malu untuk menari dengan begitu sensual di hadapan Arjuna. Bahkan saat ingin membujuk pemuda itu bercinta di kehidupan lampau, dia juga tidak pernah segenit ini.

Arjuna melirik pinggang Eliska sejenak, lalu dia mengangkat gelas anggurnya. Sambil menyesap minumannya dengan tenang, matanya kembali sesekali melirik pinggang gadis itu.

Untung saja Eliska bisa menyembunyikan rasa malunya di balik cadar. Tarian itu terasa sangat panjang baginya.

Begitu sesi tarian berakhir, Eliska buru-buru kabur. Saat itu, dia tidak sengaja melihat Yanuar sedang menatapnya, tepatnya ke arah dadanya.

Yanuar adalah orang yang paling ingin dijauhi Eliska. Makin dekat seseorang dengan kekuasaan istana, makin berbahaya pula dirinya.

Di kehidupan lampau, Eliska sangat sering ditindas Yanuar. Di satu sisi, pemuda itu meremehkannya, tetapi di sisi lain dia juga memaksa Eliska menjadi selirnya.

Eliska berjalan secepat yang dia bisa.

"Para penari dari Kementerian Ritus ini menarik juga," gumam Yanuar sambil memandangi punggung para penari yang berjalan pergi.

Arjuna hanya mengelus gelasnya, tidak berkata apa-apa.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 483

    Jika penyelidikan mengungkapkan sesuatu dari kasus Bagas, Yanuar tidak akan pernah bisa membersihkan reputasinya sekalipun dia mati. Selain itu, Taraka juga tidak mungkin melepas kesempatan bagus untuk menjatuhkannya.Malam itu, Yanuar diam-diam menemui Zuhair, lalu menceritakan secara rinci segala sesuatu yang menyangkut kematian Buala."Bedebah!" maki Zuhair sambil menampar Yanuar. Matanya memelotot marah. "Kamu berani menyimpan niat seperti ini pada putri Kediaman Adipati! Kamu bahkan ketahuan oleh Arjuna. Kalau Kediaman Raja nggak memihakmu, kamu pikir bisa lolos dari bencana ini?"Yanuar berlutut diam, tidak berani bergerak. Katanya, "Aku mengaku salah.""Katakan, apa salahmu," perintah Zuhair."Aku mengincar sesuatu yang nggak seharusnya kuincar sebelum sayapku tumbuh sempurna. Sekalipun aku menginginkan Nona Eliska, sekarang bukan waktu yang tepat. Aku terlalu nggak sabar," kata Yanuar.Zuhair melirik putranya. Tipu daya adalah bagian tak terpisahkan dari konflik internal istana

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 482

    Zuhair bukan hanya sekali menyinggung tentang urusan pengangkatan putra mahkota di depan orang Kediaman Raja Kawiswara.Kediaman Raja Kawiswara mendukung Yanuar. Meski mereka tidak sepenuhnya loyal, selama dia menjadi putra mahkota, takdir mereka akan terikat. Kediaman Raja akan sepenuhnya memihak Yanuar. Lagi pula, posisi putra mahkota hanya selangkah lagi dari takhta.Mendukung orang lain akan memicu kecurigaan adanya kudeta. Kediaman Raja tidak mungkin mengambil risiko seperti itu. Selama mereka menggunakan kekuasaan militer di tangan mereka untuk melindungi Yanuar, itu akan dianggap jasa besar di mata Kaisar. Ini jauh lebih mudah daripada menanggung tuduhan berkhianat.Raja Kawiswara maupun Arjuna tidak akan mungkin mempertaruhkan masa depan Kediaman Raja."Campur tangan Kediaman Raja masih dibutuhkan dalam pengangkatan putra mahkota," ujar Zuhair.Arjuna menyahut tanpa mengubah ekspresinya, "Yang Mulia nggak perlu khawatir.""Taraka bukan satu-satunya yang harus diwaspadai," kata

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 481

    Eliska mencibir dalam hati, merasa Arjuna terlalu pintar berpura-pura. Namun, saat ini dia tidak berani mengurai pelukannya, takut jatuh bila dia melepaskannya.Arjuna adalah tipe orang yang belajar dengan cepat. Meski baru beberapa kali melakukannya, dia sudah cekatan memakaikan pakaian pada Eliska.Wajah Eliska masih merona. Bukan karena malu, tetapi karena kelelahan."Besok aku harus membawamu olahraga pagi," ujar Arjuna, teringat pada keterampilan berkuda dan memanah Eliska. Di kehidupan lampau, mungkin dia memiliki alasan egois dengan mengajari gadis itu, yakni untuk memperkuat tubuhnya.Eliska meliriknya sekilas. Di mata Arjuna, lirikan ini sarat kasih sayang dan sangat menawan."Sebaiknya Putra Bangsawan fokus bekerja saja," ucap Eliska. Setiap hari dia sudah sangat lelah, mengapa pemuda itu masih mengajaknya olahraga?"Pekerjaanku nggak banyak belakangan ini, bukannya lebih baik kalau aku lebih sering menemanimu?" balas Arjuna. Dia memikirkannya sejenak, lalu melanjutkan, "Lagi

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 480

    Sejak berdirinya Yardin, belum pernah ada insiden di mana penguji mati secara tidak wajar setelah ujian istana berakhir. Hal ini mengakibatkan seluruh istana jatuh dalam kekacauan.Namun, tampaknya ada yang sengaja menutupi masalah ini sehingga berita kematian Bagas tidak tersebar keluar."Apa Yang Mulia yang menutupi masalah ini?" tanya Eliska pada Arjuna."Yang Mulia adalah orang yang tajam dan curigaan. Dia pasti bisa menebak kalau pembunuhan Bagas itu menargetkan Yanuar atau dilakukan oleh Yanuar sendiri. Apa pun kebenarannya, dia akan melindunginya," papar Arjuna.Eliska hanya diam. Jika mengatakan Yanuar membunuh Bagas untuk menghilangkan ancaman di masa depan, sebenarnya itu cukup masuk akal. Selama Bagas hidup, kelemahan Yanuar masih tetap berada di tangan orang lain. Bukankah itu pula alasan sang Pangeran menyingkirkan Buala?Namun, Eliska tidak percaya Bagas bisa begitu lengah, terutama setelah melihat kematian Buala. Katanya, "Bagas nggak mati di kehidupan lampau."Saat ini

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 479

    "Tampaknya masalah ini hanya akan Yang Mulia anggap enteng," ujar Eliska.Bahkan jika penyelidikan membuktikan bahwa Yanuar memanipulasi ujian, Zuhair pasti akan mencari cara melindunginya.Arjuna berkata, "Mungkin ada baiknya kita menunggu perkembangan situasi sembari menguji sikap Yang Mulia. Kamu juga jangan ikut campur lagi dalam hal ini."Eliska memikirkannya sebentar, lalu bertanya, "Yang Mulia pasti sudah bertekad untuk mengangkat putra mahkota ya?""Ya, tapi itu nggak sepenuhnya buruk," sahut Arjuna.Eliska terdiam. Taraka sudah tidak memiliki peluang untuk naik takhta. Baik itu Yanuar maupun Yervan yang akan duduk di singgasana, Arjuna tetap diuntungkan. Kekuasaan di tangannya sama sekali tidak akan terpengaruh.Hanya saja, Eliska membenci Yanuar. Dia tidak ingin orang itu mendapatkan takhta. Sekalipun hanya menjadi kaisar boneka, Yanuar masih bisa hidup nyaman tanpa kekhawatiran."Aku nggak berada di pihak Yanuar. Jangan terlalu dipikirkan, aku di pihakmu. Apa pun yang terjad

  • Terlahir Kembali: Menolak Cinta Putra Bangsawan   Bab 478

    Eliska menatap pemuda yang masih bergerak di atas tubuhnya, tak kuasa untuk mengeluh dalam hati. Sudah begitu lama, apa Arjuna tidak lelah? Dia sendiri sudah letih setengah mati."Aku lelah sekali." Eliska memeluk leher Arjuna erat-erat, sengaja bertanya dengan nada manja, "Apa Putra Bangsawan nggak lelah?"Arjuna mengerjap jenaka. Dia menunduk dan mencium bibir Eliska, lalu berkata, "Panggil aku sayang dulu."Eliska memelotot. Arjuna curang sekali, mengancamnya dengan hal ini.Namun, ekspresi Eliska di mata Arjuna justru terlihat begitu manis. Seolah-olah dia sedang bermanja-manja padanya.Arjuna tidak bisa menahan diri untuk makin mencintainya. Dia berkata, "Kalau kamu memanggilku sayang, aku akan penuhi apa pun maumu.""Kamu pasti bohong," ujar Eliska, tidak memercayainya sedikit pun.Arjuna tertawa kecil dalam hati, merasa Eli sangat memahaminya. Namun, dia tetap memasang ekspresi serius saat berkata, "Mana mungkin? Aku nggak pernah berbohong pada Eli." Tentu saja, urusan ranjang a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status