Share

Bab 3

Author: Sora
Justin tertegun sejenak, melupakan apa yang semula ingin dia katakan. Jelas, dia tak menyangka orang yang lebih dulu mengucapkan kata "cerai" adalah aku.

"Yulie, ulangi sekali lagi ...."

Aku tak memberinya waktu untuk meluapkan amarah dan langsung menutup telepon. Ponselku segera bergetar liar.

[ Sudah merasa hebat sekarang, sampai berani mengajukan cerai duluan? Jangan lupa gimana kamu bersusah payah buat jadi istriku. ]

[ Janin di perutmu bukan kartu bebas mati. Saat kamu kesakitan setengah mati di ruang bersalin dan tak ada yang peduli nanti, jangan sampai merangkak kembali padaku seperti anjing. ]

[ Dan laporan di jaringan gelap itu ulahmu, 'kan? Hapus semuanya. Ada permainan yang nggak sanggup kamu mainkan. ]

Aku bahkan belum selesai membaca sisanya, sudah langsung memblokir nomor itu. Meskipun sudah mengalami pelajaran berdarah di kehidupan sebelumnya, rasa sakit karena ketulusan yang kembali diinjak-injak tetap membuat hatiku seperti disayat pisau.

Saat itu, beberapa perawat masuk untuk mengganti obat. Mereka tak memperhatikan ekspresiku, hanya mengobrol pelan.

"Aku belum pernah lihat pasangan yang lebih serasi dari pasien VIP lantai bawah itu. Katanya Pak Justin dan Bu Mikha sudah tumbuh bersama sejak kecil, seperti dongeng saja."

"Beritamu ketinggalan! Kabar terbarunya Bu Mikha alergi sinar ultraviolet, jadi Pak Justin mengganti semua jendela kamarnya dengan kaca khusus. Katanya habis banyak uang!"

"Semalam waktu aku sif, aku dengar Bu Mikha bilang dia insomnia, terus Pak Justin menggenggam tangannya semalaman .... Bikin iri sekali. Semoga aku juga bisa punya cinta seperti itu."

Aku menatap punggung tanganku yang dipenuhi bekas tusukan jarum dengan tatapan kosong. Setelah mereka pergi, barulah aku perlahan mengembuskan napas, tetapi dadaku masih terasa berat.

Menjelang sore, dokter penanggung jawab datang membawa diagnosis akhir. Trauma benda tumpul di perut menyebabkan rahimku mengalami kerusakan yang tak bisa diperbaiki. Hamil secara alami hampir mustahil lagi.

Aneh, pikiran pertamaku justru adalah kelegaan. Syukurlah, tak ada anak lagi. Anakku tak perlu lagi menderita bersamaku.

Di tengah malam yang sunyi, aku membuka ponsel untuk melihat arah opini publik. Arah angin sudah sepenuhnya berubah.

Ledakan gudang senjata menjadi "drama yang kusutradarai sendiri", hanya demi "menarik perhatian Justin".

"Istriku karena emosi nggak stabil selama kehamilan, telah melakukan tindakan nggak rasional. Atas gangguan yang ditimbulkan, aku menyampaikan permintaan maaf. Aku akan mengawasinya lebih ketat agar kejadian seperti ini tak terulang lagi."

Justin secara pribadi mengadakan rapat keluarga, menunjukkan catatan "berbagai kecelakaan selama masa kehamilanku", membuktikan bahwa itu adalah trik yang kupakai untuk berebut perhatian.

Aku tahu mulai sekarang, apa pun yang kukatakan tak akan lagi dipercaya siapa pun. Bahkan para prajurit yang dikirim untuk menjagaku di rumah sakit pun memandangku dengan hina.

Justin memang bos besar mafia yang sangat lihai. Hanya dengan beberapa kalimat, aku menjadi bahan tertawaan seluruh dunia mafia.

Aku tidak mencoba melakukan klarifikasi sia-sia. Sampai hari keluar rumah sakit, aku pun mengirim pesan singkat kepada Justin.

[ Besok jam 10 pagi, kita ketemu di kantor keluarga. Bawa notaris. Kita tanda tangan surat perjanjian cerai. ]

Saat berikutnya, panggilan langsung masuk. Suara Justin penuh ejekan. "Akhirnya nggak pura-pura mati lagi? Aku sudah memberimu kesempatan mencabut laporan di jaringan gelap itu, tapi kamu sendiri yang nggak memanfaatkannya. Sekarang setelah semuanya lepas kendali, baru ingat mau mengancamku dengan cerai?"

"Kalau bukan karena Mikha memohon untukmu, sekarang kamu sudah ada di rumah sakit jiwa. Aku tahu kamu ingin menemuiku. Aku akan datang. Pikirkan baik-baik gimana cara meminta maaf supaya aku bisa memaafkanmu."

Dia tak menunggu jawabanku, langsung memutus sambungan.

Aku tersenyum pahit. Jika agar dia memaafkanku berarti harus mengakui dosa yang tak pernah kulakukan, selamanya aku tak akan bisa membuatnya memaafkanku.

Diam-diam, aku mengambil seluruh rekaman CCTV saat Mikha menyusup ke gudang senjata, lalu menyalinnya.

Keesokan paginya, aku membawa bukti dan dokumen terkait perceraian langsung ke kantor keluarga. Namun, yang menungguku di sana bukan Justin, melainkan Mikha.

Dia bersandar miring di dinding, memainkan sebuah stempel milikku di tangannya. Melihatku masuk, senyuman penuh kemenangan merekah di bibirnya.

"Akhirnya datang juga. Sudah kubilang sejak lama, posisi Nyonya Keluarga Gumar nggak cocok untukmu. Mungkin dia sempat terpesona sesaat padamu, tapi perhatiannya akhirnya tetap akan kembali padaku."

Tatapannya jatuh ke perutku yang datar, lalu dia mengangkat alis dan pura-pura terkejut.

"Ya ampun, anak haram itu sudah nggak ada? Kasihan sekali. Di kehidupan sebelumnya dibakar sampai mati oleh ayahnya, di kehidupan ini malah mati secara nggak sengaja karena ayahnya lagi .... Dengan ibu sepertimu, dia memang ditakdirkan nggak akan pernah tumbuh besar!"

Saat mendengar itu, aku tahu dia juga terlahir kembali. Namun, aku tetap saja tak bisa menahan diri, langsung mengangkat tangan dan menamparnya.

Dia menjerit, lalu jatuh ke belakang dengan berlebihan.

"Mikha!" Justin berlari dari belakangku dan menopangnya, tak menyadari sikunya menghantamku.

Tenaganya tak besar, tetapi cukup membuatku yang berdiri di tepi anak tangga dan masih kelelahan kehilangan keseimbangan.

Dunia seketika terbalik. Tepi tangga batu yang kasar terus membentur tubuhku. Darah yang mengalir dari dahi mengaburkan pandangan.

Setelah berhenti berguling, aku terbaring di lantai dingin, mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa berhenti di sisiku.

Detik berikutnya, Justin mengangkatku dalam pelukannya. Tatapannya terpaku pada perutku yang rata.

"Anaknya mana?" Bibirnya bergetar, suaranya luar biasa serak. "Yulie, anak kita mana?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 9

    Mikha diseret dengan kasar oleh anak buah Keluarga Gumar.Katanya, dalam amarah yang meluap, Justin secara pribadi memerintahkan untuk menghukum perempuan yang telah menghancurkan segala miliknya itu. Kedua tangannya ditebas, lalu dia dilemparkan ke kawasan prostitusi.Justin mulai mencoba menghubungiku secara gila-gilaan. Bukan lagi ancaman dan perintah seperti sebelumnya, melainkan berubah menjadi permohonan yang rendah diri, terus-menerus meminta damai dan bertobat.Aku tidak pernah membalas. Semua pesan atau panggilan darinya ditolak atau dibereskan oleh orang-orang yang diatur Paman Rudy.Sampai hari itu, di depan jendela kaca besar di ujung koridor, Paman Rudy berdiri di belakangku, melapor dengan suara rendah."Nona, baru saja dikonfirmasi, Justin sudah meninggal. Dia menembak dirinya sendiri di ruang kerja rumah lama Keluarga Gumar. Di sampingnya ada sepucuk surat untuk Nona."Aku terdiam memandang pemandangan kota yang gemerlap di luar jendela. Lama sekali, baru aku menjawab p

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 8

    Rasa takut dan nyeri yang luar biasa membuat Mikha benar-benar kehilangan kendali. Dia hanya bisa menggeleng dan menjerit."Bukan aku! Itu palsu! Semua karena Yulie! Perempuan jalang itu yang mencelakaiku!"Dalam pergumulannya, karena emosi Justin terlalu meledak-ledak dan gerakannya terlalu kasar, map dokumen hitam yang sejak tadi dia genggam terlepas begitu saja, lalu terlempar dan jatuh di lantai marmer yang mengilap.Segel lilinnya retak akibat benturan, setumpuk dokumen di dalamnya meluncur keluar dan berserakan di lantai. Beberapa lembar kertas tepat melayang ke dekat kaki Justin.Secara refleks, dia menunduk. Lembar paling atas adalah salinan surat keterangan diagnosis resmi rumah sakit dan catatan operasi.[ Nama pasien: Yulie. ][ Hasil diagnosis: Pada trimester akhir kehamilan mengalami benturan benda tumpul yang keras yang menyebabkan solusio plasenta, pendarahan hebat dalam rahim, janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan setelah dilahirkan. ][ Nama operasi: Operasi se

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 7

    Pada hari pernikahan, penjagaan di dalam dan luar vila sangat ketat. Mobil-mobil mewah berderet. Para tamu terhormat berdatangan memenuhi tempat.Para wartawan media diizinkan mengambil gambar di area tertentu. Kilatan lampu kamera menyala silih berganti, menangkap sosok setiap tokoh ternama yang hadir.Tepat saat upacara pertunangan hampir dimulai, seorang pelayan yang mengenakan seragam muncul sambil membawa sebuah paket."Pak Justin, Bu Mikha." Pelayan itu sedikit membungkuk. Suaranya jelas saat berkata, "Ini adalah hadiah pernikahan yang Bu Yulie perintahkan untuk diserahkan sebelum upacara dimulai."Nama "Yulie" bagaikan batu yang dilempar ke permukaan danau yang tenang, sontak menimbulkan riuh rendah di antara orang-orang di sekitar.Wajah Justin langsung menjadi muram. Tatapannya menatap tajam kotak hadiah itu.Senyuman di wajah Mikha juga sempat membeku sesaat, tetapi dia segera menyesuaikan diri. Tangan yang menggandeng lengan Justin mengencang sedikit, bahkan membawa sedikit

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 6

    Setelah kembali ke rumah Keluarga Sutrisno, kritik dari luar tidak berhenti begitu saja.Label seperti "perempuan gila", "wanita beracun", "mantan istri kejam" melekat kuat padaku.Di ruang kerja ayahku."Ini yang kamu minta."Asisten kepercayaan ayahku, Paman Rudy, yang melihatku tumbuh dewasa, berdiri di samping sambil menambahkan dengan suara rendah, "Nona, cadangan sistem keamanan internal Keluarga Gumar, terutama rekaman inti CCTV beberapa hari sebelum dan sesudah ledakan, sudah kami pulihkan sebisanya."Soal ledakan itu, aku tidak pernah berniat membiarkannya berlalu. Di kehidupan ini maupun sebelumnya, nyawa anakku, nyawaku, setiap utang harus dibayar Justin dan Mikha."Terima kasih, Paman." Aku menyimpan berkas-berkas itu dengan hati-hati.Ayahku mengangkat cangkir teh, menyesapnya. Pandangannya tetap tertuju padaku. "Anakku, selanjutnya apa rencanamu?"Aku mengangkat kepala, menatap balik ayahku."Ayah." Suaraku tenang tetapi tegas, dengan tekad kuat. "Aku ingin menjatuhkan Ke

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 5

    Tamparannya begitu keras hingga Mikha tak sempat bereaksi. Dia langsung terhuyung mundur beberapa langkah, menutup wajahnya sambil membelalakkan mata tak percaya.Aku mengibaskan pergelangan tanganku yang sedikit mati rasa, lalu menatapnya dengan dingin."Tadi aku menahan diri karena surat perjanjian cerai belum ada di tanganku. Sekarang ...." Aku mengangkat salinan perjanjian yang menjadi milikku. "Pernikahan sudah berakhir. Kenapa aku masih harus menahan lalat sepertimu yang berdengung di telingaku?""Yulie! Kamu berani menamparku?" Mikha berteriak nyaring. Air matanya langsung mengalir. Dia menatap Justin dengan wajah penuh tangisan."Justin! Lihat dia!" Justin pun tersadar dari keterkejutannya. Wajahnya pucat karena marah. Dia lalu maju satu langkah."Yulie! Mikha ini sudah kuanggap adik, gimana bisa kamu menamparnya?" Saat itu juga, dari arah pintu terdengar derap langkah yang stabil tetapi cepat.Beberapa mobil hitam berhenti di pinggir alun-alun kantor keluarga. Pintu mobil terb

  • Terlahir Kembali: Tumbal Kekejaman Suami Bengis   Bab 4

    Aku terbaring di pelukannya. Bau darah memenuhi rongga mulutku.Justin menatap tajam perutku yang datar. Suaranya bergetar tanpa dia sadari. "Anaknya mana? Anak kita mana?"Aku menarik sudut bibirku. Suaraku sangat pelan. "Anak kita? Justin, dia sudah lama tiada, tepat pada hari ledakan gudang senjata itu."Pupil matanya menyempit tajam. Nadanya tergesa-gesa saat memotong ucapanku, "Jangan mengada-ada! Yulie, sampai kapan kamu mau bersikap nggak masuk akal begini?""Cuma karena waktu itu aku mengabaikanmu, kamu sampai semarah ini, lalu diam-diam melahirkan anak itu dan menyembunyikannya? Katakan padaku, kamu sembunyikan di mana? Apa kamu kirim ke panti asuhan?"Sambil berbicara, dia bahkan ingin mengulurkan tangan untuk menyentuh perutku. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menepis tangannya, lalu mencibir."Aku sudah bilang, anaknya mati. Kamu bicara sepanjang itu, jangan-jangan kamu nggak ingin cerai?""Mana mungkin!" Seperti kucing yang ekornya terinjak, dia langsung meninggikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status