Share

Bab 6

Penulis: Secret
Alya memperhatikan isi di layar ponsel itu dengan saksama, tanpa ekspresi sedikit pun. Sesaat kemudian, perlahan-lahan dia meletakkan ponsel itu.

"Semua ini …." Suara Alya terdengar begitu tenang. "Bukan aku yang melakukannya."

"Kalau bukan kamu, lalu siapa lagi?" Justin sama sekali tidak percaya. Nada bicaranya terdengar agresif dan menyudutkan. "Selain kamu, siapa lagi yang punya motif untuk mengincarnya seperti ini? Siapa lagi yang tega menggunakan cara sekejam ini?"

Isak tangis lirih Davina di samping mereka makin menyulut amarah pria itu.

Tiba-tiba saja, Alya merasa sangat lelah. Bahkan, untuk membela diri pun rasanya sia-sia. Alya hanya menatap lekat-lekat pria yang dahulu begitu dicintainya, melihat bagaimana pria itu menatapnya dengan penuh kebencian demi wanita lain.

Alya menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman yang begitu tipis, bahkan nyaris tidak terlihat. “Lalu kenapa?"

"Kalau begitu, sekarang kamu buat pernyataan di internet. Kasih tahu semua orang kalau semua ini cuma salah paham dan bersihkan nama Davina!" Nada bicara Justin terdengar tidak menerima bantahan.

Alya tertawa saking geramnya. Dia merasa seakan baru saja mendengar lelucon paling lucu di abad ini.

"Justin, kamu itu bodoh atau gimana?" Alya menekankan kata demi kata dengan begitu jelas. "Bukan aku yang melakukannya. Jadi, atas dasar apa aku harus bikin pernyataan?"

"Kak Justin …." Pada saat itu, suara lemah Davina yang sejak tadi terus mengekor di belakang Justin, menghentikannya tepat pada waktunya.

Davina mengenakan seragam pasien yang sederhana. Wajahnya pucat pasi tanpa darah sedikit pun. Saat melihat Alya, tubuh Davina gemetar dan refleks menyusut ke belakang. Namun, Davina kemudian berlagak tegar dengan melangkah maju satu langkah. Tubuh Davina terhuyung-huyung, seakan bisa ambruk kapan saja. “Kak Alya, kalian jangan bertengkar lagi. Semua ini salahku. Aku … aku akan pergi setelah melahirkan anak ini. Jadi, tolong jangan marah pada Kak Justin."

Hawa dingin yang menyelimuti tubuh Justin langsung mereda. Dia merangkul tubuh Davina yang tampak goyah dan hendak tumbang itu, lalu berkata dengan suara yang lembut, “Bicara apa kamu ini? Ayo, aku antar kamu kembali untuk istirahat."

"Alya, pikirkan baik-baik, lalu datanglah untuk minta maaf pada Davina. Kalau nggak, kamu akan tahu sendiri akibatnya."

Setelah berkata seperti itu, Justin tidak lagi menoleh sedikit pun. Dia lalu merangkul Davina yang sedang terisak pelan dan berbalik pergi.

Vila itu kembali hening mencekam.

Alya berdiri mematung di tempatnya untuk waktu yang lama. Kemudian, dia membungkuk, menyapu puing-puing ponsel di lantai ke dalam tempat sampah tanpa ekspresi sedikit pun.

Seakan, dia sedang membersihkan sampah yang sama sekali tidak berarti.

...

Tiga hari kemudian, adalah hari yang sudah dijadwalkan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.

Alya mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih longgar, lalu mengendarai mobilnya sendiri untuk pergi. Tak lama setelah mobilnya melaju keluar dari area kompleks vila, sebuah truk yang hilang kendali tiba-tiba menghantam keras dari arah samping.

Dunia terasa berputar hebat.

Satu detik sebelum kehilangan kesadaran, secara naluriah Alya melindungi perut bagian bawahnya.

Saat kembali terbangun, Alya berada di dalam sebuah gudang terbengkalai yang penuh debu.

Beberapa preman berpenampilan urakan sedang mengepungnya dengan tatapan mata yang tidak senonoh.

"Sudah bangun? Nyawamu tangguh juga."

Alya refleks mencoba melarikan diri. Namun, salah satu dari mereka menjambak rambutnya dan mendaratkan tamparan keras di wajahnya.

"Lari? Mau lari ke mana kamu?" Preman yang menjadi pemimpin mereka mencibir. "Bu Alya, jangan buang-buang tenaga."

Pukulan dan tendangan jatuh bertubi-tubi ke tubuh Alya. Alya melawan mati-matian, tetapi yang dia dapatkan justru pukulan yang jauh lebih beringas.

Rasa sakit yang tajam dan menusuk menjalar dari bagian perutnya. Wajah Alya langsung menjadi pucat. Dengan seluruh sisa tenaganya, Alya mendekap perutnya erat-erat dan meringkuk di lantai.

"Jangan … jangan pukul perutku …." Suara Alya bergetar, hampir seperti merintih dan memohon. "Aku mohon pada kalian … berapa pun uang yang kalian inginkan, aku bisa berikan semuanya pada kalian …."

Preman yang menjadi pemimpin itu menghentikan gerakannya sejenak. Dia berjongkok dan menepuk-nepuk wajah Alya dengan penuh minat, lalu tertawa dengan penuh kebencian. “Oh, ternyata di dalam sini ada isinya? Sayang sekali, ada orang lain yang menawarkan harga lebih tinggi darimu."

Preman itu mendekatkan mulutnya ke telinga Alya dan berbisik pelan, “Bu Alya, lain kali perhatikan. Jangan menyinggung orang yang nggak seharusnya kamu singgung."

Mata Alya langsung terbelalak. Apa itu Davina? Atau ….

Detik berikutnya, Alya dicengkeram dan diangkat dari lantai, lalu dilempar ke bawah tangga tanpa belas kasihan.

Tubuh Alya terguling-guling di atas anak tangga yang dingin. Tulang-tulangnya terasa seperti hancur inci demi inci. Rasa sakit yang luar biasa melanda seluruh tubuh Alya.

Di saat-saat terakhir sebelum kesadarannya menghilang, Alya samar-samar mendengar suara salah seorang dari preman itu sedang menelepon dengan nada tidak sabar.

"Pak Justin, semua yang Anda perintahkan sudah selesai dilakukan. Orangnya sudah dibereskan …. Benar, dijamin akan memberinya pelajaran yang nggak terlupakan dan dijamin akan membuat Bu Davina puas."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status