Share

Bab 7

Author: Secret
Saat Alya kembali membuka matanya, aroma disinfektan yang tajam menusuk hidungnya.

Dia terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tanpa sadar, Alya meraba perut bawahnya. Di sana terasa kosong. Rasa sakit yang luar biasa, seakan ada sesuatu yang direnggut paksa, mulai menjalar dari lubuk hati Alya dan langsung menyapu ke seluruh tubuhnya.

Anaknya … anaknya sudah tiada.

Air mata mengalir tanpa suara dan membasahi bantal.

Pintu ruang perawatan terbuka. Justin melangkah masuk dengan gurat-gurat merah di matanya.

Melihat Alya sudah siuman, ketegangan pada saraf Justin tampak sedikit mengendur. Justin bergegas melangkah ke samping ranjang dan bertanya dengan suara serak, "Kamu sudah bangun? Ada yang terasa nggak enak? Perlu kupanggilkan dokter?"

Alya tidak menjawab. Dia hanya menatap Justin dengan sepasang matanya yang kosong.

Justin merasa bersalah ditatap seperti itu. Tanpa sadar, dia menghindari tatapan mata Alya. Justin pun mengulurkan tangan, hendak menggenggam tangan Alya. "Alya, dengarkan aku. Aku sudah lapor polisi. Tenanglah. Siapa pun pelakunya, nggak akan pernah kulepaskan."

Alya perlahan-lahan menarik kembali tangannya, menghindari sentuhan pria itu.

Tangan Justin terpaku di udara, jakunnya naik-turun sesaat. Kemudian, Justin merendahkan suaranya agar terdengar lebih lembut, "Aku tahu kamu sedih. Aku juga sedih …. Anak itu … kita masih bisa punya anak lagi nanti. Setelah tubuhmu pulih, aku akan membawamu pergi berlibur untuk menenangkan pikiran. Ke mana pun kamu mau, kita akan …."

"Keluar!" Alya akhirnya angkat bicara.

Justin tertegun. "Alya, kamu …."

"Aku bilang keluar," ulang Alya sekali lagi. Alya bahkan tidak sudi melirik Justin sedikit pun.

Setelah itu, selama beberapa hari berikutnya, Justin datang berkunjung setiap hari.

Justin membawa tablet dan duduk di samping tempat tidur. Dengan antusias, dia memperlihatkan rencana perjalanan pada Alya, mulai dari langit biru dan laut jernih di Negara Ardan, hingga pemandangan pegunungan bersalju di Negara Serena.

"Alya, lihat yang ini, bagaimana menurutmu? Privasinya sangat terjaga dan vila di atas air yang berdiri sendiri. Kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam setiap hari, tanpa harus memikirkan apa pun …."

"Terserah saja." Pandangan Alya tetap terpaku ke luar jendela. Alya menyahut dengan sangat tidak bersemangat.

"Kalau yang ini, bagaimana? Pergi bermain ski di Negara Serena. Bukankah dari dulu kamu selalu ingin melihat gunung salju? Aku akan menyewa instruktur terbaik untuk mengajarimu." Justin tanpa lelah terus menunjukkan foto-foto itu, berusaha membangkitkan minat Alya.

"Hmm."

Senyum Justin tampak sedikit kaku, tetapi dia tetap gigih.

Sore itu, seorang pria berjas rapi baru saja meninggalkan ruang perawatan Alya. Di depan pintu, pria itu berpapasan langsung dengan Justin yang sedang menjinjing termos makanan.

Langkah Justin terhenti sejenak. Tatapan matanya yang tajam menyapu pria itu, sebelum kembali melirik ke dalam ruang perawatan. Kemudian, Justin bertanya dengan nada yang santai, "Siapa itu tadi?"

"Cuma agen asuransi," sahut Alya datar, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

Justin tidak bertanya lebih jauh. Dia melangkah masuk dan membuka tutup termosnya. Langsung saja, aroma yang familier menyeruak keluar.

"Ayo, makan supnya sedikit." Justin menyendok sup itu dan menyodorkannya ke bibir Alya. "Ini sup yang dimasak khusus oleh Davina untukmu. Katanya, sup ini bagus untuk membantu pemulihan tubuhmu."

Mendengar nama Davina, perut Alya langsung terasa bergejolak dan mual. Alya berusaha keras menahan rasa mual itu. Lalu, Alya tiba-tiba memalingkan wajahnya. "Singkirkan supnya. Aku nggak mau makan."

Justin hendak mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya berdering di saat yang tidak tepat. Di layarnya, tertera nama "Davina".

Justin pun langsung menjawabnya, "Halo Davina, ada apa? Jangan menangis, bukankah aku sedang mengurusnya? Iya, iya, baiklah, aku yang salah. Jangan marah lagi ya, aku akan segera ke sana untuk menemanimu."

Setelah menutup telepon, Justin bangkit dan bersiap untuk pergi. Akan tetapi, dia tidak lupa berpesan kepada Alya, "Jangan lupa makan supnya. Aku akan menjengukmu lagi nanti."

"Justin," panggil Alya menghentikannya, sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari balik bantal. "Tandatangani ini."

"Apa ini?" tanya Justin dengan acuh tak acuh.

"Dokumen otorisasi perusahaan. Asisten Azka mengantarkannya tadi pagi, katanya ini dokumen yang mendesak."

Justin menerima kertas itu. Tanpa melihat isinya sama sekali, Justin langsung membaliknya ke halaman terakhir dan membubuhkan tanda tangannya dengan goresan yang gagah.

Alya menatap gerakan tangan Justin yang begitu lancar itu. Senyuman sinis pun tersungging di bibirnya. "Tandatangan begitu saja tanpa melihat. Kamu nggak takut aku akan menjualmu?"

Justin tertawa kecil. Dia mendekat dan mengusap lembut rambut Alya. Gerakannya tampak begitu mesra dan alami. "Mana mungkin istriku sendiri akan mencelakaiku?"

Justin lalu membungkuk dan mengecup dahi Alya. Namun, sentuhan hangat itu justru membuat sekujur tubuh Alya membeku.

"Istirahatlah yang baik. Dokter bilang, besok kamu sudah bisa pulang dari rumah sakit. Aku sudah siapkan pesawat pribadi. Setelah ini, aku akan menemanimu dengan baik."

Pintu lalu tertutup, menghalangi segala hal yang ada di luar.

Alya mengambil surat cerai itu dan menatap tanda tangan Justin yang tergores gagah di sana, lalu tertawa sinis.

Alya lalu mengeluarkan ponselnya, mengumpulkan video-video vulgar yang membuat orang ingin muntah itu beserta tangkapan layar dari semua pesan memanas-manasi yang dikirimkan oleh Davina. Setelah itu, Alya mengemas semuanya dalam satu folder dan mengirimkannya kepada pengacara.

Kemudian, Alya mengambil koper dari lemari pakaian yang sudah dia kemas sejak lama, turun ke bawah dan masuk ke sebuah mobil yang sudah menunggunya di pinggir jalan.

Mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit. Saat berbelok di persimpangan, mobil tersebut berpapasan begitu saja dengan sebuah mobil Byron yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 23

    Setahun kemudian, di sebuah negara di Elora, di tenda pengungsi di perbatasan.Alya sedang menyeka kameranya, gerakannya tampak cermat dan cekatan."Al …. Kak Alya."Tirai tenda tersingkap, Sinta Lukmawan masuk dengan rona malu-malu, sambil membawa segelas air."Ada apa?" Alya menengadah, menunjukkan senyum yang lembut."Aku ingin berterima kasih padamu." Sinta menyodorkan gelas air itu, tatapannya penuh rasa syukur. "Kalau bukan karena Kakak menarikku tadi, aku pasti sudah tertabrak truk bersenjata itu.""Itu bukan apa-apa." Alya menerima gelas air tersebut. "Di sini, sudah seharusnya kita saling menjaga. Ingat, keselamatan adalah yang utama. Berita selamanya berada di urutan kedua setelah nyawa."Sinta menatap Alya, jari-jemarinya saling bertaut dengan gugup."Kak Alya, sepertinya Kakak nggak takut pada apa pun. Kenapa Kakak memilih untuk datang ke sini?"Gerakan Alya yang sedang menyeka kamera pun terhenti sejenak.Alya mengangkat pandangannya, menatap gadis di hadapannya dengan sak

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 22

    Di Kota Adora, di kantor CEO, di lantai teratas Grup Fabian.Di balik jendela besar setinggi langit-langit, terbentang pemandangan malam kota yang megah dan gemerlap. Namun, suasana di dalam ruangan justru terasa dingin dan sunyi. Justin berdiri sendirian di depan jendela, membelakangi kantor yang luas dan kosong itu.Di layar lebar yang ada di hadapannya, sedang berlangsung siaran langsung upacara penghargaan dari Negara Junar tanpa suara. Justin mematikan suaranya, seakan hanya ingin memastikan sesuatu melalui gambar saja.Dia menatap wanita di layar itu, sosok yang terasa begitu familier, tetapi sekaligus asing baginya. Justin memperhatikan langkah kaki wanita itu yang tenang dan mantap, serta menyimak setiap kata yang diucapkannya. Jantung Justin seakan diremas perlahan, tetapi kuat oleh tangan tak kasat mata, terasa begitu sakit hingga hampir mati rasa.Sudah lima tahun.Justin tidak pernah lagi mengganggunya, seakan sedang memenuhi janji untuk melepaskannya saat itu.Namun, Justi

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 21

    "Al, kenapa bengong? Cepat sini lihat! Pak Raka bawa barang bagus!" teriak seorang rekan kerja dari depan pintu.Alya tersadar dari lamunannya, melemparkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan keluar sambil tersenyum.Di halaman, Raka sedang menurunkan beberapa kotak roti segar dari sebuah mobil jip.Di tempat yang kekurangan pasokan logistik seperti ini, roti segar benar-benar lebih berharga dibanding emas."Wah, semangka! Pak Raka, dari mana kamu dapat ini?""Ya ampun! Rasanya sudah hampir setahun aku nggak lihat semangka!"Semua orang bersorak kegirangan.Raka tersenyum. Dia lalu membelah salah satu semangka dengan belati, memperlihatkan daging buahnya yang merah segar."Pemberian seorang teman lokal. Semuanya kebagian, ayo cepat makan."Alya juga mendapatkan sepotong.Alya menggigitnya sedikit, lalu sari buah yang dingin dan manis itu seketika meledak di dalam mulutnya, memberikan rasa manis yang meresap hingga ke dalam hati.Alya memandangi wajah-wajah di sekelilingnya ya

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 20

    Malam itu, Justin bermimpi sangat aneh.Dia bermimpi Alya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.Justin bermimpi, wanita itu bersimbah darah dengan tubuh yang terasa dingin. Namun, dia masih menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk berkata kepada Justin, "Justin, kita … cerai saja. Di kehidupan selanjutnya, aku nggak mau ketemu kamu lagi."Justin terbangun dari mimpi itu dengan terkejut. Sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Di luar jendela, bulan di Negara Naura tampak besar dan bulat, tetapi membawa rona warna yang dingin dan penuh kesedihan.Justin berjalan ke tepi jendela, mengambil teropong dan memandang ke arah pos kecil wartawan yang lampunya masih menyala di kejauhan.Justin tahu, Alya ada di sana.Di dunia yang tidak bisa lagi dia masuki, Alya sedang berjuang untuk hidup dengan penuh kebebasan.'Lepaskanlah.'Sebuah suara berbisik lirih di dalam hati Justin.'Kamu sudah menghancurkan separuh hidupnya, haruskah kamu juga menghancurkan masa depannya?''Kamu nggak bis

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 19

    Sementara itu, di sisi lain, setelah mengalami penolakan, Justin tidak lantas meninggalkan Negara Naura.Justin mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menyewa sebuah rumah di kota kecil yang letaknya tidak jauh dari pos wartawan, lalu memerintahkan Pak Azka untuk pulang ke tanah air."Selidiki pria bernama Raka itu, sedetail mungkin."Melihat ekspresi Justin yang tampak muram, Pak Azka tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung terbang kembali ke dalam negeri malam itu juga.Tak lama kemudian, informasi mengenai Raka pun dikirimkan, lengkap dengan foto tunangannya.Justin menatap kedua orang yang sedang tersenyum manis di dalam foto itu. Namun, bukannya marah, Justin malah tertawa."Punya pertunangan di dalam negeri?" gumam Justin pada dirinya sendiri, sementara kilatan kegembiraan yang aneh melintas di matanya.Justin merasa sudah memahami sesuatu.Alya sedang berakting. Dia sengaja mendekati Raka dan sengaja bersikap begitu dingin pada Justin, semua itu hanya untuk memancing

  • Terlahir Kembali Untuk Jadi Jurnalis Perang   Bab 18

    Alya tertegun untuk sesaat. Dia tidak mengerti mengapa Raka tiba-tiba menanyakan hal itu.Tanpa menunggu jawaban Alya, Raka melanjutkan kata-katanya, "Ketika seseorang berjalan melewati jembatan gantung dengan perasaan was-was, detak jantungnya akan bertambah cepat tanpa dia sadari. Kalau pada saat itu dia kebetulan bertemu dengan orang lain, dia akan keliru menganggap debaran jantung akibat situasi tersebut sebagai perasaan berdebar karena jatuh cinta pada orang itu."Suara Raka begitu tenang, seakan sedang memaparkan sebuah konsep psikologi biasa. Akan tetapi, Alya langsung bisa memahaminya dalam sekejap.Kedua pipi Alya memanas tanpa bisa dikendalikan.Ternyata, Raka tahu segalanya.Raka tahu bahwa Alya pernah memiliki perasaan yang tidak seharusnya terhadapnya. Raka tahu setiap perubahan emosi kecil yang dirasakan wanita itu. Namun, Raka memilih untuk tidak membongkarnya, apalagi bersikap ambigu. Sebaliknya, Raka menggunakan cara yang sopan dan lembut seperti ini untuk menyadarkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status