Mag-log inMalam itu, Nadia tidak bisa tidur.Lampu apartemen sudah dipadamkan sejak satu jam lalu, tirai ditutup, suara kota diredam kaca tebal. Tapi gelap tidak pernah benar-benar gelap ketika pikiran menolak diam.Ia berbaring menyamping, menatap bayangan samar di langit-langit.Setiap kali ia memejamkan mata, muncul kembali wajah-wajah itu—mahasiswa yang menatapnya dengan takut, petugas yang menuliskan namanya di map, komentar anonim yang menyebutnya bahaya.Tangannya mengepal di bawah selimut.Hangat itu masih ada.Tidak menghilang.Tidak melemah.Seperti denyut kecil yang menunggu diperhatikan.Dari ruang tengah, terdengar suara langkah pelan. Kevin.Ia belum tidur sejak pagi. Nadia tahu itu tanpa harus melihat jam atau membaca bahasa tubuh. Ia bisa merasakannya—ketegangan di udara berubah setiap kali Kevin mendekat, seperti medan yang saling menyesuaikan.Kevin berhenti di ambang pintu kamar.“Nad,” panggilnya pelan. “Lo bangun?”Nadia membuka mata. “Iya.”Kevin masuk tanpa menyalakan lam
Pagi itu, nama Nadia Mahendra sudah tidak lagi milik Nadia.Ia menyadarinya saat membuka HP.Bukan satu notifikasi. Bukan dua.Puluhan.Pesan masuk dari nomor tak dikenal. Grup kampus yang biasanya sepi mendadak aktif. Mention bertubi-tubi di media sosial. Bahkan akun gosip nasional yang biasanya membahas selebriti—muncul di layar ponselnya.Tangannya berhenti bergerak.Judul video itu terpampang jelas:“MAHASISWI ANGKAT LEMARI BESI SAAT KEBAKARAN — MANUSIA ATAU BUKAN?”Nadia menutup mata.Detik berikutnya, video itu sudah diputar jutaan kali.Ia tidak perlu menontonnya untuk tahu isinya. Ia sudah mengingat setiap detik kejadian itu dengan terlalu jelas panas, asap, berat yang tiba-tiba tidak terasa berat.Komentar-komentar bergulir cepat:Itu pasti editan.Nggak mungkin manusia biasa.Ini hoaks buat nutupin kelalaian kampus.Cewek ini bahaya.Bahaya.Kata itu menusuk lebih dalam dari hinaan mana pun.“Nad.”Suara Kevin memecah keheningan ruangan.Ia berdiri di dekat jendela apartemen
Kampus tidak pernah sebising itu sebelumnya.Sirene pemadam masih meraung di kejauhan, bercampur dengan suara langkah tergesa, tangis tertahan, dan bisik-bisik yang menyebar lebih cepat daripada api yang baru saja dipadamkan. Asap tipis masih menggantung di udara, membuat mata perih dan dada terasa sesak.Nadia berdiri di tengah kekacauan itu.Tubuhnya utuh. Tidak terluka. Tidak terbakar.Tapi ia tahu—sesuatu di dalam dirinya sudah patah.Tangannya masih gemetar. Bukan karena takut. Melainkan karena ingatan akan sensasi itu belum pergi. Sensasi ketika lemari besi itu terangkat, ringan—terlalu ringan—di tangannya.Bukan dorongan adrenalin.Bukan keberanian sesaat.Itu terasa… alami.Kevin berdiri di depannya, bahunya sedikit membungkuk seolah melindungi. Matanya tidak lepas dari wajah Nadia, seakan takut ia akan menghilang jika dilepas sedetik saja.“Nad,” panggilnya pelan. “Liat gue.”Nadia menatap Kevin.Di mata itu tidak ada kebingungan. Tidak ada kaget.Yang ada hanya satu hal: ke
Hari itu seharusnya berjalan normal.Itulah yang Nadia yakinkan pada dirinya sendiri sejak pagi. Ia bangun, mandi, berpakaian, dan berangkat ke kampus dengan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada alarm darurat. Tidak ada mimpi aneh. Tidak ada pesan misterius di HP-nya.Namun tubuhnya tahu kebenaran sebelum pikirannya siap menerimanya.Sejak membuka mata, ada sesuatu yang… bergeser.Bukan sakit. Bukan lemah. Melainkan terlalu sadar.Nadia bisa merasakan detak jantungnya sendiri dengan detail yang mengganggu. Ia tahu kapan napasnya sedikit lebih cepat, kapan suhu tubuhnya naik setengah derajat. Bahkan langkah kakinya terasa presisi—terlalu presisi, seolah tubuhnya mengikuti pola yang sudah dihitung sebelumnya.Di dalam bus kampus, ia duduk dekat jendela.Dan tanpa sengaja—ia tahu.Rem bus akan bermasalah di persimpangan depan.Bukan rusak. Tapi terlambat satu detik.“Nggak…” gumamnya.Detik berikutnya, bus mengerem mendadak. Penumpang tersentak. Seorang mahasiswi
Pagi datang tanpa peringatan.Cahaya matahari menyusup lewat celah tirai apartemen Kevin, jatuh tepat di wajahnya. Ia mengerjap pelan, kepala terasa berat, tubuhnya seolah baru saja ditarik keluar dari laut dalam. Untuk beberapa detik, ia lupa di mana dirinya berada—sampai aroma kopi yang belum diminum semalam menyentuh inderanya.Dan suara napas pelan di dekatnya.Kevin menoleh.Nadia duduk di lantai, bersandar pada sisi sofa, jaketnya masih ia pakai. Kepalanya sedikit tertunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia tertidur dalam posisi yang jelas tidak nyaman, seolah takut bergerak terlalu jauh.Kevin langsung bangkit terlalu cepat.Dunia berputar.Ia terpaksa berpegangan pada sandaran sofa, rahangnya mengeras menahan mual yang naik tiba-tiba. Denyut di kepalanya kembali, lebih tajam dari malam sebelumnya, seperti pengingat keras bahwa keputusan kemarin belum selesai menagih harga.“Nad…” suaranya serak.Nadia tersentak bangun. Matanya langsung fokus, seolah tubuhnya sudah siap se
Malam itu, Nadia tidak langsung pulang ke kos.Ia duduk lama di dalam kamar, lampu dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang membelah ruangan menjadi dua warna—gelap dan abu-abu. Pesan Kevin masih terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang menolak berhenti.Mulai malam ini, apa pun yang terjadi sama gue… itu pilihan gue. Bukan sistem.Kalimat itu seharusnya membuat Nadia lega.Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya.Dadanya terasa berat, bukan oleh takut kehilangan, melainkan oleh rasa bersalah yang perlahan merayap. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya apakah kedekatannya dengan Kevin membuatnya terperangkap. Baru sekarang ia menyadari—Kevin juga sedang terjebak, dan memilih cara paling berbahaya untuk keluar.Nadia bangkit dari kasur, mengambil jaket, dan menatap bayangannya di cermin.“Aku nggak bisa cuma diam,” katanya pada diri sendiri.Begitu melangkah keluar kamar, sensasi itu datang lagi.Bukan sakit.Bukan pusing.Melainkan tarikan halus, seperti benang yang ditarik p







