Mag-log inPagi Senin, kampus sudah seperti sarang lebah yang diganggu.
Rumor tentang “Kevin Aprilio Cathy pacaran sama anak beasiswa miskin” sudah jadi bahan gosip nomor satu. TikTok kampus penuh video edit Nadia sama Kevin di pasar, ditambah backsound lagu “Cinderella” versi slow yang bikin orang pengen muntah manis. Nadia nggak tidur semalaman. Matanya bengkak. Dia berdiri di depan gate lagi, tapi kali ini sendirian. Kevin belum datang. Jam 7.25, Porsche midnight blue muncul. Kevin turun buru-buru, muka cemas banget. “Nad!” Nadia nggak senyum. “Kita bicara. Sekarang.” Kevin angguk cepat. “Mau ke mana?” “Rooftop gedung fakultas. Kosong pagi ini.” Mereka naik lift dalam diam. Di rooftop, angin Jakarta kenceng banget, rambut Nadia beterbangan. Nadia langsung buka suara, suaranya dingin. “Kevin, gue serius nanya. Lo beneran suka sama gue, atau cuma lagi cari mainan baru?” Kevin melotot. “Nad, lo pikir gue segitu rendahnya?” “Orang-orang bilang gitu. Clarissa bilang gitu. Lo sering ganti cewek katanya. Lo kaya, lo ganteng, lo bisa dapet siapa aja. Kenapa harus gue? Gue nggak punya apa-apa.” Kevin maju selangkah, tatap mata Nadia dalam-dalam. “Karena lo beda. Lo nggak liat gue sebagai ‘Kevin pewaris Cathy Group’. Lo liat gue sebagai Kevin yang bodoh, yang nunggu hujan-hujanan, yang nggak bisa bedain tomat busuk. Dan gue suka banget rasanya jadi Kevin yang biasa di depan lo.” Nadia diam. Matanya mulai basah lagi. “Gue takut, Vin. Gue takut lo pergi pas gue udah sayang beneran.” Kevin genggam tangan Nadia erat-erat. “Gue nggak akan pergi. Gue janji. Kalau lo mau bukti, gue kasih bukti sekarang.” Dia ambil HP, buka I*******m di depan Nadia, lalu… unfollow semua cewek yang pernah deket sama dia, termasuk Clarissa, Bella, Tasha, Lily. Langsung di story: “Taken. Jadi tolong jangan ganggu lagi.” Nadia bengong. “Lo gila? Mereka bakal marah banget.” “Biarin. Gue cuma mau lo.” Lalu Kevin lakukan hal yang bikin Nadia hampir pingsan. Dia tarik Nadia pelan, peluk pinggangnya, terus… cium kening Nadia lama banget. “Nadia Putri Mahendra, gue sayang banget sama lo. Dari pertama kali lo tolak gue di kantin. Dari situ gue udah jatuh.” Nadia nggak bisa nahan lagi. Dia balas peluk Kevin erat-erat, nangis di dada cowok itu. “Gue juga sayang sama lo, idiot.” Mereka pelukan di rooftop, angin berhembus, dan untuk pertama kalinya dunia terasa sempurna. Tapi… drama nggak pernah selesai. Siang hari, Clarissa cs sudah naik darah. Clarissa dapet info dari anak buahnya: ada foto Nadia sama Kevin di rooftop lagi berpelukan (ada yang intip dari gedung sebelah). “Gue nggak terima!” jerit Clarissa di lounge VIP. “Dia harus dihancurkan.” Bella nyengir jahat. “Gue punya ide.” Mereka cari info tentang Nadia. Ternyata ibunya Nadia guru SMA negeri, ayahnya meninggal, ada utang rumah sakit dulu yang belum lunas. Mereka nemu foto lama Nadia pas SMP: gemuk, berkacamata tebal, jerawatan. Malam itu juga, akun gosip kampus @une_spill tea posting: [Foto Nadia SMP yang jelek + foto keluarga miskin] “Gue punya tea panas. Si ‘pacar’ Kevin Aprilio Cathy ternyata dulu begini loh. Dari kampung, ibu guru miskin, masuk UNE cuma beasiswa. Matre level dewa confirmed. Kevin kasihan pasti.” Dalam 30 menit, postingan itu 50 ribu likes, ribuan komentar jahat. Nadia buka HP di kos, langsung nangis sesenggukan. Ibu telpon. “Nak, kamu kenapa? Mama liat postingan aneh di F******k…” Nadia cuma bisa nangis. Kevin lagi di penthouse pas Ray kirim link. Muka Kevin langsung gelap banget. Dia langsung telpon Clarissa. “Lo yang lakuin ini?” Clarissa ketawa manis di ujung telpon. “Bukti aja, Vin. Biar lo sadar dia nggak level.” “Lo udah keterlaluan, Clar.” Kevin langsung gerak. Dia telpon papanya (CEO Cathy Group), minta tolong “bersihin” semua postingan itu dalam 1 jam (dan memang bisa, duit berbicara). Lalu dia naik mobil, nyetir sendiri ke kosan Nadia malam-malam. Pas sampai, Nadia lagi duduk di tangga kos, muka bengkak. Kevin langsung peluk Nadia di depan semua anak kos yang ngintip. “Maaf ya, Nad. Ini salah gue.” Nadia nangis di pelukan Kevin. “Mereka bilang gue matre, gue jelek, gue nggak pantas…” Kevin angkat dagu Nadia, tatap mata. “Dengar gue. Lo paling cantik buat gue. Dulu, sekarang, nanti. Dan mulai besok, gue bakal bikin semua orang yang nyakitin lo nyesel.” Malam itu Kevin nganter Nadia masuk kamar, tungguin sampe tidur, lalu pulang. Tapi sebelum pulang, dia posting di I* pribadinya (1.5M followers): Foto tangan dia sama Nadia saling genggam (cuma tangan, tapi semua tahu itu Nadia). Caption: “Buat yang suka ngebully pacar gue: Gue sayang Nadia Putri Mahendra. Bukan karena apa-apa, tapi karena dia Nadia. Kalau ada yang ganggu dia lagi, gue nggak akan diam. Titik.” Pagi berikutnya, kampus gempar. Clarissa cs panik. Postingan gosip sudah ilang semua. Akun @une_spill tea bahkan di-suspend. Kevin masuk kampus naik Porsche, turun, langsung jemput Nadia di kosan pake mobil yang sama (nggak peduli lagi orang bilang pamer). Mereka jalan bareng ke kelas, tangan saling genggam di depan ratusan orang. Clarissa cs cuma bisa melotot dari jauh. Nadia yang biasanya cuek, sekarang senyum-senyum kecil. Kevin cium pipi Nadia di depan kantin (semua orang pada jerit). “Mulai hari ini, lo resmi pacar gue ya?” Nadia angguk malu-malu. “Iya, idiot.” Dan untuk pertama kalinya, Nadia yang inisiatif cium bibir Kevin sekilas. Seluruh kantin langsung riuh. Ray sama Dito tepuk tangan dari jauh. Ray: “Akhirnya bro lo menang juga!” Dito: “Gue menang taruhan 5 juta!” Clarissa cs pergi dengan muka pucat. Tapi… ini baru awal. Karena malam itu, ada pesan masuk ke HP Nadia dari nomor tak dikenal: “Kamu pikir udah menang? Tunggu aja. Aku punya rahasia yang bakal bikin Kevin benci kamu selamanya. – Seseorang yang dulu lo sakiti.” Nadia bengong baca pesan itu. Siapa?Malam turun lebih cepat dari biasanya.Lampu-lampu taman kampus menyala satu per satu, namun cahaya kuningnya yang temaram tidak mampu mengusir rasa berat yang menggantung di udara. Nadia duduk di bangku kayu fakultas, lututnya ditarik rapat ke dada. Tatapannya kosong, tertuju pada kolam kecil yang airnya tampak mati, nyaris tak bergerak sedikit pun.Telapak tangannya masih terasa… berdenyut.Bukan rasa sakit fisik, bukan pula rasa panas. Melainkan seperti sisa gema dari sebuah energi yang seharusnya tidak ia miliki. Sensasi itu terus bergetar, seolah memperingatkannya bahwa ia baru saja melewati batas yang terlarang.Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya, bersandar pada batang pohon besar yang kokoh. Ia mencoba terlihat santai dengan menyilangkan tangan, namun napasnya belum sepenuhnya stabil. Pukulan terakhir yang ia lepaskan di gedung tadi ternyata menguras lebih banyak energi daripada yang ia perkirakan.“Kau oke?” tanya Kevin akhirnya. Suaranya rendah, memecah kesunyian y
Kampus tidak pernah terasa setegang ini.Langit masih betah dengan mendungnya, namun udara terasa jauh lebih berat—seperti tekanan atmosfer sesaat sebelum badai besar meluluhlantakkan segalanya. Mahasiswa berlalu-lalang seperti biasa; tertawa, mengeluh soal tugas, atau memikirkan hal-hal sepele. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tepat di bawah permukaan rutinitas yang membosankan itu, sesuatu yang purba sedang merayap.Dan Nadia bisa merasakannya.Bukan seperti sinyal mekanis dari sistem Astraea yang lama. Bukan pula tarikan paksa yang menyakitkan. Ini lebih seperti… sebuah tekanan. Layaknya berat air yang menekan gendang telinga saat menyelam terlalu dalam.“Kevin,” bisik Nadia saat mereka melewati lorong fakultas yang mulai sepi. “Mereka sudah di sini.”Kevin tidak menoleh secara drastis, namun langkahnya otomatis melambat setengah detik—jarak yang cukup bagi pria itu untuk menyesuaikan posisi tubuhnya guna melindungi Nadia.“Berapa orang?” bisiknya hampir tak terdengar.Nadi
Efeknya tidak datang seperti ledakan besar yang mengguncang bumi.Ia datang seperti rangkaian kesalahan kecil yang terus diabaikan—sampai semua orang tersadar bahwa fondasi realita telah bergeser, dan tidak ada jalan untuk kembali.Pagi itu, frekuensi berita nasional mendadak kacau. Di layar televisi, seorang presenter tersenyum ramah, membaca naskah dengan intonasi stabil—lalu tiba-tiba ia mematung. Matanya menatap kosong ke arah kamera, satu detik terlalu lama, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.“Maaf,” ucapnya akhirnya sambil tertawa kecil yang terdengar ganjil. “Teksnya… hilang begitu saja.”Di belahan kota lain, sistem kendali lalu lintas Jakarta mendadak kehilangan logika. Lampu hijau menyala di semua arah selama tiga puluh detik penuh, menciptakan simfoni klakson dan derit rem yang memekakkan telinga, sebelum akhirnya seluruh sistem mati total. Di rumah sakit-rumah sakit besar, monitor pasien berhenti bersinkronisasi; bukan karena kerusakan perangkat, melainkan karena pola
Gelap.Bukan jenis gelap yang menenangkan, bukan pula sunyi seperti tidur tanpa mimpi. Kegelapan ini… berisik.Nadia merasa dirinya terombang-ambing di sebuah ruang tanpa arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Hanya ada denyut konstan—seperti gema detak jantung raksasa yang tidak sinkron. Setiap denyut itu membawa rasa nyeri yang ganjil. Rasa sakit yang tidak menyerang tubuh fisiknya, melainkan merobek ingatannya.Tiba-tiba, potongan-potongan visual yang bukan miliknya membanjiri kesadaran Nadia.Ruangan putih yang steril. Tabung kaca yang dingin. Sosok Kevin… yang jauh lebih muda. Kevin yang tampak terlalu tenang, terlalu patuh, seolah jiwanya sudah dikosongkan.“Ini bukan aku…” bisik Nadia, namun suaranya tenggelam dalam kebisingan frekuensi.Lalu, sebuah suara menembus kekacauan itu. Pecah, penuh tekanan, namun sangat familiar. —Nadia. Dengar gue.Kevin. Suara itu tidak masuk melalui telinga, melainkan bergema langsung dari dalam inti kesadarannya.“Aku di mana?” balas Nadia—atau s
Pagi datang tanpa membawa rasa lega.Nadia terbangun dengan kelopak mata yang sembab dan kepala yang terasa seberat timah, seolah tidur semalam hanyalah perpanjangan dari mimpi buruk yang nyata. Langit di balik jendela berwarna abu-abu kusam; mendung menggantung rendah seperti beban raksasa yang hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh menghantam bumi.Ia bangkit perlahan, menatap ponsel yang tergeletak bisu di atas meja. Tidak ada pesan baru. Justru kesunyian itulah yang membuat dadanya terasa semakin sesak, mencekik setiap oksigen yang mencoba masuk.Nadia menarik napas panjang, mencoba berdiri—namun tiba-tiba, dunianya bergeser.Bukan serangan yang deras. Bukan pula gelombang yang menyeluruh. Hanya sebuah getaran kecil yang sangat spesifik dalam kesadarannya. Kevin.Bukan rasa sakit yang ia rasakan dari Kevin. Bukan pula bahaya fisik. Melainkan sebuah… jarak. Perasaan seolah sesuatu yang terikat kuat mulai merenggang dan menjauh.Nadia membeku. “Kevin…” bisiknya lirih.Kevin berdir
Malam turun tanpa suara.Tidak ada hujan kali ini. Tidak ada angin yang berembus. Kota justru terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang tidak wajar, seperti napas yang tertahan terlalu lama di bawah air. Nadia duduk di tepi ranjang kosnya yang sempit. Lampu kamar sengaja ia matikan; hanya cahaya dari ponsel di genggamannya yang berpendar redup, menyinari wajahnya yang kuyu.Nama Kevin masih terpampang di layar.Mereka baru saja berpisah satu jam yang lalu. Pertemuan itu tidak diakhiri dengan pertengkaran hebat, pun tidak ada kata-kata perpisahan yang puitis. Justru kesunyian dan pengertian yang dipaksakan itulah yang terasa menyayat.Nadia menghela napas panjang, mengunci layar ponselnya, lalu memejamkan mata. Dan dunia… kembali mengetuk jiwanya.Namun kali ini, rasanya berbeda. Bukan lagi arus luas yang menghanyutkan, bukan pula gelombang kota yang menderu. Melainkan titik-titik kecil yang tajam—terlalu banyak, bergerak terlalu cepat.Ia bisa merasakan seorang anak kecil yang meng







