LOGINTebak siapa? hihi...
“Sebentar itu berapa lama, Tuan?” tanya Bianca. Padahal, Liam hanya ingin menguji sesuatu. Kesulitan tidur akibat trauma masa kecil membuatnya harus mengonsumsi obat agar bisa mengistirahatkan tubuhnya. Namun, saat berada di dekat Bianca, entah mengapa ia merasa sedikit lebih tenang dan nyaman. Tak butuh waktu lama untuk membuktikannya. Liam benar-benar tertidur pulas dengan napas yang mulai teratur. Tak ada jawaban atas pertanyaan Bianca. Hanya embusan napas hangat dan teratur yang terasa di kulit wanita itu. Wajah Liam bahkan sudah tenggelam di ceruk leher Bianca. Jangan tanyakan bagaimana keadaan Bianca saat ini. Jantungnya berdetak tak karuan. “Tuan?” Tidak ada jawaban. Bianca akhirnya memberanikan diri mendorong tubuh Liam perlahan agar lelaki itu bersandar pada sandaran sofa. Bianca mengembuskan napas lega. Ia menoleh, memperhatikan wajah lelah Liam. Keringat tampak membasahi pelipis lelaki itu, sementara dahinya masih sedikit berkerut meski sedang terlelap. Tangan Bianca
“Seberapa dekat kamu dengan saudara saya, Bianca?” tanya Liam, menuntut jawaban yang pasti. “Tidak seperti yang Tuan pikirkan. Kami sesekali hanya pergi bersama untuk menikmati kopi di Montclair. Adrian–ehem, maksud saya, Tuan Adrian meminta saya merekomendasikan kopi terbaik di kota ini," jelas Bianca. Bianca tidak tahu saja Liam sempat mengeraskan rahangnya mendengar nama Adrian meluncur santai dari mulut wanita itu meski sempat dikoreksi. “Oh, ya? Kamu cukup tahu banyak tentang kopi di kota ini?” tanya Liam, nada suaranya sedikit berwarna, tidak sedingin sebelumnya. Bianca yang duduk di sofa di samping Liam pun sampai mengangkat pandangannya menatap lelaki itu dengan sedikit bingung. “Saya… saya memang suka kopi. Saya juga suka berkeliling untuk mencobanya," jawab Bianca terbata-bata. “Kalau begitu, bawa saya ke tempat yang menjual kopi terenak,” pinta Liam, membuat Bianca menegak ludahnya. “Tuan sudah pernah mencobanya. Kopi di tempat saya bekerja paruh waktu itu yang terba
Tidak setara. Bianca tidak terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Liam hari itu karena memang begitu adanya. Bianca tidak terusik. Namun entah mengapa, ada sensasi aneh yang merambat di dadanya saat membaca email dari Tuan Besar Hayes malam ini. Di layar tabletnya terpampang deretan biodata wanita cantik, cerdas, dan berkelas. Wanita-wanita yang tentunya setara dengan Liam. Bianca merasa pekerjaannya makin ke sini makin aneh saja. Ia mengempas tablet ke sisi kasur, lalu menyandarkan tubuhnya dengan lemas pada sandaran tempat tidur. “Ternyata bapak dan anak sama saja,” gumamnya. Kalau Liam memintanya datang ke apartemennya setiap pagi untuk menyiapkan segala keperluannya. Tak beda dengan Tuan Besar Hayes yang memintanya memilih kandidat yang tepat untuk menjadi pasangan putra bungsunya. “Ini buah jatuh sepohon-pohonnya. Memangnya aku ini Tuhan sampai jodoh buat Tuan Liam Hayes segala aku yang atur? Dunia makin ke sini makin ke sana aja. Aku sendiri jomblo sejak lahir, malah d
Bianca benar-benar tidak jauh-jauh dari Liam. Dia memilih duduk di kafetaria kantor yang berada satu lantai dengan aula pertemuan. Bianca bekerja dari kafetaria sambil ditemani dua potong roti dan secangkir kopi. Entah mengapa, kalimat Liam sebelumnya masih mengusik pikirannya. Cara lelaki itu mengucapkannya terdengar seperti sebuah permohonan, jarang sekali Bianca dengar. Biasanya yang keluar dari mulut atasannya itu selalu berupa perintah. Sore harinya, Liam baru saja keluar dari aula setelah mendampingi sejumlah petinggi menuju lobi. Saat mengantar kepergian mereka, pandangannya tanpa sengaja jatuh pada Bianca yang duduk di kafetaria. Pada saat bersamaan, ponselnya berdenting. Sebuah pesan masuk dari dokter pribadinya. [Saya kirim obat dan vitaminnya malam ini.] Liam membaca pesan itu sekilas lalu kembali mengangkat pandangannya. Matanya kembali tertuju pada Bianca. Sementara Bianca di ujung sana mendongak. Begitu pandangan mereka bertemu, Bianca refleks tersenyum. Untuk beber
Bukan hal aneh bagi Bianca jika atasannya menyuruhnya datang ke kediamannya pada pagi hari. Tuan Besar Hayes juga begitu, terkadang melakukan hal yang sama. Namun yang benar-benar tidak habis pikir itu alasan kedatangannya yaitu untuk memilih pakaian untuk sang atasan. Bianca menelan ludahnya saat melihat deretan kemeja dan jas milik Liam. Lalu, ia menoleh ke arah rak lain yang dipenuhi dasi, tali pinggang dan jam tangan. “Kerja, Bianca, kerja…,” gumamnya menyemangati dirinya sendiri. Bianca mulai membuka lemari dan memilih pakaian yang tepat untuk atasannya hari ini. Hari ini ada konsolidasi partai yang harus dihadiri Liam atas arahan sang ayah. Sementara Bianca sibuk memilih penuh hati-hati karena tahu semua barang milik Liam mahal, pria itu masih berada di kamar mandi. “Sudah selesai.” Bianca tersenyum puas melihat pilihannya. Ia harus segera keluar sebelum Liam selesai mandi. Namun baru saja berbalik, tubuhnya membentur dada bidang Liam yang polos. Bianca membeku. Ia mendo
“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk







