LOGIN
"Bagiamana, Aeza sayang? Di antara ke sembilan pria ini, siapa yang kau pilih untuk tidur denganmu?"
Aeza De Enigma, perempuan berusia 23 tahun tersebut seketika menatap sendu ke arah suaminya. Aeza menunjukkan ekspresi sedih, dada terasa panas, dan pikiran yang terus berdebat dengan batin. Hatinya sangat sedih karena suaminya meminta supaya dia tidur bersama pria lain agar Aeza bisa hamil. Logika Aeza berkata kalau suaminya salah besar. Jika memang suaminya mencintainya, tak mungkin suaminya rela Aeza ditiduri oleh pria lain. Jelas ini salah dan ini juga melanggar norma. Selain itu, suaminya juga merendahkannya dengan rencana ini. Namun, hatinya berkata suaminya terpaksa melakukan ini. Suaminya sangat mencintainya, oleh sebab itu suaminya rela Aeza disentuh oleh pria lain, supaya Aeza hamil dan mereka tidak bercerai. Yah, benar! Aeza harus hamil supaya ayah Aeza tidak memisahkannya dari suaminya–Lucas Wijaya. Sebenarnya sejak awal, ayah Aeza tidak setuju jika Aeza menikah dengan Lucas. Akan tetapi, Aeza mencintai Lucas dan merasa berhutang budi pada Lucas. Dulu, Aeza pernah kecelakaan dan Lucas lah yang menyelamatkannya, akibat kecelakaan itu Lucas menjadi lumpuh, mandul dan ada masalah lain. Karena masalah itu, Aeza tak mungkin hamil. Saat ingin menikah dengan Lucas, satu tahun yang lalu, Aeza sangat sulit mendapat restu dari ayahnya. Hingga akhirnya dia mendapatkan restu, tetapi setelah itu ayahnya menjadi dingin padanya. Sekalipun ayahnya masih menuruti kemauannya, seperti membiarkan Lucas bekerja di perusahaan mereka. Namun, sikap ayannya tak hangat lagi padanya. Namun, beberapa minggu lalu, ayahnya datang ke rumah ini. Ayahnya mempertanyakan hubungan Aeza dan Lucas karena Aeza tak kunjung hamil. Ayahnya tiba-tiba meminta cucu dan mengharuskan agar secepatnya mendapatkan cucu dari Aeza. Jika Aeza hamil, maka ayahnya akan memberikan hadiah besar untuk Lucas. Sedangkan jika Aeza tak hamil dalam satu tahun ini, maka ayahnya akan memisahkan Aeza dari Lucas. Ayah Aeza sendiri sama sekali tidak tahu kalau Lucas mandul. Sebagai istri yang baik, Aeza menutup-nutupi hal itu karena menganggap masalah tersebut adalah aib untuk suaminya. Gara-gara masalah itu, Lucas menjadi panik dan … tiba-tiba ide gila ini muncul, di mana Lucas meminta Aeza agar tidur dengan pria lain supaya Aeza bisa hamil. Logika Aeza sebenarnya menolak melakukan hal ini. Bagiamana bisa seorang istri yang menjunjung tinggi martabat suaminya, membiarkan tubuhnya dinikmati oleh pria lain? Namun, hatinya yang lemah berkata … bukankah cinta harus berkorban? Suaminya sakit seperti saat ini, juga karena menyelamatkan Aeza, dan jika Aeza tak hamil maka dia akan kehilangan cintanya. Tapi tetap saja dia ragu dengan ide suaminya. "Kita bisa memikirkan cara lain, Mas," cicit Aeza, menatap suaminya dengan ekspresi sedih bercampur gelisah. Kehormatan dan harga dirinya dipertaruhkan dalam rencana gila suaminya ini. Dia sangat ragu! "Tidak ada cara yang lebih baik dari ini, Sayang." Lucas menoleh ke arah Aeza, menatap wajah cantik istrinya sambil memberikan senyum tipis yang lembut, "jika kau pura-pura hamil, Ayahmu akan dengan mudah mengetahuinya. Hanya dengan cara ini supaya kita bisa mengelabuhi Ayahmu, Aeza." Aeza terus menatap suaminya dengan raut muka sedih. Perasaannya campur aduk, egonya terluka sebagian perempuan yang menjunjung tinggi sebuah ikatan, dan dia mulai mempertanyakan dirinya. Apakah demi cinta dia akan mengorbankan harga dirinya? Air mata Aeza jatuh, bibirnya melengkung ke bawah. Dia mencoba untuk tak menangis, akan tetapi dia tidak bisa membendung air matanya lagi. "Apa Mas tega aku disentuh …-" Sebelum ucapan Aeza selesai, Lucas lebih dulu memotong. "Lalu kau mau berpisah dariku?" Aeza menggelengkan kepala secara kuat. Air matanya jatuh lebih deras, "aku akan jujur pada Ayah mengenai masalah kesehatan Mas Lucas. Ayah sangat menyayangiku, Ayah pasti akan mendengarkanku." "Jangan naif, Aeza." Suara Lucas menjadi lirih, "jelas-jelas memintamu hamil dalam satu tahun adalah cara Ayahmu untuk menyingkirkanku. Jika kau jujur padanya, maka itu akan menjadi alat untuk Ayahmu memisahkan kita." "Aku akan berlutut di depan Ayah. Dia tidak akan …." Aeza berkata lirih, air matanya terus jatuh. "Hah." Lucas tiba-tiba menghela napas, "sepertinya kau tidak mencintaiku lagi, oleh sebab itu kau tidak mau menjalankan rencana ini." "Aku mencintai Mas Lucas." Aeza berkata cepat. "Jika kau mencintaiku, maka kau akan berkorban. Sama seperti aku mengorbankan kaki dan harga diriku sebagai pria sejati, hanya demi menyelamatkanmu," dingin Lucas pada akhir kalimat, menatap tajam ke arah Aeza. Aeza langsung menundukkan kepala, mengepalkan tangan di atas pangkuan. Hatinya kembali terasa sakit, dadanya terasa sesak, dan pikirannya kacau. Dia kemudian melirik suaminya yang duduk di kursi roda, perasaan bersalah langsung menyelimuti hati Aeza. "Baiklah, a-aku setuju," cicit Aeza sangat pelan, bersama dengan perasaan takut yang menyelimuti hatinya. "Ahaahaa … terima kasih, Sayang. Aku tahu … aku sangat tahu kalau kamu memang sangat mencintaiku. Terima kasih banyak," ucap Lucas semangat, langsung meraih tangan Aeza lalu menggenggamnya secara mesra. "Oke, sekarang pilihlah siapa pria yang ingin kau jadikan teman tidurmu." Aeza menatap suaminya dengan ekspresi malu, hatinya kembali terasa sakit. Apakah demi cinta dan kesenangan pria ini, Aeza sanggup merendahkan dirinya sendiri? Aeza menarik napas secara dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia kemudian menoleh ke arah ke-sembilan bodyguard. Aeza memandang cepat tanpa memperhatikan secara intens pada para bodyguard itu. Dia merasa sangat malu! Tiba-tiba Aexa menutup mata, lalu mengangkat tangan. Dia menunjuk ke arah salah satu bodyguard, tepat pada seorang bodyguard dengan tubuh paling tinggi. Namun, wajah bodyguard itu cacat karena terdapat bekas luka bakar pada hampir sebagian wajah. "Aku memilihnya," ucap Aeza pelan. "Wah, pilihan yang bagus, Sayang. Hahhaha …." Lucas langsung tertawa karena pilihan istrinya. Sebenarnya itu bodyguardnya yang paling hebat. Tapi wajahnya rusak! Aeza membuka mata, menatap terkejut pada bodyguard yang ia pilih. Sedangkan bodyguard yang ia pilih tersebut, juga menunjukkan ekspresi kaget. "Maaf, Tuan." Tiba-tiba saja bodyguard bersuara, membuat Aeza kembali terkejut. Suara pria itu … berat dan dalam. Wajahnya memang cacat, akan tetapi suaranya tampan! 'Ah, tidak. Apa yang kamu pikirkan, Aeza! Ingat, kamu punya suami dan suami adalah yang terbaik di antara semua pria.' batin Aeza, langsung menundukkan kepala karena merasa bersalah telah memuji pria lain dalam hatinya. "Kenapa?" tanya Lucas dengan wajah datar. "Wajah saya begitu buruk, saya takut Nyonya tidak suka dan jijik apabila tidur dengan saya. Jadi saya menolak," ucap bodyguard tersebut secara sopan dan tegas. Aeza kembali mendongak, kembali menatap bodyguard itu lebih teliti dari yang sebelumnya. 'Nada bicaranya sangat sopan. Bahasa tubuhnya saat berbicara dengan Mas Lucas … terlihat sangat berwibawa.' batin Aeza, lagi-lagi tanpa sadar memuji sikap bodyguard tersebut. Bodyguard ini sudah satu tahun bekerja di sini, akan tetapi Aeza tidak terlalu memperhatikan. Baru kali ini! "Namamu Seven, bukan?" tanya Lucas. Dia tahu sebenarnya karena bodyguard ini cukup menonjol di karenakan kemampuan dan wajahnya. Lucas hanya ingin memastikan. "Ya, Tuan," jawab bodyguard tersebut, menunjukkan sikap tenang dan sopan. "Dari laporan yang diberikan kepercayaanku, kau sangat membutuhkan uang untuk membiayai adikmu yang sedang sakit parah. Aku butuh kau menghamili istriku dan kau butuh uang. Ini kesematanmu, Seven," ucap Lucas, menatap tajam pada bodygaurd tersebut. Dia berusaha mengintimidasi supaya bodyguard itu tunduk dan patuh padanya. "Saya memang ingin uang. Akan tetapi … saya tidak percaya diri dengan wajah saya ini." Seven berkata sopan sambil menatap ke arah Aeza yang juga sedang menatapnya. "Istriku membutuhkan spermamu, bukan wajahmu. Lagipula dengan wajah buruk rupamu ini, aku semakin yakin dengan rencanaku. Istriku tak akan tertarik padamu, jadi aku tidak perlu khawatir kalian melibatkan perasaan ataupun berselingkuh," ucap Lucas datar, melirik ke arah istrinya dengan senyum tipis di bibir. Aeza dan Seven sama-sama diam. "Karena pria yang akan menghamilimu sudah dipilih, maka …." Dengan isyarat, Lucas mengusir para bodyguard di sana–kecuali Seven yang tetap berdiri di tempatnya, "malam ini kau dan Seven harus tidur bersama.""Diri sendiri saja dicemburui. Aneh!" gumam Dominic sambil melirik kesal pada daddynya, berjalan ke sofa lalu duduk di sebelah istrinya. Alaric memilih tak menjawab, hanya menatap sinis pada putranya. Cih, putranya tak paham dan tak merasakan seperti apa jadi dirinya, jadi percuma dia jelaskan. Seven itu … ah, sudahlah! Alaric harus melupakannya! "Sayang, nanti malam kita ke rumah Aunty Alisha dan Uncle Asher yah. Soalnya Kak Darren akan bertunangan dengan kekasih diam-diamnya," ucap Aeza. "Wah." Anaya menampilkan ekspresi wajah senang. Lalu dia menganggukkan kepala penuh semangat. Aih, dia jadi penasaran siapa perempuan yang berhasil mendapatkan hati sepupu suaminya tersebut. "Oke, Mommy."***Seperti yang mommy mertuanya katakan, malam ini Anaya dan keluarga suaminya datang ke pesta pertunangan Darren. Karena keluarga Moriz dan Lex diundang, di pesta ini Anaya bisa bertemu dengan kakaknya, Rain, Ellan, dan juga Gita. Sambil menunggu tunangan Darren datang, Anaya berkumpul denga
"Kak, kamu nggak apa-apa?" tanya Anaya, di mana saat ini dia ke rumah sakit—di temani oleh suaminya, setelah mendapat kabar dari Elma kalau Elma sedang di rumah sakit. Tadi, Elma sudah bersama mereka di taman. Namun, Elma tiba-tiba izin pergi ke toko bunga untuk menemui Rain. Kata Elma, Rain terus mengirim pesan dengan isi 'P' padanya. Oleh karena itu Elma ingin memastikan kenapa Rain terus mengirimnya pesan begitu, di mana saat Elma tanya apa maksud dari Rain tersebut, Rain selalu menjawab P'. Di taman, Anaya dan Dominic terus menunggu. Hingga tiba-tiba saja Elma mengirimi pesan kalau dia di rumah sakit. Oleh karena itu Anaya menyusul kakaknya ke sana. Dia khawatir Elma kenapa-napa. "Aku tidak kenapa-napa, Anaya." Elma menjawab lembut, senyum tipis pada Anaya. Anaya menghela napas cukup panjang, lega karena kakaknya terlihat baik-baik saja. Setelah itu, dia duduk di sebelah Elma. "Trus kenapa Kakak di rumah sakit?" tanya Anaya kemudian. "Larisa pendarahan," jawab Elma. "Hah?"
"Aku bisa memuaskanmu, Rain." Larisa berkata genit, perlahan mendekat pada Rain yang terlihat mematung. "Rain, aku tahu Elma tidak memuaskanmu. Maka nikahi aku, beri aku status dan aku akan memuaskanmu sepanjang malam," ucap Larisa, mengulurkan tangan untuk menyentuh dada bidang Rain yang tertutup oleh baju kaos. Rain meraih pergelangan Larisa lalu mencengkeram dengan kuat. "Sialan! Menjauh dariku! Aku pria baik-baik, polos, dan naif. Jangan merusak otak bersihku!" maki Rain, memelintir tangan Larisa lalu mendorong perempuan itu dengan kasar. Bug' "Argkkk." Larisa menjerit kesakitan setelah dia terjatuh di atas lantai. Dia memegang tangannya yang masih terasa sakit lalu menatap Rain dengan kesal, "Rain, kenapa kamu sangat kasar, Hah? A-aku perempuan hamil, dan … argkkk … perutku sangat sakit!" pekik Larisa kemudian. Ceklek'Tiba-tiba saja pintu ruangan Rain terbuka, membuang Rain menoleh cepat ke arah pintu. Mata Rain membelalak, antara kaget dan senang saat melihat Elma. Yah,
"Aku hamil, Dominic," ucap Larisa dengan nada pelan, menatap sedih pada Dominic. Dominic mengerutkan kening, menatap dingin campur tak suka pada perempuan itu. Dia merangkul istrinya yang berada di sebelahnya, membuat Anaya merapat pada tubuhnya. "Reno, usir perempuan sinting ini," dingin Dominic. "Baik, Tuan." Reno menganggukkan kepala, mendekat pada Larisa dan berniat mengusirnya. Larisa menggelengkan kepala, menolak pergi dari sana. Air matanya jatuh, tatapannya memohon pada Dominic—berharap Dominic iba dan membiarkannya berbicara. "Dominic, a-aku hamil anak Alka. To-tolong bantu aku, tolong selamatkan aku. Hiks … keluarga ku marah besar karena mereka tahu aku mengandung anaknya Alka, mereka mencariku dan ingin membunuhku. Tolong, selamatkan aku, Dominic.""Tetap usir." ucap Dominic ketika Reno menatapnya. Wajah Dominic tetap datar—terkesan kesal dan marah secara bersamaan. Ucapan Larisa sama sekali tak mempengaruhinya, tak ada iba yang muncul. Hanya ada rasa muak dan marah. In
Elma yang gugup tak melakukan apa-apa. Dia bingung dan tak tahu harus berbuat seperti apa, dia juga terkejut karena Rain menciumnya. Sedangkan Rain, hasratnya semakin membara. Tangannya yang sejak tadi diam, mulai meraba tubuh Elma."Akan aku buktikan bahwa pria yang aku sebut anak kecil ini bahkan bisa membuatmu menghasilkan anak, Elma Moris," ucap Rain dengan nada berat, penuh kesungguh-sunguhan dan tegas. Tatapannya tajam, tetapi maniknya memancarkan hasrat yang besar. Elma hanya diam, mengamati Rain yang terasa berbeda. Pria yang ia anggap bocah ini mendominasinya!Rain mulai melepas piyama yang Elma kenakan. Setelah itu sejenak dia diam sambil menatap tubuh indah Elma. Sialnya, setelah melihat tubuh Elma, dia mendadak gugup campur bingung. Semuanya indah! Dia bingung harus menyentuh yang mana lebih dulu. Dia juga gugup karena ini pengalaman pertamanya. "Hah." Elma menghela napas pelan. Segera mendorong tubuh Rain dari atas tubuhnya. Lalu setelah itu, dia mengambil posisi dudu
"Astaga!" ucap Elma spontan, panik dan terkejut melihat sesuatu yang berada tepat di depannya. Namun, sekalipun sangga terkejut dan ingin pingsan karena benda pusaka itu, Elma tetap menjaga diri untuk tenang. Dia memejamkan mata lalu memalingkan wajah secara pelan. "Argk!" Di sisi lain, Rain berteriak horor, segera menaikkan handuk miliknya yang sempat melorot. Setelah itu, dia segera pergi dari sana—buru-buru mengambil pakaian dan kembali masuk ke kamar mandi. Sial! Dia sangat malu. Elma membuka mata, segara mengambil kipas portabel untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas dan terbakar. Elma kemudian menatap ke arah laptop-nya, senyum tipis ketika mengingat kejadian tadi. Sejujurnya itu konyol dan memalukan. Akan tetapi …-"Tubuhnya sudah sangat dewasa, akan tetapi sikapnya … seperti Anaya. Bocah," gumam Elma pelan, masih senyum karena merasa geli dengan kejadian tadi. Tak lama Rain keluar dari kamar, pria berusia 25 tahun itu sama sekali tak menatap ke arah Elma. Dia buru-bur







