LOGIN"Mas!" Aeza melebarkan mata, menatap tak percaya pada suaminya.
"Kita sudah sepakat, Sayang." Lucas berkata sambil menatap lelah pada Aeza yang menurutnya plin-plan. Tadi setuju, sekarang kembali menolak. "Tapi tidak malam ini juga, Mas." Aeza menunjukkan ekspresi protes. Dia memang akhrinya setuju, tetapi kenapa harus di hari ini? Sungguh, Aeza belum siap. Bahkan dia masih gemetar hanya karena menyetujui ide gila suaminya. Apalagi jika nanti malam dia benar-benar menyerahkan tubuhnya pada pria lain, jantung Aeza mungkin bisa copot dari tempatnya. "Lebih cepat lebih baik, Aeza." Lucas berucap tegas, "semakin cepat kau hamil, maka itu samakin baik. Waktu kita hanya satu tahun. Itu waktu singkat, mengingat kehamilan bukan kehendak manusia. Kita hanya bisa berusaha agar kau secepatnya hamil." Wajah Aeza kembali dipenuhi kesedihan, dia menolah ke arah Seven–bodyguard pilihannya sendiri yang akan tidur dengannya. Bisakah dia membiarkan tubuhnya dijama oleh pria ini? Tuhan, membayangkannya saja Aeza sudah sangat ketakutan! "Pergilah ke kamarmu dan bersiaplah," titah Lucas, menatap tajam pada Aeza agar Aeza patuh. "Mas …." Mata Aeza terlihat berkaca-kaca. Sejujurnya dia tidak mau, dan dia sangat berharap belas kasih dari suaminya. "Aeza, sepertinya kau memang sudah tidak ingin bersamaku. Mungkin kondisiku yang lumpuh ini telah membuatmu merasa bahwa aku tidak berguna dan tidak pantas untuk dipertahankan. Begitu bukan?" ucap Lucas serak, menatap Aeza dengan raut muka sedih. "Iya, aku ke kamar." Aeza langsung menganggukkan kepala, seketika patuh karena perasaan bersalah muncul di hatinya. Aeza melangkah cepat dengan air mata yang kembali jatuh deras. Satu tahun ini pernikahannya terasa hambar sebab suaminya sibuk bekerja. Rumah ini sangat sepi. Namun, dia tidak pernah sekalipun berniat untuk meninggalkan Lucas. Dia malah selalu berusaha menjadi istri yang baik, dia berusaha agar rumah tangga mereka tetap bertahan di saat rumah sudah terasa sangat dingin dan sepi. Hingga tiba-tiba masalah ini datang. Ada banyak cara, tetapi suaminya keukeuh memilih cara ini. Aeza sangat menghormati sebuah ikatan pernikahan, Aeza menjunjung tinggi martabatnya sebagai perempuan. Sedangkan rencana ini, dia akan merendahkan dirinya sendiri. Demi cinta! Aeza tidak mau, tetapi suaminya terus memaksa. *** Ceklek' Mendengar pintu kamar yang terbuka, Aeza langsung mengusap air mata yang jatuh dan membasahi pipi. Setelah itu dia mendongak ke arah pintu kamar, mendapati Seven–si bodyguard dengan wajah cacat tersebut, tengah berdiri di ambang pintu. "Ma-masuklah," gugup Aeza, langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Saat ini dia mengenakan lingerie super seksi berwarna hitam. Lingerie ini telah disiapkan oleh Lucas, khusus untuk rencana malam ini. Demi Tuhan! Hati Aeza hancur dan sakit. Sebelumnya, di hadapan suaminya saja dia tidak pernah mengenakan pakaian semacam ini. Jangankan lingerie, mengenakan celana pendek saja saat dia dan suaminya hanya berdua di kamar, suaminya tersebut akan memarahinya. Namun, sekarang suaminya yang tak ingin melihatnya berpenampilan seksi, malah memaksa Aeza untuk berpenampilan terbuka di hadapan pria lain. Sejujurnya, ini melukai hati Aeza sebagai seorang istri dan perempuan. Tuk' Terdengar suara pintu yang ditutup, disusul oleh suara langkah kaki Seven–bodyguard yang akan menemaninya malam ini, masuk ke dalam kamar. Aeza cukup panik dan mulai takut, terlebih Seven telah mengunci pintu kamar. "Kenapa kamu mengunci pintu?" tanya Aeza setelah Seven berdiri di sebelah ranjang. Tanpa sadar Aeza mengamati wajah Seven. Pada sebelah kiri, wajah pria ini terlihat punya bekas luka terbakar yang mengerikan. Namun, wajah di sebelah kanan tampak mulus. Sepertinya jika saja wajah kiri Seven tidak terbakar, mungkin pria ini punya wajah yang sangat tampan. Seven menaikkan sebelah alis, menatap Aeza dengan ekspresi heran. "Karena kita akan menghabiskan malam bersama, Nyonya. Pintunya harus dikunci agar tidak ada yang masuk dan mengganggu." Aeza yang melamun karena memikirkan wajah Seven, seketika terlonjak kaget saat mendengar suara berat pria ini. Seperti sebelumnya, suara pria ini tampan! Aeza mengeratkan selimut pada tubuh lalu kembali menundukkan kepala. "Nyonya terlihat ragu. Apa kita batalkan saja rencana Tuan ini?" Aeza buru-buru mendongak pada Seven lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak punya pilihan selain menuruti kemauan suamiku. Kita harus melakukannya.""Aku akan memilikimu sepenuhnya, Nyonya. Aku … akan merebutmu dari Tuan Lucas," ucap Seven tegas tetapi setelah itu memperlihatkan senyum lembut pada Aeza. Namun, sekalipun senyuman itu terlihat manis, tetapi Aeza merinding dan ketakutan melihatnya. Seperti ada maksud tertentu dari senyuman Seven. "Se-Seven, kamu … berkhianat pada suamiku?" Aeza buru-buru beringsut ke kepala ranjang saat Seven mendekat dan mengikis jarak dengannya. "Bukan." Seven menjawab cepat, "lebih tepatnya mempertahankanmu sebagai istriku, Nyonya. Selamanya!" lanjut Seven. Setelah berada dekat dengan Aeza, Seven meraih dagu perempuan itu–menahannya supaya Aeza tidak memalingkan wajah darinya. "Se-Seven, itu saja kamu berkhianat," pekik Aeza. Jantung mulai berdebar kencang dan tubuh gemetar karena ketakutan. Pria ini terang-terangan berkhianat pada suami Aeza! "Dibandingkan majikan, Istri lebih utama." Seven berkata serak, mendekatkan wajah ke arah Aeza, "apa yang kulakukan padamu adalah bentuk kes
"Apa kau gila?!" marah Lucas. "A-apa?" Aeza melebarkan mata, menatap shock pada Cleo. "Tuan, dengarkan penjelasan saya." Cleo berkata cepat, "maksud saya, jika Tuan menceraikan Nyonya, maka Nyonya bisa menikah dengan Seven dan Nyonya bisa melakukan hubungan suami istri dengan Seven tanpa harus merasa berdosa dan berkhianat pada suaminya. Nyonya tidak melanggar pemahamannya pada ikatan suami istri dan tidak menyalahi apapun. Nanti setelah Nyonya hamil, Nyonya bisa bercerai dengan Seven lalu setelah itu kembali pada Tuan." "Ck, aku menghindari perceraian dan kau menjadikan perceraian sebagai solusinya. Benar-benar kau ini!" kesal Lucas pada Cleo. "Tuan, menurutku saran dari Cleo ada benarnya," ucap sekretaris Lucas, tersenyum tipis pada Lucas, "Nyonya sangat menjunjung tinggi sebuah ikatan dan jelas dia tidak akan terima kalau harus melakukan itu dengan pria yang bukan suaminya. Jadi lebih baik Nyonya menikah terlebih dahulu dengan Seven. Untungnya … anak yang Nyonya kandun
Aeza menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia buru-buru turun dari ranjang, memungut pakaiannya. Dia kembali mengenakan pakaiannya. Akan tetapi karena lingerie tersebut sangat seksi, dia meraih kemeja Seven lalu memakainya ke tubuhnya. "A-aku membatalkan rencana ini. Aku tidak bisa, Seven," ucap Aeza dengan mata berkaca-kaca sambil mengancing kemeja hitam milik Seven yang sudah ia pakai di tubuhnya, "Papaku mencintaiku, menjagaku, dan melindungiku. Aku tidak mau melakukan ini. Karna ini sama saja aku melempar kotoran ke wajah Papaku," lanjutnya sambil menangis. "Baiklah, Nyonya. Kuhargai keputusan Nyonya," jawab Seven, menghela napas lega lalu menganggukkan kepala. Setelah mengenakan kemeja tersebut, Aeza langsung keluar dari kamarnya. Dia berlari cepat untuk menemui suaminya. Seven sendiri, dia mengenakan celananya lalu buru-buru keluar dari kamar tersebut. Namun, dia terlebih dahulu ke kamarnya yang ada di bangunan belakang rumah ini, untuk mengambil baju. *** Ceklek'
"Melakukan hubungan suami istri, seperti rencana suami Nyonya." Seven berkata pelan, senyum tipis pada Aeza yang terlihat semakin gugup, "atau kita batalkan saja? Sepertinya Nyonya memang benar-benar tidak ingin melanjutkan," lanjut Seven sambil menatap selimut yang menutupi tubuh Aeza. "A-aku bersedia." Aeza melepas selimut. Ah, entah kenapa tatapan Seven terasa berbahaya, mengintimidasi, dan cukup menakutkan. "Kalau kita batalkan, bagiamana dengan biaya berobat adikmu? Kasihan." Seven senyum tipis. "Nyonya sangat baik," ucapnya sambil berdiri dari ranjang. Dia melepas arloji lalu beralih melepas kemeja hitam yang membungkus tubuhnya secara bersemangat. Tubuh indah Aeza yang hanya berbalut lingerie seksi, membuat Seven cukup tak sabar untuk menyentuh perempuan ini. Ah, Seven benar-benar tidak bisa menolak tubuh ini, malah keraguannya pada ide gila majikannya hilang seketika setelah melihat tubuh seksi sang nyonya yang hanya mengenakan lingerie. "Nyonya bisa tutup mata." "U
"Sepertinya Nyonya terlalu mencintainya," ucap Seven dengan nada yang terkesan marah. Aeza menangkap suara marah itu, membuatnya mengerutkan kening–menatap lekat dan penuh selidik pada Seven. Bukan cuma suaranya, Aeza juga menyadari adanya kemarahan pada pancaran mata pria ini. Namun, kenapa Seven marah? Apa karena … tindakan Aeza ini terkesan seperti wanita rendahan jadi pria ini muak melihatnya? Dia menjijikkan? "Umm … namamu Seven kan?" tanya Aeza dengan nada pelan, mencoba mengabaikan ekspresi marah Seven. Seven menganggukkan kepala, lalu tanpa disuruh dia duduk di pinggir ranjang. Pria berwajah hancur tersebut menghadap Aeza, memandang Aeza dengan intens dan lekat. Itu membuat Aeza sangat kikuk. "Melihat wajah sembab Nyonya, kurasa Nyonya sehabis menangis. Apa Nyonya menyesali keputusan Nyonya untuk mengikuti rencana suami Nyonya?" tanya Seven kembali, tetapi kali ini suaranya terasa lebih lembut dan hangat. Aeza menggembungkan pipi, menatap campur aduk pada Seven
"Mas!" Aeza melebarkan mata, menatap tak percaya pada suaminya. "Kita sudah sepakat, Sayang." Lucas berkata sambil menatap lelah pada Aeza yang menurutnya plin-plan. Tadi setuju, sekarang kembali menolak. "Tapi tidak malam ini juga, Mas." Aeza menunjukkan ekspresi protes. Dia memang akhrinya setuju, tetapi kenapa harus di hari ini? Sungguh, Aeza belum siap. Bahkan dia masih gemetar hanya karena menyetujui ide gila suaminya. Apalagi jika nanti malam dia benar-benar menyerahkan tubuhnya pada pria lain, jantung Aeza mungkin bisa copot dari tempatnya. "Lebih cepat lebih baik, Aeza." Lucas berucap tegas, "semakin cepat kau hamil, maka itu samakin baik. Waktu kita hanya satu tahun. Itu waktu singkat, mengingat kehamilan bukan kehendak manusia. Kita hanya bisa berusaha agar kau secepatnya hamil." Wajah Aeza kembali dipenuhi kesedihan, dia menolah ke arah Seven–bodyguard pilihannya sendiri yang akan tidur dengannya. Bisakah dia membiarkan tubuhnya dijama oleh pria ini? Tuhan, mem







