MasukPria dengan pakaian serba hitam, serta penutup wajah tersebut adalah suruhan Alisha dan Aeza. Saat pria itu berlari ke arahnya, Alisha hanya pura-pura panik. Lalu dia sengaja berlari ke belakang mamanya, menahan tubuh mamanya supaya tidak kabur. "Arrkg!" Mata Valeria melebar, refleks menunduk untuk melihat perutnya yang tertusuk oleh pisau. Di sisi lain, dengan kode mata, Alisha menyuruh pria tersebut–tak lain adalah bodyguard milik Aeza, supaya kabur dari sana. Pria itu segera kabur, di mana Alisha langsung mengeluarkan akting panik, takut, dan sedih. Bug'Alisha melepas tubuh Valeria sehingga berakhir terjatuh di trotoar. Dia sengaja karena supaya Valeria merasakan lebih sakit. Jauh lebih sakit dari apa yang Alisha rasakan dahulu!"Mama …." Alisha menjerit cukup kencang, lalu berjongkok di sebelah mamanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Valeria. Dia menatap luka Valeria lalu diam-diam menekannya. "Argkkk …." Valeria menjerit sakit, melebarkan mata sambil menatap horor pada A
"Sayang, akhirnya kamu menemui Mama lagi," ucap Valeria dengan lembut dan hangat, seolah dia sangat merindukan putrinya tersebut.Alisha senyum hangat, menatap berseri-seri pada sang mama. 'Kamu pikir hanya kamu saja yang jago bermuka dua, Heh? Aku juga bisa! Sekalipun aku benci mengakuinya, aku ini putrimu dan aku mewarisi bakat sialanmu itu.' batin Alisha, langsung memeluk mamanya dengan penuh kehangatan. "Mama, aku sangat merindukan Mama. A-aku ketakutan, a-aku ketahuan ingin membunuh si Jahat Alaric dan aku dihukum oleh si Tua," ucap Alisha dengan nada murung, menatap sedih pada mamanya–setelah dia melepas pelukannya dari Valeria. "Duduk dulu, Sayang." Valeria berkata dengan nada lembut. Setelah Alisha duduk di kursi cafe–tempat mereka bertemu, Valeria langsung menggenggam tangan putrinya, "tapi kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Apa Ayah menyiksamu? Alaric jahat padamu?""Iya, mereka jahat." Alisha mengangukkan kepala dengan lemah, bibir melengkung ke bawah–menunjukkan kalau dia b
--Beberapa hari kemudian--Hari ini Alisha sedang fitting baju pengantin. Dalam waktu dekat dia akan menikah dengan Asher. Alisha tidak sendiri ke sana, dia ditemani calon suaminya dan Aeza. Sebenarnya Aeza dilarang keluar karena masalah kemarin. Akan tetapi karena Asher ikut, Alaric memperbolehkan. Dengan syarat harus pulang cepat. "Weh, Perempuan itu mengirim pesan padaku. Katanya dia ingin bertemu lagi denganku," ucap Alisha, di mana saat ini dia dan Aeza ada di ruang ganti. Aeza ikut masuk untuk membantu Alisha mencoba atau gaun pernikahannya. "Ih, nggak usah ketemu sama dia lagi lah. Aku trauma sama kejadian kemarin-kemarin," ucap Aeza. Masalah keluarga suaminya, Aeza sudang mengetahuinya. Alisha sudah menceritakannya, Aeza sangat tak percaya karena suaminya begitu menyedihkan saat kecil. Ibunya beberapa kali memfitnah Alaric untuk menutupi kesalahannya sendiri, dijadikan pelampiasan amarah, lumpuh dalam waktu yang lama, dan setelah itu ingin dibunuh oleh ibu kandungnya sendi
"Aku minta maaf, Kak Alaric," ucap Alisha dengan nada rendah, suaranya bergetar, parau dan sedih–dia dipenuhi perasaan bersalah yang teramat dalam. Alaric hanya diam, tetapi memeluk adiknya dengan penuh kehangatan. "Aku tidak ta-tahu kalau dia wanita yang jahat, a-aku tidak tahu kalau dia pe-perna menyakiti Kakak. Maafkan aku, Kak," ucap Alisha, mendongak pada Alaric sambil menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Humm." Alaric berdehem singkat, menepuk kepala Alisha depan pelan lalu senyum tipis pada adiknya. Sekalipun dia kecewa, tetapi ini bukan salah Alisha. Adiknya tak tahu sama sekali kalau mama mereka jahat. Alaric memilih merahasiakan karena berpikir Alisha akan kesakitan jika tahu bahwa wanita yang melahirkan mereka adalah perempuan gila harta yang tak pernah benar-benar menginginkan mereka. "Ayah sudah menceritakan semuanya padaku dan … aku sangat menyesal karena sempat percaya padanya, Kak," ucap Alisha yang sudah melepas pelukan dari kakaknya. Dia mendongak, menat
Aeza berniat masuk ke dalam dapur, akan tetapi tiba-tiba saja Alisha datang lalu menarik Aeza supaya jauh dari dapur. "Jangan ke sana, kamu lagi hamil loh," ucap Alisha dengan nada panik. "Itu ….-" Aeza menunjuk ke arah dapur, "kok bisa kebakaran?" tanyanya kemudian. Alisha menggaruk tengkuk lalu cengengesan pada Aeza. "Aku berniat memasak makanan kesukaan Kak Alaric, tapi …- aku melamun. Masakannya gosong dan kebakar." "Astaga." Aeza menatap campur aduk pada sahabatnya tersebut. "Tapi kamu nggak apa-apa kan?" tanya Aeza, menatap Alisha dari atas hingga bawah. Dia memeriksa apakah ada bagian tubuh sang sahabat yang terluka. Alisha mengangukkan kepala, senyum canggung pada Aeza. Kemarin, dia memusuhi Aeza. Tetapi hari ini Aeza masih tetap peduli dan perhatian padanya. Alisha merasa sangat bersalah. "Maafin aku yah soal semalam," ucap Alisha tiba-tiba. Aeza menghela napas panjang lalu senyum lembut pada Alisha. "Enggak apa-apa. Lupakan saja." "Ouh iya, tumben kamu bangun le
Aeza mendongak takut-takut saat mendengar Alaric mengumpat. Dia kira dia akan dimarahi oleh pria ini, jadi dia cukup waspada. "Jadi sekarang aku masih menyeramkan, Wifey?" tanya Alaric, meletakkan satu tangannya di atas pucuk kepala Aeza. Satu lagi memeluk pinggang ramping istrinya dengan erat, sesekali meremas atau memijatnya–menggoda Aeza yang terlihat gugup. Ah, jika saja perempuan ini makanan, mungkin dia makanan ternikmat yang membuat Alaric tak tahan untuk tak memakannya. Aeza mengangukkan kepala tetapi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kadang-kadang iya, kadang-kadang enggak." "Ouh, jadi masih," gumam Alaric datar. "Itu karena …-" Aeza yang ingin bersuara, diam sejenak karena matanya dengan mata Alaric yang menghunus tajam tak sengaja bersitatap. Persekian detik jantung Aeza berdebar sangat kencang dan dia lumayan gugup. Setelah menguasai diri, dia kembali bersuara, "itu karena Mas Alaric tanpa sebab sering menatapku seperti …." "Seperti apa?" Alaric menaikk
'Lebih cepat Aeza hamil, maka itu lebih baik.' "Oh ya, Seven. Kulihat hubunganmu dan Aeza masih kaku. Kurasa jika kalian tetap seperti ini, Aeza akan sulit hamil. Jadi … bagaimana jika kalian berbulan madu saja? Dengan begitu kemistri kalian lebih dapat sebagai pasangan suami istri dan siapa tahu
"Humm. Atur sesukamu saja, terpenting Aeza cepat hamil," ucap Lucas malas, menatap Seven dengan ekspresi masam. Seven membungkuk hormat pada Lucas lalu setelah itu menghampiri istrinya. "Mari, Istriku." Seven mengajak Aeza supaya beranjak dari sana. "Suamimu ini adalah pria gagah, bisa mengham
"Ck, kenapa anda mendorongku?" ucap Seven tiba-tiba pada Cleo, menatap dingin pada sosok itu. Cleo menggelengkan kepala secara panik, dia sama sekali tidak mendorong Seven. Jelas-jelas dia melihat jika Seven lah yang mendorong kursi roda Lucas sehingga Lucas jatuh. "Cleo, kau sengaja yah mendoro
"Nyonya, kau …-" Aeza menggelengkan kepala cukup kuat, matanya tertuju pada Seven–menatap pria itu dengan manik berkaca-kaca, memohon agar pria gagah ini berhenti melakukan hal 'itu padanya. "Ag-aku mohon berhenti, Se … Seven," cicit Aeza, terus menitihkan air mata sambil sesenggukan. "Berhenti







