Masuk"Gombal apa?" tanya Dominic dan Darren secara bersamaan. Keduanya sama-sama tidak tahu gombal itu apa. Anaya seketika mengelus dada, menghela napas lega karena Dominic tak tahu apa yang dimaksud dengan gombal. Syukurlah! "Gombal itu rayuan, pujian, atau kata-kata manis untuk menarik hati lawan jenis, Tuan," jelas Rain—berhasil membuat Anaya emasang muka muram. "Contohnya …." Rain tiba-tiba menatap Elma yang sejak tadi hanya diam. Perempuan itu hanya berbicara jika menyangkut pekerjaan saja, "Kak Elma," ucap Rain tiba-tiba. Elma yang sejak tadi hanya diam, seketika mendongak pada Rain. Sebenarnya sejak tadi, dia diam karena canggung dan tak enak hati pada Anaya. Namun, sekalipun begitu, Elma diam sambil mengamati Rain dan Anaya. Interaksi keduanya sangat asyik, mengalir begitu saja. Rain terlihat kompak dengan Anaya, mereka serasi. "Ada apa?" Elma berkata dengan nada rendah tetapi tegas, pembawaan sehari-hari. "Kau tahu kenapa malam ini bulan tidak muncul?" tanya Rain tiba-ti
"A-aku mintaya maaf, Kak," cicit Bianca dengan nada gugup campur takut. Suara Dominic sangat dingin dan menusuk, tatapan pria itu juga tajam dan membunuh. "Pergi dari sini," titah Dominic dengan nada rendah, akan tetapi terkesan mengintimidasi. Bianca menganggukkan kepala lalu segera pergi dari sana. Langkahnya pelan, tubuhnya gemetar—tak menyangka jika Dominic akan marah padanya. Anaya meletakkan toples biskuit di atas meja, membuat Dominic menatap ke arahnya. Anaya menatap Dominic, mengerjap beberapa kali lalu menoleh ke arah lain dengan kikuk. Kejadian tadi, itu membuat Anaya gugup dan canggung. Awalnya dia merasa tak enak dan muram karena sikap Bianca padanya. Padahal dia sudah bersikap sangat baik, akan tetapi Bianca malah sebaliknya. Lalu tiba-tiba, Dominic memarahi Bianca dan bahkan mengatainya sebagai anak dari anak pungut. Ouh, God! Anaya sejujurnya merasa tak enak hati pada Bianca yang dikata-katai oleh suaminya. Namun, berdosakah Anaya kalau dia mengatakan dia senang
"Tapi si Baby ini suka sama Daddy kamu. Memang setan!" Alisha berkata penuh emosi. Sampai saat ini dia masih dendam pada Baby. Karena merasa seru, Anaya mendengarkan begitu khidmat. Sedangkan mama mertuanya dan auntynya bergantian menceritakan keburukan Baby. Bahkan neneknya ikut-ikutan membicarakan Baby. *** Selesai makan malam, Anaya bersantai dengan suaminya di sofa halaman samping—masih kediaman Theodora. Makan malam tadi, Anaya sangat senang karena dia bertemu dengan kakaknya. Yah, keluarga Moris juga diundang. Begitupun dengan keluarga Lex. Bahkan sekarang dia bersama kakaknya. Hanya saja, karena hubungan mereka sempat tidak baik, keduanya tidak banyak mengobrol. Di sini, Anaya bukan hanya berdua dengan suaminya tetapi juga dengan sepupu dan anak kepercayaan dari ayah mertuanya. Intinya yang muda di luar dan yang tua di dalam. Kecuali Bianca—putri Baby yang saat ini bersama dengan para orang tua. Di sini pun mereka masih berkelompok. Anaya condong ke golongan yang
Hari ini keluarga Alaric datang ke kediaman Theodora. Ayahnya mengundang untuk makan malam bersama sekaligus untuk mengatakan sesuatu. Selain Alaric, keluarga Alisha juga ikut. Sebelum makan malam, Aeza, Alisha, dan Anaya ikut membantu Elena untuk mempersiapkan makan malam. Sebenarnya Elena yang sudah sangat tua tidak banyak bekerja. Dia lebih banyak duduk sambil menonton putri, menantu dan cucu menantunya berlalu lalang di dapur. "Sayang, kamu kan sedang hamil. Jadi lebih baik kamu duduk dengan Nenek saja yah di sana," ucap Aeza pada menantunya. Anaya tampak tak enak, menggaruk tengkuk sambil menatap mama mertuanya. Bagaimana mungkin dia bisa duduk santai saat mama dan tantenya bekerja? "Iya, An. Kamu duduk saja, biar Aunty dan Mommy yang siapin makan malam," ucap Alisha sambil senyum lembut pada Anaya. Selain itu, dia juga menarik Anaya supaya duduk di samping mamanya—Elena. Anaya menatap canggung pada Elena, sedangkan Elena juga nampak mengamatinya. "Hai, Nenek," sapa
"Ana, Mommy tidak mengizinkan kamu pergi ke pesta lajang Larisa yah!" tegas Aeza setelah Larisa dan Alka pergi meninggalkan mereka. "Tenang saja, Mom." Anaya senyum manis pada mommynya, "aku juga nggak mau datang, kok, ke sana. Hanya saja, aku bilang mau datang biar mereka pergi saja dari sini, Mom," tambahnya. Aeza langsung senyum cerah. "Ouh, begitu yah, Sayang?" jawabnya, mendapat anggukan kepala dari Anaya. "Oke deh."Keduanya kembali berbelanja dengan penuh kesenangan, setelah itu mereka pulang bersama. Sepulangnya ke rumah, Anaya memilih istirahat sejenak lalu setelah itu dia dan mommy mertuanya mulai memasak. Aeza begitu senang dan bahagia. Dari rahimnya memang tidak melahirkan seorang putri, tetapi Tuhan memberikannya putri lewat rahim perempuan lain. Yah, baginya Anaya sudah seperti putrinya. Perempuan benar-benar ia perlakukan seperti putri kandung sendiri, dia akan menjaganya sepenuh hati dan dia sangat bersyukur bahwa Anaya lah yang menjadi menantunya. Perempuan ini
"Zaid?" dingin Dominic, menaikkan sebelah alis sambil menatap membunuh ke arah istrinya. "Aza dan Zaid saling bermesraan, Hujan dan Bumi yang …-""Bukan begitu, Mas," ucap Anaya dengan cepat, "Rain memang suka bercanda. Dia sukanya ke Kak Elma. Coba baca chat di atas.""Jadi kau setuju kalau Zaid adalah Rain dan kau adalah Aza, Humm?" Suara Dominic serak dan berat, akan tetapi terdengar dingin dan mengancam. Anaya menggelengkan kepala. "Zaid dan Aza hanya tokoh dalam novelku, Mas Kesayanganku.""Tidak percaya." Dominic membuang muka dengan bersedekap dingin. Tampaknya dia seperti sedang marah besar, akan tetapi ketika wajahnya sudah berpaling dari Anaya, dia langsung senyum manis. Apa tadi? Mas Kesayanganku? Dia kesayangan Anaya? "Sumpah, Mas. Zaid dan Aza itu cuma tokoh fiksi dalam novelku. Dia bukan aku dan Rain, dan … kisah ini tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupanku," jelas Anaya, "ending novelnya saja Aza tidak bersama dengan Zaid ataupun dengan si … Dominic De Devil."







