Share

3. Pria Tua?

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-02-15 23:51:40

"Sepertinya Nyonya terlalu mencintainya," ucap Seven dengan nada yang terkesan marah.

Aeza menangkap suara marah itu, membuatnya mengerutkan kening–menatap lekat dan penuh selidik pada Seven. Bukan cuma suaranya, Aeza juga menyadari adanya kemarahan pada pancaran mata pria ini. Namun, kenapa Seven marah? Apa karena … tindakan Aeza ini terkesan seperti wanita rendahan jadi pria ini muak melihatnya? Dia menjijikkan?

"Umm … namamu Seven kan?" tanya Aeza dengan nada pelan, mencoba mengabaikan ekspresi marah Seven.

Seven menganggukkan kepala, lalu tanpa disuruh dia duduk di pinggir ranjang. Pria berwajah hancur tersebut menghadap Aeza, memandang Aeza dengan intens dan lekat. Itu membuat Aeza sangat kikuk.

"Melihat wajah sembab Nyonya, kurasa Nyonya sehabis menangis. Apa Nyonya menyesali keputusan Nyonya untuk mengikuti rencana suami Nyonya?" tanya Seven kembali, tetapi kali ini suaranya terasa lebih lembut dan hangat.

Aeza menggembungkan pipi, menatap campur aduk pada Seven. Matanya sudah panas dan berair, akan tetapi Aeza mencoba menahan supaya tidak menangis di hadapan pria ini. Dia sangat malu! Pasti di mata pria ini, dia adalah wanita rendahan yang rela menjatuhkan martabatnya hanya demi cinta.

"Papaku sangat melindungi dan menjagaku, Seven," ucap Aeza lirih, bersama dengan air mata yang berhasil jatuh dari pelupuk. Dia sangat malu untuk menangis di hadapan orang asing, akan tetapi dia tidak bisa membendungnya lagi, "tapi … demi pria yang kucintai, aku … hiks … aku rela merendahkan diriku sendiri."

"Hah." Terdengar helaan napas panjang dari Seven. Aeza tidak memperdulikan dan tetap menangis. Hingga tiba-tiba saja tangan besar pria itu terulur ke arah pipinya, menyentuh pipi Aeza yang basah–Seven menyekat air mata Aeza.

Sontak hal itu membuat Aeza kaget, seketika berhenti menangis lalu menatap terkejut pada Seven.

"Selagi Nyonya masih mengingat perjuangan ayah Nyonya pada Nyonya, itu berarti Nyonya masih belum tersesat lebih jauh," ucap Seven dengan suara serak dan lembut, membuat Aeza yang berniat menyingkirkan tangan Seven seketika mengurungkan niat, "jika Nyonya ingin menghentikan ini, maka aku bersedia membantu Nyonya. Aku juga akan mengantar Nyonya pulang pada Ayah Nyonya. Asal … bercelailah dengan Tuan Lucas."

Aeza begitu terlena olah suara dan sikap tenang Seven. Namun, ketika mendengar ucapan terakhir Seven, Aeza langsung menggelengkan kepala secara kuat. "Tidak bisa! Aku sangat mencintai Mas Lucas. A-aku juga tidak mungkin meninggalkannya. Dia penyelamatku."

"Baiklah." Seven berkata datar, menjauhkan tangannya dari pipi Aeza.

Aeza kembali murung. Pada akhirnya beberapa menit tercipta keheningan antara dia dan Seven. Namun, karena tidak suka sepi dan hening, Aeza kembali bersuara.

"Seven, berapa usiamu?" tanya Aeza tiba-tiba.

"32 tahun, Nyonya." Seven menjawab seadanya.

Mata Aeza melebar, seketika menatap Seven dari atas hingga bawah. "Wow, sudah tua ternyata."

"Perdon me?! Tua?" Seven menatap datar ke arah Aeza. Di sisi lain, Aeza menganggukkan kepala tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Bagaimana dengan suami Nyonya? Usianya sudah 33 tahun, bukan? Apa dia manusia purba? Jangan-jangan wujud asli dari Pithecanthropus Erectus!"

Aeza menatap cengang pada Seven. "Kamu sensian banget sih. Ya emang, Mas Lucas sudah berusia 33 tahun, tapi kan … eh tunggu! Kenapa kamu tahu kalau Mas Lucas sudah 33 tahun?" Di akhir kalimat, Aeza memicingkan mata.

"Tuan Lucas adalah majikan di rumah ini, dan aku sudah bekerja satu tahun dengannya. Tidak mungkin aku tidak tahu usia Tuan, Nyonya," jawab Seven dengan nada tak bersahabat, mungkin masih tersinggung disebut tua oleh Aeza.

"Ouh, benar juga," ucap Aeza dengan nada kikuk. Seven memang sudah lama bekerja, sudah satu tahun. Namun, dia memang tak pernah berinteraksi dengan bodyguard, terlebih Seven adalah bodyguard dengan wajah buruk rupa yang terkenal sangat tegas. Jadi Aeza terkesan menghindar juga.

"Ouh iya, kamu kok mau melakukan rencana gila Mas Lucas?" tanya Aeza agar mengalihkan pembicaraan.

"Karena cinta, Nyonya," jawab Seven, membuat Aeza terkejut dan melototkan mata. Cinta? Apa Seven juga sepertinya, mencintai seseorang sehingga rela melakukan hal gila sekalipun? "Adikku tercinta sedang dirawat di rumah sakit, dia terkena kanker lambung stadium 3. Aku butuh uang yang banyak supaya bisa membayar biaya operasi dan pengobatan seterusnya, Nyonya."

"Ouh." Aeza lansung memangut-mangut. Ternyata karena cinta pada adik, berarti bukan sepertinya.

"Bagaimana, Nyonya? Apa sekarang kita bisa melakukannya?" Seven bertanya balik, tiba-tiba menoleh ke arah jam tangan yang ada di pergelangan–isyarat jika dia tidak ingin membuang-buang waktu sekaligus mendesak agar memulai ritual panas tersebut.

"Hah? Me-melakukan apa, Seven?" tanya Aeza terbata-bata, pura-pura tidak paham karena masih takut untuk melakukan 'itu dengan pria selain suaminya.

"Melakukan hubungan suami istri, seperti rencana suami Nyonya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    267. Happy Ending

    Sudah satu bulan berlalu sejak Anaya melahirkan. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan bayinya tubuh cepat, gembul dan sehat. Hari ini kelurga kakaknya datang untuk makan malam keluarga. Bukan hanya keluarga Moriz, keluarga Thomas juga datang. Tak lupa kakek nenek suaminya. Intinya rumah ini sangat ramai, dan semuanya adalah orang-orang baik. "Apa jadi ibu merepotkan, Dek?" tanya Elma, menatap Anaya secara lekat—di mana Anaya sedang mengganti celana bayinya, di kamar Anaya dan Dominic. Anaya menoleh pada kakaknya yang dengan mengelus perutnya yang besar. Dia senyum tipis lalu menggelengkan kepala. "Enggak, Kak. Soalnya Mas Dominic selalu membantuku. Mommy dan daddy juga tak pernah diam saat aku kewalahan mengurus Seven." "Kurasa apapun akan terasa ringan jika kita berada di antara orang-orang yang mencintai, peduli, menghargai, dan bertanggung jawab, Kak," tambah Anaya, meraih putranya yang sudah selesai ia ganti celananya, "dan aku yakin sekali, Kakak juga akan sama seper

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    266. Seven 3

    ---Beberapa Bulan kemudian--- Anaya menatap bayi mungil miliknya dengan penuh kebahagiaan. Air matanya jatuh, senang dan terharu secara bersamaan. Buah hatinya sudah lahir, membawa kebahagiaan mendalam dan cinta yang besar. "Dari tadi kau terus mengamati bayinya." Seorang pria bersuara, nadanya datar dan terkesan kesal. Anaya mendongak pelan, menatap suaminya dengan senyum lembut. "Aku masih tidak percaya kalau aku sudah jadi Mama dan Mas sudah jadi Papa. Bayi kita … sangat tampan dan sehat, Mas. Aku sangat kagum padanya." "Apa pria tampan ini kalah dengan bayi yang baru lahir itu, Heh?" sindir Dominic, melirik bayinya dengan ekspresi berang lalu menatap penuh harap pada Anaya. Cukup Anaya mengakui ketampanannya, maka Dominic akan luluh. "Ouh, jelas cucuku yang paling tampan," jawab Alaric yang duduk di sofa, segera bangkit lalu menghampiri Anaya. "Ana, boleh Daddy gendong cucu Daddy?" tanya Alaric lembut. Sebenarnya dia sudah mengendong cucunya ini, akan tetapi dia me

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    265. Rencana yang Anaya Waspadai

    "Kalian pacaran?" tanya Anaya, menaik-turunkan alis. Pembicaraan mereka mulai terasa santai dan menyenangkan, tak lagi tegang dan penuh kesedihan. Gea menggelengkan kepala. "Kami tidak pacaran, murni hubungan antara bos dan asisten. Tuan bilang dia sulit mempercayai seseorang dan dia mengaku dia sudah menaruh kepercayaan padaku. Oleh karena itu dia memilihku sebagai calon istrinya." "Dan kamu mau?" Gea menganggukkan kepala. "A-aku suka pada Tuan Darren. Lagipula di kantor, perempuan single mana yang tak suka pada Tuan Darren?" "Cieee …." Anaya nenggoda Gea, membuat perempuan itu senyum malu-malu dengan pipi yang terlihat merah. Anaya kembali ingin menggoda akan tetapi tiba-tiba saja seorang maid datang. "Nyonya muda dan Nona Gea, kalian berdua dipanggil oleh Nyonya Tuan untuk minum teh bersama," lapor maid tersebut. "O-oh. Sampai lupa kalau kita ke sini untuk minum teh bersama. Ayo, Gea," ucap Anaya, berdiri lebih dulu tetapi mempersilahkan Gea untuk lebih dulu pergi. Nam

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    264. Bertemu Sahabat Lama

    "Hai." "Hai." Anaya menyapa canggung seorang perempuan yang tak lain adalah calon istri sepupu suaminya. Bukan hanya Anaya, perempuan itu juga terlihat canggung—senyum kikuk pada Anaya. Seperti janji Dominic sebelumnya pada Anaya, Dominic benar-benar mempertemukan Anaya dengan calon istri Darren. Mereka bertemu di kediaman Theodora, sekalian untuk mengajak calon istri Darren lebih dekat dengan keluarga Theodora. Saat ini Dominic tak ada, begitupun dengan Darren. Keduanya ada kesibukan. Anaya dan Gea Namora—calon istri Darren, benar-benar berdua di tempat ini. Kedua perempuan ini sebenarnya harus ke taman untuk minum teh bersama kakek-nenek Dominic dan Darren. Akan tetapi karena keduanya sama-sama canggung, mereka masih duduk di ruang tamu dan terus menyapa dengan kikuk. "Apa kabarmu?" tanya Gea lebih dulu, lagi-lagi senyum kikuk dan canggung luar biasa pada Anaya. Maklum! Dulu mereka sangat dekat, lalu karena perpisahan mereka berakhir tak pernah bertemu. "Baik." Anay

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    263. Catatan Cinta

    "Diri sendiri saja dicemburui. Aneh!" gumam Dominic sambil melirik kesal pada daddynya, berjalan ke sofa lalu duduk di sebelah istrinya. Alaric memilih tak menjawab, hanya menatap sinis pada putranya. Cih, putranya tak paham dan tak merasakan seperti apa jadi dirinya, jadi percuma dia jelaskan. Seven itu … ah, sudahlah! Alaric harus melupakannya! "Sayang, nanti malam kita ke rumah Aunty Alisha dan Uncle Asher yah. Soalnya Kak Darren akan bertunangan dengan kekasih diam-diamnya," ucap Aeza. "Wah." Anaya menampilkan ekspresi wajah senang. Lalu dia menganggukkan kepala penuh semangat. Aih, dia jadi penasaran siapa perempuan yang berhasil mendapatkan hati sepupu suaminya tersebut. "Oke, Mommy."***Seperti yang mommy mertuanya katakan, malam ini Anaya dan keluarga suaminya datang ke pesta pertunangan Darren. Karena keluarga Moriz dan Lex diundang, di pesta ini Anaya bisa bertemu dengan kakaknya, Rain, Ellan, dan juga Gita. Sambil menunggu tunangan Darren datang, Anaya berkumpul denga

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    262. Pertengkaran Seven dan 7

    "Kak, kamu nggak apa-apa?" tanya Anaya, di mana saat ini dia ke rumah sakit—di temani oleh suaminya, setelah mendapat kabar dari Elma kalau Elma sedang di rumah sakit. Tadi, Elma sudah bersama mereka di taman. Namun, Elma tiba-tiba izin pergi ke toko bunga untuk menemui Rain. Kata Elma, Rain terus mengirim pesan dengan isi 'P' padanya. Oleh karena itu Elma ingin memastikan kenapa Rain terus mengirimnya pesan begitu, di mana saat Elma tanya apa maksud dari Rain tersebut, Rain selalu menjawab P'. Di taman, Anaya dan Dominic terus menunggu. Hingga tiba-tiba saja Elma mengirimi pesan kalau dia di rumah sakit. Oleh karena itu Anaya menyusul kakaknya ke sana. Dia khawatir Elma kenapa-napa. "Aku tidak kenapa-napa, Anaya." Elma menjawab lembut, senyum tipis pada Anaya. Anaya menghela napas cukup panjang, lega karena kakaknya terlihat baik-baik saja. Setelah itu, dia duduk di sebelah Elma. "Trus kenapa Kakak di rumah sakit?" tanya Anaya kemudian. "Larisa pendarahan," jawab Elma. "Hah?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status