MasukJasmine sangat bersedih lantaran Dinda adalah teman sebangkunya yang selama ini sangat dekat dan baik padanya. Dinda menatap Jasmine dengan sinis. "Sorry, Jasmine. Aku bicara sesuai fakta. Kamu yang bikin kami kecewa. Aku nggak ngangka kamu melakukan hal serendah ini. Apa yang ada dalam pikiranmu sampai-sampai Kakakmu sendiri kamu embat. Kayak nggak ada cowok lain aja, kenapa harus Kak Mario? Dia itu saudara kamu, Jasmine! Bisa-bisanya kamu suka sama Kakak sendiri, jijik tahu, nggak!" "Tapi itu nggak benar!" sahut Jasmine membela diri. "Nggak benar katamu! Foto itu sudah sangat jelas, Jasmine! Itu foto kamu sama Kak Mario. Foto kalian itu udah menunjukkan bukti jelas jika kalian itu ada hubungan dan aku yakin banget sebenarnya kamu kan yang ganjen! Kalau bukan kamu yang merayu Kak Mario, mana mau dia mau-mau aja sama kamu, dasar ceek murahan!" lanjut Dinda. "Enggak! Itu nggak benar!" teriak Jasmine dengan keras di ruangan itu sehingga membuat kepala sekolah membentak gadis it
"Papa! Papa lebih belain gadis itu daripada aku anak Papa? Papa nggak sayang lagi ama aku!" sahut Cerry tak menyangka. Oak Purba terlihat panik san ia harus bisa membuat Cerry faham. Ia tahu sang anak pasti cukup susah menerima jika ia mengatakan yang sebenarnya. "Cerry, dengarkan, Papa! Papa nggak bermaksud bicara begitu, jangan salah paham dulu!" jawab Pak Purba. "Terus tadi itu apa! Ya udah Papa pergi saja ke sekolah dan bela itu anak sialan!" Emosi Cerry tak terkendali. Entah sebenci apa gadis itu pada Jasmine. Pak Purba sebisa mungkin memberikan penjelasan pada Cerry agar gadis itu bisa mengerti dan tidak menghakimi Jasmine lagi. "Dengar, Sayang! Jasmine adalah perempuan sama seperti kamu. Apa kamu tidak punya empati sedikit pun kepadanya? Jangan terlalu percaya dengan ucapan Nyonya Ratih karena semua itu belum tentu benar. Kita belum tahu apa kata Pak Juian dan istrinya karena mereka berdua yang membawa Jasmine ke rumah dan membesarkannya. Tidak mungkin mereka begitu saj
Sementara itu, Pak Purba yang makin tertarik untuk mengetahui asal usul Jasmine, pria itu sengaja menyuruh detektif untuk menyelidikinya. Ia ingin mendapatkan kejelasan tentang siapa orang tua kandung Jasmine yang sebenarnya. "Lakukan secepatnya, aku ingin segera mengetahui siapa gadis itu!" titah Pak Purba pada salah satu anak buahnya di telepon. Setelah itu ia menutup teleponnya. Kepalanya masih terasa sakit, ia duduk di kursi kebesarannya sambil memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. "Astaga! Sakit sekali rasanya," rintih pria itu. Di saat yang bersamaan, Cerry datang dan melihat kondisi sang ayah kembali memburuk. "Papa!" Cerry langsung berlari dan menghampiri Pak Purba. Segera gadis itu membantu sang Papa yang hari hendak ia kasih kejutan ulang tahun pria itu. "Cerry!" desis Pak Purba. "Papa minum obatnya dulu!" Cerry segera mengambilkan obat untuk sang Papa. Gadis itu terlihat begitu menyayangi ayahnya dan tak ingin kehilangannya. Pak Purba segera meminum obat tersebu
"Apa?" Jasmine langsung menoleh kaget. Yuni tidak menatapnya namun gadis itu mengulangi lagi kalimat yang baru saja diucapkannya. "Ya, bersiaplah mendapatkan kabar ini. Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu. Awalnya memang akan membuatmu mendapatkan masalah besar tapi ke depannya kamu pasti bahagia," kata Yuni menambahkan. Jasmine masih belum mengerti dengan ucapan Yuni. Dirinya akan hamil? Oh, rasanya itu tidak mungkin. Tapi, kemungkinan bisa saja terjadi apalagi dirinya dan Mario sudah menikah. "Hamil? Bagaimana bisa kamu tahu, Yun? Nggak, itu nggak mungkin!" seru Jasmine lirih. Ia masih tak percaya jika itu akan terjadi padanya. Meskipun itu cuma sekedar tebakan, tapi apa yang Yuni katakan sejauh ini tidak pernah meleset. "Satu pesan dariku, pertahankan cintamu, jangan mudah menyerah, semua akan indah pada waktunya," sambung Yuni lagi. Jasmine masih bertanya-tanya. Jika benar itu akan terjadi dipastikan satu sekolah bakal gempar dan ia bisa membuat keluarga Juliansyah Iskandar m
"Sorry, Jasmine! Kami udah nggak percaya kamu lagi. Kita semua kecewa sama kamu!" jawab Dinda. Setelah mengatakan hal itu, Dinda dan lainnya pergi meninggalkan Jasmine dan Emma. Jasmine melihat kepergian teman-temannya. Gadis itu menghela napas berat. Ia harus menghadapi masalah baru di lingkungan sekolahnya. Emma mendekati sang Kakak. Gadis itu akan selalu berada di belakang sang kakak dan akan menjadi garda terdepan karena Emma tahu jika Jasmine cenderung lebih lembut dan kalem darinya. "Kakak jangan bersedih! Selagi ada aku, semua pasti baik-baik saja!" kata Emma sambil menepuk bahu sang Kakak. Jasmine menoleh sambil mengangguk. Tak berselang lama suara bel masuk berbunyi. Akhirnya kedua gadis itu harus masuk ke dalam kelas masing-masing. "Kakak udah nggak apa-apa, kamu masuk aja ke kelas!" seru Jasmine sambil tersenyum. Emma sendiri harus meninggalkan Jasmine meskipun ia merasa tidak tega meninggalkan kakaknya itu. Karena ia takut terlambat, mau tidak mau Emma harus per
"Dinda!" seru Jasmine. Ternyata itu adalah Dinda, teman sebangkunya. Ya, Dinda mengiyakan ucapan teman-temannya tentang rumor kedekatan Jasmine dan Kakaknya yang tak lazim. Tak seharusnya mereka begitu mesra layaknya orang pacaran, di mata teman-teman Jamsine, mereka hanya kaka beradik dan sangat tabu jika mereka memiliki kedekatan. Dinda berjalan dan berdiri di tengah-tengah teman-temannya. Lalu gadis itu berkata pada Jasmine. "Maaf, Jasmine. Aku sendiri juga nggak nyangka kamu bakal kayak gini. Kita semuanya nggak nyangka aja bisa-bisanya kamu ada main sama kakakmu sendiri!" ungkap Dinda. Sontak hal itu membuat Jasmine dan Emma sangat terkejut. Emma langsung emosi dan tak terima kakak-kakaknya difitnah seperti itu sedangkan dirinya tinggal serumah dengan mereka. "Eh, dijaga ya mulutnya! Jangan asal bacot tuh congor!" umpat Emma sambil menunjuk wajah Dinda. Melihat adiknya emosi, Jasmine langsung menahan gadis itu untuk tetap tenang dan bersabar. "Emma, sudah, sudah! Sabar!"
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk







