LOGIN"Ya kalau itu Mama nggak jamin, soalnya Mario tuh persis kayak kamu. Suka nggak tahan kalau dekat-dekat. Bawaannya mau nyosor aja!" sahut Mama Nadine. Papa Julian langsung menoleh dan tersenum malu. "Memangnya dulu Papa gitu, ya?" sahut Papa Julian sambil mencubit pipi istrinya."Dih! Pura-pura lupa! Dasar laki-laki tuh, ya. Nggak bisa dikit aja nahan itunya. Kesenggol dikit, bangun. Nggak disenggol juga bangun. Heran! Perasaan Mama nggak ngapa-ngapain loh!" kata Mama Nadine dengan ekspresi sinis. Papa Julian pun tak mau kalah dan membalsanya."Mama memang nggak nyenggol tapi Mama demen pakai BH sama cangcut doang! Gimana nggak bangun ini tugu monas. Mama bikin tegang mulu!" Jawaban Papa Julian seketika membuat Mama Nadine mencubit lengan pria yang sudah memberinya dua anak itu."Ihhh, apa sih, Papa! Mama gitu kan gerah, lagian udah biasa Mama kalau di dalam rumah itu cuma pakai gituan doang, kata Pak Ustadz itu malah bagus dan berpahala besar, kok Papa yang marah. Harsunya Papa tuh
Mario mengangkat dagu gadis itu. "Jadi kamu sudah tahu?" tanya Mario heran, sebab dari mana gadis itu tahu padahal ia membertahukan kabar itu pada sang Papa lewat ponsel. "Hmmm!" Jasmine mengangguk lagi. "Papa sendiri yang ngomong tadi," sambung Jasmine. Mario kembali bertanya-tanya. "Tadi? Kapan?" sahut Mario dengan tatapan menyeidik. "Ya tadi pas kamu teleponan sama Mama!" "Oh, ya?" Mario semakin penasaran. Lantas gadis itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dari semula ia yang cuma video call dengan sang Mama hingga akhirnya ia berbicara dengan sang Papa dan tahu semuanya. "Gitu ceritanya. Lagian kamu ngomong apa sih sama Mama? Kok Mama bisa kaget gitu. Pasti Mama kamu bilangin juga, ya?" seru Jasmine menebak. Mario tersenyum dan tidak bisa berbohong lagi. "Ya, gimana lagi. Papa udah tahu jadi nggak mungkin lah aku bohong sama Mama. Biar adil ya aku kasih tahu aja sekalian!" jawab Mario. "Tuh, kan! Kakak pasti bikin masalah mulu. Kasihan kan Mama, pasti Mama kecewa
Di sisi lain, Jasmine masih belum menyadari jika Mario sudah masuk ke kamar mandi berukuran tidak terlalu luas itu. Gadis itu tampak memejamkan matanya untuk menenangkan segala penat hari ini. Sedangkan Mario, pemuda itu diam-diam berada di belakang kepala Jasmine yang sedang terpejam. Mario melihat sang istri yang tengah santai berendam di dalam bak berisi air yang penuh itu. Lantas, pemuda itu berjongkok sambil berbisik di telinga sang istri. "Bolehkah aku ikut mandi di sini?" Sontak Jasmine terperanjat dan langsung mengangkat kepalanya. Ia menoleh dan apa yang dilihatnya spontan membuatnya menjerit kaget. "Huaaaaa!" Karena tak ingin suara Jasmine terdengar dari luar, seketika satu tangan Mario membungkam mulut istrinya agar tetap tenang dan tangan satunya mengunci leher Jasmine. Mereka berada begitu dekat. "Emmmppttt!" "Ssstt! Tenang, Sayang. Jangan takut! Aku ke sini cuma ingin menemanimu mandi. Lagipula aku juga belum mandi. Jadi apa salahnya kita mandi bersama, hmm!" bi
Papa Julian terkejut ketika tubuh Mama Nadine mendadak terhempas. Bukan cuma Papa Julian saja yang terkejut namun Jasmine dan Mario juga tak kalah terkejutnya. "Mama!" teriak Papa Julian sambil menghampiri istrinya. "Mama! Mama kenapa, Pa?" seru Jasmine di mana video call itu masih terhubung namun ia masih tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana. Sepertinya Papa Julian meletakkan ponselnya begitu saja. Di sisi lain Mario merasa jika sang Mama kenapa-kenapa. Ia khawatir terjadi sesuatu yang serius pada sang wanita itu. "Mama!" pekik pemuda itu sambil mengusap rambutnya kasar. Sedangkan Papa Julian langsung memeluk istrinya yang tiba-tibs lemas. Ponsel yang semula digenggamnya tiba-tiba lepas dan tergeletak di atas kursi. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Papa Julian sambil menepuk ringan pipi sang istri, ia juga menyenyuh kening wanita itu, khawatir jika sang istri sakit tiba-tiba. "Aku nggak apa-apa, Pa. Aku cuma pusing saja. Anakmu si Mario....!" Belum sampai
Jasmine langsung salah tingkah antara takut dan bingung. Wajah gadis itu langsung pucat dan ia bingung harus berkata apa. "Emmm Papa...!" Suaranya terbata-bata dan terlihat sekali jika gadis itu sangat panik. "Kamu tidak usah sembunyikan apa pun dari Papa. Papa sudah tahu semuanya!" lanjut Papa Julian lagi. Kali ini Jasmine makin panik. Apa benar sang Papa sudah tahu semuanya. Berarti dugaannya benar. Mario dan sang Papa mengobrol lewat ponsel itu memang sedang membicarakan dirinya, dan sekarang sang Mama yang sedang mengobrol dengan sang Kakak. Jasmine bingung harus menjawabnya bagaimana sedangkan ia begitu malu untuk mengakuinya. Tapi di sini Papa Julian terlihat lebih tenang agar Jasmine bisa bicara leluasa dan merasa nyaman. "Kenapa kamu diam, Nak? Papa benar, kan?" seru Papa Julian saat melihat mimik wajah Jasmine yang tampak kebingungan karena takut. Jasmine memang takut. Ia takut kalau-kalau kedua orang tau angkatnya benar-benar marah dengan keputusannya bersama Mario
Seketika Mario terkesiap dan melihat layar ponselnya. Kenapa ada suara sang Mama. Lalu ke mana Papa Julian? "Shit! Itu kan suara Mama!" gerutu Mario panik. Di sisi lain Papa Julian langsung menghampiri istrinya dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Eh, Mama. Sini biar Papa yang ngomong sama Mario!" seru Papa Julian meminta ponselnya dari tangan sang istri. Dengan tegas Mama Nadine menolaknya. "Enggak! Papa diem aja biar Mama yang ngomong!" sahut Mama Nadine. Papa Julian tak bisa berkutik. Pria itu garuk-garuk kepalanya dan sepertinya ia harus bersiap-siap mendengar amarah dari sang istri saat tahu apa yang sudah anak mereka lakukan pada Jasmine. Mama Nadine kembali menempelkan ponsel itu di telinganya. Dengan wajah kesal wanita itu kembali meminta Mario untuk mengulangi kata-katanya. "Halo, Mario! Ini Mama yang ngomong. Kamu bilang apa tadi? Ulangi!" desak sang Mama dengan tegas. Mario manjdi bingung. Ia pikir sang Papa masih ada di sana ternyata bukan. Justru sang M
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







