Masuk
“Sayang aku berangkat kerja dulu ya doain aku semoga hari ini banyak pelanggan.”
ucap Dafa dengan penampilan yang sudah rapih ia memakan jaket dengan logo bundar berwarna biru itu dipadukan dengan celana levi’s hitamnya dan sepatu kets putih, walaupun hanya memakai pakaian sederhana namun tidak mengurangi ketampanan Dafa. Dafa memakai masker sebelum berangkat mencari pelanggan ojek online, ia menunjukkan bahwa dia peduli dengan kesehatannya dan juga mematuhi protokol kesehatan di tengah pandemi. Dengan masker yang terpasang rapat di wajahnya, Dafa bersiap untuk menghadapi hari yang sibuk sebagai ojek online, siap untuk mengantar penumpang dengan aman dan nyaman. Dia berdoa terlebih dahulu sebelum memeriksa handphone-nya untuk melihat permintaan penumpang dan bersiap untuk menerima pesanan. Dafa Bramantyo seorang pria tampan yang sudah memiliki istri tetapi belum dikaruniai seorang anak usianya saat ini sudah menginjak 30 tahun ia memilih pekerjaan sebagai tukang ojek online ia sudah menjalani pekerjaan ini selama kurang lebih 2 tahun karena sebelumnya ia pernah bekerja menjadi sekertaris perusahaan. Namun karena saat itu dia di fitnah oleh rekan kerjanya sehingga berujung dipecat dari perusahaan setelah itu namanya di blacklist disemua perusahaan dan saat ini ia kesulitan dalam mencari pekerjaan di berbagai perusahaan. Dan akhirnya Dafa memilih pekerjaan sebagai ojek online walaupun penghasilannya tak sebesar sebagai sekertaris tapi ia mensyukuri semua nikmat tuhan yang diberikan kepadanya dan keluarga kecilnya. Dafa hanya bisa menghela nafas pelan melihat istrinya yang selalu bersikap acuh padanya, istrinya selama ini malu karena pekerjaan Dafa hanyalah pengemudi ojek online yang tidak seberapa penghasilannya sedangkan kebutuhan dan gengsi istrinya Dafa belum bisa menuruti semua keinginannya itu bahkan tempat tinggal pun mereka masih menyewa rumah dengan ukuran yang kecil. “Sayang?” Dafa menghampiri istrinya yang masih duduk menonton Tv dan menyentuh tangan istrinya. “Kamu enggak mau salim dulu sebelum mas berangkat hmm?” Ucap Dafa memandangi istrinya yang masih asyik dengan acara tvnya. “Udahlah mas berangkat tinggal berangkat ribet banget sih,” ucap Kayla tanpa memandang suaminya. Dafa tersenyum kecut melihat sikap Kayla istrinya yang semakin hari semakin acuh padanya, pernikahannya selama 5 tahun itu hanya manis diawal karena saat Dafa sudah kesulitan dalam mencari uang istrinya langsung merubah sikapnya. “Yasudah aku sudah masak makanan kesukaan kamu, jangan lupa sarapan aku berangkat dulu ya sayang,” Dafa mencium pipi istrinya dan langsung menstarter motornya dan pergi mencari nafkah. Wanita 28 tahun itu hanya melengos tidak perduli dengan Dafa yang sudah memberikan perhatian lebih kepadanya. Saat ini jam menunjukkan pukul 7 pagi, jalanan Jakarta sudah dipenuhi dengan kemacetan yang parah. Asap polusi dari kendaraan bermotor mengepul ke udara, menciptakan kabut tebal yang membahayakan kualitas udara. Pengemudi dan pejalan kaki harus bersabar menghadapi kemacetan ini, sementara polusi udara menjadi ancaman bagi kesehatan mereka. Di tengah hiruk pikuk kota, Dafa, seorang pengemudi ojek online, terjebak dalam kemacetan ini, berharap agar jalanan segera lancar sehingga dia bisa mengantar penumpangnya tepat waktu. “Aduhh macet banget ya bang?” Ucap penumpang perempuan itu ia melihat jam dipergelangan tangannya waktunya sudah sangat mendesak memasuki jam kantor. “Iya mbak, macet banget kayaknya ada razia juga nih,” Ucap Dafa. “Aduhh razianya enggak tepat waktu banget sih.” Setelah hampir setengah jam menghadapi macet akhirnya Dafa bisa mengantarkan penumpang perempuan itu. “20.000 ya bang?” Penumpang perempuan itu mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya pada Dafa. “Iya mb, terima kasih.” Dafa menerimanya setelah penumpang itu pergi ia menghela nafas pelan ternyata penumpang itu bekerja di perusahaan yang dulu tempatnya bekerja sebagai sekertaris. Perusahaan besar dibidang tekhnologi Dafa sangat mencintai pekerjaan itu namun sayang nasib tak sesuai keinginannya. “Sudahlah lupakan mendingan aku cari pelanggan lain.” Dafa menjalankan motornya kembali sembari menikmati hiruk pikuk ibukota yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Dafa teringat istrinya dirumah ia memegang telepon genggam itu dan mendial nomor istrinya. “Sayang Kay kamu udah sarapan?” “Sudah mas.” “Yasudah kalau begitu istirahat ya jangan capek-capek nanti mas pulang bawain makanan kesukaan kamu oke.” “Hmm.” Belum selesai berbicara Kayla sudah mematikan teleponnya, Dafa sudah cukup terbiasa dengan sikap dingin istrinya itu.Evelyn telah menyelesaikan kegiatannya di butik tantenya. Saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju rumah yang ia pinjamkan kepada Dafa.Di tengah padatnya jalanan ibu kota sore itu, Evelyn termenung menatap ke luar jendela. Ia menyaksikan hiruk-pikuk kota yang tak kunjung reda, tepat saat sinar matahari mulai kehilangan cahayanya.Di tengah kemacetan itu, rasa gelisah mulai menyergap pikirannya. “Apapun yang terjadi apapun resikonya, aku harus bisa. Cuma Dafa gak ada yang lain,” gumam Evelyn yang terucap dalam hatinya.Setiap kali ingatan tentang pria itu muncul, detak jantungnya seakan berpacu. Wajah Dafa terus terbayang, memenuhi ruang di pikirannya dan menciptakan kegelisahan yang sulit ia redam.Ia tahu hati ini telah salah arah karena terus memikirkan pria beristri. Namun, sekuat apa pun ia mencoba, perasaannya tak bisa dicekal ia kalah oleh egonya sendiri.Sepanjang perjalanan sore itu, waktu seolah berjalan melambat. Detik demi
Ziva bergegas keluar dari bar menuju parkiran. Tadi, ia tidak sengaja melihat Kayla berjalan bersama seorang ucap Evelyn dengan nada dingin sembari menengadahkan tangannya di hadapan Bima pria, hal itulah yang membuatnya sempat masuk ke dalam bar untuk mencari temannya itu. Sejenak, ia menyandarkan tubuh di kursi kemudi. Matanya terpejam rapat, mencoba menetralkan perasaan sebelum meraih botol minum yang selalu siap di sana dan meminumnya “Gila… ternyata bener kata Laras,” ucap Ziva. Tangannya segera meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya, lalu dengan cepat ia mencari kontak Laras dan langsung menghubunginya. Panggilan terhubung. Suara Laras langsung terdengar, menyapa dengan nada tanya yang kental. “Ada apa Ziv, lo nelpon siang-siang?” Ucap Laras. “Ini bener-bener gila Ras, ternyata bener kata lo soal Kayla gila tu cewek dia beneran selingkuhh,” Ziva mulai berbicara dengan napas yang memb
Terpaksa menuruti keinginan Cakra, Kayla akhirnya mengambil tempat di sisi pria itu. Di hadapan mereka, suasana riuh rendah dengan bunyi denting gelas dari bartender yang sedang sibuk meracik minuman. Rasa tidak nyaman mulai menghinggapi Kayla. Terbiasa dengan kemewahan ruang VIP, suasana ruangan biasa ini terasa menyesakkan baginya—pengap dan terlalu bising oleh kerumunan pengunjung yang kian membeludak. “Ck gak biasanya Cakra kayak gini,” namun kata-kata itu hanya tertahan didalam hatinya. Udara yang pengap itu kini diperparah oleh kepulan aroma parfum yang bercampur aduk, menciptakan bau pekat yang membuat perut Kayla mual. “Cih kampungan,” lirihnya sembari membenarkan rambutnya yang tergerai kedepan. “Kenapa sayang?” Cakra memasukkan ponsel ke sakunya, lalu melirik Kayla yang tampak gelisah di sampingnya. “Sayang kita pindah aja yuk, sumpah deh aku gak tahan disini engap banget,” Dengan waj
Evelyn melotot geram. Tatapannya seolah ingin mengusir Bima yang tiba-tiba datang mengganggu, padahal ia sedang berada di tengah percakapan krusial dengan Dafa. Bima membalas tatapan tajam itu dengan senyum serba salah. Menyadari dirinya adalah pengganggu, ia segera berbalik dan melangkah pergi tanpa kata. Setelah gangguan itu pergi, mendung di wajah Evelyn berganti cerah. Tatapan tajamnya yang tadi menghujam Bima kini melunak, kembali menyiratkan kehangatan khusus hanya untuk Dafa. “Emm Dafa aku harap kamu mau terima tawaran aku karena kalau enggak kamu pasti nyesel,” ucap Evelyn. Dafa mengernyitkan dahi, “Kenapa nyesel?” “Karena kapan lagi kamu bisa kerja sama cewek secantik aku hehe,” Sambil memainkan ujung rambutnya dengan jemari, Evelyn mengerlingkan sebelah matanya ke arah Dafa. Aksi spontan itu begitu manis sekaligus menggoda, hingga sukses membuat Dafa terbengong di tempa
“Dafa aku minta maaf sebelumnya tapi aku cuma pengen kamu,” Evelyn tak membiarkan jarak tercipta di antara mereka. Tatapannya begitu dalam, menghujam langsung ke netra Dafa dengan permohonan yang tulus. Tangannya masih mengunci jemari pria tampan itu. Evelyn terpaku saat Dafa langsung melepaskan genggamannya dengan gerakan kaku. Pria itu sedikit bergeser, menghindari sentuhannya seolah-olah tangan Evelyn adalah sesuatu yang asing, meninggalkan rasa dingin yang mendadak di jemari Evelyn. “Aku gak bisa dan aku harap kamu ngerti aku bukan orang yang bisa diandalkan,” tegas Dafa. “Dafa please aku gak mau yang lain aku cuma minta kamu dan daddy udah nunggu janji aku, aku gak mungkin bikin daddy kecewa Dafa, aku mohon sama kamu. Kamu mau ya pleaseee…” ucap Evelyn dengan nada memohon. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, sebuah gestur pengharapan yang tulus agar Dafa bersedia menerima tawarannya. “Kamu bisa cari kandidat
Dafa terdiam sejenak mendengar permintaan Evelyn yang aneh menurutnya. Keheningan tiba-tiba menyergap di antara mereka, menyisakan suara detak jantung Dafa yang mulai berpacu karena rasa ragu yang mendalam. “Kenapa? Maksudnya kenapa kamu tiba-tiba minta aku jadi sekertaris kamu?” Tanya Dafa. “Waduhh iya juga ya aku lupa kalau aku punya informasi Dafa, dia pasti heran aku minta dia jadi sekertaris aku kenapa aku bego banget sih,” gumam Evelyn dalam hatinya. Sekarang Evelyn merasa kikuk ia merutuki kegugupan yang kini membuatnya ingin menghilang dari sana. “Ehm begini Dafa, aku hanya ingin membantu kamu aja kok itu aja iya gitu maksud aku.” Namun, di balik kegugupan itu, sesuatu tampak sangat jelas di mata Dafa. Ia menyipitkan matanya, menatap Evelyn dengan tajam seolah sedang berusaha menembus topeng yang coba gadis itu pertahankan. “Kamu pikir aku percaya?” Melihat wajah Dafa yang mendadak serius, nyali Evelyn menciut. Kegugupannya naik dua kali lipat, membuatnya merasa







