LOGIN“Dafa aku minta maaf sebelumnya tapi aku cuma pengen kamu,” Evelyn tak membiarkan jarak tercipta di antara mereka. Tatapannya begitu dalam, menghujam langsung ke netra Dafa dengan permohonan yang tulus. Tangannya masih mengunci jemari pria tampan itu.
Evelyn terpaku saat Dafa langsung melepaskan genggamannya dengan gerakan kaku. Pria itu sedikit bergeser, menghindari sentuhannya seolah-olah tangan Evelyn adalah sesuatu yang asing, meninggalkan rasa dingin yang mendadak di jemar“Apa aku cari Dafa aja, ya?" Evelyn bergumam lirih. Jemarinya saling meremas kuat, sementara langkah kakinya tak bisa diam, mondar-mandir memenuhi ruangan dengan ritme yang kacau.Tatapan Evelyn tertuju pada jam dinding pukul sepuluh malam. Ia bimbang. Keluar rumah jam segini adalah tiket gratis menuju kemarahan Daddynya. Namun, rasa cemas yang merayap di dadanya jauh lebih menakutkan daripada omelan sang ayah. Ia tidak bisa hanya duduk diam.“Enggak gak bisa aku harus cari Dafa.”Akhirnya tubuh Evelyn melebur dengan kegelapan malam saat ia menyelinap menuju garasi. Setiap langkahnya penuh perhitungan, menghindari sorot lampu taman agar tak tertangkap radar para security. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan keberanian yang dipaksakan.Begitu mesin mobil menderu hidup, keheningan malam pecah seketika. Suara itu langsung memancing perhatian para security di area taman. Tanpa membuang waktu, mereka meraih HT dan melapor dengan nada sigap kepada penjaga gerbang utama.TokTokEvel
Kayla menggeleng pelan, seolah berusaha menolak setiap kata yang baru saja terlontar dari mulut Dafa. Tubuhnya mendadak lemas, kehilangan tumpuan hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja. “Dafa kamu jangan aneh-aneh gak ada kata cerai aku gak mau cerai,” ucap Kayla dengan sedih. Suaranya bergetar hebat, nyaris tenggelam oleh isak tangis yang berusaha ia tahan. “Aku selama ini udah bersabar sama kamu Kay, aku kerja banting tulang demi siapa?! DEMI KAMU KAY DEMI KAMU! Aku tahu Kay, aku tahu aku miskin tapi apa ini cara kamu memperlakukan aku? Membalas semua yang udah aku lakuin kekamu heuh?” Bentak Dafa. “Dafa aku… aku minta maaf tapi—“ “Gak ada tapi-tapian kita cerai dan tunggu aja surat dari pengadilan,” Dafa melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan rumah sewa yang telah menjadi saksi bisu suka dan duka mereka selama bertahun-tahun. Setiap sudut ruangan itu seolah menyimpan gema tawa dan janji-janji yang kini menguap begitu saja, membiarkan rumah yang dulu menjadi
Langkah Kayla yang gontai terhenti di depan pintu. Begitu daun pintu terbuka, matanya membelalak tak percaya ia tak pernah menyangka sosok yang sudah lama tak ia lihat itu akan muncul di hadapannya. “D-Dafa,” Lidahnya kelu, hanya satu nama yang berhasil lolos dari bibirnya yang bergetar. Keheningan malam itu terasa mencekam saat Dafa hanya terpaku di ambang pintu, menatap Kayla dengan tatapan sengit. “Kenapa? Kaget?” Tanya Dafa. “B-bukan gitu, kamu… kamu pulang?” Ucap Kayla dengan senyum yang sengaja dipaksakan. Tanpa sepatah kata pun, Dafa melangkah lebar menerobos pintu. Kayla tersentak, langkah kasar pria itu seolah merampas habis udara di sekitarnya. “Dafa,” teriak Kayla ia terhempas kesamping saat Dafa berjalan melawatinya. Dafa melangkah lebar memasuki kamar tanpa memedulikan Kayla yang mengekor di belakangnya. Ia menyentak pintu lemari hingga terbuka lebar, lalu mulai meraup barang-barangnya dengan kasar. “Dafa kamu mau apa? Kenapa kamu ambil baju-baju kamu?” Ka
Evelyn menatap Dafa cukup lama, hingga ia menyadari tubuh laki-laki itu menegang. Napas Dafa memburu, seolah-olah oksigen di ruangan itu menipis dan dunianya menyempit hanya pada titik di mana mereka berada. “Karena… ya karena aku cuma pengen kamu gak mau yang lain,” alasan Evelyn masih membuat Dafa bingung total. “Jangan membodohi aku Evelyn, banyak kandidat diluar sana yang pastinya ratusan orang ingin bekerja diperusahaanmu terus kenapa harus aku?, sampai-sampai kamu menjebak aku kayak gini!” Tegas Dafa panjang lebar. “Kamu tahu banyak orang pengen bekerja diperusahaanku, terus kenapa kamu nolak tawaran aku?” Tanyanya. “Ya karena aku gak mau!” Ucap Dafa “Yaudah silahkan, kamu tunggu aja sebentar lagi pasti Kayla bakalan nelepon kamu, cari-cari kamu karena kami sama aja kayak dia suka selingkuh,” Evelyn memutar-mutar ponsel di tangannya dengan gerakan santai namun penuh penekanan, sebuah gestur yang sangat menantang Dafa. Dafa mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghal
Ada lengkungan tipis di bibir Evelyn, sebuah senyuman samar yang muncul tepat ketika ia menangkap raut panik yang membakar wajah Dafa hingga memerah. Dafa menghujamkan tatapan tajam ke arah Evelyn, namun gadis itu tetap bergeming dalam santainya, seolah amarah yang meluap di hadapannya hanyalah angin lalu. “Aku heran sama kamu, masa sih kamu lupa sama malam kemarin padahal kamu juga ikut nikmatin,” Di ujung kalimatnya, Evelyn berucap lirih sebuah nada sedih yang begitu tajam hingga terasa menusuk relung hati. “Nikmatin? Apa maksud kamu?” Sentak Dafa tanpa sadar tubuhnya condong ke depan, mencondongkan diri ke arah meja dengan tatapan yang menghujam. “Ya… masa kamu lupa sih gak mungkin lah aku jelasin,” Evelyn sedikit menunduk seolah menahan sesuatu yang entah hanya dia yang tahu. “Aku gak mau tahu hapus foto itu sekarang juga,” ucap Dafa menggebu-gebu. Evelyn hanya terdiam tangannya meremat handphonnya yang sudah ia ambil sejak tadi. “Gak bisa.” “Kenapa?” “Karena ini pent
Kedua mata Dafa membelalak sempurna begitu menangkap objek di dalam foto itu. Tanpa aba-aba, ia menyambar ponsel Evelyn dengan gerakan kilat.“Tuh liat kelakuan istri kamu enak-enakan liburan ke kota C,” ucap Evelyn ia menatap Dafa yang masih mematung, menatap nanar foto di layar itu. Pemandangan di hadapannya terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen di sekitarnya mendadak hilang.“Aku gak habis pikir bukannya dia harusnya ngejar kamu, minta maaf ke kamu eh malah asyik sama selingkuhannya bener-bener gak bener,” Evelyn terus mengoceh panjang lebar, sengaja menuangkan bensin ke dalam api untuk memprovokasi kemarahan Dafa.“Harusnya kan dia sadar udah punya suami dan harusnya kan—““Kamu dapet dari mana foto ini?” Dafa mengalihkan pandangan dari ponsel itu, lalu menatap Evelyn tajam. Saat ia mulai bicara, nada suaranya merendah dingin dan penuh penekanan yang mengintimidasi.“Dari mana aja boleh, kamu gak perlu tahu yang pasti iti foto asli bukan editan,” tukasnya.Dafa hanya terdiam.







