Mag-log in“PAPA!!!” seru Arka sambil berhambur ke pelukan Tama.
Tama tersenyum sambil menangkap Arka. Ia langsung menggendong bocah kecil itu.
“Wah, jagoan Papa tambah besar, ya. Badannya sudah berat sekarang.”
Arka tertawa saat Tama menggendongnya.
“Aku sekarang doyan makan, Pa. Ada Oma Wulan yang selalu memasak buatku.”
Tama tersenyum lega.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tapi, sebenarnya aku juga merind
Klik.Panggilan terputus, bahkan Tama belum sempat membalas ancaman Rima.“Sial!!” geram Tama sambil meremas ponselnya.Ia kembali melakukan panggilan dan kali ini ke Bastian.“Ada apa lagi, Tama?”“Bas, Rima baru saja meneleponku.”“Rima?” Bastian mengernyitkan alis, “adiknya Rani?”“Ya, kamu masih ingat rupanya.”Bastian menghela napas panjang.“Mana mungkin aku lupa dengan cegil macam dia.”Tama mengangguk. Ia ingat jika Bastian mati-matian mencoba melepaskan diri dari Rima kala itu. Rima memang sempat mempunyai perasaan ke Bastian, tapi beruntung Bastian menyadari lebih dulu kegilaan Rima.“Memangnya dia buat masalah apa lagi?”Tama menghela napas sejenak, kemudian menceritakan apa isi percakapannya dengan Rima beberapa saat tadi. Bahkan soal Rima yang mengancam akan melaporkan Airin.“Gila! Dia memang gila. Sepertinya aku tidak kaget jika Rani juga seperti itu.”Tama hanya diam mendengarkan. Setelah beberapa saat, ia bersuara.“Bas … aku mohon jangan sampai Rima menyulitkan Airin
Drrt.Ponsel Tama tiba-tiba bergetar. Pria itu langsung tersentak kaget dan merogoh saku celananya. Bi Sumi yang tadinya berdiri diam di ambang pintu, buru-buru berlalu pergi. Ia tidak mau Tama tahu sedang ia perhatikan.Tama duduk di kasur melihat ponsel di tangannya. Ada nama Bastian di sana.“Ada apa, Bas?” tanya Tama.“Tama, aku rasa kamu harus dengar ini.”“Dengar apa?”“Tentang hasil pemeriksaan Rani.”Tama terdiam sejenak. Jakunnya naik turun menelan ludah. Ia sudah mendengar jika Rani menjalani pemeriksaan kesehatan kejiwaan tempo hari.“Dari pemeriksaan awal, Rani menunjukkan indikasi gangguan kejiwaan. Namun, diagnosis dan kondisi kejiwaannya masih harus dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut oleh psikiater.”“Untuk sementara, Rani masih menjalani observasi di rumah sakit jiwa dengan pengawalan polisi. Hasil pemeriksaan psikiater nantinya ak
“Tapi, itu bukan punyaku, Bu. Sebentar lagi, kan kita sudah bukan suami istri lagi.”Bu Isa terdiam, menatap kalung berlian itu kemudian melihat Airin. Perlahan ia menghela napas.“Tapi, sepertinya Tama sengaja meninggalkan ini untukmu, Rin.”Airin mengangguk.“Iya, nanti biar aku balikin, Bu. Saat keputusan cerai terakhir dibacakan.”Bu Isa terdiam, menutup kotak perhiasan itu kemudian meletakkan kembali ke dalam laci.Bu Isa melihat Airin yang sedang menyusui Kirana. Putri cantiknya itu tampak tersenyum bahagia sambil sesekali menatap Kirana. Entah, mungkin Bu Isa tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Airin selama ini. Hanya saja, Bu Isa baru melihat senyum tulus penuh kebahagiaan itu saat ini.“Ibu ke dapur dulu, ya.”Airin mengangguk sambil tersenyum. Sementara Bu Isa sudah berlalu pergi meninggalkannya.Setelah memastikan ibunya sudah pergi, Airin kembali membuka lac
“Sudah, Mas.”Perlahan Airin mengurai pelukan Tama dan menjauh darinya. Tama tidak menolak dan tidak memaksa untuk memeluk Airin lagi.“Aku rasa kamu sudah tahu jawabanku.”Airin menghela napas pelan sambil menatap Tama dengan sendu.“Aku … sudah tidak bisa menjadi istrimu lagi. Semua sudah selesai.”Tama terdiam, kepalanya menunduk semakin dalam.Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Tama katakan. Ia ingin meminta Airin mempertimbangkan kembali keputusannya, bahkan ingin mengatakan bahwa dirinya akan menunggu sampai kapan pun.Namun, melihat sikap Airin tadi, Tama sadar bahwa tidak ada lagi kalimat yang bisa mengubah keputusan wanita itu.Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kehilangan.Airin menyiapkan minuman ke atas baki kemudian membawanya keluar.“Aku keluar dulu.”Airin berlalu pergi meninggalkan Tama seorang diri. Lagi-lagi Tama hanya berdiri diam menatap punggung Airin yang menjauh.Selang beberapa saat, Tama berjalan keluar. Ada Tirta, Bu Isa, Pak Broto, Airin dan j
“Dokter Tirta,” seru Bu Isa.Tirta berjalan menghampiri mereka. Senyum ramah menghiasi wajahnya.“Assalamualaikum!”“Waalaikumsalam.”“Wah, sedang kumpul di sini semua,” ucap Tirta sambil melayangkan pandangannya. Bahkan tatapannya sempat beradu dengan Tama.“Iya, kebetulan mau mengantar Tama pulang,” sahut Pak Broto.Tirta melirik Tama dan entah mengapa tatapan kedua pria itu sempat beradu sebelum akhirnya saling berpaling.“Kamu ngapain ke sini?” tanya Tama ketus."Katanya kamu baru akan pulang akhir pekan?"Tirta tersenyum santai."Memang. Tapi kebetulan ada urusan yang harus kuselesaikan lebih cepat.""Urusan apa?"Tirta melirik sekilas ke arah Airin."Urusan keluarga. Sekalian menjenguk orang-orang yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri."Tama langsung mengernyit. Bastian yang berdiri di sampingnya hanya menghela napas panjang sambil sesekali menyikut lengan Tama.“Banyak sekali belanjaannya, Dok. Mau buka toko bayi?” celetuk Bastian mencoba mencairkan suasana.Tirta tertaw
“MAS!!”Tama langsung menghentikan langkah. Senyum di wajahnya semakin lebar melihat Airin yang tampak begitu waspada.“Kenapa? Takut aku cium lagi?”“Mas Tama!” Airin melotot.“Iya, iya. Aku tidak jadi.”Tama mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah. Kemudian perlahan bergerak ke travel bagnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.“Harusnya saat anniversary tempo hari, aku memberimu ini. Namun, saat itu hadiahnya hilang dan ternyata disembunyikan Rani.”Airin hanya diam sambil menatap kotak perhiasan di tangan Tama.“Ini untukmu.”Tama menyodorkan kotak perhiasaan itu dan diletakkan langsung ke tangan Airin. Airin buru-buru menolaknya.“Gak usah, Mas. Lagipula, setelah ini kita sudah berpisah.”“Aku sudah membelikannya untukmu, jadi mubazir kalau tidak dipakai. Bukalah!”Airin diam. Ia meletakkan selimut dan baju gantinya ke meja, kemudian membuka kotak perhiasaan itu. Airin melihat sebuah kalung dengan liontin berlian yang sangat indah berkilauan di dalam sana.Airin menyentuh k







