LOGIN“PAPA!!!” seru Arka sambil berhambur ke pelukan Tama.
Tama tersenyum sambil menangkap Arka. Ia langsung menggendong bocah kecil itu.
“Wah, jagoan Papa tambah besar, ya. Badannya sudah berat sekarang.”
Arka tertawa saat Tama menggendongnya.
“Aku sekarang doyan makan, Pa. Ada Oma Wulan yang selalu memasak buatku.”
Tama tersenyum lega.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Tapi, sebenarnya aku juga merind
Rani menatap layar ponselnya.Tidak ada pesan dari Tama. Tidak ada panggilan. Bahkan nomor pria itu benar-benar tidak aktif.“Jadi sekarang kamu benar-benar memilih dia, Mas?”Tangannya mengepal. Bibirnya mengerat. Sesekali ia menghela napas, matanya menatap kosong ke depan.Selama ini Rani masih percaya, sejauh apa pun Tama menjauh, pria itu akan tetap kembali ketika dirinya membutuhkan.Namun, kali ini berbeda.Untuk pertama kalinya, Rani merasa Tama benar-benar sedang meninggalkannya**Sore itu, Airin menikmati senja sambil berjalan-jalan di sekitar hotel. Tama memang sengaja tidak ingin membuat Airin terlalu lelah. Ia sangat membatasi aktivitas mereka.“Kamu mau apa?”Airin menggeleng.“Aku nggak butuh apa-apa.”“Aku nggak tanya kamu butuh apa. Aku tanya kamu mau apa.”Airin terdiam.Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa sesak. Selama ini, terlalu sering ia hanya memikirkan apa yang dibutuhkan orang lain. Kali ini Tama memintanya memikirkan keinginannya sendiri.
Tirta terdiam.Jakunnya naik turun menelan saliva.“Apa maksudmu?”Tama tersenyum sekilas.“Gak ada maksud apa pun. Aku hanya berpikir, apa kamu sering memeriksa pasien sendirian setelah jam kerja?”Tirta mendengkus.“Tidak selalu. Kebetulan hari ini jadwalku padat, jadi pemeriksaan Airin baru bisa dilakukan sore.”Tama mengangguk.“Begitu.”Tirta menatap Tama.“Kalau kamu keberatan, lain kali kamu bisa menemaninya.”“Iya, biasanya juga begitu. Hanya hari ini kebetulan aku sibuk.”“Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa sebenarnya.”Tirta mengangguk. Bersamaan dengan Airin yang sudah ikut duduk bersama mereka.“Secara keseluruhan kandungan Airin tidak ada masalah. Kesehatannya juga cukup fit. Jadi, tidak masalah jika kalian melakukan perjalanan jauh.”Tama dan Airin hanya menganggukkan kepa
“Maaf ya, Rin. Aku baru sempat memeriksamu sore, padahal sudah waktumu pulang,” ucap Tirta.Airin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kali ini mereka sudah berada di ruang periksa poli kandungan tempat Tirta praktek di klinik tersebut.Karena sibuk seharian, Tirta baru sempat memeriksa Airin sore usai jam kerja.“Gak papa, Dok. Kebetulan juga Mas Tama belum jemput.”“Loh, Tama gak ikut menemani?”“Sepertinya gitu, tapi saya sudah kirim pesan. Kalau dia datang, dia bakal langsung ke sini.”Tirta mengangguk.“Oke, sebentar aku siapkan dulu, ya!!”Airin mengangguk. Ia melihat hanya Tirta dan dirinya saja berada di ruangan ini. Memang ini sudah bukan jam praktek Tirta. Wajar saja jika tidak ada perawat yang menemani untuk membantunya.“Saya juga bisa bantu kok, Dok.”Tirta menoleh sambil tersenyum melihat Airin.“Sudah, kamu
“Bu, Pak, akhir pekan ini kami mau pamit pergi,” ucap Tama pagi itu.Bu Kedasih, Pak Adi bersama Airin dan Tama sedang duduk menikmati sarapan pagi. Kedua orang tua Tama tampak terkejut mendengarnya.“Memangnya kalian mau kemana?” tanya Pak Adi.“Kami mau pergi babymoon selama satu minggu.”Pak Adi langsung tersenyum lebar, berbanding terbalik dengan reaksi Bu Kedasih. Wajah wanita paruh baya itu langsung berubah masam.“Baguslah kalau begitu. Airin memang butuh liburan seperti itu. Nanti kalau sudah melahirkan pasti repot mengurus anak,” ucap Pak Adi.Tama dan Airin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sementara Bu Kedasih hanya diam.Wanita itu tidak banyak bicara belakangan ini. Tidak ada lagi sindiran untuk Airin, tidak ada lagi pertengkaran dengan Tama.Mungkin, perlahan-lahan Bu Kedasih mulai menerima pilihan putranya.“Bu, kamu gak mau ngomong sesuatu?” Pak Adi menyenggol sikut Bu Kedasih.Wanita itu mendongak, menatap Tama dan Airin secara bergantian. Kemudian buru-bur
Rani terdiam.Ada sakit yang begitu nyata menusuk-nusuk dadanya secara berulang. Ia buru-buru memalingkan pandangan. Berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Tama.“Iya, memang seharusnya seperti itu.”Tama tersenyum. Menatap Rani sekilas. Berharap wanita di depannya ini tahu apa yang sedang ia putuskan.“Aku gak bisa lama-lama, Ran. Airin sedang tidur di mobil. Ia kelelahan sepertinya.”Rani mengernyitkan alis.“Airin? Dia kamu ajak juga?”Tama mengangguk. “Iya, Arka juga yang memintanya.”Rani membeku. Sekali lagi tangannya mengenggam erat ponselnya. Rani tahu jika Arka sudah akrab dengan Airin.Hanya saja kenapa sampai sejauh ini? Apa Airin memang benar-benar akan menggantikan posisinya?Tama berdiri.“Aku pulang dulu.”“Iya.”Rani mengantar Tama sampai pintu. Ia melihat ada bayang Airin sedang terlelap di bangku depan
Keesokan harinya, Tama meminta Airin untuk pulang kerja tepat waktu. Ia sudah janji akan menghabiskan waktu bersama Arka sore itu.“Kerjaanmu sudah beres, kan?” tanya Tama begitu Airin masuk ke dalam mobil.“Iya, Mas. Sudah beres semua, kok. Tadi aku nyicil ngerjain laporan saat jam makan siang.”Tama mengernyitkan alis menatap Airin.“Itu artinya kamu belum makan tadi?”Airin terdiam sejenak. Sekali lagi Tama menunjukkan perhatiannya, padahal dia tidak mengatakan kalau tidak makan saat jam istirahat tadi.“Sudah, kok. Aku makan sambil mengerjakan laporannya.”Tama menganggukkan kepala.“Kali ini aku percaya padamu. Lain kali aku akan minta temanmu untuk memastikan kalau kamu tidak melewatkan waktu makan.”Airin tersenyum. Entah mengapa ucapan Tama itu membuat dadanya berdebar. Lagi-lagi ia menunjukkan perhatiannya ke Airin.Selang beberapa saat, Tama sudah tiba di rumah Rani. Arka sudah menunggunya di depan. Untu







