Masuk
"Bagaimana kejadian yang sebenarnya? Kenapa bisa-bisanya ada kasus yang seperti ini? Kalian tidak pernah memperhatikan teman kalian sendiri, kah?" tanya Tanti, perempuan pemilik indekos yang baru saja tiba di indekos miliknya itu.
Namun, saat Tanti telah tiba di indekos miliknya, sudah sangat ramai dengan banyaknya orang yang memiliki rasa keingintahuan yang sangat tinggi.
Ditambah lagi, dengan adanya garis polisi yang membatasi kamar penemuan mayat. Tanpa ingin membuang waktu lebih banyak lagi, Tanti langsung menerobos masuk ke kerumunan orang-orang.
"Ini, Pak yang punya indekosnya," ucap salah satu warga yang memang tengah hadir dan menyaksikan.
Tanti menganggukkan kepala, memberi pertanda jika apa yang diutarakan oleh warga tersebut adalah benar. Detik itu juga Tanti langsung diinterogasi oleh pihak kepolisian, mengenai bagaimana kejadian dan juga informasi yang memang sangat dibutuhkan oleh pihak kepolisian tersebut.
Sebenarnya, sangat tak bisa dipungkiri, jika saat mendapat rentetan pertanyaan yang cukup banyak, Tanti merasa sedikit gugup dan tidak tenang.
Suasana hatinya saat ini sangat campur aduk, antara takut, kecewa, sedih, dan gagal.
Pasalnya, ia yang memiliki indekos tersebut, tetapi bahkan ia sendiri tidak mengetahui jika ada penghuni kamarnya yang mengalami depresi. Bahkan, sampai-sampai melakukan hal untuk mempersingkat hidup.
"Ya Tuhan, mengapa jadi seperti ini?" gumam Tanti, dengan suara yang sangat lemah. Bahkan, hampir tak terdengar oleh siapa pun. Tak ada lagi air mata yang mengalir dari ujung kedua matanya itu.
Menatap nanar ke arah pintu indekos yang sudah diberi garis kepolisian, supaya tidak ada yang memasuki kawasan tersebut. Bahkan, saat ini sebagian besar penghuni kos tersebut memilih untuk menginap sementara di indekos temannya.
Manusia yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan tangan sendiri, akan selalu menyimpan kisah mistis di balik itu. Namun, Tanti akan sangat berharap jika usaha indekos yang ia miliki tidak akan terbengkalai hanya karena kasus yang tadi.
Baru saja Tanti memiliki pemikiran tentang bagaimana nasib indekos miliknya, tetapi tiba-tiba saja ia mendengar suara tangisan dari dalam kamar tersebut.
Tangisan yang sangat menyayat hati dan penuh dengan penyesalan. Tak ada kalimat apa pun, hanya tangisan saja yang terus-menerus terdengar jelas di telinga Tanti.
Tak cukup sampai di situ, kali ini suara tangisan tersebut berganti menjadi suara teriakan yang membuat Tanti langsung memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Kejadian yang sangat menegangkan, ditambah lagi dengan suasana mencekam, juga keheningan meliputi wilayah indekos tersebut.
"Baru aja aku memikirkan gimana nasib indekos punya aku ini, apa nanti bakalan sepi, seperti indekos yang pernah memiliki kasus serupa? Tapi ternyata udah langsung dapet hal mistis kayak gitu," gumam Tanti, ia sudah menyusun hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi.
"Bu Tanti," panggil seorang perempuan dengan suara yang sangat lirih, tanpa adanya ketukan di pintu kamar.
Kedua bola mata Tanti langsung membulat dengan sangat sempurna, kala ia mendengar suara yang memanggil dirinya. 'Bukannya di sini cuma ada tiga orang ya? Itu pun mereka udah bilang ke aku, kalau enggak bakalan ke luar kamar karena takut?'
"Siapa?" sahut Tanti, tanpa keluar atau mendekat ke arah pintu.
Berusaha bersikap tenang dan juga berani, meskipun saat ini Tanti hanya bisa berada di balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya tersebut.
"Saya ... Lina, Bu. Saya Lina ...." Tangisan pun kembali terdengar dengan sangat jelas.
Tangisan yang benar-benar menyayat hati, tetapi saat ini Tanti hanya berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri, supaya tidak memiliki rasa takut yang berlebihan.
Apalagi, posisinya Tanti tengah sendiri. Mustahil sekali rasanya jika tidak ada takut yang melanda. Suara ketukan pintu kini terdengar pelan, tetapi ritmenya semakin lama semakin cepat.
Tanti saat ini hanya bisa memejamkan kedua matanya saja, dengan mulut yang terus melafadzkan asma Allah. Apa saja, yang terpenting adalah, ia yakin jika makhluk halus akan merasa panas dan akan menghilang.
Di saat keadaan Tanti saat ini tengah genting, tiba-tiba saja ponsel yang berada di genggamannya itu berbunyi. Pertanda jika ada satu pesan yang masuk.
Meskipun tangannya gemetar, tetapi jika hanya untuk membuka ponsel saja, Tanti akan usahakan itu supaya ia dapat melihat pesan dari siapa.
'Ibu baik-baik saja, kan? Soalnya tepat di depan kamar Ibu, ada Lina, Bu. Dia terbang gitu.' Tanti membaca isi pesan tersebut di dalam hati.
Pesan yang dikirim oleh salah satu penduduk indekos tersebut, yang memang sudah bilang ke dirinya, jika akan berada di dalam kamar indekos saja.
Dada Tanti tiba-tiba sesak. Wajahnya terlihat panik luar biasa."Arrgh!"
Dinda tersentak, napasnya tersengal seperti habis dikejar binatang buas. Lampu neon masih menyala stabil, kuning pucat, menerangi wajah Amel yang cemas di depannya. Bau anyir itu lenyap seketika, berganti aroma vanila dan kopi instan yang tadi malam tercium begitu menenangkan.“Mel … tadi aku mimpi buruk,” gumam Dinda, suaranya serak. Tubuhnya masih gemetar, sebab rasa takut itu benar-benar menghantui dirinya. “Aku cium bau darah lagi dan kamu matanya hitam pekat. Kamu juga tadi sempet bilang, kalau aku nggak bisa lari.”Amel langsung memeluk Dinda erat, tangannya mengusap punggung sahabatnya itu pelan-pelan. “Sst, itu cuma mimpi, Din. Kamu aman di sini sama aku. Aku juga nggak ke mana-mana. Lihat, mataku normal kan?” Ia mundur sedikit, menatap Dinda dengan mata cokelat hangat yang selalu membuat Dinda merasa pulang.Dinda menatap lama, mencari-cari celah kegelapan yang tadi ia lihat. Tak ada. Hanya pantulan lampu neon di kornea Amel. Ia mengangguk pelan, tapi jantungnya masih berdeg
Dinda mengetuk pintu kamar nomor 7 dengan tangan yang masih gemetar, kardus berisi barang miliknya berada di sisi kanan, sementara tas ransel masih digendong oleh Bayu di belakangnya. Malam semakin larut, angin malam menyusup melalui koridor indekos Amel yang lebih ramai dibanding kosan lamanya Dinda."Mel, ini Dinda!" panggilnya lagi, suaranya sedikit lebih keras supaya terdengar sampai ke dalam.Pintu terbuka pelan, memperlihatkan wajah Amel yang mengantuk, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun dari tidur yang nyenyak. Ia memakai kaus longgar dan celana pendek, mata sipitnya melebar saat melihat Dinda dan Bayu di depan pintu. "Din? Jam segini? Ada apa?"Bayu meletakkan tas ransel di depan pintu. "Aku anterin Dinda ke sini dulu, Mel. Dia nggak bisa terus ada di kosan lama. Ceritanya panjang, boleh enggak kalau Dinda di sini dulu?"Amel mengangguk cepat, lalu langsung menarik lengan Dinda untuk cepat masuk. "Masuk dulu, Din. Kamu keliatan pucat banget. Bayu, makasih ya udah ante
Dinda bersandar di pintu kamarnya yang baru saja dikunci rapat-rapat. Napasnya tersengal, dada naik-turun seakan baru saja berlari maraton. Di luar kamar, keheningan menyelimuti indekos yang hampir sepenuhnya gelap, sebab memang tidak ada penghuni di indekos tersebut, yang tersisa hanyalah Dinda seorang.Tak ada langkah kaki, juga tawa Lina. Hanya bau anyir yang perlahan-lahan mulai memudar, seolah ikut lenyap bersama sosok yang tadi menyamar sebagai kekasihnya—Bayu.Ponselnya bergetar pelan di genggaman tangan yang masih gemetar. Pesan masuk dari Bayu."Aku udah di depan gerbang, Sayang. Kamu di kamar 12, kan? Aku naik sekarang."Dinda mengetik dengan jari-jari yang masih bergetar, begitu juga hatinya berdegup kencang."CEPET, SAYANG. AKU TAKUT!"Pesan gagal terkirim, tiba-tiba sinyal menghilang, membuat Dinda kembali merasakan ketakutan luar biasa.Dinda menempelkan telinga ke pintu. Sunyi. Lalu, suara motor Bayu terdengar samar dari kejauhan mendekat ke gerbang depan. Ia menahan
Baru saja Dinda akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, ponsel yang saat ini masih berada di genggaman tangannya berdering dan tentu saja tanpa membuang waktu, Dinda segera mengangkat panggilan tersebut.Panggilan dari sang kekasih, yang memang sedari tadi sudah ditunggu kabarnya oleh Dinda."Sayang, kenapa dari tadi aku hubungin kamu enggak bisa terus? Kamu lagi ada di mana sih?" tanya Dinda, dengan wajah yang menunjukkan raut muka sebal, meskipun tidak dapat terlihat oleh sang kekasih."Aku loh dari tadi ada di kosan kamu, muter-muter aku, Sayang nyari di mana kamar kamu, tapi enggak ketemu sama sekali," sahut Bayu, juga dengan raut wajah yang bingung.Pasalnya, saat ini ia sungguh-sungguh merasa bingung, Sedari tadi ia mengitari penjuru kos guna menemui sang kekasih yang berada di dalam kamar, tetapi tidak ada sama sekali."Ngomong apa sih, Sayang. Kok bisa enggak ketemu sama kamar aku.""Beneran sayang, sekarang aja aku deh yang keluar ya dari kamar, biar bisa ketemu sa
Setelah mengatakan hal itu, hantu Lina langsung pergi begitu saja, membuat Dinda yang tadinya merasa takut, justru semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."Din, ke mana perginya hantu itu?" tanya Amel, yang langsung mendekat ke arah Dinda.Respon dari hanya gelengan kepala saja, seraya mengangkat kedua bahu, pertanda jika dirinya tidak tahu ke mana perginya Lina."Ya udah, yuk sekarang kita bawa barang-barang kamu ke depan dan sementara kamu ke kosan aku aja dulu," ajak Amel, tetapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Dinda."Kayaknya aku milih tetap di sini aja deh, Mel, aku rasa ada sesuatu yang harus aku cari tahu kebenarannya bagaimana," ucap Dinda, membuat Amel langsung mengerutkan kening, heran.Amel menatap kedua mata Dinda dengan cukup serius, mencari jawaban dari ucapan Dinda tadi. "Kenapa, Mel? Kamu ngira kalau aku bercanda?"Amel mengangguk. "Aku beneran, mau di sini aja. Aku mau cari tahu apa yang terjadi di sini, sampai-sampai Lina bisa mengakhiri hidupn
Benar saja apa yang dikatakan oleh Dinda, karena ketika ia nekat untuk membuka gorden indekos kamarnya, justru ia mendapati wajah pucat yang menyeramkan, hanya dipisahkan oleh kaca jendela saja.Saat itu juga Dinda langsung menutup gorden yang masih berada di genggaman tangannya itu. Dinda terduduk lemas, ia menetralkan degup jantung yang saat itu benar-benar sudah tidak karuan.Amel yang sedari tadi hanya mengamati gerak-gerik Dinda, sudah dapat menebak jika di depan indekos temannya itu masih ada hantu tersebut.Rasa takut yang juga menyelimuti diri Amel sedari tadi membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mendekat ke arah Dinda.Dua orang perempuan yang tengah berada dalam satu ruangan, kini sibuk dengan diri masing-masing."Kenapa juga sih semuanya seperti ini?" gumam Dinda, dengan suara yang bergetar lirih, tetapi Amel masih dapat mendengar apa yang dikeluhkan oleh sahabatnya tersebut."Din, kamu ke sini dong. Aku takut kalau kita jauh-jauhan kayak gini," pinta Amel, seraya meng