MasukTanti mengerutkan kening kembali begitu melihat pesan Dinda, salah satu mahasiswa yang berada di indekos itu.
Sedari tadi, perempuan itu menceritakan jika tadi ia mendengar suara tangis dari arah kamar Lina, juga suara teriakan yang menyayat hati.
Meskipun begitu, tak ada yang bisa dilakukan oleh Dinda, karena ia tidak ingin mengambil resiko jika sampai arwah dari teman indekosnya itu justru akan menghantuinya.
Di akhir pesan yang dikirim juga, Dinda mengutarakan kalimat maaf, jika ia tidak bisa untuk melakukan apa-apa. Seperti menolong Tanti, karena rasa takut juga sudah sangat menyelimuti Dinda saat ini.
"Bu ... tolongin Lina. Lina enggak mau kayak gini, Lina nyesel, Bu. Harusnya Lina masih hidup dan bisa ketawa-ketawa," lirih Lina tiba-tiba, hingga mengalihkan fokus Tanti secara mendadak.
"Maafin Ibu Lina, tapi kita udah beda dunia dan Ibu juga takut jika harus keluar dari kamar buat ketemu sama kamu," gumam Tanti, dengan suara yang cukup pelan.
Bertepatan dengan jawaban dari Tanti yang seperti itu, lampu kamar Tanti langsung padam begitu saja.
Sontak saja, hal itu membuat Tanti semakin merasa takut dan tak bisa tenang, tetapi ia memilih untuk langsung menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Dirinya berharap, jika arwah gentayangan mantan penghuni indekosnya itu tidak akan mengetahui di mana ia berada saat ini.
Tok tok tok!
"Ibu ...!"
Ketukan di pintu kembali terdengar, kali ini ketukannya terdengar seperti diiringi dengan amarah yang sangat besar. Hingga suaranya terdengar dengan sangat jelas dan juga seakan-akan ingin merusak pintu kamar tersebut.
Tubuh Tanti semakin gemetar, ia sudah tak lagi bisa menyembunyikan rasa takut yang sangat luar biasa tersebut. Bahkan, meskipun ponsel yang masih berada di genggaman tangannya terus saja mengeluarkan bunyi notifikasi, tetapi tak bisa untuk dibuka sama sekali oleh Tanti.
"Ibu ... ada di mana? Karena Ibu yang enggak mau buat nemuin Lina, maka dari itu biarin Lina aja ya yang nemuin Ibu. Ibu ada di mana?" Suara Lina menggema di dalam kamar Tanti.
Hal itu tentu saja membuat Tanti semakin ketakutan, bahkan ia langsung menangis saat itu juga, tetapi Tanti tak ingin jika tangisannya akan terdengar. Sehingga ia memanfaatkan kedua tangannya itu untuk menutup mulutnya sendiri.
Hal yang sangat tak diinginkan, justru terjadi. Selimut yang digunakan oleh Tanti untuk menutupi seluruh tubuhnya itu, justru perlahan ditarik dengan sendirinya. Disertai dengan tawa yang sangat melengking di dalam kamar milik Tanti.
Brak!
*******
"Ibu kos udah enggak ada? Kamu yang bener deh kalau ngomong, jangan asal aja!" Suara dari Gina yang memang sama sekali tidak percaya akan apa yang baru saja diutarakan oleh Dinda.
Ya, Dinda. Perempuan itu yang menjadi saksi, bagaimana suara dari Tanti yang terdengar begitu tersiksa, tetapi di sisi lain juga Dinda tidak dapat berbuat apa-apa.
Dinda juga lah yang melapor peristiwa tersebut pada pihak yang berwajib, serta memberitahu berita tersebut pada grup indekos yang anggotanya memang semua penghuni indekos tersebut.
Berita dari Dinda dan juga kehadiran dari pihak kepolisian membuat semuanya sangat terkejut dan merasa takut. Baik warga sekitar indekos tersebut, atau bahkan penghuni indekos di situ.
"Nak Dinda, boleh kah ceritakan kronologinya seperti apa? Kami membutuhkan itu dan tolong ceritakan dengan sangat jelas juga ya," pinta salah satu polisi yang hadir di tempat tersebut.
Mendengar permintaan yang seperti itu, membuat Dinda langsung meneguk ludahnya dengan sangat kasar. Kedua mata yang ia miliki juga secara spontan langsung menatap ke arah di mana kamar milik Lina yang terlihat sangat menyeramkan. Padahal, hari masih sangat terang.
Dinda bergidik ngeri, kala ingatan tentang bagaimana jeritan Tanti yang terdengar sangat kesakitan. Detik itu juga Dinda langsung menggelengkan kepalanya pelan, lalu berkata, "Mohon maaf, Pak, tapi saya tidak bisa memberikan keterangan apa pun."
Dari jawaban yang dikatakan oleh Dinda, sebenarnya sangat benar. Pasalnya, di saat kejadian itu, Dinda tidak keluar sama sekali dari dalam kamarnya, ia hanya bisa mengandalkan indra pendengarannya saja.
Sedangkan, di sisi yang lain, pihak kepolisian merasa sangat bingung dengan kasus yang tengah mereka jalani. Pasalnya, saat ini mereka tengah berhadapan dengan hantu, bukan dengan makhluk yang bernyawa.
"Nak Dinda, maaf sekali, tetapi kami bingung akan meminta tolong ke siapa, kalau bukan ke kamu, Nak," pinta salah satu polisi yang berusaha untuk membujuk Dinda, supaya dapat membuka mulut.
"Saya juga hanya bisa mohon maaf banget ya, Pak, tapi saya juga enggak bisa kalau harus ngasih keterangan kronologi yang palsu pada pihak kepolisian, karena di saat kejadian saya sedang berada di dalam kamar saya sendiri, saya sama sekali tidak berani untuk keluar," sahut Dinda, yang juga berusaha untuk memberi pemahaman lebih.
Kembali, Dinda melirik ke arah di mana kamar milik Lina yang masih terpasang garis polisi. Entah mengapa, kala kedua matanya menatap ke arah kamar tersebut, ia justru mendengar suara tawa yang sangat bahagia sekali dari dalam kamar tersebut.
Secara otomatis, Dinda menganggap jika tawa tersebut yang berasal dari kamar tragedi kematian, ada hubungannya dengan insiden kematian pemilik indekos.
'Apa mungkin ya, Lina yang ngebuat bu Tanti sampai enggak bernyawa kayak gitu?' gumam Dinda di dalam hatinya, dengan perasaan yang penuh akan rasa takut.
Merinding dan juga gemetar, Dinda sama sekali tak percaya jika indekos yang saat ini ia tempati akan mengandung cerita mistis yang dapat dirinya langsung merasa sangat lemas. Sungguh, ia tak sanggup.
"Aku harus segera keluar dari sini."Dinda tersentak, napasnya tersengal seperti habis dikejar binatang buas. Lampu neon masih menyala stabil, kuning pucat, menerangi wajah Amel yang cemas di depannya. Bau anyir itu lenyap seketika, berganti aroma vanila dan kopi instan yang tadi malam tercium begitu menenangkan.“Mel … tadi aku mimpi buruk,” gumam Dinda, suaranya serak. Tubuhnya masih gemetar, sebab rasa takut itu benar-benar menghantui dirinya. “Aku cium bau darah lagi dan kamu matanya hitam pekat. Kamu juga tadi sempet bilang, kalau aku nggak bisa lari.”Amel langsung memeluk Dinda erat, tangannya mengusap punggung sahabatnya itu pelan-pelan. “Sst, itu cuma mimpi, Din. Kamu aman di sini sama aku. Aku juga nggak ke mana-mana. Lihat, mataku normal kan?” Ia mundur sedikit, menatap Dinda dengan mata cokelat hangat yang selalu membuat Dinda merasa pulang.Dinda menatap lama, mencari-cari celah kegelapan yang tadi ia lihat. Tak ada. Hanya pantulan lampu neon di kornea Amel. Ia mengangguk pelan, tapi jantungnya masih berdeg
Dinda mengetuk pintu kamar nomor 7 dengan tangan yang masih gemetar, kardus berisi barang miliknya berada di sisi kanan, sementara tas ransel masih digendong oleh Bayu di belakangnya. Malam semakin larut, angin malam menyusup melalui koridor indekos Amel yang lebih ramai dibanding kosan lamanya Dinda."Mel, ini Dinda!" panggilnya lagi, suaranya sedikit lebih keras supaya terdengar sampai ke dalam.Pintu terbuka pelan, memperlihatkan wajah Amel yang mengantuk, rambutnya acak-acakan seperti baru bangun dari tidur yang nyenyak. Ia memakai kaus longgar dan celana pendek, mata sipitnya melebar saat melihat Dinda dan Bayu di depan pintu. "Din? Jam segini? Ada apa?"Bayu meletakkan tas ransel di depan pintu. "Aku anterin Dinda ke sini dulu, Mel. Dia nggak bisa terus ada di kosan lama. Ceritanya panjang, boleh enggak kalau Dinda di sini dulu?"Amel mengangguk cepat, lalu langsung menarik lengan Dinda untuk cepat masuk. "Masuk dulu, Din. Kamu keliatan pucat banget. Bayu, makasih ya udah ante
Dinda bersandar di pintu kamarnya yang baru saja dikunci rapat-rapat. Napasnya tersengal, dada naik-turun seakan baru saja berlari maraton. Di luar kamar, keheningan menyelimuti indekos yang hampir sepenuhnya gelap, sebab memang tidak ada penghuni di indekos tersebut, yang tersisa hanyalah Dinda seorang.Tak ada langkah kaki, juga tawa Lina. Hanya bau anyir yang perlahan-lahan mulai memudar, seolah ikut lenyap bersama sosok yang tadi menyamar sebagai kekasihnya—Bayu.Ponselnya bergetar pelan di genggaman tangan yang masih gemetar. Pesan masuk dari Bayu."Aku udah di depan gerbang, Sayang. Kamu di kamar 12, kan? Aku naik sekarang."Dinda mengetik dengan jari-jari yang masih bergetar, begitu juga hatinya berdegup kencang."CEPET, SAYANG. AKU TAKUT!"Pesan gagal terkirim, tiba-tiba sinyal menghilang, membuat Dinda kembali merasakan ketakutan luar biasa.Dinda menempelkan telinga ke pintu. Sunyi. Lalu, suara motor Bayu terdengar samar dari kejauhan mendekat ke gerbang depan. Ia menahan
Baru saja Dinda akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, ponsel yang saat ini masih berada di genggaman tangannya berdering dan tentu saja tanpa membuang waktu, Dinda segera mengangkat panggilan tersebut.Panggilan dari sang kekasih, yang memang sedari tadi sudah ditunggu kabarnya oleh Dinda."Sayang, kenapa dari tadi aku hubungin kamu enggak bisa terus? Kamu lagi ada di mana sih?" tanya Dinda, dengan wajah yang menunjukkan raut muka sebal, meskipun tidak dapat terlihat oleh sang kekasih."Aku loh dari tadi ada di kosan kamu, muter-muter aku, Sayang nyari di mana kamar kamu, tapi enggak ketemu sama sekali," sahut Bayu, juga dengan raut wajah yang bingung.Pasalnya, saat ini ia sungguh-sungguh merasa bingung, Sedari tadi ia mengitari penjuru kos guna menemui sang kekasih yang berada di dalam kamar, tetapi tidak ada sama sekali."Ngomong apa sih, Sayang. Kok bisa enggak ketemu sama kamar aku.""Beneran sayang, sekarang aja aku deh yang keluar ya dari kamar, biar bisa ketemu sa
Setelah mengatakan hal itu, hantu Lina langsung pergi begitu saja, membuat Dinda yang tadinya merasa takut, justru semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi."Din, ke mana perginya hantu itu?" tanya Amel, yang langsung mendekat ke arah Dinda.Respon dari hanya gelengan kepala saja, seraya mengangkat kedua bahu, pertanda jika dirinya tidak tahu ke mana perginya Lina."Ya udah, yuk sekarang kita bawa barang-barang kamu ke depan dan sementara kamu ke kosan aku aja dulu," ajak Amel, tetapi langsung dijawab gelengan kepala oleh Dinda."Kayaknya aku milih tetap di sini aja deh, Mel, aku rasa ada sesuatu yang harus aku cari tahu kebenarannya bagaimana," ucap Dinda, membuat Amel langsung mengerutkan kening, heran.Amel menatap kedua mata Dinda dengan cukup serius, mencari jawaban dari ucapan Dinda tadi. "Kenapa, Mel? Kamu ngira kalau aku bercanda?"Amel mengangguk. "Aku beneran, mau di sini aja. Aku mau cari tahu apa yang terjadi di sini, sampai-sampai Lina bisa mengakhiri hidupn
Benar saja apa yang dikatakan oleh Dinda, karena ketika ia nekat untuk membuka gorden indekos kamarnya, justru ia mendapati wajah pucat yang menyeramkan, hanya dipisahkan oleh kaca jendela saja.Saat itu juga Dinda langsung menutup gorden yang masih berada di genggaman tangannya itu. Dinda terduduk lemas, ia menetralkan degup jantung yang saat itu benar-benar sudah tidak karuan.Amel yang sedari tadi hanya mengamati gerak-gerik Dinda, sudah dapat menebak jika di depan indekos temannya itu masih ada hantu tersebut.Rasa takut yang juga menyelimuti diri Amel sedari tadi membuatnya tidak memiliki keberanian untuk mendekat ke arah Dinda.Dua orang perempuan yang tengah berada dalam satu ruangan, kini sibuk dengan diri masing-masing."Kenapa juga sih semuanya seperti ini?" gumam Dinda, dengan suara yang bergetar lirih, tetapi Amel masih dapat mendengar apa yang dikeluhkan oleh sahabatnya tersebut."Din, kamu ke sini dong. Aku takut kalau kita jauh-jauhan kayak gini," pinta Amel, seraya meng







