Share

6. Tangisan

Author: Maisa Queen
last update Last Updated: 2025-12-03 18:45:27

Hai💙

Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋

Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙

💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙

••••••

‎Setelah kepergian Arsen, kamar anak-anak mendadak terasa sunyi. Virly hanya diam saja, tubuhnya terasa mati rasa.

‎Ia menatap hampa ke depan, memproses semua yang terjadi begitu cepat. Ia masih mengenakan gaun pernikahan yang kini terasa seperti rantai.

‎Rasa tidak adil menyelimuti dirinya.

‎"Apakah orang kaya selalu seenaknya terhadap orang di bawahnya?" batinnya menjerit. ‎

‎Di usianya yang baru 17 tahun, saat ia masih harusnya memikirkan ujian akhir SMA dan kencan dengan pacarnya, kini ia dipaksa menjadi ibu bagi dua anak yang tidak ia harapkan.

‎Di hadapan Kayla dan Kay, Virly menjatuhkan dirinya, duduk lemah di lantai berkarpet. Ia mengingat kembali wajah kejam Arsen saat mengancam ayahnya.

‎Rasa benci itu perlahan menguasai dirinya. Ia merasa Arsen telah merusak, bahkan merenggut masa depannya.

‎Bahunya mulai bergetar tak terkendali. Rasanya hampir gila dengan keadaan yang tiba-tiba ini. Isakan lirih pertama lolos dari bibirnya, diikuti air mata yang menetes membasahi pipi.

‎ ‎Kayla hanya mengamati sebentar-anak yang terbiasa dengan drama dan ketegangan itu hanya melirik, sebelum kembali fokus pada mainannya, mencoba membangun pertahanannya.

‎Namun, Kay tidak mengalihkan pandangannya dari Virly. Ia ingin disapa lagi, dipeluk, dan melihat senyum hangat 'Mama baru' yang dijanjikan papanya.

‎Tetapi, setelah papanya pergi, 'Mama baru' itu hanya diam, tidak lagi menatap mereka, dan kini menangis.

‎ ‎Dengan memberanikan diri, Kay memanggil Virly dengan suara pelan.

"Mama...?" Panggil Kay lirih.

‎Virly tidak menjawab. Isakannya justru semakin keras, menarik napas tajam di antara tangisnya. Hal itu membuat Kay takut.

‎Kay mendekati kakaknya, memeluk Kayla erat-erat. "Kakak, aku takut. Mama menangis..."

‎Kayla yang terbiasa menahan diri, hanya diam. Ia balas memeluk adiknya, mencoba menenangkan. Mereka berdua takut melihat 'Mama baru' yang menangis semakin keras.

‎Mereka takut kalau nanti Virly mengamuk dan melampiaskan kemarahannya pada mereka, seperti yang biasa Vina lakukan.

‎Virly tidak peduli dengan sekitarnya. Ia terus melampiaskan emosi yang ia tahan sejak pagi.

‎"Hiks...hiks...Kenapa... kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa?! Aku tidak sekuat itu, Tuhan! Aku benci takdirku! Aku benci kenapa jalan hidupku berubah secepat ini! Hiks...hiks..." Virly menangis keras.

‎Melihat 'Mama baru' mereka yang menangis sambil melampiaskan emosi, bibir Kay mulai melengkung ke bawah. Ketakutan itu akhirnya berubah menjadi kesedihan. Tidak lama kemudian, tangisannya mulai mengudara.

‎"HUWAAA.....kakak! Kay takut kakak...." Kay memeluk kakaknya semakin erat. Tangisan Virly tak kunjung reda, begitu juga Kay.

‎Tangisannya semakin lama semakin kencang, sambil berteriak memanggil sosok yang selalu menjadi penyelamatnya saat ketakutan.

‎"Papa! Papa! Aku mau Papa!" Kay berteriak di bahu Kayla.

‎Suara tangisan Kay dan Virly terdengar bersahutan, memenuhi kamar, memekakkan telinga Kayla. Anak berusia 5 tahun yang berusaha keras untuk tidak menangis akhirnya runtuh.

‎Lama kelamaan, pertahanan Kayla hancur. Bibirnya melengkung ke bawah, dan tak lama, tangisannya mulai keluar.

‎Tubuhnya bergetar saat memeluk Kay yang menangis. Ia benar-benar takut dengan keadaan sekarang, takut dengan ibu kandung yang kejam, takut dengan ibu baru yang menangis.

‎"Hiks... Papa tolong!" Lirih Kayla

‎Mereka bertiga-Virly, Kay, dan Kayla-kini menangis bersahut-sahutan. Kamar itu dipenuhi suara pilu, mencerminkan kekacauan emosional yang baru saja dibawa Arsen ke dalam kehidupan anak-anaknya.

‎Kay terus memanggil papanya, berharap Arsen segera kembali dan menghentikan drama yang menghancurkan suasana hati itu.

‎•••••

Arsen, yang baru saja masuk rumah, mengerutkan keningnya heran. Suara tangisan bersahutan yang memekakkan telinga terdengar jelas dari lantai atas.

‎Ia melihat Bi Lastri berjalan tergesa-gesa dengan wajah panik.

‎"Ada apa, Bi? Kenapa suara tangisan dari atas sekencang itu?" Arsen menahan Bi Lastri.

‎"Saya tidak tahu, Tuan. Rencana saya baru mau mengeceknya sekarang. Suaranya baru saja pecah, kencang sekali." Jelas Bi Lastri.

‎Karena panik, Arsen langsung berlari menaiki tangga. Ia takut anak-anaknya terluka atau terjadi sesuatu yang serius.

‎Begitu sampai di depan pintu kamar, ia langsung membuka pintu itu dengan kasar.

‎Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kekacauan emosional tiga orang sedang menangis bersahutan, sibuk dengan tangisan masing-masing.

‎Virly duduk di lantai, bersandar di dinding, menangis histeris. Kayla duduk, memeluk Kay sambil menangis, dan Kay juga menangis sambil memanggil ayahnya.

‎Karena mendengar suara pintu yang dibuka kasar, mereka bertiga langsung menoleh ke arah Arsen.

‎Arsen segera mendekati kedua anaknya. Ia membawa Kay dan Kayla ke pelukannya, matanya memancarkan kepanikan dan amarah.

‎"Ada apa ini?! Kenapa kalian menangis?! Apa yang terjadi?!" Tanya Arsen.

‎Kay, yang sudah di ambang batas ketakutan, malah menangis semakin kencang di pelukan ayahnya.

‎"Papa... takut! Kay takut!" Kay terisak keras.

‎Arsen segera mengangkat Kay ke gendongannya, menenangkan. Sementara Kayla masih menangis tersedu-sedu sambil duduk.

‎Arsen mengusap punggung Kay, "Ada apa jagoan Papa? Kenapa menangis? Sudah, jangan menangis lagi."

‎"Takut! Kay takut!" Kay memeluk leher Arsen erat-erat.

‎"Takut apa, Nak? Bilang sama Papa. Apa yang Kay takutkan?"

‎"Mama... Mama baru. Mama baru...! " Kay berbisik, suaranya gemetar.

‎Pengakuan polos Kay langsung memicu kemarahan Arsen. Ia menoleh ke Virly, yang masih terisak di lantai, dan tatapannya berubah tajam dan menuduh.

‎"Virly! Apa yang kau lakukan terhadap anak-anakku?! Kenapa mereka sampai menangis sekencang itu?! Jawab aku!" Ucap Arsen dengan suara rendah, dingin, dan mengancam.

‎Virly hanya diam, bahunya masih bergetar karena isakannya.

‎Arsen yang kepalang emosi, membentak keras. "Aku bilang DIAM! Berhenti menangis!"

‎••••

‎Jangan lupa untuk kasih dukungan ya!!!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    20. Om-om

    Hai🔥💙Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋Happy Reading 🎈 ••••"Sudah, pulang sana!" Desak Virly.Reno mengangguk. "Bye, Sayang!"Virly melambaikan tangan setelah kepergian Reno.Jantung Virly berdegup kencang saat matanya menangkap mobil Arsen yang sudah terparkir di depan pagar. "Sial, semoga Mas Arsen tidak melihat adegan pelukan tadi. Matilah aku!" Ia segera berjalan mendekati mobil itu, membuka pintu depan, dan duduk di samping Arsen."Mas." Virly mencoba tersenyum.Ia mengulurkan tangannya untuk salim pada Arsen. Arsen menerima uluran tangan Virly. Virly menempelkan punggung tangan suaminya ke pipinya, melirik Arsen yang menatap nya datar, lalu melepaskan tasnya.Arsen menjalankan mobil tanpa berkata apa-apa.Virly melepaskan dasi yang mencekik lehernya."Mas, ada air minum? Aku haus. Airku habis."Arsen mengambil tumbler yang tersedia di mobilnya dan menyerahkan ke Virly. Virly minum dengan hati-hati dan mengembalikan tumb

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    19. Double Date

    ‎Hai💙💙‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎••••••Arsen mengedikkan bahu, pura-pura tidak mengerti. "Terus aku harus apa? Sebagai seorang ibu, harusnya kau bisa mengurus anakmu.""Aku sebentar lagi akan terlambat!"Virly berharap Arsen mengerti."Aku juga mau pergi bekerja. Bukan cuma kamu yang ada kegiatan." Jawab Arsen sarkas.Mendengar jawaban Arsen yang seolah tak mau membantunya, Virly hanya diam saja. Rasanya percuma meminta tolong kepada manusia seperti Arsen.Ia kembali menjauh dari Arsen, duduk di meja makan, dan menepuk-nepuk punggung Kayvan dengan pelan."Baiklah. Kalau Kay tidak mau ditinggal, aku libur saja hari ini. Arsen, kau memang menyebalkan, tapi aku tidak akan membiarkan anakmu menderita karenamu." Batinnya.Keputusannya telah bulat. Virly pasrah melewatkan kuliah, demi menenangkan anak yang ia jaga.Melihat Virly hanya diam di meja makan, memeluk Kayvan, Arsen menghela napas. Ia berjalan mendekati Virly.Arsen b

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    18. Drama Pagi

    ‎Hai💙💙‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 ‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎••••••Pagi hari, sekitar pukul 05:30, sebelum anak-anaknya bangun, Virly sudah terbangun terlebih dahulu. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena harus berbagi ranjang dengan Kayvan dan Kayla. Ia menatap kedua anak itu dengan dalam, merasa iba melihat mereka harus menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua yang utuh.Ia segera menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar utama. Ia memutar knop pintu dengan malas, tetapi pintu itu terkunci."Mas... Mas Arsen, buka!" Virly mengetuk pelan.Tak ada jawaban. Virly kembali mengetuk pintu dengan kencang, mulai panik karena takut terlambat sekolah."Mas Arsen! Buka! Aku mau mandi! Aku harus berangkat kuliah!"Tak lama, pintu terbuka. Arsen berdiri di sana dengan wajah baru bangun tid

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    17. Pulang

    ‎Hai💙💙‎‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎•••••••Selesai dengan tablet-nya, Arsen memutuskan untuk keluar menuju kamar anak-anak. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Kayvan dan Kayla yang sibuk menggambar. Matanya menoleh ke arah ranjang, di sana ada Virly yang membalut tubuhnya dengan selimut." Apakah dia sudah tidur? Ini bahkan baru pukul 7 malam. Apakah istriku merajuk? "Arsen kemudian mendekati kedua anaknya dan duduk di samping Kayla. "Sedang apa, Nak? Gambar apa itu?"Bukannya menjawab, Kayla malah menatap ayahnya dengan serius.Kayla berkata dengan suara polos namun menyentuh. "Papa... Papa tadi memarahi Mama, ya?"Arsen terdiam. Ia tidak menyangka Kayla memperhatikan."Tidak, Sayang. Papa tidak memarahi Mama. Papa hanya bicara tegas." Jawab Arsen."Tapi Mama terlihat murung. Mama sudah capek sekolah dari pagi, dan begitu pulang harus mengurus aku dan Adek lagi. Jadi... bisakah Papa jang

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    16. Kucing haus belaian

    ‎Hai💙💙‎‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋‎‎💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙‎‎••••••Follow Ig: wang_shineeHappy Reading 🎈 •••"Halo, Sayang! Sibuk ya? Nanti malam kita jadi keluar kan? Aku kangen banget nih." Suara Reno yang ceria, terdengar jelas.Virly terkejut total. Ia segera melihat layar ponselnya—ternyata memang Reno yang menelpon. Ia langsung mematikan loudspeaker dan berjalan menjauh ke arah balkon, sementara mata Arsen menatap tajam ke punggungnya."Reno, aku tidak bisa untuk malam ini. Ada acara mendadak. Sangat penting." Virly berbisik, suaranya tegang.Reno terdengar menghela napas. "Yah... padahal aku sudah siapkan kejutan. Kalau begitu, kapan Virly bisa? Besok?""Nanti aku kabari. Aku tutup dulu ya. Sampai jumpa." Virly langsung menyudahi panggilan tersebut.••••Virly kembali masuk ke dalam kamar dan langsung mendapatkan tatapan tajam, menusuk, dan penuh amarah dari Arsen.Virly, meskipun gentar, berusaha tidak

  • Terpaksa Dinikahi Duda Anak Dua    15. Tua Bodoh

    ‎Hai💙💙 ‎Ayok bantu votee dan komenn yang buaanyakkk🥳🥳 Bantuin Promosiinn juga boleh yaa😋😋 ‎Selamat membaca bagi yaa gaysss. Votee dan komen yang banyak ya! Spam dengan emot ini dulu biar semangat 💙💙 💙 💙 💙 ‎ ‎•••••• • Kayvan menggeleng. "Kay mau menunggu Mama." Virly menghela napas panjang. Ia menatap Arsen dengan sinis, matanya memancarkan kekesalan luar biasa. "Kenapa kau menatapku sinis begitu?" Ucap Arsen merasa terganggu dengan tatapan itu. Virly mendengus kesal. "Kau tidak punya hati." Arsen langsung memasang wajah tak terima. "Apa maksudmu, Virly? Jaga ucapanmu!" Virly, yang sedari tadi menahan kekesalannya, akhirnya meluapkannya. "Bagaimana bisa kau dengan santainya duduk tadi di bawah, membiarkan Kay menangis sampai sesegukan?! Bahkan sampai sekarang, sudah hampir jam empat sore, Kay belum makan sama sekali! Di mana hati nuranimu, Arsen?!" Ucap Virly, nada nya meninggi karena emosi. "Kayvan yang nakal! Aku sudah bilang dia harus diam dan men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status