LOGINDalam hitungan detik, Felix berdiri kembali sambil tetap menatap Bella.“Bawa dia untuk diobati.” Pinta Felix begitu Jidah datang.DEGGBella langsung menegang karena kaget.“Felix! Aku tidak mau sendirian!” teriaknya panik sambil mencoba bangkit dan kembali meraih bahu Felix. “Felix, jangan tinggalkan aku!”Tapi Felix hanya menggerakkan kepalanya sedikit ke arah Reon yang sudah berdiri di sudut ruangan.Tanpa menunggu lebih lama, Reon langsung melangkah maju.“Maaf, Nona Bella.” Ucap Reon dengan sopan.“Felix! Felix!” Bella meronta, suaranya semakin putus asa ketika Reon mengangkatnya dengan mudah dan membawanya pergi.Tangis Bella masih terdengar, namun Felix sama sekali tidak menoleh, perhatiannya sudah beralih sepenuhnya ke Reya.Langkahnya pelan, tapi setiap langkah terasa menekan udara di sekitarnya.Reya yang menyadari itu langsung menegakkan tubuhnya, menatap balik dengan tajam, berusaha tidak mundur.Namun Felix lebih cepat, ia tiba di hadapan Reya, lalu dalam satu gerakan me
Reya perlahan turun dari ranjang sambil menekan pinggangnya yang terasa pegal. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian meringis kecil ketika tubuhnya kembali mengingatkan tentang malam panjang yang baru saja dilewatinya.“Sial…” gumam Reya sambil memijat pinggangnya. “Pria itu terlalu perkasa.”Pipinya seketika menghangat ketika ingatan tentang Felix yang sangat liar muncul kembali. Reya buru-buru menggeleng, berusaha mengusir bayangan tersebut, tetapi justru aroma tubuh pria itu masih terasa samar di rambutnya.Ia mengambil sehelai rambutnya, mendekatkannya ke hidung, lalu spontan mengernyit.“Sial… bahkan sampai ke rambutku bau pandan juga.” Reya bergumam sambil mengingat bagaimana posisi p3n1s pria itu yang berada di depan wajahnya dan memuncr4tkan sp3rma sampai ke wajahnya berkali-kali, seolah Felix sangat kecanduan membasahi wajah Reya dengan cairan pejunya.Reya hanya bisa mendengus kesal, kemudian segera menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan cepat, berganti pakaian ya
Felix tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju kepada Arga yang tergeletak di lantai, sementara rahangnya mengeras. Tangan Felix lalu mencengkeram kerah pakaian Arga dan menarik tubuh pria itu sedikit ke atas.“Aku bertanya sekali lagi,” ucap Felix dingin. “Siapa yang sudah memintamu bersandiwa seperti ini?”Felix sangat kesal dengan ucapan Arga, karena dia sudah bertahun-tahun mencai sosok sahabat kecilnya itu dan tidak akan mungkin salah. Ditambah Arga malah membawa adiknya sendiri untuk di pamerkan masuk, jelas Felix merasa tidak akan salah mengenali Butterfly jika itu memang Reya. Padahal itu karena ingatan Felix banyak yang samar akibat trauma sejak kecil juga konflik batin kematian kedua orang tuanya. Tak lama, Arga membuka matanya dengan susah payah. Wajahnya semakin pucat, napasnya tersengal akibat luka-luka yang sudah dideritanya.“Aku… tidak…” Ucap Arga lemah.“Jangan membuatku mengulang pertanyaan.” Bentak Felix kasar.“Aku benar-benar…” Arga terbatuk pelan, tu
Felix langsung mengeratkan jubah tidurnya, lalu mendekat dan menutup kaki Reya dengan selimut. Tidak sampai beberapa menit kemudian, sosok pria yang semula masih mengenakan pakaian tidur itu telah berubah sepenuhnya menjadi figur yang selama ini ditakuti.Kemeja hitam melekat rapi di tubuhnya, dibalut jas hitam panjang dengan potongan tegas, sementara celana gelap dan sepatu kulit mengilap menyempurnakan penampilannya. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, memperlihatkan garis wajahnya yang keras dan tatapan mata mengerikan. Tak lama berselang, mobil hitam itu berhenti di depan markas lainnya yang tersembunyi di balik bangunan mewah, dan begitu pintu terbuka Felix turun perlahan sambil merapatkan jas hitamnya dengan gerakan tenang namun penuh tekanan.Para pengawal yang berjajar di sepanjang lorong langsung menundukkan kepala."Selamat datang, Tuan." Ucap semua pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi bersamaan. Felix hanya mengangguk pelan, dan melewati mereka dengan langkah
“Aku tidak yakin dengan pesonaku ini...” gumam Bella, matanya menyipit kepada bayangan sendiri. “Felix akan menolakku.”Bella lalu meremas lembut payudaranya sendiri, kemudian meraba pelan ke pusar dan gerakan melingkar hingga pinggang dan bokongnya, ia sengaja tonjolkan ke cermin untuk melihat ukurannya yang hampir sama dengan p4nt4t Reya. Saat itu juga, Bella terdiam beberapa saat, kemudian senyum tipis muncul.“Kalau Reya bisa membuat Felix tergila-gila...” bisiknya, “aku juga bisa.”...Hanya saja... jauh dari sana, di kamar Felix, keadaan justru berbanding terbalik.Reya yang sejak tadi tertidur perlahan menggeliat di atas kasur. Dalam keadaan setengah sadar, perempuan itu mengerutkan hidung sebelum memutar tubuhnya mencari sesuatu yang terasa hangat.Reya bergerak mendekati Felix hingga akhirnya tubuhnya bersandar pada dada pria itu.Felix yang sebenarnya masih terjaga langsung membuka mata, dengan alis terangkat.Tangan Reya terus bergerak mencari posisi nyaman, lalu telapak t
Reya menatap ponsel itu sekali lagi. “Akan ku tunjukkan siapa yang paling hot disini”Ia mengambil ponsel Felix dan mengarahkan kamera ke dirinya bersama Felix yang masih tertidur. Dengan gerakan hati-hati, Reya membuat sebuah video singkat sambil menarik kepala Felix agar bersandar nyaman di dadanya sambil menurunkan tali bhnya.Lalu menatap kamera dengan ekspresi manis yang dibuat-buat.“Aduh, maaf, Bella.” Reya tersenyum lebar.“Felix sedang tidur.”Tangannya mengusap rambut Felix perlahan, memastikan pria itu tidak terbangun.“Jadi dia tidak bisa memilih.”Reya mendekatkan wajahnya ke kamera dengan tatapan penuh kemenangan.“Tapi katanya dia lebih suka aku memakai warna merah.” Ia lalu tersenyum semakin menyebalkan.“Entahlah... mungkin karena aku yang memakainya....”Reya mengecup pipi Felix dengan sangat lembut, lalu kembali menatap layar.“Tapi kalau soal kamu...”Ia pura-pura memperhatikan foto Bella beberapa detik.“Hmm.” Senyumnya berubah menjadi seringai kecil.“Sepertiny
Ternyata yang masuk adalah Direktur rumah sakit yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Seketika cengkeraman Felix mengendur. Reya memanfaatkan celah itu untuk berdiri cepat sambil menarik napas tajam. Dadanya naik turun menahan emosi, sementara pipinya masih terasa panas karena kedek
“Siapa yang harus ku obati?” tanya Reya datar.Ia lalu melihat seorang pria yang berdiri membelakang di sebuah ruangan. Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan otot padat. Kulitnya sawo matang, rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan mata gelapnya tajam seperti binatang pemangsa.“Felix?” gumamnya memb
Felix menatapnya beberapa detik tanpa menjawab. Senyum tipis penuh godaan kembali muncul di bibir pria itu saat ia memperhatikan bagaimana Reya mulai gelisah di depannya.“Kau terlihat takut,” gumamnya rendah.“Aku serius!” Reya buru-buru mencoba bangkit, tetapi tangan Felix di rambutnya menahan le
Reya langsung panik menghampiri pria itu, tetapi Felix sudah keluar lebih dulu dari mobil dengan gerakan tenang yang justru terasa menakutkan. Wajah pria itu datar tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lampu jalan memantulkan sorot dingin di matanya yang gelap.Pria pejalan kaki tadi masih terduduk geme







