MasukLeli tidak mampu berkata apa-apa.Leon menggeleng perlahan.“Jadi kalau Mami masih ingin mencari siapa pembawa sial di keluarga ini…”Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu menatap Leli.“Lihat anak yang selama ini Mami banggakan.”“Anak yang selalu Mami pamerkan.”“Anak yang selalu Mami katakan membawa keberuntungan.”Leon menghela napas panjang.“Lihat sekarang di mana dia berada.”Leli menunduk.Dadanya mulai terasa sesak.Namun Leon belum selesai.“Kami semua anak kandung Mami.”Suaranya lebih rendah sekarang.Justru terdengar semakin menyakitkan.“Tapi mengapa Cynthia selalu berbeda?”Deg!Jantung Leli berdetak mendengar pertanyaan Leon. Leli mengangkat wajah.“Mami menyayangi mu Mami juga menyayangi Deon.”Leon tersenyum pahit.“Tapi rasa sayang Mami kepada kami tidak pernah sama dengan rasa sayang Mami kepada Cynthia.”Deon akhirnya ikut berbicara.“Bahkan namanya saja Mami yang memilih secara khusus.”Leli terdiam.Leon menatap ibunya.“Kami datang karena kasihan melihat Mami.”Ia
Setelah mengunjungi Martin, Leon dan Deon tidak langsung pulang.Keduanya justru melanjutkan perjalanan menuju rumah tahanan perempuan untuk menemui Leli.Ketika Leli akhirnya dibawa menuju ruang kunjungan, Leon dan Deon sempat terdiam.Wanita yang berjalan ke arah mereka masih memiliki wajah yang sama.Namun penampilannya sudah jauh berbeda.Beberapa hari di dalam tahanan membuat Leli tampak jauh lebih tua.Tidak ada lagi lipstik tebal yang biasanya membuat bibirnya terlihat sempurna. Tidak ada riasan wajah berlapis yang selama ini membuatnya tampak lebih muda dan anggun.Rambutnya pun tidak ditata seperti biasanya.Wajahnya pucat.Matanya terlihat lelah.Untuk pertama kalinya, Leli terlihat seperti seorang wanita yang benar-benar kehilangan kehidupan mewah yang selama ini menjadi bagian dari dirinya.Begitu melihat kedua putranya, tatapan Leli langsung berubah.Ada harapan di sana.“Kalian datang?”Leli segera duduk di hadapan Leon dan Deon.Tatapannya penuh harap.Ia yakin kedatang
“Semua bukti sudah ada. Ada saksi, rekaman, transaksi uang, dan bukti pembayaran kepada narapidana.”Martin mengangguk.Air mata kembali menggenang di sudut matanya.“Semua ini…”Ia menghela napas panjang.“Semua ini terjadi karena kesalahan Papi.”Deon mengerutkan kening.Martin tersenyum getir.“Papi terlalu menyayangi Cynthia.”Ia menatap kedua putranya.“Papi selalu menganggap dia anak yang harus dilindungi.”Suaranya semakin pelan.“Tanpa sadar, Papi mengajarinya bahwa apa pun kesalahannya, selalu ada orang lain yang bisa dikorbankan.”Ruangan itu kembali sunyi.Leon dan Deon tidak membantah.Karena mereka tahu...ayah mereka benar.Mereka pun pernah melakukan hal yang sama.Membela Cynthia.Membela Leli.Dan membiarkan Liora sendirian.Leon menarik napas.“Papi…”Martin mengangkat wajah.“Liora pasti akan berusaha membuat hukuman Papi lebih ringan.”Martin terdiam.“Kami juga akan mencari pengacara terbaik untuk Papi.” Leon dan Deon tahu bahwa papinya masih bisa di selamatkan.
Martin duduk termenung di sudut ruang tahanan.Pria yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengusaha sukses itu kini hanya bisa menatap lantai semen di bawah kakinya. Dinding-dinding kusam, jeruji besi, dan udara dingin yang menusuk membuat tempat itu terasa begitu asing baginya.Seumur hidup, ia tidak pernah menyangka akan berakhir di tempat seperti ini.Namun anehnya, bukan dinginnya lantai semen yang paling menyakitkan.Melainkan ingatan tentang putri bungsunya.Liora.Martin memejamkan mata.Bayangan seorang anak perempuan kecil berusia lima tahun segera muncul di benaknya.Liora berdiri di depan pintu rumah dengan wajah basah oleh air mata.Tangannya yang mungil menggenggam ujung bajunya sendiri.Ia menangis.Memohon.Meminta agar tidak diusir.Saat itu, Liora bahkan belum mengerti mengapa orang-orang yang seharusnya melindunginya justru menyuruhnya pergi.Dan Martin...Ia membiarkannya. Martin membuka mata dengan napas berat.Kemudian muncul bayangan lain. Liora berusia 17 t
Setelah puas berkeliling Paris dan mengambil entah berapa puluh foto di depan Menara Eiffel, akhirnya Xavier dan Liora kembali ke hotel.Begitu pintu kamar terbuka, Liora langsung masuk sambil menghela napas lega.“Kakiku pegal…”Xavier menutup pintu di belakang mereka.“Makanya tadi jangan terlalu banyak berjalan.”Liora menoleh.“Siapa yang menyuruhku berjalan sebanyak itu?”“Kamu sendiri. Aku sudah larang berulang kali, tapi gak mau denger," omel Xavier.Liora terdiam.Benar juga.Sejak tiba di Paris, ia memang tidak berhenti meminta Xavier mengajaknya ke berbagai tempat.“Aku hanya sedang bahagia,” gumamnya.Xavier tersenyum.“Aku tahu.”Liora kemudian melepas mantel tebalnya dan menggantungnya.Begitu mantel itu terlepas, ia langsung merapatkan kedua tangannya ke tubuh.“Dingin…”Xavier yang baru saja meletakkan kunci di meja langsung menoleh.“Dingin?”Liora mengangguk.“Iya.”Xavier berjalan mendekat.Tanpa banyak bicara, ia membuka kedua lengannya.“Sini.”Liora menatapnya bin
“Sekarang boleh turun.” Xavier tersenyum.Liora langsung menggenggam tangannya."Ayo cepat!”Xavier terkekeh pelan.“Pelan-pelan. Paris tidak akan lari.”Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari bandara.Udara dingin langsung menyambut Liora.Ia spontan menarik napas panjang.“Dingin…”Xavier langsung menarik syal Liora lebih rapat. “Aku sudah bilang.”“Tapi menyenangkan.” Liora tersenyum memandang wajah suaminya.“Kalau lima menit lagi kamu menggigil, jangan bilang aku tidak mengingatkan.”Liora tertawa.“Aku kuat.”Xavier hanya menggeleng.Mereka kemudian menuju mobil yang sudah menunggu.Sepanjang perjalanan, Liora tidak berhenti melihat keluar jendela.Matanya bergerak ke mana-mana.Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas Eropa, jalanan yang dipenuhi kendaraan, kafe-kafe kecil, orang-orang yang berjalan kaki dengan mantel tebal.Semuanya terasa seperti berada di dalam film.“Suamiku…”“Hm?”“Paris benar-benar indah.”Xavier menoleh sebentar.Namun bukan pemandangan di luar
Udara sore itu terasa berat ketika Liora melangkah keluar dari kafe.Ia tidak langsung pulang.Sejak keluar dari bank, ia tampak waspada membawa tasnya. Tas ini berisi buku-buku, uang dan batu bata. Jelas terasa cukup berat.Langkahnya tenang menyusuri trotoar di depan kafe. Tangannya menggenggam e
“Kalau begitu… aku ikut mobil polisi saja,” kata Liora sambil tersenyum ringan. “Aku tidak ingin merepotkanmu.”Pria bendahara itu sempat terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baik, Nona. Lebih aman memang begitu.”Beberapa petugas langsung membantu memindahkan koper-koper berisi uang itu ke da
Ruangan itu masih dipenuhi sisa tangis Cynthia.Namun Liora sudah tidak lagi memperhatikan.Tatapannya beralih ke Martin.Tatapan itu dingin dan tenang.Seolah semua emosi tadi… tidak pernah menyentuhnya."Apa, kata Lely?" “Aku setuju.”Kalimat itu keluar begitu saja.Membuat semua orang terdiam.
Malam itu, rumah keluarga Martin berubah total.Lampu-lampu kristal menyala terang, memantulkan cahaya ke setiap sudut ruangan. Karpet merah terbentang dari gerbang hingga pintu utama. Mobil-mobil mewah berdatangan tanpa henti, menurunkan tamu-tamu dengan pakaian elegan dan senyum penuh kepentingan







