Se connecterDi tempat lain, Sagara baru saja meletakkan ponselnya ketika Latisha masuk ke ruang kerja. Perempuan itu membawa secangkir kopi yang sengaja dibuatkannya untuk sang suami.“Mas, kopinya.”Sagara mendongak sebentar. “Makasih, Sayang.”Latisha meletakkan cangkir itu di sisi laptop, lalu melirik layar ponsel Sagara yang masih menyala sebelum kembali menatap suaminya. Sejak tadi, laki-laki itu terlihat sibuk dengan beberapa dokumen di hadapannya. Bahkan setelah menerima telepon tadi, ekspresinya tampak lebih serius dari biasanya.“Dari siapa?” tanyanya sambil berdiri di samping meja.“Papa.”Langkah Latisha yang semula hendak beranjak terhenti. “Papa?”Sagara mengangguk. Ia menutup laptopnya sejenak, kemudian menggeser kursi di sebelahnya.“Sini, duduk dulu.”Latisha menurut. Ia duduk di samping suaminya, menunggu Sagara melanjutkan perkataannya.“Ada perkembangan soal sengketa tanah itu,” ujar Sagara. “Sepertinya Papa mulai mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang terlibat. Beliau
Pagi itu, Atmaja sudah berada di ruang kerjanya ketika ponselnya berdering.Nama seseorang dari tim hukum yang beberapa hari terakhir membantunya menelusuri persoalan sengketa tanah muncul di layar. Sejak pertemuan dengan Sagara seminggu lalu, Atmaja memang mulai mencari tahu lebih jauh mengenai masalah yang menghambat proyek menantunya itu. Bukan hanya karena ia ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, tetapi juga karena ia mulai menyadari bahwa persoalan keluarganya mungkin telah membawa dampak yang jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan.Ia mengangkat telepon.“Ya, bagaimana hasil pemeriksaannya?”“Pagi, Pak. Kami sudah menelaah dokumen yang Bapak berikan dan mencocokkannya dengan sejumlah informasi yang berhasil kami peroleh. Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.”Atmaja menyandarkan punggungnya ke kursi.“Jelaskan.”“Keberatan atas tanah yang digunakan untuk proyek Pak Sagara ternyata tidak berdiri sendiri. Ada pihak yang mengajukan klaim denga
“Latisha.....sayang...bangun.”Suara itu terdengar tepat di dekat telinganya, membuat Latisha mengerjapkan mata dengan malas. Pandangannya masih buram ketika mendapati wajah Sagara sudah berada begitu dekat di hadapannya. Lengan pria itu bahkan masih melingkar di pinggangnya, seolah sengaja memastikan istrinya benar-benar terbangun. Latisha menghela napas pelan, lalu melirik jam di atas nakas yang menunjukkan pukul satu dua dini hari. “Mas, ini udah mau pagi, loh,” protesnya dengan suara serak karena baru saja terbangun.“Temani saya,” jawab Sagara tanpa merasa bersalah.Latisha mengernyit. “Ke mana?”“Dapur.”“Buat apa?”“Saya lapar.”Latisha terdiam beberapa saat. Tatapannya kembali beralih pada jam, lalu kepada suaminya. Beberapa jam lalu Sagara bahkan makan malam lebih banyak darinya, tetapi entah mengapa sekarang pria itu justru membangunkannya hanya karena lapar. “Mas nggak bisa makan sendiri aja? Ini sudah hampir pagi.” tanyanya, masih berharap Sagara akan berubah pikiran da
Rosalia masih berdiri di tempat yang sama ketika suara langkah Atmaja benar-benar menghilang dari pendengarannya.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Kedua tangannya bertumpu di pangkuan, sementara pandangannya kosong mengarah ke meja di hadapannya.'_Kamu bisa kehilangan semuanya.'_ kalimat itu terus terngiang di kepalanya.Rosalia mengembuskan napas kasar, berusaha menyingkirkan kegelisahan yang perlahan memenuhi dadanya. Selama bertahun-tahun, ia mengenal Atmaja sebagai lelaki yang tidak pernah benar-benar tega melawannya. Sebesar apa pun pertengkaran mereka, pada akhirnya lelaki itu akan memilih diam dan membiarkan waktu meredakan semuanya.Karena itulah Rosalia tidak pernah benar-benar takut ketika Atmaja mengetahui sesuatu yang tidak disukainya. Bahkan ia selalu percaya bahwa selama mereka masih terikat dalam pernikahan, Atmaja tidak akan pernah mengambil langkah yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka.Namun, malam ini lelaki itu justru m
Rosalia baru saja melangkah keluar dari ruang makan ketika suara Atmaja menghentikan langkahnya.“Rosalia.”Ia menoleh. “Hm?”“Duduk. Saya ingin bicara.”Nada suara Atmaja terdengar biasa, nyaris tanpa tekanan. Namun entah mengapa, Rosalia justru merasakan sesuatu yang berbeda. Selama bertahun-tahun, setiap percakapan yang berpotensi berubah menjadi pertengkaran selalu dihindari Atmaja. Lelaki itu lebih memilih diam, mengalah, atau meninggalkan ruangan ketika Rosalia mulai membawa nama Hana dan Latisha ke dalam pembicaraan mereka. Tetapi malam ini, Atmaja tidak pergi. Ia justru menunggunya.Rosalia berjalan mendekat dan duduk di sofa. Tatapannya mengarah pada suaminya yang duduk di seberang. “Tentang apa?”Atmaja tidak langsung menjawab. Kedua tangannya bertaut di atas lutut, sementara pandangannya tetap tertuju kepada Rosalia. Tatapan itu membuat perempuan tersebut perlahan merasa tidak nyaman.“Mas mau membicarakan Latisha lagi?”“Bukan.”Rosalia mengangkat alis.“Saya mau membicara
“Pah, tolong kali ini Papa yang turun tangan.”Alfian menatap ayahnya lekat-lekat. Suaranya tidak tinggi, tetapi terdengar jauh lebih tegas daripada biasanya. Atmaja yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya berbalik. Wajahnya tampak lelah, sementara ponsel yang berada di tangannya bahkan sudah lama tidak ia perhatikan.“Apa yang bisa Papa lakukan, Al?” tanyanya pelan.“Banyak. Atau setidaknya lebih banyak daripada saya.”Atmaja menghela napas panjang lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia duduk perlahan dan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Papa sudah mencoba bicara dengan Mama.”“Dan Mama berhenti?”Atmaja terdiam.Alfian mengangguk kecil. Ia sudah tahu jawabannya. “Saya tahu Papa sudah berusaha menghentikannya. Tapi setiap kali Papa mundur karena tidak ingin keadaan semakin buruk, Mama justru mencari cara lain untuk melanjutkan semuanya.”“Al…”“Saya tahu dia ibu saya, Pa.” Alfian menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Saya tahu bagaimana Mama. Tapi say
Hari itu Latisha tenggelam dalam tumpukan rapat penting. Berkas-berkas berserakan, suara diskusi belum juga reda, sementara pikirannya sudah mulai lelah. Di tengah kesibukan itu, ponselnya bergetar pelan. Sekilas matanya menangkap sebuah nama di layar, Pak Sagara.Jantungnya refleks berdetak lebih
"Aku tidak membenci cinta, aku hanya takut jatuh terlalu dalam… karena jatuh membuatku sadar betapa kerasnya tanah saat aku terhempas."~Latisha~.."Kenapa nggak bilang dulu?" suara Latisha terdengar pelan, tapi jelas sarat dengan perasaan yang campur aduk. Mereka sudah berada di kamar, hanya ber
Latisha mendongak, menatap Sagara penuh selidik. Suaranya bergetar ketika menyebut satu nama, "Mbak Clara?"Tentu saja, setelah semua kejadian akhir-akhir ini, ia tidak bisa begitu saja menaruh percaya pada orang lain. Sagara mungkin terlihat meyakinkan, namun rasa takutnya masih lebih kuat."Clara
“Ibu balik sore nanti,” ujar Latisha pelan, melangkah menghampiri Sagara yang sedang duduk di ruang tengah.Pria itu terlihat lelah. Punggungnya bersandar di sofa, mata terpejam, seakan tubuhnya baru saja dipaksa menanggung beban yang berat. Saat mendengar suara Latisha, matanya perlahan terbuka, m







