LOGINFadhil adalah seorang pria alim yang dipaksa ibunya untuk menikahi seorang gadis gendut bernama Amira. Meskipun awalnya Fadhil menolak karena ia sudah jatuh hati dengan perempuan bernama Raya, namun Fadhil tetap menikahi gadis gendut itu sebagai wujud bakti pada ibunya. Kehidupan rumah tangga bersama Amira penuh dengan lika-liku, karena Fadhil memang belum sepenuhnya ikhlas menerima kehadiran Amira. Apalagi mengingat fisik Amira yang gendut, membuat hasrat lelaki Fadhil tak terpuaskan. Namun siapa sangka kehadiran Raya yang menjadi kakak iparnya justru membuat Fadhil semakin terobsesi dengannya. Amira yang mengetahuinya menjadi sangat cemburu. Ia pun berusaha membuat Fadhil jatuh hati kepadanya bagaimanapun caranya. Namun, apakah semua usaha itu berhasil membuat Fadhil jatuh hati padanya? Akankah Amira mampu mempertahankan rumah tangganya?
View MoreThe first rays of dawn painted the sky pink as I slipped from Damon's warm body.
His muscular arm fell across the space where I'd been lying, and I held my breath, watching his chest rise and fall in peaceful sleep.
Three months ago, this same bed...
"You're mine," he'd whispered against my neck, his hands tangled in my hair. "No one else will ever touch you like this."
I'd melted into him completely. "Promise me," I breathed. "Promise you'll choose me."
"Always," he'd sworn, his lips finding mine.
"You're my everything, Fiona."
Now, I grabbed my clothes from the floor, remembering how he'd torn them off me last night with desperate hunger.
Every stolen moment felt like borrowed time, but Damon always made me feel like I was his world.
I tiptoed toward the door, but his sleepy voice stopped me.
"Where are you going, beautiful?”
I turned, my heart fluttering at the sight of him—hair messy, sheets low on his hips, those gray eyes that saw straight through my soul.
"Dawn patrol will start soon," I whispered. "I can't be seen leaving the Alpha's quarters."
He sat up, running a hand through his dark hair. "After tomorrow, you won't have to sneak around anymore."
Tomorrow. The Mating Ceremony. My stomach filled with butterflies.
"Everyone will know you're mine," he continued, pulling me back into bed. His hands roamed my curves like he was memorizing them. "My Luna. My queen."
I melted into his kiss, tasting mint. "I love you," I breathed against his lips.
"And I love you more than life itself."
Two months ago, in this same spot...
"The pack won't understand at first," he'd said, tracing patterns on my bare shoulder. "An omega becoming Luna? They expect me to choose someone from the noble families."
My heart had clenched. "Maybe they're right."
"No." His voice was fierce. "You're strong, brave, loyal. Everything a Luna should be. I don't care about bloodlines—I care about you."
Now, as I finally pulled away from his embrace, Damon caught my hand.
"Nervous about tomorrow?"
I was terrified, but I couldn't let him see that.
"Just excited to finally be yours. Officially."
He brought my fingers to his lips. "You've always been mine, Fiona. Tomorrow makes it real for everyone else."
I dressed quickly and slipped out through the private exit, my heart soaring. In less than twenty-four hours, I'd be Luna of the Silver Moon Pack. Damon's mate. His equal!!!!
The morning air was crisp as I jogged toward the training grounds, trying to look like I'd been on my usual dawn run.
Some of the guards and pack house workers nodded as I passed, clueless about where I'd really spent the night.
Back in my small cabin, I stared at the calendar on my wall. Today was marked with a simple red heart.
Tomorrow had "MATING CEREMONY" written in bold letters.
This was it. The day before my entire life changed.
I showered and headed to the pack house for breakfast, trying to contain my excitement.
The main hall buzzed with ceremony preparations. Flowers, decorations, and tables are being arranged.
"Fiona!" My friend Sarah bounded over. "Can you believe it's finally happening? Tomorrow we'll know who our next Luna is!"
I forced a casual smile. "Any guesses?"
"My money's on Celeste Ravencrest. Her family's practically royalty, and she's been hanging around the Alpha frequently."
My blood turned cold. "Celeste?"
"Haven't you noticed? They've been having private meetings all week. Very cozy-looking." Sarah winked. "I think she's the obvious choice."
The room suddenly felt too small. Too hot. "I... I need some air."
I stumbled outside, my mind racing. Private meetings? With Celeste? That was impossible. Damon loved me. He'd promised me. We'd been together every night this week—hadn't we?
Actually... My stomach dropped. Tuesday, he'd cancelled. Said he had pack business.
Wednesday too. And Thursday...
No. I was being paranoid. Damon loved me. He'd literally whispered it in my ear every time.
But I keep doubting.
I found myself walking toward the Alpha's office, telling myself I'd just peek in. Say hello. Confirm everything was normal.
The door was slightly open. I heard voices inside.
"...beautiful in the ceremony dress," a female voice purred. Celeste.
"You always look beautiful," came Damon's reply.
My world tilted. I pressed against the wall, straining to hear.
"I can't wait to be your Luna," Celeste continued. "Finally, we can stop hiding our relationship."
Hiding their relationship.
The words hit me like physical blows.
"Soon, my love," Damon's voice was soft, intimate. "After tomorrow, you'll be mine completely. My Luna. My queen."
The exact words he'd said to me an hour ago.
I couldn't breathe. Couldn't think. This had to be a mistake. A misunderstanding.
"I know it's been hard," Celeste said, "pretending to be just friends in public. But my father says it's better this way. More dramatic for the ceremony."
"Your father's right. The pack loves a surprise." Damon chuckled. "They'll never see it coming."
Neither did I.
My legs gave out. I slumped against the wall, bile rising in my throat. Everything—every kiss, every promise, every night in his bed—it was all lies!.
But then I heard something that made my blood freeze entirely.
"What about the omega lass? Fiona?" Celeste's voice turned sharp. "She's been sniffing around you lately."
"What about her?"
"She needs to be dealt with. She's... inconvenient."
A long pause. Then Damon's voice, cold and unfamiliar: "Don't worry about Fiona. I'll handle her."
"Handle her how?"
"The rogue attacks have been increasing near the eastern border. Accidents happen during patrol."
My heart stopped. They were planning to kill me.
"Clever," Celeste purred. "No one questions an omega’s death”
I stumbled backward, my entire world crashing down. Not only had Damon betrayed me—he wanted me dead.
And I'd been so stupidly, blindly in love that I'd never seen it coming.
Footsteps approached the door. I ran, my mind screaming with one thought: I have to get out of here.
“Did you hear something?” Celeste asked.
Damon’s voice, sharp and suspicious “Who’s there?”
I ran.
Raya membolak-balikkan tubuhnya. Perasaan yang tiba-tiba muncul kala mendengar kabar pernikahan Rayyan dengan seorang wanita membuatnya resah dan gelisah. Padahal ia sudah memastikan pada hatinya bahwa Amira tidak akan memiliki perasaan kepada Rayyan. Namun betapa terkejutnya ia kali ini saat Maya mengatakan hal itu. Hatinya bagai teriris. "Ya Allah, apa aku sudah jatuh hati pada pria itu? Tidak! Jangan sampai! Aku tahu dia dan aku itu beda kelas. Dia anak orang terpandang. Tidak sepantasnya bersanding dengan aku yang hanya keluarga biasa saja." "Tapi kenapa perasaan ini muncul tiba-tiba? Aku cemburu?" Amira merapatkan matanya sejenak. Ia pukul pelan keningnya dengan tangannya yang menggenggam. "Nggak boleh dibiarkan! Rasa ini harus aku hilangkan secepatnya. Aku tidak ingin menjadi duri di dalam rumah tangga mereka. Aku tahu rasanya dipermainkan dalam rumah tangga. Jadi, aku tidak ingin menjadi pelakunya.""Lagipula Mas Rayyan kan sudah memutuskan untuk menikahi wanita lain. Janjin
Memang seperti itulah manusia. Saat diberikan waktu untuk sebuah kenikmatan justru mereka lupa untuk mensyukurinya. Tetapi justru memilih untuk berusaha mencari ladang yang dianggapnya lebih subur. Rumput tetangga memang jauh lebih hijau dibandingkan dengan rumput di halaman sendiri. Padahal jika rerumputan itu dirawat, pasti akan sangat indah dipandang oleh mata. Namun setelah melihat kenyataan yang sebenarnya, barulah ia bisa menyesalinya. Begitu juga dengan Fadhil saat ini. Dari dulu dia sangat berharap kalau Raya adalah jodoh tepat dari Tuhan untuk dirinya. Dia sangat menjaga hatinya hanya untuk Raya seorang. Bahkan sampai Fadhil menikahi Amira, rasa itu malah semakin ia tumbuhkan secara sengaja agar Amira menyerah saja pada pernikahan ini. Namun saat ini ia telah menuai apa yang dia lakukan. Raya yang dianggapnya adalah wanita sempurna dan cocok mendampingi hidupnya ternyata sangat jauh dari ekspektasinya sebagai seorang laki-laki. Sementara itu Rayyan kini tengah menghadap pad
Rayyan yang melihat Amira diam saja membuatnya gelisah. Ia pun mencoba untuk menanyakan kembali."Jadi, bagaimana Amira?" Mata Rayyan tak henti-hentinya melihat Amira yang sangat cantik di matanya. Amira belum berani menjawabnya. Rayyan dengan sabar menanti jawaban dari Amira. Hati wanita yang baru selesai masa iddah itu bertambah campur aduk. Ia menoleh ke arah bapak ibunya untuk mencari pertolongan. Orang tuanya juga saling pandang karena mereka kebingungan untuk menanggapinya. Di sisi satu, orang tua Amira sangat bahagia karena ada pria sholeh dan baik yang mau mempersunting anaknya. Namun di sisi lain mereka juga mengkhawatirkan tentang status sosial yang melekat di antara kedua belah pihak. Tak bisa dipungkiri bahwa orang tuanya sempat khawatir akan hal itu. Mereka termasuk keluarga mampu namun kalau dibandingkan dengan keluarga Rayyan jelas jauh bedanya. Oleh karena itu, mereka meragukannya. Mereka khawatir anaknya nantinya akan diperlakukan tidak baik disana karena perbedaan
Amira semakin rajin merawat diri dari hari ke hari. Dia rajin ke tempat senam untuk membuat tubuhnya ideal. Pola makan sehat selalu dia terapkan. Awalnya memang sangat sulit sekali. Apalagi kebiasaan makan banyak yang Amira lakukan sangat sulit untuk dihindari. Namun karena Amira bertekad untuk hidup lebih baik, akhirnya Amira pun berhasil menurunkan berat badannya secara drastis. Selain menjaga kesehatan dan pola makannya, Amira juga sudah mulai berani belajar mempercantik diri. Bahkan ia semakin lihai menggunakan peralatan make up yang semula awam bagi dirinya. Dia belajar secara otodidak melalui sosial media. Dia pun juga belajar bagaimana cara tampil stylish. Hal itu dia lakukan untuk membuat kehidupan lebih baik daripada sebelumnya. Ia ingin meninggalkan masa-masa kelam dengan Amira yang baru. Amira kini menatap dirinya pada pantulan cermin di hadapannya. Ia merasa puas dengan hasil yang selama ini dia lakukan. Pengorbanan selama ini akhirnya berbuah manis. Amira menjelma menja
Kata-Kata Fadhil berhasil membuat hati Amira sakit. Kalimat yang harusnya tak pantas diucapkan akhirnya keluar dari mulut suaminya sendiri. Air matapun menetes setelah ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Ia kemudian meletakkan kembali tali lingeri itu pada tempatnya. Ia masuk ke dalam kamarnya
Kedua orang tua Fadhil sudah pulang kampung beberapa hari yang lalu. Kini tinggallah Fadhil dan Amira di wisma itu. Semenjak kejadian konyol yang dilakukan Fadhil, justru ia berusaha keras menahan keinginannya untuk tahu lebih banyak hal tentang Amira. Amira bahkan sampai kebingungan menghadapi sika
Amira melongo saat Fadhil mengatakan secara lugas bahwa ia memintanya untuk membuka baju yang dipakainya saat ini."K-kok buka baju sih kak? Aku malu." Ia menunduk tak berani melihat Fadhil dengan kedua matanya. "Kamu kan istriku. Dan itu adalah perintah untukmu. Jadi cepat lakukan buatku!" Perintah
"Aaaa!" "Amira!" "Kenapa sih kamu kerudungan pakai sarungku! Aku kira kamu maling tahu nggak?" Fadhil mengelus pelan dadanya karena tadinya ia terlonjak kaget. Amira nyengir kuda. "Maaf kak. Tadi aku lupa bawa kerudung ganti kesini. Tapi bapak sudah istirahat di kamar. Nggak enak aku kalau ganggu is






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews